Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Aku ‘Melihat’ Tuhan

REP | 08 July 2012 | 09:21 Dibaca: 226   Komentar: 13   0

Allah SWT yang Ghaib nyata-nyata lebih realitas dari alam semesta dan diri kita sendiri. Dalam kesadaran kita hanya Allah yang nampak nyata (realitas). Bumi dan alam semesta ini ‘menjadi’ nampak semu (ghaib). Begitulah dalam kesadarannya. Sebuah proses membalik kesadaran. ” Aku bisa melihat Tuhan”. Bisik-ku dalam syukur.

Menapak Jalan Spiritual

Memasuki akhir sebuah perjalanan , memberikan makna atas apa yang nampak dan apa yang terasa. Perjalanan yang panjang lagi melelahkan, tak berhitung hari, sering kepala menjadi kaki, atau bahkan kaki menjadi kepala, karena memang tak mengerti lagi mau melangkah kemanakah (?). Jalan tertatih, tersungkur puluhan kali, bergolaknya rahsa, seumpama keadaan bumi yang megalami pemanasan global, itulah keadaan jiwa. Namun diri terus berusaha untuk menapaki, terus mencari bukti-bukti, terus membuka hati, mencoba memahami uraian setiap kata, merenungi, mentafakuri, bersama dalam kontemplasi mencari jati diri, dalam kesendirian, dalam belitan hidup, dalam kerumunan persepsi, kesemuanya menjadi ilustrasi atau mungkin  saja menjadi kisah tersendiri.

Maha besar Allah, sedikit demi sedikit dan   pasti, ditunjukan-Nya jalan dimana dan bagaimana harus memulai. Bersiap mengarungi samudra makrifat yang tiada bertepi. Menuju sebuah hakekat. Menetapi keghaiban itu sendiri. Namun  ketika bukti ditunjukkan betapa jiwa ternganga sendiri. Sebab nyatanya keghaiban yang coba dimaknai tersebut nyatanya adalah realitas itu sendiri. Membalikan kesadaran itulah yang terjadi. Bagaimana harus menjelaskan ini ?.  Terpana, tak percaya. Nyatanya Allah SWT menunjukkan begitu adanya.

Otak kehilangan kalimatnya, dan raga terjaga dalam tidurnya, sementara kesadaran diam dalam pengamatannya. Mengulangi setiap detail kata yang mungkin luput dari jelajah sang jiwa. Setiap keadaan dirasakan, setiap kejadian menjadi fana, ber-tiwikrama amat dalam, menunggu di pahamkan, nyatanya tiada kalimat yang mampu menjelaskannya lagi. Ya, tak ada kata yang mampu menjelaskannya lagi, semua seperti tanpa huruf , tak perlu kalimat apa-apa. Tak ada tanda baca sama sekali. Semua dimengerti dalam bahasa ilham itu sendiri. Bagaimana menyampaikan fakta ini kepada manusia lainnya. Nyatanya untuk berbicara apa adanya tak ada bahasa yang dapat mewakili ungkapannya.

Sebuah pemahaman yang rasanya sering kita dengar namun kita tidak tahu bagaimana itu. Sebuah kesadaran yang biasa saja namun kenapa begitu dahsyatnya terasa di badan. Maka hanya sebuah pengandaian saja yang dapat disampaikan. Bagaimanakah rasanya ketika kesadaran di jungkir balikan. Sungguh ketika diri memantapkan jalan hanya BERGURU KEPADA ALLAH, hasilnya  telah membalikan kesadaran selama ini. Kesadaran yang terhijab persepsi. Kesadaran diri  yang selama ini tak sanggup melihat realitas sejati, kesadaran yang selama ini yang (telah) mengganggap bahwa keghaiban adalah sama halnya dengan ketiadaan.  (Sesuatu yang tak perlu dianggap).

REALITAS (NYATANYA ) ADALAH KE-GHAIB-AN. Dan KE-GHAIB-AN itu (di dalam dirinya) ADALAH kebenaran atas REALITAS YANG SEJATI’ itu sendiri . Inilah kesimpulan atas perjalanan panjang.  Sebuah pemahaman yang membalikan anggapan, maka perjalanan makrifat dalam hakekat menuju muaranya, yaitu adalah ke-imanan Islam, sebuah kesadaran dalam meyakini Iman (dalam rukun iman yang enam). Dalam keyakinan yang utuh yang tidak menyisakan keraguan lagi di dalamnya atas rukun iman itu sendiri.

Allah SWT yang Ghaib nyata-nyata lebih realitas dari alam semesta dan diri kita sendiri. Dalam kesadaran kita hanya Allah yang nampak nyata (realitas). Bumi dan alam semesta ini ‘menjadi’ nampak semu (ghaib). Begitulah dalam kesadarannya. Sebuah proses membalik kesadaran. ” Aku bisa melihat Tuhan”. Bisik-ku dalam syukur.

Sangat jauh dengan pemahaman pada awalnya. Begitu berpilinnya logika pemikiran menyadari hakaket ini. Meski beberapa kajian tentang ini pernah di baca. Namun ketika merasakannya sendiri fakta ini. Menjadi saksi atas hal ini. Tak luput jiwa terhenyak, diam dalam ke-takmengertian atas apa yang telah di dapatkannya. Lantas bagaimana dengan hakekat realitas yang selama ini nampak oleh indra kita, yang selama ini kita kejar dan kita perjuangkan ?. Sungguh seperti perumpamaan,  salju yang  turun kemudian mencair mengalir entah kemana. Begitu keadaannya. Ketika di pegang nyatanya salju itu meleleh hilang di hembuskan angin. Seperti kebun yang kita perjuangkan kemudian hangus terbakar keesokan harinya. Itulah perumpamaan dunia ini.

Masih banyak sekali pemahaman yang seperti di alirkan satu demi satu  seperti : Satu demi satu pemahaman atas rukun iman di jungkir balikkan. Sebagaimana membalik kesadaran keimanan satu persatu yang selama ini di yakini. Tidaklah nampak sebagaimana keadaan pada mulanya. Seperti kutub utara dan selatan yang di balik posisinya.

Membalik kesadaran. Seperti hanya merubah arah putaran bumi, merubah posisi masing-masing kutubnya saja. Menempatkan kutub realitas dan ghaib sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengajaran Rosululloh. Blaam !. Kemudian kejadiannya, suasana hati berubah sangat radikal. Mendung hilang perlahan, iklim berubah nyaman, angin sirna, cuaca menjadi sejuk, dan bumi (tubuh) menjadi nyaman untuk di tinggali. Kenapakah bisa begitu ?. Sungguh sampai kini tetap tak mengerti. Cahaya Allah (sungguh) sangat besar bedanya dengan cahaya matahari (selain Allah). Cahaya matahari akan merubah wajah bumi menjadi bermacam-macam wajah (iklim). Sementara cahaya Allah mengembalikan wajah manusia kepada fitrah-Nya.

Sebagaimana ilustrasi lainnya, saat kita membersihkan kantong perut sapi. Kita masukan bagian ujung yang satu ke bagian yang lainnya, sehingga isi kotoran sapi terbuka sendirinya. Kulit luar menjadi kulit dalam dan sebaliknya. Kotoran akan berjatuhan dengan sendirinya. Begitu mudahnya membersihkan hati.  Menyucikan jiwa. Begitu perumpamaan proses perjalanan menapak jalan spiritual, dalam penyucian  jiwa.

Mencari referensi

Awalnya luar biasa sulit sekali. Namun nanti semua seperti di bukakan, hal yang terasa sulit seperti di mudahkan untuk memahaminya, seperti di tarok begitu saja. Tidak saja dalam masalah hakekat dalam realitas pekerjaan pun demikian juga, pikiran juga semakin tenang,. Mampu memahami persoalan melihat dari setiap sudut, dan meletakannya ke dalam posisinya masig-masing, sehingga menjadi jelas bagaimana menyelesaikannya. Persepsi-persepsi tentang banyak hal yang selama ini menjadi ‘binding’ seperti di bongkar, sehingga Nampak jelas jalan mana yang meski dilalui. Maka rasanya tak sia-sia melakoni semua ini.

Menemukan kesadaran ‘Aku’ yang menjadi landasan ber proses untuk memasuki bagian selanjutnya bagian Silatun (Patrap), menjadi kesulitan tersendiri, mungkin bagian ini hampir menyita 30% waktu tersendiri dalam eksplorasinya. Siapakah ‘Aku’, hakekat sang ‘Aku’, berpilin-pilin dalam kesadaran yang tak tembus, semua saking-saking terhijabnya diri kita atas kerasnya kehidupan kota. Bagaimana tidak pikiran selalu di kejar kebutuhan sehari-hari, mau makan apa besok ?. Ketakutan jika tidak bisa makan, ketakutan jika tidak mampu kerja, semua bagai benang kusut yang sulit menguraikan dari mana asalnya persepsi ini. Sulit sekali mencari referensi, bahwasanya rejeki sudah diataur oleh-Nya. Sebab faktanya semua harus kita perjuangkan dnegan segenap akal dan fikiran, serta kerja keras kita. Jika tidak mampu bersaing, maka habislah kita di belantara kota ini. Mau dikemanakan anak dan istri kita. Meluruhkan semua persepsi ini, bagai peperangan yang tak berkesudahan.

Memasuki tahapan selanjutnya, bagaimanakah kita datang kepada Allah dengan rahsa cinta dan rindu ? (Sungguh sulit sekali mencari referensinya di dalam diri kita. File kesadaran kita menolak hal ini. Apakah yang Tuhan berikan kepada dirnya, hingga kita patut mencintai-Nya ?. Hujatan atas ini sedemikian kuatnya. Semua dikarenakan dirinya tak pernah sedikitpun merasakan adanya kasih-sayang atau cinta dalam kehidupannya. Semua berangkat dari beban hidup dan kesulitan hidup yangmendaparkannya.  Seperti apakah rahsa cinta ?.  Sungguh dia tidak pernah mengenal rahsa itu. Bagaimanakah mengenali rahsa tersebut , jika dia tidak pernah disusupkan rahsa cinta ?.

Begitu sulitnya memasuki Silatun (rahsa sambung kepada Tuhan). Bagaimanakah menghadirkan rahsa cinta dalam menyebut nama Allah. Sementara diri tidak mengenal kata itu, tidak pernah merasakan rahsa cinta itu seumur hidupnya. Berulang kali ini ditanyakan dalam dirinya. Diri tetap ternganga tak mengerti. Tak paham apakah yang dimaksudkan.

Sungguh Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, secara perlahan diajarkan-Nya, ditunjukkan-Nya seperti apakah rahsa itu, melalui cara-Nya yang sangat ajaib. Diajarkan-Nya kita agar mampu membedakan manakah cinta yang realitas dan manakah yang semu, agar jiwa mengenali hakekat cinta itu sendiri. Begitu dahsyat pengajaran ini. Hampir-hampir saja mencabut nyawanya.

Fase pengajaran terus berjalan lambat, diperjalankan dirinya memasuki keghaiban. Berjalan memasuki dimensi alam ghaib. Di kenalkan dengan berbagai macam kesadaran yang beredar di masyarakat. Bercengkrama dengan kesadaran para Raja-raja Jawa, mulai dari Ken Arok, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan banyak lagi,  entah sudah berapa banyak mereka-mereka yang hadir dalam kesadaran dirinya. Mereka hadir untuk dikenali (dalam) kesadaran kita.

Kesadaran masih berkelana, dipertemukan dengan kesadaran Ratu Pantai selatan, Ratu Pantai Utara, Prabu Siliwangi, dan lain-lainnya. Berhadapan perang dengan Nimas Pandansari (Nyi Blorong) dalam sebuah pertarungan. Cerita tidak sampai disitu, dalam kesadarannya mampu merasakan sesuatu yang lebih jauh, para penguasa gunung dan lembah, para danyang dan lelembut. Semua seperti bertabrakan dalam dirinya. Setiap memasuki daerah ada saja kejadian yang terjadi, seperti mampu merasa kehadiran. Sungguh dimensi kesaktian yang melenakan. Sebab sangat terasa sekali efek di badan. Namun semua harus di tinggalkan dan ditanggalkan. Sebagaimana pesan-pesan Pak Sang Guru yang sempat terbaca. Bukan itu yang di cari. Perlahan diri meluruh, kembali kepada realitas kehidupan manusia.

Kembali sebagai manusia biasa, diajarkan apa itu rahsa takut. Ketakutan yang mendera jiwa dan raga. Hingga tubuh meringkuh tak mampu beranjak dari tempat tidur. Ketakutan yang di buat oleh persepsinya. Dikenalinya rahsa takut. Di bandingkannya rahsa takut tersebut. Seberapa kuatkah rahsa takutnya dengan Allah di bandingkan kepada selain Allah. Nyatanya dirinya masih lebih takut kepada selain Allah. Kenyataan itu tak bisa ditutupi, ketika kebutuhan sehari-hari, harus di penuhi, kewajiban hutang harus di bayar, ternyata level rahsa takut lebih tinggi daripada level rahsa takut kepada Allah. Masih ditinggalkan sholat dengan seenaknya. Dimanakah rahsa takutnya kepada Allah ?. Kesadaran di gedor atas hal ini. Kenapakah bisa tertipu ?. Sungguh diri juga tidak mengerti mengingat kejadian itu.

Allah belum menjadi realitas bagi dirinya, maka dirinya tidak takut kepada Allah. Itulah penyebabnya. Maka pemahaman selanjutnya  kembali diuji lagi. Di pahamkan lagi atas hakekat ini. Di datangkan begitu banyak rahsa takut oleh Allah, begitu banyak masalah yang di munculkan. Dibenturkan pada hakekat keadaan. Nyatanya apa saja yang dia takutkan tidak ada, tidak pernah terjadi, sehingga karenanya diri menyadari ada yang mengatur semua itu. Ada ketentuan dan ketetapan Allah dalam setiap kejadian. Maka takutlah hanya kepada Allah.  Maha Besar Allah. Itulah inti dari pengajaran-Nya.

Masih banyak lagi sebenarnya rahsa yang diajarkan. Marah, was-was, dan lain-lainnya, serta bagaimanakah mengenali serta meniadakannya, namun pada hakekatnya sama saja, kembali hanya kepada Allah dan Allah. Berat pada awalnya namun nikmat pada akhirnya.  Begitukah pembelajaran seorang yang awam dengan Islam ?. Jalan tak semanis seperti yang dia dengar. Namun semua terbalaskan, kini hasilnya nyaman di badan. Maka mulai saat itu, semakin dimantapkannya hati untuk terus BERGURU KEPADA ALLAH.

Membuat catatan-catatan untuk dibaca di kemudian hari. (Dan ini adalah salah satunya).  Mencari dan menyandingkan dengan catatan-catatan Rosululoloh (hadist) yang berkaitan dengan itu, bertanya sudahkah hasil yang di dapat dalam pengajaran kali ini sudah sama dengan hasil yang seharusnya, yaitu sebagaimana catatan yang dibuat Rosululloh untuk hal tersebut. Terus berjalan lagi, dalam diam dalam kontemplasi. Menata hati, agar tubuh ini nyaman ditinggali. Sebab diri bukanlah wali. Manusia biasa dan sangat biasa dalam kelemahan dirinya. Mencoba tegak di jalan ilahi. Dan sekedar mencoba berbagi khabar dengan lainnya lagi. Maka kembalinya  kepada sidang pembaca  juga,  bagaimana memaknai khabar ini. Khabar hanyalah sebuah berita , sebagaimana berita sore atau berita sore pagi hari. Selamat pagi sidang pembaca. Salam.

Wolauhualam.

salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 6 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 8 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 10 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: