Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arief Indrawan

Dengan bangga beragama Al-Islam Mahasiswa Hukum Jurusan Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Pancasila

Perbedaan Antara Orang yang Menggunakan Kebiasaan Internasional dengan Orang Muslim yang Shalih

OPINI | 26 June 2012 | 13:45 Dibaca: 566   Komentar: 8   1

Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu

Dalam Hukum Internasional, kebiasaan internasional adalah salah satu sumber hukum internasional. Menurut pasal 38 ayat 1 (b) Statuta Mahkamah Internasional, kebiasaan internasional merupakan kebiasaan umum yang diterima sebagai hukum dan menurut Prof.Sumaryo Suryokusumo, Hukum Kebiasaan Internasional terdiri dari unsur-unsur yang bersifat normatif yang merupakan praktek-praktek negara secara umum yang sudah diterima sebagai hukum dan mengikat terhadap semua negara. Tetapi kebiasaan internasional yang saya maksud disini adalah kebiasaan internasional karangan saya, orang yang menggunakan kebiasaan internasional (karangan saya) adalah orang yang setiap perbuatannya dilakukan tanpa dalil agama hanya berdasarkan apa yang dilihatnya di televisi, sinetron dan film baik nasional maupun luar negeri dan apa yg sudah menjadi hal lumrah di masyarakat. Begitu lah saya menyebutnya kebiasaan internasional.

Berikut saya akan memberikan beberapa contoh perbedaan antara orang yang menggunakan kebiasaan internasional dengan orang muslim shalih tetapi hanya yang menarik saja yang mungkin tidak disadari orang banyak:

Pertama, orang yang menggunakan kebiasaan internasional apabila menonton film Romeo & Juliet yang mana ada adegan bunuh dirinya, setelahnya ia akan berkomentar “wah film ini keren banget!”, “ini film yang paling romantis yang pernah ada”, “gila, cuma film ini yang membuat saya menangis!.” Apabila orang yang menggunakan kebiasaan internasional tsb berkewarganegaraan amerika serikat dia akan berkata “what a romantic story!”, “what a sad story!” dan sebagainya. Ada pula jika film tersebut dijadikan dalam bentuk DVD, maka pada covernya ada nilai 2 jempol yang diberikan sebagai tanda sangat bagusnya film tersebut.

Sebaliknya, orang muslim yang shalih menonton film tersebut pada bagian akhirnya saja yaitu adegan bunuh diri pemeran romeo dan juliet, maka ia akan mengerutkan dahinya menandakan ketidaksetujuannya dan berkomentar “seandainya dia orang muslim pun, dia tidak akan masuk surga.” Karena orang muslim tersebut mengetahui hadits yang berbunyi Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sebelum kamu, pernah ada seorang laki-laki luka, kemudian marah sambil mengambil sebilah pisau dan di potongnya tangannya, darahnya terus mengalir sehingga dia mati. Maka berkatalah Allah: hambaku ini mau mendahulukan dirinya dari (takdir) Ku. Oleh karena itu Kuharamkan sorga atasnya.” (Riwayat Bukhari, dan Muslim)

Kedua, beberapa dari orang yang menggunakan kebiasaan internasional apabila ia melihat seorang temannya yang sedang merasa sedih atau sedang menghadapi suatu masalah yang berat, untuk menolong temannya ia berinisiatif mengajak temannya tersebut pergi ke klub malam untuk meminum minuman-minuman beralkohol disana, ia berkata kepada temannya “ayo kita pergi bersenang-senang dan minum minuman beralkohol agar lo bisa lupain semua masalah lo itu!” maksudnya sebenarnya baik tetapi hanya karena ketidaktahuannya saja begitu.

Sedangkan orang muslim yang shalih apabila melihat seorang temannya yang sedang sedih karena masalah berat yang sedang ia hadapi, orang shalih tersebut akan berusaha menguatkan temannya dan menasihatinya “temanku, bersabarlah karena Allah swt sudah mengabarkan bahwasanya hamba-hamba-Nya di dunia akan diberi ujian demi ujian untuk menguji ketaatannya kepada Tuhannya. Percayalah, Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak dapat diatasi hamba-Nya, sambil ia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya ayat 155 surat Al-Baqarah Allah berfirman: “Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Dan ayat 5-6 surat Asy-Syarh atau alam nasyrah Allah berfirman: “Maka, sungguh beserta kesulitan ada kemudahan, sungguh beserta kesulitan ada kemudahan.”

Yang terakhir, apabila calon istri atau istri dari orang yang menggunakan kebiasaan internasional mengatakan kepadanya “aku akan berjilbab atau shalat demi kamu mas!” maka orang yang menggunakan kebiasaan internasional akan merasa sangat senang dan bangga akan hal itu. Sedangkan orang yang shalih apabila mendengar hal tersebut dari calon atau istrinya maka ia akan merasa terganggu dan tidak senang karena merasa dijadikan Thaghut (Tuhan selain Allah atau perbuatan bertuhan kepada selain Allah) oleh calon atau istrinya tersebut.

Wassalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 20 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: