Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bakungan

seorang anak manusia yang masih perlu banyak belajar akan arti kehidupan.

Surga-neraka yg Tidak Kekal (versi Hinduism)

OPINI | 28 May 2012 | 05:02 Dibaca: 320   Komentar: 8   1

Sorga, suargan, surga dan lain-lain sebutannya, neraka hanya satu saja, hanya neraka. Kenapa demikian ya?
Baiklah abaikan saja dgn nama-nama itu, mungkin karena dialek masing-masing daerah.

Dalam tradisi 5 agama besar diakui keberadaan surga dan neraka ini. Jadi semua agama sepakat akan adanya surga.

Hanya yang membedakan ajaran Hindu dan budha menggap surga itu adalah tempat yg tidak abadi, suatu saat surga itu akan dimusnahkan, bahasa kerennya akan di recycle oleh Tuhan.
Kenapa demikian? Karena surga bukanlah kondisi yang abadi.
Satu-satunya yg abadi hanyalah Tuhan, dan tuhan tidak tinggal di surga.
Ada kesalahan pemikiran yg menyatakan tuhan itu tinggal pada suatu tempat, ini sangat salah. Tuhan tidak membutuhkan tempat tinggal.
Dia bukanlah mahluk yg membutuhkan tempat tinggal.
Bayangkan Tuhan yg maha besar membutuhkan tempat tinggal, bisakah anda membayangkan berapa besarnya tempat tinggalnya?
Dan bayangkan pula, tempat tinggalNya akan membatasi Tuhan Yang Maha Besar itu.
Coba bayangkan dengan logika dulu, masuk akal tidak Tuhan yang maha besar mempunyai tempat tinggal?
Jadi? Tuhan tidak tinggal di surga.
Surga dan neraka beserta semesta ada di dalam Tuhan.
Nah kalo begini barulah kita bisa membayangkan ke Maha Besaran Tuhan.
Sorga-neraka dan semesta ada di dalam Tuhan.
Karena surga dan neraka adalah sebuah ciptaan Tuhan, maka suatu ketika Tuhan akan meleburnya kembali. Tapi kapan hal itu terjadi?
Ini sulit jika pakai hitungan kalender manusia. Karena saking panjangnya maka seolah-olah manusia menggap sorga itu menjadi tempat yang abadi.
Ibarat seekor nyamuk yg umurnya 3 hari melihat manusia, si nyamuk akan menggap manusia itu adalah mahluk abadi.
Demikianlah surga itu tidaklah abadi.
Nah bagaimana dengan nasib manusia yg ada di sorga?
Tuhan memberikan jalan yg namanya moksa, menyatunya atma(roh) dengan paramaatman(tuhan).
Ibarat setitik air hujan yg jatuh di gunung kemudian mengalir sampai di lautan. Itulah moksa.
Jadi kalo roh masih di sisi Tuhan, maka kondisi roh tidaklah aman, dia akan mengalami penderitaan-penderitaan lagi. Yg berupa kelahiran berulang di dunia materi.
(Bersambung…)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 4 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 7 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 11 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 13 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: