Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Amgah

Pria bernama lengkap Abdi Marang Gusti Alhaq ini memiliki hobi menari. Menari dengan jari tangan selengkapnya

Filosofi Catur

OPINI | 28 June 2012 | 14:27 Dibaca: 391   Komentar: 0   0

Chess (jangan ditambahkan awalan nge- di depan), Chess atau catur sebenarnya menyimpan misteri yang cukup. Cukup sulit, cukup banyak, dan cukup buat bikin pusing. Benak pertama yang muncul ketika mencoba catur.
“Ini siapa ya yang nemuin. Jago banget ya orangnya. Bisa mikirin langkah-langkah setiap pieces catur. Terus naro posisi awalnya. Ngitungin berapa kotaknya. Ada ya orang kaya gitu. Aku bisa gak ya kaya gitu, kagum deh.” - Amgah Kecil
Wah sampai sekarang aku masih belum tahu siapa yang menemukan catur.
Hari-hariku kini diisi dengan papan catur. Terlebih karena aku sedang sakit dan susah untuk berjalan. Jadinya sebagian hariku habis di kasur. Untuk membuatnya berguna, aku bermain catur. Loh?
Game caturku mempunyai tingkat kesulitan antara 1-10. Gengsi dong jika aku yang notabenenya anak SMA memulai game dengan tingkat kesulitan 1. Akhirnya aku memulai dengan tingkat kesulitan 3.
“Apa bedanya gah, 1 sama 3 cuma dipisahin sama 2.”
“Ssst, udah jangan berisik.”
Nah, tingkat 3 ini lumayan sulit. Terlebih aku baru di dunia percaturan. Aku hanya tau bagaimana cara melangkah. Aku lupa bagaimana strategi untuk menang. Satu kali, dua kali, lima kali, akhirnya. Di percobaan ketujuh aku berhasil menang. Statistik menunjukan win 1 draw 1 lose 5.
Susah juga ya, tapi seru. Aku merasa tertantang. Sepertinya komputer terus mengajakku untuk bermain
“Bilang aja kamu emang pengen main, Gah. Gausah bawa bawa komputer”
“Ssst. Dibilang diem”
Setelah beberapa kali main, kini statistik menunjukan win 16 draw 1 lose 22.
“Wkwkwk kalahnya banyak banget.”
“Berisik, yang penting menang 16 kali tuh.”
Nah dari catur aku belajar banyak hal. 22 kekalahan cukup untukku membuka mata. Catur melatihku untuk fokus dan  bekonsentrasi. Longgar sedikit aku akan kalah. Jadi hal pertama yang aku pelajari adalah fokus.
Menang 16 kali bukan perkara mudah bagiku. Cukup sulit
“Padahal baru tingkat 3 tuh”
“Ngomong lagi yang enggak enggak, aku matiin ya komputer”
Dari 16 kemenangan aku mengerti bahwa untuk menang aku harus bisa membaca pikiran lawan. Kemudian mengerti apa yang lawan rencanakan. Selain itu aku juga dituntut untuk teliti. Karena setiap langkah sangat berarti untuk kelanjutan permainan.
Dari teknik membaca pikiran lawan, aku belajar melihat dari sudut pandang orang lain. Aku juga belajar untuk lebih mengerti orang lain, lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Aku ingin sekali dimengerti tanpa harus mengerti. Karena untuk bisa mengerti itu repot. Tapi aku sadar bahwa untuk dimengerti, terlebih dahulu aku harus  mengerti. Tak ada jalan pintas.
Ketelitian di dunia percaturan suka menari-nari sambil sambil tertawa kecil. Siapa yang melihat peluang akan menari bersamanya. Siapa yang terbuai sehingga tidak waspada, akan hanyut dalam bahaya. Ketidakwaspadaan dapat lahir dari kesombongan. Di catur aku belajar untuk teliti, sederhana, tidak sombong, dan rajin menabung. Rajin menabung pieces lawan (supaya menang).
Karena setiap langkah sangat berarti. Aku juga belajar untuk menjadi decision maker. Aku belajar mengambil keputusan saat tertekan. Aku belajar mengambil keputusan yang terbaik. Game yang aku punya juga ada batas waktu untuk setiap kali jalan. Aku bisa belajar untuk mengambil keputusan disaat dikejar-kejar oleh waktu. Ternyata catur banyak juga ya manfaatnya.
Semua pembelajaran dari catur menjadi berguna ketika diaplikasikan dalam kehidupan. Aku ingin sekali menguasai semua pembelajaran itu dan dapat mengaplikasikannya di kehidupanku. Namun tak jarang dalam hidupku aku mengambil keputusan yang salah. Yang bahkan mengubah kehidupanku yang indah menjadi suram. Namun, sekali lagi aku belajar dari catur bahwa aku harus belajar dari kesalahan. Selain itu, ada hal di luar catur yang cukup memotivasiku. Sebuah quote dari buku 5cm:
Walaupun manusia tidak akan pernah bisa memutar kembali waktu untuk mengulang kembali semuanya dari awal, Tuhan telah memberikan kebebasan bahwa setiap manusia bisa memulai kembali semuanya dari sekarang. Untuk membuat akhir yang baru. Akhir yang lebih indah” - 5cm
Nah quote tadi adalah penutup filosofi catur. Semoga apapun yang kita kerjakan selalu membawa kebaikan kepada diri kita dan lingkungan sekitar :).  Jika ada kritik dan saran sampaikan kepada kami. Jika artikelnya bagus dan berguna, sampaikan amgah.blogspot.com kepada orang lain. Terima kasih para pembaca :D. Sampai jumpa di artikel-artikel berikutnya.
Sumber Gambar: http://amgah.blogspot.com (dokumen penulis)
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 7 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 8 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 9 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 11 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: