Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Faridz Artha

Psychological Analyst, State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang

Islam ‘Turunan’

REP | 12 July 2012 | 01:47 Dibaca: 360   Komentar: 5   0

Pengalaman ini saya peroleh ketika duduk di bangku kuliah. Lebih tepatnya adalah semester pertama. Karena lazimnya seperti yang dialami oleh mayoritas mahasiswa yang baru masuk kuliah, disemester ini, atribut ke SMA-an yang melekat pada pemikiran saya diuji dengan berbagai pemikiran baru yang ditawarkan oleh kakak kelas di berbagai organisasi. Mungkin saja hal itu berawal dari kegiatan OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik) Fakultas Psikologi. Pada waktu itu saya disorot oleh para anggota BEM-F (Badan Eksekutif Mahasiswa-Fakultas) Psikologi karena saya aktif di moment tersebut. Saya terpilih sebagai peserta terbaik OPAK Fakultas Psikologi tahun 2009. Demi mengikutsertakan saya untuk direkrut dalam organisasinya, saya rajin dihampiri. Organisasi dari berbagai ‘kemasan’ dan ‘produk’, serta berbeda pula cara ‘memasarkannya’. Benar-benar diluar dugaan saya.

Berbicara organisasi berarti berbicara tentang kebaikan apa yang dapat saya peroleh dari organisasi serta apa yang bisa saya berikan untuk organisasi jika mengikutinya. Dengan berbagai tawaran yang saya pertimbangkan, pada ahirnya saya memutuskan untuk ikut gabung dengan dua OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus). Arah gerak kedua organisasi yang saya ikuti berbeda, namun bertujuan sama yaitu untuk memajukan umat. Organisasi saya yang pertama bergerak ke arah penguatan ideologi keislaman (sebut saja organisasi ‘X’) dalam aspek kebangsaan dan yang berikutnya bergerak ke arah pengembangan wawasan ke psikologian Islam (sebut saja organisasi ‘Y’). Saya akan ceritakan sekilas pengalaman saya di organisasi ‘X’ diawal proses perkederannya. Karena disitu saya dituntut untuk berpikir kritis agar saya bisa lolos menjadi anggota tetap (bukan berarti organisasi ‘Y’ tidak menuntut saya untuk kritis melainkan panjang kalau diuraikan pada kesempatan kali ini).

Yang paling berkesan, di sebuah ruangan proses awal perkaderan organisasi ‘X’, di black board pemateri menuliskan dua lafadz Allah menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Setelah itu pemateri mengajukan pertanyaan kepada para peserta yang notebene juga calon anggota organisasi ‘X’ (termasuk saya),

“Dimanakah Tuhan-Mu berada?”

Beberapa peserta menjawab sesuai ayat al-Qur’an surat al-A’raf ayat 54, surat ar-Ra’du ayat 2, dan surat al-Furqan ayat 59, yaitu di atas Arasy yang tidak tahu pasti sebab tidak tampak oleh mata lahiriah (termasuk jawaban saya).

“Jawaban kalian tidak salah,” lanjut pemateri.

Kemudian pemateri mencopot kaos kaki, lalu menghapus lafadz Allah yang ditulis dengan bahasa Indonesia dengan benda kotor tersebut. Saya beserta peserta yang lain diam dan mencermati. Nah, ketika pemateri menghapus lafadz Allah yang berbahasa Arab, lantas saya dan salah seorang peserta sontak menolak,

”Kok bisa Anda (pemateri) berbuat seperti itu Mas?” seru kami dengan nada setengah berteriak.

“Memang apanya yang seperti itu? Apakah ada yang keliru? Itu adalah persepsi kalian terhadap saya. Saya menghapus lafadz Allah yang berbahasa Arab ini bukan dengan niatan menghina-Nya, begitupun dengan tulisan yang berbahasa Indonesia. Ini semua adalah proses pembelajaran buat kalian. Yang saya sayangkan adalah kita sering menyamakan Tuhan kita, Allah Swt., dengan tulisan berbahasa Arab ini. Sehingga kita cenderung menyakralkan secara membabi buta tanpa kita menghayati dan memahami siapa Dia. Kita samakan Dia dengan lafadz-Nya yang berbahasa Arab ini. Malahan dalam arti yang general, kita samakan Dia dengan ciptaan-Nya. Padahal dalam kalimat syahadat sudah seharusnya kita menegasikan yang lain demi menuju Dia, Maha Suci Allah dari segala ciptaan-Nya. Tapi apa faktanya? Kalian tadi menganggap bahwa tulisan Arab ini seperti Tuhan kalian.” jawab pemateri.

Suasana pada waktu itu hening, saya beserta peserta yang lain berpikir keras antara sependapat atau tidak. Kemudian pemateri balik bertanya,

“Kenapa kalian percaya kepada Tuhan yang satu?”, tanya dia tegas.

Berbagai macam argumen dilontarkan oleh saya dan teman-teman peserta, namun jawaban tersebut pada umumnya sangatlah dogmatis, misalnya mengacu pada al-Qur’an dan al-Hadis tanpa telah kritis. Padahal dalam memahami dua kitab tersebut diperlukan pendalaman yang tidak seenaknya dan serabutan, melainkan kekritisan kita dengan kesistematisan pengetahuan yang kita punya. Sebab Islam menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, seperti yang pernah saya temukan pada kalimat hadis “uthlubu ‘ilma minal mahdi ila lahdi”,”Uthlubu ‘ilma walau kana bis shin” dan “thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimiin”. Kami sadar setelah pemateri menjelaskan secara sistematis, gamblang, dan kritis.

Dari kejadian tersebut, saya benar-benar merasa (mengakui secara objektif) bahwa selama ini (sebelum saya di positive brainwashing dalam proses perkaderan organisasi ‘X’) saya memasuki agama Islam karena faktor keturunan dari orang tua saya (dalam takdir-Nya). Sebelumnya saya tidak pernah menanyakan secara kritis pada diri saya sendiri seperti kenapa percaya pada Tuhan yang satu? Kenapa saya bersedia menganut agama Islam? Begitu pula dengan mayoritas teman-teman peserta calon anggota organisasi ‘X’ yang lain. Hal ini menjadikan insight bagi saya bahwa kemungkinan besar bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, tidak berusaha menghayati dan memahami secara kritis kenapa mereka memilih Tuhan dan agama yang dipercayainya. Dampaknya dapat dirasakan pada permasalahan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang masih menjadi ‘sahabat’ karib dalam proses pembangunan tata negara kita karena split personality keagamaan di kursi kekuasaan. Tidak akan terjadi hal semacam itu apabila mayoritas umat muslim di Indonesia benar-benar meyakini dengan hati, lisan, dan perbuatan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Iya kan? Tentu saja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: