Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Florensius Marsudi

Lelaki sederhana, istri satu, anak satu, putri. Sedang belajar (lagi). Belajar menulis....

Perempuan Menemukan Jodoh

REP | 20 June 2012 | 07:34 Dibaca: 1396   Komentar: 167   62

Sekedar mendengarkan

“Mas, doakan aku ya….supaya aku segera menemukan (jodoh) pria idamanku.”

Begitulah sepenggal kalimat yang terlontar dari perempuan cantik semampai, 170 cm itu. Panggil saja Tin.  Tin,  sahabatku, sama-sama bersekolah di  Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ketika lulus, ia langsung mengajar di pulau Sumatra, lima tahun kemudian ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Setahun setelah diangkat menjadi PNS, ia melanjutkan kuliah.  Pas delapan semester ia selesaikan kuliahnya.  Dan beberapa bulan lalu ia selesaikan Master of  Education-nya.

Hingga kini, usianya sudah “kepala empat”, belum juga ia menemukan pria idaman hatinya.

Setelah berbincang dengannya dalam banyak hal: tentang cara dia memikirkan hidup ini, cara dia menghadapi lawan jenis (lelaki), pun cara dia menghadapi kerja;  akhirnya saya memunyai beberapa pengamatan - kesimpulan yang sederhana, mengapa Tin belum juga menemukan lelaki idaman.

Pertama

Ketika seorang wanita merasa diri ’super’, merasa diri ’sangat terdidik’ dan memandang lawan jenisnya (laki-laki) tidak setara dengannya, maka “rasa diri” yang mengarah pada keangkuhan itulah menjadi penyebab - salah satu penghambat -  seorang lelaki tidak mau mendekati perempuan. Bahasa simple-nya, siapa sih yang mau dekat dengan wanita angkuh nan sombong?

Kesombongan adalah “penyakit sosial” yang mampu menjauhkan satu manusia dengan manusia lainnya.  Sebagai manusia, entah laki - laki atau perempuan, sangatlah bijak  kalau mau bersikap lembah manah - rendah hati ketika berhadapan dengan siapapun.

Kedua

Sangat baik, jika manusia itu mau berinteraksi dengan yang lain. Interaksi itu bisa dalam bentuk kongko-kongko, kumpul-kumpul; berorganisasi.  Teramat kusayangkan (entah karena terlalu sibuk) kalau ada orang (wanita ataupun laki-laki) yang tak ada waktu untuk menyempatkan diri berkumpul dengan yang lain. Berkumpul - berorganisasi yang positif pastilah juga akan mendapatkan dampak yang positif. Dalam hal ini, orang juga dituntut untuk pandai membawa diri dan mengatur waktu.

Mengatur waktu, kapan untuk diri sendiri, kapan waktu untuk orang lain. Kapan ‘memajukan’ orang lain, kapan waktu untuk menambah daya tarik  diri yang positif.

Ketiga

Mengejar karier - kerja - prestasi, memang baik. Namun, mestinya  ketiga hal tersebut (karier - kerja - prestasi) juga semakin meningkatkan kualitas diri. Meningkatkan kualitas  hidup untuk dapat berbaur dengan yang lain sehingga  menjadi semakin baik.

Ketiga hal tersebut mestinya mampu menjadi “cermin” keberhasilan, bahwa keberhasilan itu terjadi, tersokong berkat dan karena orang lain. Orang bisa mengejar prestasi, karier bahkan orang bisa  memperoleh kerja yang bagus; namun jika hal tersebut diperoleh dengan “menjilat”, “menyikut” bahkan  “menjatuhkan” yang lain,  lalu apalah gunanya semua itu?  Apalagi keburukan itu (menjilat, menyikut bahkan  menjatuhkan) dilakukan oleh seorang wanita…..olalala, runtuhlah dunia ini.

Kasanah pemahaman tradisional kita mengatakan, bahwa “wanita, berani menata - ditata;  perempuan, yang di-empu-kan, dihormati-dituakan.”

Keempat

Di atas muka bumi ini tak ada yang sempurna. Ketika seseorang (wanita) terlalu banyak menuntut, apalagi menuntut kesempurnaan (lawan jenisnya: lelaki), ia akan menemukan kesia-sian. Kesempurnaan itu bisa diraih ketika manusia sudah dibungkus kain kafan, itupun orang lain yang membungkusnya.  Artinya, kesempurnaan itu akan terupayakan jika manusia mau “berada bersama” dengan yang lain dengan menerimanya.  Kalimat yang sederhana, cantik itu relatif, ganteng itu relatif, namun hati yang baik, bertanggung jawab nan mulia, itulah yang perlu dan harus ada.

Kelima

“Mas, doakan aku ya….supaya aku segera menemukan (jodoh) pria idamanku.”  Seseorang (pria ataupun wanita) perlu memiliki keyakinan. Keyakinan yang dilapisi dengan pengharapan. Pengharapan yang perlu disertai dengan usaha tulus, baik dan manusiawi.

Andai serentetan kalimat tersebut dijalani dengan benar, moga-moga seorang wanita tak akan pernah dijauhkan dari jodohnya laki-laki. Andai juga belum menemukan jodoh, yakinilah bahwa “Gusti Allah memberi sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya, bukan sesesuai kehendak kita” dan disinilah sebenarnya ujian ketulusan itu dimulai….

Tak perlu risau

Akhirnya, dalam hidup ini tak ada yang perlu dirisaukan; jika kita memang sadar bahwa kita sungguh-sungguh hidup. Kadang manusia risau, galau dan seterusnya…karena manusia hidup hanya sekedar hidup.

Berbahagia dan berbanggalah dengan hidup ini, terlebih dengan segala sesuatu yang telah Ia berikan, apapun itu.

———————————–
Flo sedang mendampingi beberapa anak muda yang resah akan “calon” pasangan hidupnya.



 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 2 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 3 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 3 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 4 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: