Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Abdillahmandar

Aku adalah aku yang kamu kenal. Aku yang kamu kenal bukan dari status facebook.

Filsafat Al-Kindi

OPINI | 22 May 2012 | 02:22 Dibaca: 1804   Komentar: 0   0

Al-Kindi dalam pembahasan filsafat ketuhanannya mengawalinya dengan uraian tentang urgensinya filsafat. Filsafat menurut Al-Kindi adalah ilmu tentang kebenaran (hakikat) segala sesuatu menurut kesanggupan manusia, yang mencakup ilmu ketuhanan (rububiyyah), ilmu keesaan (wahdaniah), ilmu keutamaan (fadhilah),dan ilmu tentang semua cara meraih maslahat dan menghindar dari madharat. Tujuan seorang filosofis bersifat teoritis, yaitu mengetahui kebenaran praktis dan mewujudkan kebenaran tersebut dalam tindakan. Semakin dekat kepada kebenaran maka akan semakin dekat pula pada kesempurnaan.

Menurut Al-Kindi, filsafat merupakan ilmu yang amat mulia di atas ilmu-ilmu yang lain. Dan kemulian yang tertinggi dari berbagai macam cabang filsafat adalah filsafat pertama, yaitu ilmu kebenaran pertama yang menjadi penyebab setiap kebenaran (‘ilmu al-haq al-awwal alladzi huwa ‘illatu kulli haq).

Sebelum mendefinisikan filsafat Al Kindi menegaskan akan pendapatnya menerima adanya perbedaan pengertian di setiap filosof. Baru kemudian Al-Kindi seperti yang dikutip oleh Sami Afifi, menguraikan pemaknaan filsafat dari berbagai sisi. Pertama dari tinjauan akarkata (Hubbul Hikmah) Kedua dari sisi suluk insaniah Ketiga dari sebab batasannya Keempat dari segi pengetahuan manusia terhadap dirinya Kelima pengertian filsafat yang diikuti.

Pertama dari akar kata, filsafat diartikan sebagai cinta terhadap kebenaran, sedangkan dari sisi yang kedua diartikan sebagai cara menyamai Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia yang ingin menjadi manusia yang sempurnah dan mulia. Ketiga sebagai induk dari segala ciptaan. Keempat dia sebagai cara manusia mengenali dirinya. Dan terakhir sebagai pengetahuan akan sesuatu, hakekat yang abadi menyeluruh sesuai kemampuan manusia. Namun kemudian menyimpulkan suatu defenisi yang Jam’ Mani’ menurut Al-Kindi bahwa filsafat adalah ilmu tentang hakekat sesuatu.

Dalam bukunya Ahmad Hanafi dikemukakan bahwa definisi filsafat yang dikemukakan oleh Al-Kindi terdapat unsur-unsur pemikiran Plato dan Aristoteles. Melihat bagaimana fanatisme Al-Kindi sendiri dalam filsafat keduanya yang tidak bisa dipungkiri akan mempengaruhi pemikiran-pemikiran Al-Kindi. Dalam hal penukilan dan penilaian ini, Al-Kindi berpandangan bahwa dalam menilai ukuran kebenaran dan kemuliaannya, seseorang dapat mengambil sumber darimana saja, dengan catatan tidak bertentangan dengan apa yang telah disyariatkan oleh agama. Dia mengambil i’tibar tentang hikmah ‘aliyah yang merupakan ungkapan sangat terkenal di kalangan arab islam yakni “hikmah adalah perbendaharaan mu’min, maka ambillah dimanapun engkau mendapatkannya” dan ungkapan yang menyatakan “janganlah engkau mengetahui kebenaran dengan melihat pemiliknya, tapi ketahuilah kebenaran maka engkau akan mengetahui pemiliknya”.

Lanjut mengenai defenisi filsafat menurut Al-Kindi yang juga masuk kedalam pembahasan filsafat ketuhanan Al-Kindi pembahasan tuhan yang semua mencakup sesuatu hingga substansinya (ilmu al-asyyai bihaqaaiqiha). Ilmu tersebut mencakup pengetahuan tentang ketuhanan (rububiyyah), keesaan (wahdaniyyah), keutamaan (fadhilah) dan pengetahuan yang memiliki aspek manfaat atau pengetahuan yang telah dibawa oleh para nabi. Untuk itu dalam mencarinya adalah sebuah kewajiban dan barangsiapa yang beranggapan bahwa itu tidak wajib, maka dia harus menunjukkan alasan (dalil).

Al-Kindi tidak lupa menjelaskan bahwa tiadalah tujuan dari seorang filosof itu melainkan untuk mengetahui sebuah kebenaran dari tinjauan ilmu. Dan mengamalkan kebenaran tersebut dari tinjauan penerapan. Karena sempurnahnya sebuah ilmu adalah ketika kebenaran dari ilmu itu diketahui dan kemudian diamalkan. Bukan sekedar diketahui dan melupakan dalam tatanan penerapan. Dari sini juga Al-Kindi juga mengatakan bahwa filsafat itu tidak bertentangan dan berseberangan dengan agama. Tapi sebaliknya. Filsafat dengan otomatis merupakan sebuah pembuktian akan kebenaran agama dengan menggunakan rasio dan pengetahuan hingga menghasilkan sebuah hasil yang persis sama dengan apa yang diturunkan Tuhan untuk umat manusia.

Kaitan filsafat dengan agama menurut Al-Kindi, merupakan dua sisi yang saling melengkapi. Filsafat adalah alat bantu untuk memahami agama, karena berfikir mendalam dengan menggunakan filsafat adalah sebuah tuntunan dari fitrah suci manusia, sedangkan fitrah manusia pastilah tidak akan bertentangan dengan agama. Agama juga demikian, merupakan ukuran pembuktian yang mutlak sehingga takakan ada ketidak serasian atara berfikir mendalam dengan menggunakan filsafat dengan tuntunan ajaran agama. Mengetahui dan mengamalkan hasil akhir juga merupakan bagian yang tidak boleh dipisahkan dari aktifitas berfilsafat dan beragama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Penulis Fiksiana Community Persembahkan …

Benny Rhamdani | | 21 August 2014 | 11:53

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 3 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 4 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 5 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: