Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ripana Puntarasa

aktif dalam kerja perkuatan keberdayaan masyarakat dan jejaring kerja peneguhan kedaulatan rakyat. bersastra sebagai bagian selengkapnya

Kisah Kecil di Masa Kecil (2): Imam Kecil

OPINI | 21 May 2012 | 08:02 Dibaca: 110   Komentar: 0   0

Guru Agama sekolah dasar dari sebuah desa kecil di lereng Wilis, mengajar murid-murid kecilnya tentang salah satu kepantasan orang yang pertama-tama berwenang menjadi Imam dalam jamaah.

Disampaikan oleh sang Guru, bahwa orang yang datang paling awal ia yang berada di paling depan dan berturut-turut yang datang kemudian berjajar dibelakangnya. Mengatur shaff dengan rapat dan rapih. Jamaah diselenggarakan.

Menjadi pengalaman menggetarkan diantara murid-murid kecil itu, ketika ada diantaranya yang tidak dapat menolak untuk “terlanjur menjadi imam.” Bagaimana kisahnya?

Si anak maunya menyelesaikan bersembahyang lebih dulu dari yang lain…sendiri. Tidak menunggu berjamaah. Maunya agar punya waktu lebih untuk bersantai. Menyelinaplah ia ke surau kecil dekat sekolahnya. Belum selang ia dirikan sholah, bahunya ditepuk oleh satu-dua-tiga… tangan berurutan. Diantara yang menepuk itu, adalah tangan yang terasa lebih besar dan mantap.

Yang sudah didirikan, tidak boleh dibatalkan. Pikiran si anak melayang. Konsentrasi goyah. Keringat dingin mulai menderas. Guru ada dibelakangku, bermakmum! Uih, aku menjadi imam…. Bagaimana ini nanti?

Suara cekikik lembut, tawa ledek ditahan dari diantara para makmum di belakangnya juga terdengar. Pasti itu si Polan yang bandel. Ah.

Terngiang di telinga batin dan pikirannya saat guru berkata, yang sudah didirikan jangan dibatalkan. Ya! Akhirnya lega bertindih gundah-gulana sewaktu salam terucapkan. Dia lari menubruk sang Guru, bersalam dan mencium tangan.

“Ampun, Guru.”

Sang Guru berucap: “Selamat nak, kamu sudah berhasil dirikan jamaahmu.”

“Tapi, Guru…..”

“Tidak apa dan jangan gundah. Jamaahmu memang belum rapih. Kawanmu masih ada yang cekikikan, tapi dirimu sudah memulai. Ya. Kamu sudah memulainya.”

“Selamat, nak.”

“Terimakasih, Guru.”

Jkt.0110

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: