Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Partikel Tuhan (God Particle)

REP | 06 July 2012 | 14:57 Dibaca: 488   Komentar: 36   0

CERN, the European Organization for Nuclear Research, has confirmed researchers were still analyzing data on the so-called God particle. Scientists at the Large Hadrons Collider are expected to say they are 99.99 per cent certain it has been found - which is known as ‘four sigma’ level, according to London’s Daily Mail. Etc..

Sederhananya. Sains sedang mempelajari proses yang membentuk materi. Materi yang intinya adalah berat atau massa. Mengapa benda bisa memiliki massa ?.

Penelitian sedang dilakukan untuk mengamati materi gelap yang membuat menjadi massa. Karena tanpa adanya sesuatu yang membentuk menjadi massa ini maka semuanya akan tetap menjadi cahaya. Melesat sampai ke ujung alam raya dan hilang. Jadi mulai dari big bang theory. Materi gelap atau super partikel ini yang saling mengikat dan menarik membentuk massa. Menarik partikel membentuk bintang, planet dan membentuk galaksi dan cluster.

Super partikel (materi gelap) ini yang dipercaya tengah bekerja dan mengatur proses pembentukan alam semesta. Makanya materi gelap ini secara anekdot dikatakan sebagai “God Matter” karena seolah materi Tuhan. Kemungkinan materi ini terbentuk hanya satu kejadian dalam kemungkinan trilyunan tumbukan antar “partikel” elemen.

Pengamat, ‘Sufi dan Fisika’

Hasil pengamatan dan eksplorasi para ilmuwan (matrialis) terhadap alam semesta, menghasilkan sebuah teori atas peristiwa kejadian (terciptanya) alam semesta yang terkenal dengan TEORI DENTUMAN BESAR (Big Bang). Para pendukung teori ini (pengamat) yakin sekali atas teori ini. Padahal peristiwa dentuman besar itu sendiri belum pernah mereka saksikan. Bagaimana mereka bisa begitu yakin (?). Para ilmuwan melakukan pengamatan dan eksplorasi terhadap alam semesta dari hasil  eksplorasi-nya  tersebut mereka menemukan dugaan-dugaan (Hipotesa). Berangkat dari dugaan tersebut mereka bekerja keras untuk mencari bukti-buktinya. Dengan bukti-bukti yang mereka dapatkan, akhirnya mereka mampu melakukan penerimaan (meyakini) atas kebenaran teori tersebut.  Begitulah alur terjadinya proses penerimaan atas sebuah keyakinan. Mereka selanjutnya meyakini (meng-iman-i)  teori penciptaan tersebut.

Sama kejadiannya dengan para sufi (baca; spiritualis) mereka adalah para pengamat, yang melakukan eksplorasi melalui jiwa mereka, mereka melakukan pengamatan terhadap alam semesta. Sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahimlah yang pertama kali menemukan jalan-jalan ini. (Milah Ibrahim). Mereka mampu memasuki hakekat-hakekat atas kejadian mencari bukti-bukti kebesaran Allah. Bagi para pengamat (spiritualis) peristiwa dentuman besar hakekatnya adalah ghaib, mereka tidak menyaksikan kejadiannya. Namun para sipritualis diperjalankan oleh Allah untuk mengamati sendiri dalam kesadaran mereka. Sehingga mereka mendapatkan referensinya dalam kesadaran mereka (bukti-bukti). Ketika mereka sudah mendapatkan referensi maka selanjutnya mereka mampu melakukan penerimaaan. Setelah diri mampu melakukan  penerimaan, maka muncullah keyakinan menjadi pondasi keimanan para spiritualis. Para spiritualis meuakini berita penciptaan dan berita hari akhir dengan keyakinan yang utuh. Keimanan yang total, sebab referensi untuk itu sudah cukup.

Sekali lagi, perlu dicatat bahwa kedua pengamat (para pengamat) sejatinya tidak melihat kejadian dentuman besar. Mereka hanya mencari bukti-bukti saja. Dengan bukti-bukti (referensi) tersebut keduanya kemudian mampu melakukan penerimaan. Akal dan pikiran menerima, jiwa menerima, kesadaran selanjutnya akan melakukan penerimaan dalam totalitas . Oleh karena itu kedua pengamat hakekatnya berada dalam dimensi keyakinan yang sama atas suatu kejadian yang telah mereka saksikan.

Dentuman Besar

Bagaimanakah kedahsyatan dentuman tersebut ?. Bagaimanakah hal ihwal mengenai proses kejadiannya, dan bagaimanakah sehingga terciptanya alam semesta adalah merupakan misteri. Kita akan mampu meyakini melalui penelusuran jejak-jejaknya, melalui perumpamaan, melalui contoh-contoh di alam dan tentunya dari petunjuk Al qur an itu sendiri. (Saya pernah mengulasnya dalam kajian Membaca Sunatulloh).

Kita akan sulit memasuki pemahamann proses kejadian alam semsta dan bagaimana kemudian di hancurkannya (kiamat)  , jika kita tidak memadukan pemahaman ini dengan memasukan disiplin ilmu lain. Ilmu fisika cukup banyak menjelaskan fenomena-fenomena alam, tentang cahaya, gelombang, partikel, fotolistrik, dan lain sebagainya. Maka sedikit banyak saya akan menggunakan istilah dalam ilmu fisika, karena sulit mencari kata lain sebagai padaannya.

Saya akan mencoba membawa pemahaman tersebut kepada sebuah contoh klasik. Saya akan mengambil contoh saat televisi dinayalakan (Televisi tabung). Apakah yang terjadi ?. Kemudian televisi kita matikan. Apakah yang terjadi ?.

Tabung televisi berisi elektron (katoda), yang tersimpan,  ketika di mampatkan oleh tegangan yang tinggi maka akan terjadi seperti ledakan dahyat yang menyebar ke segala arah (dalam tabung hal ini diarahkan). Jika proses tersebut kita lihat melalui layar televisi, seperti ada setitik cahaya kemudian merayap dengan cepat memenuhi seluruh  layar. Fase inilah yang akan saya jadikan perumpamaan. (coba kita amati melalui gerakan lambat). Kebalikannya ketika listrik dimatikan di layar kaca akan nampak sebagai proses kebalikannya, cahaya (elektron) seperti terhisap masuk ke dalam satu titik dengan cepat sekali. Pada akhir proses kita hanya melihat se titik cahaya di layar tersebut,  yang kemudian perlahan hilang.

Perumpamaan ini untuk mendapatkan visualisasi atas sifat cahaya ketika di lontarkan dan ketika di hisap kembali. Cahaya akan nampak seperti itu. Sebuah dentuman besar melontarkan postulat-postulat cahaya, kemudian ketika daya lontaran habis cahaya tersebut akan tertarik kembali ke titik asal diamana dia dilontarkan. Keadaan inilah yang ingin saya sampaikan.

Marilah kita coba masuki melalui perumpamaan tersebut, gerakan cahaya semua akan kita perlambat. Dari ketiadaan, ada sebuah kehendak yang memampatkan keadaan, kemudian terjadilah dentuman luar biasa sekali. Melontarkan postulat cahaya dengan daya lontar sangat fantastik sekali. Selama dalam fase lontaran inilah terjadi proses pembentukan materi. Pembentukan alam semesta ini. Dan diperkirakan  setelah 15 milyard tahun cahaya terbentuklah alam semesta, sebagaimana  dapat kita saksikan keadaan alam semesta seperti sekarang ini.

Daya lontar tersebut sangat luar biasa kuat sekali, sehingga alam semesta ini seakan-akan mengembang terus sampai kini. Keadaannya akan akan terus mengembang hingga suatu saat nanti  daya lontaran dari dentuman besar suatu saat habis. Ketika alam semesta kehilangan daya dorongnya, (Lihat Hukum-hukum Mekanika) secara terori alam semesta akan jatuh.  Namun mari perhatikan perumpamaan selanjutnya.

Sebagai perumpamaan ketika kita melontarkan bola yang sudah kita ikat karet, maka saat daya lontaran kita habis, bola akan mengalami gaya tarik, dari  karet yang menahannya.  Bola akan mendapatkan gaya yang berlawanan arah (tertarik) dengan sama kuatnya seperti saat di lontarkan. . Sehingga jika karet kita hilangkan dari pandangan, seakan bola bisa kembali ke asalnya sendiri, ketika daya lontarnya habis.

Pertanyaannya adalah dari mana daya hisap  yang akan menarik alam semesta kearah awal saat mana di lontarkan. (?).

Dentuman yang besar akan membuat lubang besar (ruang dimensi) di langit di tempat ledakan. Kita pernah melihat film tentang lorong waktu. Nah, keadaannya mirip dengan itu.  Lubang ini memiliki sifat berkebalikan dari dentuman itu sendiri. Jika dentuman mengakibatkan daya lontaran, maka lubang ini memiliki kekuatan menghisap yang sama besar. (Berdenyut)  Gaya hisap inilah yang menahan alam semesta, (mengakibatkan gaya sentripetal)    terhadap benda-benda langit. (Kedua gaya yang berlawanan ini harus sama dengan nol).

Mari kita coba ulangi dalam gerakan lambat, sebuah dentuman akan menyisakan ruang kosong antar dimensi (serupa lorong waktu). Postulat-postulat yang dilempar akan mengalami daya dorong sebesar, gaya lontaran dari dentuman tersebut. Ruang kosong ini seumpama denyutan, ketika habis dayanya maka ruang ini akan menutup. (Proses menutupnya ini  akan seiring dengan habisnya daya lontaran). Pada saat proses menutupnya ruang ini (lubang besar) akan menimbulkan daya hisap luar biasa besarnya sehingga akan menarik kembali benda-benda langit yang dilontarkannya. Mengembalikan mereka semua ke asalnya. Itulah perumpamaannya.

Dalam gerakan cepatnya, adalah seperti perumpamaan cahaya pada tabung televisi. Sebenarnya prosesnya adalah sangat cepat seperti itu (dalam ilmu Allah). Seperti dalam satu dentuman saja. Melontar dan menarik dalam satu detik yang hampir bersamaan. Coba perhatikan lagi saat telivisi kita nyalakan kemudian mendadak kita matikan. (Prosesnya kita perlambat). Bayangkan jika tegangan listrik diganti oleh dentumanbesar. Maka prosesnya terasa dalam satu kejapan mata saja, seperti tidak ada apa-apa. Seperti cahaya datang dan pergi dalam satu tarik saja. Blast..blast nampak keluar dari satu titik dan kemudian masuk lagi ke dalam satu titik yang sama.

Ketika kita berada di luar dimensi alam semesta maka kita akan melihat kejadian tersebut sebagai kilatan cahaya saja. Dentuman besar melontarkan cahaya ke segala arah, merambat cepat rt…rt.. dan seketika menyurut  lagi dengan sangat cepat pula. Di tempat yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan pula.

inilah kejadian penciptaan dan hari akhir dalam satu langkah saja, namun setelah terbentuk materi maka terciptalah waktu, karena sudah ada waktu maka kejadian ini di tandai dengan waktu yaitu 6 (enam) masa.

Kita tidak pernah tahu kapan daya lontar itu habis. Kapan lubang besar akibat dentuman tersebut di tutup. Jika fasenya dikembalikan maka saat itu pula alam semesta di tarik kea asalnya. Sebagaimana telivisi yang dengan sesuka kita kapan hidup dan kapan dimatikan.

Perumpamaan selanjutnya, dentuman besar tersebut seumpama kembang api besar pada saat malam tahun baru. Ketika kembang api besar meledak di angkasa, akan melontarkan postulat yang lebih kecil, yang lebih kecil juga akan meledak, melontarkan postulat lagi, dan seterusnya. Disamping postulat besar, saat meledak banyak sekali cahaya yang juga ikut terlontar, berkejaran kesana kemari. Inilah visualisasi proses saat terjadinya dentuman besar.

Postulat yang meledak yang meledak memiliki medan magnet sehingga postulat yang  lebih kecil yang dilontarkannya tertahan dalam medan grafitasi sehingga mengalami gaya sentripetal, membentuk formasi tata surya.  Planet berotasi dan berevolusi.

Berita Hari Akhir vs Berita Sore


Berita tentang  ‘Hari Akhir’ seharusnya selalu menjadi berita yang up to date dalam kesadaran kita. Seharusnya menjadi ‘Head Line’ dalam konsepsi system pemberitaan umat Islam, sehingga berita ini akan senantiasa menjadi berita ter ‘panas’ menjadi  “HOT NEWS’, yang akan selalu mengingatkan kepada kita bahwasanya ‘hari’ tersebut pasti datang.  Dan mampukah kita membangun system ‘peringatan dini’ atas akan datangnya peristiwa besar tersebut kepada umat ?. Berita tersebut kalah dengan berita sore di televisi kita.

Marilah kita beritakan lagi. Bagaimana keadaan hari tersebut ?.

Masuki saja keadaan ini. Bagaimana ketika bumi mengalami daya hisap luar biasa, bumi berputar mengikuti gaya tersebut, terus berputar berusaha melawan daya hisapan yang begitu dahsyat. Sehingga keadaan perut bumi seakan di goncang demikian kuat. Putaran yang semakin kuat tersebut mengakibatkan permukaan bumi seperti mengelupas, seperti kulit jeruk yang di kupas.

Selama dalam proses bumi di putar, gunung-gunung  saling berlontaran, manusia dan seluruh makhluk yang diatas permukaan bumi  tercerabut dari akarnya, semua bertebangan bagai bulu-bulu yang tertiup angin. Dan ketika lapisan permukaan bumi  terkelupas, nampaklah magma bumi di dalamnya, langit menjadi seakan-akan (nampak seperti) cairan tembaga yang terbakar. Saat mana manusia dalam keadaan berterbangan dia dapat menyaksikan itu semua. Saat mana bumi  mendapatkan ‘gaya hisap’ yang sangat luar biasa, membetot-nya,  menerbangkan segalanya. Dimana saking kuatnya gaya tersebut, seiring perlahan tapi pasti bumi menjadi serpihan-serpihan kecil , hingga menjadi berwujud debu. Begitu juga manusia, mulai dari rambut, kulit, otot, ter-betot,  semua bagai terkelupas, berserpihan, tak berwujud lagi, hingga menjadi butiran debu, yang terus tersedot, terhisap oleh kekuatan yang maha dahsyat. Semua saling menyaksikan kejadian tersebut. Seiring kejadiannya berlangsung terus,  belum berhenti, masih terus ter-hisap dengan dahsyatnya, sehingga keadaannya manusia, bumi dan alam berikut segala isinya,  berubah menjadi wujud energy. Energy yang kemudian  merambat dengan cepat, menjadi hanya seberkas cahaya. Blast..blast..!. Cahaya ini melesat dengan kuatnya seperti mengalami daya tarik (hisapan) black hole. Rrr..rrt…rt. Blast..Blast..!. !. Setelahnya, diam..hening..lengang..senyap. Langit dalam keadaan  tanpa ruang dan waktu. Sepertinya begitu. Dalam keheningan..keheningannya sendiri.

Kejadiannya  begitu dahsyat, begitu kuat, …. kemudian alam semesta hening kembali. Seketika keadaannya, seperti berada dalam dimensi tanpa ruang dan waktu. Suwung saja !.    Maka kemudian kita bersiap memasuki fase berikutnya. Fase yang disebut dengan HARI PEMBALASAN.

Dimensi surga dan neraka

Black hole akan menghisap alam semesta. Dan alam semesta  kemudian akan keluar lagi di sisi satunya. Dimana menurut teori (spiritualis) di dalam lorong black hole akan terjadi pemisahan dualitas. Blachole menjadi semacam filter pemisah. Lorong tersebut seperti sebuah padang yang panjang membentang, yang  disebut padang masyar.

Setelah mengalami hisapan dan keluar dari sisi lainnya. Dunia akan berada dalam dimensi tanpa dualitas lagi. Baik dan buruk akan terpisah dengan sendirinya. Tidak ada lagi kutub utara dan kutub selatan,  akan ada garis pembatas yang jelas yang memisahkan dua kutub tersebut. . Garis pembatas yang seperti air laut atau seperti eter. Sebagaimana kita lihat dalam film-film di televisi. Seperti medan energy yan memisahkan kedua alam disana. Tidak ada lagi muatan positip atau negatip. Dalam satu klata alam disana adalah alam tanpa dualitas. Senang (surga) dengan alamnya sendiri, sedih (neraka)  dengan alamnya sendiri. Dan lain-lannya.

Begitulah  alam surga dan alam neraka, hanya terpisah eter. Eter (medan energy) ini yang akan menjadi pembatas dua dunia. Sehingga manusia yang di surga dapat mengunjungi rekannya yang di neraka. Namun kebalikannya yang neraka tidak akan mampu mengunjungi yang di surga. Medan gaya magnet sudah memisah dengan sendirinya. Alam disana adalah alam tanpa dualitas lagi. Begitulahkeadaan disana,  dalam kesadaran anak manusia yang mencari dalam dimensi spiritual. Mencari bukti-bukti adanya hari pembalasan secara rasional. Walohualam

Berita hari ini adalah berita hari kiamat, kami sampaikan dengan hak;

Hari kiamat

Apakah hari kiamat itu

Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu ?

Pada hari itu manusia seperti laron yang berterbangan

Dan gunung-gunung seperti bulu yang di hambur-hamburkan

(QS. Al qori ah 1-5)

Wolohualam

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Jejak Digital, Perlukah Mewariskannya? …

Cucum Suminar | | 23 July 2014 | 10:58

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 4 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat anda? …

Robert O. Aruan | 5 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: