Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Agung Wibowo

Masih belajar menulis, mencurahkan isi pikiran, buat perkembangan diri sendiri, jika bermanfaat bagi orang lain, selengkapnya

Dilema Wanita Karir; Antara Keluarga dan Pekerjaan

OPINI | 30 May 2012 | 14:35 Dibaca: 1134   Komentar: 5   1

Dari pengalaman pribadi selama bekerja di perusahaan swasta yang bergerak dibidang manufaktur elektronik, penulis mengetahui bahwa sebagian besar dari karyawan yang ada di perusahaan tipe tersebut adalah wanita. Jika dihitung mungkin lebih dari 70% adalah wanita. Di perusahaan yang sekarang, dengan total 10 ribu karyawan, berarti ada hampir 7 ribu karyawan wanita.

Sebagian besar karyawan wanita tersebut berada di bagian produksi, tempat dimana sebuah proses untuk menghasilkan product berlangsung. Karena wanita terkenal lebih sabar, lebih teliti dibandingkan dengan pria, pantaslah jika sebagian besar karyawan dibagian tersebut didominasi oleh kaum wanita. Sehingga produk yang dihasilkan bisa lebih berkualitas karena dikerjakan oleh tangan-tangan terampil nan sabar dan teliti.

Selain berada di bagian produksi, karyawan wanita tersebut juga tersebar merata di hampir semua bagian yang ada. Ditempat penulis, hampir 50% diisi oleh karyawan wanita. Walaupun demikian soal pekerjaan, para karyawan wanita tersebut tidak kalah dari karyawan pria, bahkan sebagian ada yang melebihinya.

Selain biasanya karyawan wanita lebih sabar dan teliti, untuk urusan ketekunan mereka lebih bisa diandalkan dari karyawan pria, termasuk jika dibandingkan dengan penulis tentunya.

Satu hal yang sering penulis tahu tentang karyawan wanita, terutama yang sudah menikah adalah ketika urusan pekerjaan berbenturan dengan urusan keluarga. Misalkan ketika bulan-bulan menjelang masuk sekolah untuk siswa baru, bisa dipastikan karyawan wanita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak yang mulai masuk sekolah akan datang terlambat, atau bahkan tidak bisa masuk kerja.

Berbeda dengan karyawan pria, jika ada urusan seperti diatas, biasanya mereka tetap masuk walaupun terlambat. Atau paling tidak datang terlebih dahulu untuk sharing masalah pekerjaan dengan rekan kerjanya, kemudian baru ijin untuk pulang lebih cepat.

Sebenarnya pihak perusahaan telah memberikan beberapa keringanan seperti cuti khusus untuk setiap karyawan, baik pria maupun wanita. Jadi ketika ada urusan keluarga yang penting dan tidak bisa ditinggalkan, setiap karyawan terutama karyawan wanita bisa memanfaatkannya tanpa menyalahi peraturan perusahaan.

Tetapi untuk urusan pribadi yang mendadak seperti anak sakit atau keluarga ada yang sakit, sedangkan cuti telah habis, pada akhirnya membuat karyawan tersebut tidak masuk kerja tanpa cuti. Jadi tidaklah mengherankan jika banyak dari karyawan wanita yang absensinya sedikit jelek, sering tidak masuk kerja karena urusan tersebut diatas.

Memang tidak bisa dihindari oleh setiap karyawan, terutama wanita, ketika suatu ketika terjadi benturan antara urusan pekerjaan dan keluarga. Maka urusan pekerjaan menjadi nomer kedua, toh masih bisa dikerjakan oleh rekan kerja yang lain. Dan urusan keluarga menjadi nomer satu, menurut penulis itu manusiawi.

Walaupun demikian, penulis tetap menghargai setiap karyawan wanita baik dibagian penulis sendiri maupun dibagian lain. Tanpa kehadiran mereka, niscaya beberapa pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan baik.

Itulah dilema wanita karir ditempat penulis, antara keluarga dan pekerjaan, sama-sama penting, terutama jika sang karyawan adalah satu-satunya pencari nafkah dikeluarga. Penting bagi mereka dan kita semua yang sudah berkeluarga untuk menjaga keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan. Membagi waktu yang berkualitas dan menghargai waktu yang kita jalani baik di lingkungan pekerjaan maupun keluarga.

Bagaimana dengan Anda?

Cikarang/30 May 2012 21.32

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 8 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: