Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ahmed Tsar Blenzinky

Ingin menjadi penulis multi talenta..... Ikuti @AhmedTsar

Sabar Tiada Batasnya: Bohong Itu!

OPINI | 10 June 2012 | 16:32 Dibaca: 513   Komentar: 0   0

ilustrasi (sumber: exp.lore.com)

ilustrasi (sumber: exp.lore.com)

Orang kebanyakan mungkin punya prinsip: Sabar itu ada batasnya. Sebaliknya, orang-orang yang bersebelahan dengan yang kebanyakan, berprinsip sabar tiada batasnya. Lalu mana yang benar? Nanti dulu kalau berbicara kebenaran hati-hati terlalu sensitif, setidaknya harus ada ukurannya. Ukuran untuk menimbang apakah sabar ada batas atau tidak, mengacu pada kehidupan. Maksudnya? Begini, sabar itu bisa dinikmati ketika seseorang hidup. “Yeh, itu mah semua orang tahu, terus?” Ya kalau orang sudah meninggal tentu tidak bisa menikmati sabar.

Nah artinya, sabar itu ada batasnya karena orang hidup itu terikat dengan batas waktu. Lebih jauh, keseharian orang hidup itu selalu terkait dengan waktu. Ilustrasinya begini: Waktu mengandaikan suatu perjalanan detik dari batas ke batas lainnya. Batas itu ada yang bernama Menit, Jam, Hari dan satuan ukuran waktu lainnya. Kalau begitu, seseorang yang hidup terlibat di dalam perjalanan detik tersebut.

Bayangkan, kalau misalnya orang berprinsip sabar itu tiada batasnya. Ada tiga kemungkinan yang terjadi. Pertama, orang itu hidup di dunia hampa waktu (ada nggak seh dunia seperti itu?). Kedua, orang itu bukan lagi bersifat seperti manusia tapi seperti malaikat (ini analogi). Ketiga, orang itu tidak menpunyai rasa syukur untuk menikmati waktu karena berani menerobos batas-batasnya.

Mari membahas poin ketiga tersebut karena di dalamnya ada definisi (operasional) sabar. Munculnya sifat sabar itu biasanya karena apa? Atau, apa penyebab terjadinya sabar? Kata kuncinya terangkum pada kata: Menunggu. Maksudnya, sabar adalah menunggu harapan agar terwujud di kenyataan. Nah kalau tidak terwujud berarti ada masalah. Masalah mengandaikan adanya ketimpangan antara keinginan dengan sesuatu yang terjadi (sesuatu yang terjadi itu di luar keinginan). Lebih jauh, adanya ketimpangan biasanya karena adanya harapan yang tidak terwujud di sesuatu yang terjadi itu.

Nah, sabar mencerminkan seni menikmati harapan yang tidak terwujud sampai batas waktunya. Seni menikmati mengandaikan di dalam proses menunggu ada “semacam modifikasi harapan” sehingga ketika sampai batas waktu kesabaran datang, hadir harapan baru. Cara memodfikasi harapan dapat melalui jalan menata niat kembali. Maka dari itu sabar mencerminkan “seni menikmati” karena di dalamnya ada kreativitas (baca: tidak kaku) dalam memaknai harapan. Ya itu tadi dengan cara menata niat.

Tujuannya jelas agar ketika sabar melewati batas waktunya, tidak kecewa (yang berujung pada dendam). Itu dampak kedua. Dampak pertama kalau sabar ada batasnya tadi sudah disebutkan, yaitu hadir harapan baru karena niat berhasil ditata kembali. Salah-satu caranya mengubah persepsi bahwa “selalu ada hikmah di balik kejadian yang melibatkan proses sabar.” Itu satu. Kedua, mengubah persepsi bahwa masalah merupakan tantangan yang akan selesai bila momentumnya tepat.

Tujuan besarnya, mengapa sabar itu ada batasnya? Ya agar seseorang tidak terpaku pada masalah itu-itu saja yang melibatkan proses sabar. Dalam hal ini setiap batas waktu yang dilewati oleh kehidupan seseorang, selalu ada rasa bersyukur karena hadirnya harapan baru lagi dan lagi.

Jadi sabar itu indah bila sudah melewati batasnya.

*Tulisan ini terinspirasi dari dialog alter ego antara batin penulis dengan benak penulis yang dimoderatori pikiran penulis.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 5 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: