Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Signifikasi dan Pokok Pikiran Filsafat Abad ke-20

REP | 11 May 2012 | 19:11 Dibaca: 2436   Komentar: 0   0

1336720134697819270

Signifikansi Filsafat Abad Ke-20

Pada abad ke-20 terjadi pergeseran gaya berpikir dan corak pemikiran filsafat. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor sosio-kultural yang sedang berkembang dan menggejolak di Barat seperti diantaranya revolusi industri, refolusi perancis, serta meletusnya perang dunia I dan II. Pemikiran filsafat para filsuf abad ke-20 semakin heterogen dan terspesialisasi. Pada masa ini muncul aliran-aliran filsafat baru yang lebih membumi dan lebih dekat dengan problem keseharian manusia. Beberapa aliran filsafat yang berkembang pada masa kontemporer adalah pragmatisme, fenomenologi, filsafat analitik, eksistensialisme, strukturalisme, dan teori kritis.

Nietzsche memperkenalkan perspektivisme dalam tradisi filsafatnya. Ia mengajukan kritik atas kebudayaan masyarakat Eropa. Setelah Nietzche, di Inggris (lingkaran Wina) muncul aliran Filsafat Analitik yang berkontribusi terhadap lahirnya positivisme logis dengan tokohnya Wittgenstein dan Bertrand Russell. Di Jerman muncul aliran fenomenologi yang digagas Husserl. Metode fenomenologi dimanfaatkan oleh filsuf-filsuf eksistensialisme seperti Heidegger, Marcel, dan Levinas guna membangun pemikiran filsafat mereka. Tradisi filsafat Eksistensialisme mengedepankan nilai-nilai humanisme dan eksistensi manusia sebagai being yang menyadari keberadaanya di dunia, atau dalam istilah Heidegger disebut dasein (being-in-there).

Filsuf-filsuf Amerika melahirkan tradisi filsafat pragmatisme. Pragmatisme berasal dari kata pragma (Yunani), yang berarti tindakan atau perbuatan. Diktum pragmatisme mengajarkan bahwa kesahihan pengetahuan tidak diukur dari kesatuan metodologi atau bahasa, melainkan pada kebergunaan. Pragmatisme diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce. Tokoh-tokoh lain dalam aliran pragmatisme adalah William James dan John Deawey. Sementara Strukturalisme tampil di abad 20 sebagai paham yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalisme merupakan sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya yang terjadi di Perancis.

Para filsuf di abad ke-20 banyak yang lahir dari kalangan spesialis dalam studi matematika, fisika, psikologi, sosiologi, politik, dan ekonomi. Hal ini berimplikasi terhadap pergeseran fokus terhadap objek material. Fokus filsafat terpecah sesuai konteks yang dibicarakan masing-masing aliran filsafat. Filsafat menjadi refleksi kedua bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa ini direfleksikan dan diterapi metodologinya melalui kajian filsafat. Sebagaimana dijelaskan dalam teori kritis, bahwa kajian filsafat punya kepentingan emansipatoris. Filsafat pada masa ini dituntut dapat membuka kedok realitas secara apa adanya, namun juga harus terbuka terhadap kritik jika kritik tersebut memuat paradigma kebenaran baru.

Pokok – Pokok Pikiran Filsafat Analitik

Filsafat analitik diperkenalkan oleh filsuf-filsuf Inggris dan Amerika pada abad ke-20. Aliran filsafat analitik memfokuskan kajiannya terhadap problem bahasa dan analisis konsep. Aliran ini muncul untuk mengatasi kekaburan dan kekacauan makna yang sebelumnya telah menjamur dalam berbagai macam konsep filsafat. Filsafat analitik menolak pernyataan-pernyataan metafisik dan menganggapnya tidak bermakna (non sense). Titik sentral pemikiran filsafat analitik bermuara pada pembentukan definisi baik yang bersifat linguistik ataupun yang nonlinguistik. Aliran ini bermaksud mengklarifikasi makna dari proposisi dan konsep-konsep dengan cara analisis bahasa.

Beberapa tokoh filsafat analitik antara lain :

1. Gottlob Frege (1848-1925)

Frege menggunakan metode berfilsafat yang disebut dengan logika yang rigorus. Artinya, ia menitikberatkan filsafat pada logika. Bagi Frege, logika dan analisis yang ketat terhadap proposisi merupakan dasar yang kokoh dalam menentukan kebenaran suatu pernyataan. Ia membuat distingsi antara sense (makna) dan reference (referensi), dengan menegaskan bahwa suatu proposisi akan bermakna apabila proposisi tersebut mempunyai arti dan referensi.

2. Bertrand Russell (1872-1970)

Menurut Russell, dunia terdiri dari atomic facts (fakta-fakta atomik). Suatu proposisi dikatakan bermakna jika proposisi tersebut berkorespondensi langsung terhadap fakta-fakta atomik. Ada kesepadanan antara bahasa dan fakta. Menurutnya, dunia ini merupakan totalitas fakta-fakta, bukan totalitas benda-benda.

3. Ludwig Wittgenstein

Wittgenstein mengemukakan Picture Theory. Baginya, relasi bahasa dengan dunia faktual kongruen terhadap relasi antara lukisan dengan kenyataan. Bahasa merupakan representasi objek-objek, bukan sekedar korespondensi satu-satu antara unit bahasa dengan objek. Ada relasi logis antara struktur bahasa dan struktur realitas dunia (objek-objek). Dengan demikian, bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. Menurutnya, ungkapan metafisika seperti dalam filsafat nilai, etika, estetika dan kalimat-kalimat teologi adalah kalimat yang tidak bermakna. Filsafat harus dapat menetapkan logika dan aturan-aturan yang berlaku dalam menyelidiki permainan bahasa yang saling berbeda.

Pokok – Pokok Pikiran Fenomenologi Heidegger

Tradisi fenomenologi dimulai sejak Edmund Husserl. Ia merumuskan cara memahami realitas dengan menitikberatkan pada konsep intensionalitas (keterarahan) kesadaran terhahadap objek-objek. Intensionalitas memungkinkan subjek dapat memahami objek, dimana subjek ingin mengetahui objek dan objek membuka diri untuk diketahui oleh subjek. Heidegger adalah murid Husserl yang melanjutkan proyek fenomenologi gurunya ke level ontologi. Dalam Being and Time ia merumuskan filsafatnya yang kembali berpangkal pada problem ontologi, yaitu tentang “Ada” dan “Waktu”.

Heidegger menganggap metafisika dan ontologi dalam sejarah filsafat telah mengalami kelupaan akan Ada (forgetfulness of being). Ia menolak pandangan tradisional yang menganggap Ada sebagai konsep independen dan terpisah dengan manusia. Berbeda dengan pandangan metafisika-ontologi tradisional yang memahami konsep Ada terpisah dengan konsep Waktu, Heidegger justru menekankan bahwa Ada adalah konsep yang tidak mungkin dapat dipahami tanpa konsep Waktu. Untuk memahami seluk-beluk tentang Ada, Heidegger memfokuskan penelitianya terhadap sang pengada, yakni pada subjek atau manusia sendiri.

Menurut Heidegger manusia bukanlah entitas yang terpisah dan terisolasi dari dunia. Justru pada dasarnya manusia adalah subjek yang sudah tidak dapat terpisah, dan selalu mengalami keterlibatan dengan dunia. Kenyataan tentang subjek terletak pada kemampuannya terlibat dengan dunia. Kesadaran subjek bersifat tersembunyi dan hanya dapat tersibak dalam kegiatan dunia. Manusia dalam kehidupan sehari-hari berada dalam modes of beng (modus mengada). Modus mengada disebutnya dengan istilah ada-bersama-dunia, ada-di-dalam-dunia, dan sekaligus ada-disana. Modus mengada hanya berlaku pada subjek yang dapat menanyakan Ada, bukan pada Ada itu sendiri. Subjek yang dapat mempertanyakan tentang Ada disebutnya dengan Dasein. Dasein berbeda dengan Being. Being dipahami hanya sebagai Ada yang tidak dapat mempertanyakan eksistensinya. Sementara Dasein menggambarkan pengertian yang lebih luas dari sekedar Being. Dasein inilah yang mampu bereksistensi. Ia menegaskan bahwa Dasein yang bereksistensi dapat menyadari keberadaannya melalui keterikatannya (involvement) dengan dunia atau Being lainnya.

Pokok – Pokok Pikiran Teori Kritis

Tori kritis berkembang di kalangan mazhab Frankfurt sebagai reaksi dari filsafat yang muncul dari lingkaran Wina, positivisme, dan kapitalisme. Para filsuf pelopor teori kritis antara lain Max Horkhaimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, Erich Fromm, dan Jurgen Habermas. Disebut sebagai teori kritis karena dalam kajian filsafat mereka selalu memberikan kritik secara tajam dan radikal terhadap kondisi sosial masyarakat terkini, standar ilmu pengetahuan, dan ideologi. Teori kritis selalu dicirikan dengan kerinduan akan emansipasi bagi manusia yang sudah terkungkung sedemikian rupa oleh ideologi dan paradigma ilmu pengetahuan. Teori kritis bekerja atas dasar suatu kerangka metateoritis dan berpijak pada pandangan umum tentang realitas sosial, baik dalam dimensi normatif maupun dimensi faktual.

Aliran ini dimulai dari interpretasi terhadap ajaran Karl Marx tentang realitas sosial yang sudah didominasi mekanisme kapitalistik hingga manusia mengalami alienasi dan terasing dengan dirinya sendiri. Menurut Marx, basis struktur dalam masyarakat modern telah dikuasai oleh mekanisme kapitalistik dan diafirmasi oleh super struktur. Keadaan ini menimbulkan kesadaran palsu (false consciousness) bagi kaum yang didominasi (kaum buruh). Bagi Marx kesadaran palsu ini disebut ideologi. Teori kritis berusaha mencapai pembebasan terhadap kesadaran palsu melalui gagasan revolusi (bagi Marx), reifikasi (Lukacs), pemahaman akan gerak dialektika negatif (Adorno), dan masyarakat komunikatif (Habermas).

Teori kritis mengasumsikan teori tradisional sebagai pengetahuan yang bersifat ahistoris, asosial, dan disinterested (bebas kepentingan). Teori tradisional terlepas dari praksis dan mengklaim dirinya objektif dan netral. Padahal bagi teori kritis (menurut Habermas), teori harus dapat digunakan untuk memahami realitas dan dapat diimplementasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Teori atau ilmu pengetahuan tidak dapat sepenuhnya bebas nilai. Sebaliknya, ilmu pengetahuan sarat akan nilai dan kepentingan. Ilmu empiris-analitis berkepentingan teknis dan bertujuan melakukan proses kontrol objektif terhadap kehidupan. Ilmu hermeneutis-historis berkepentingan praktis dan bertujuan memelihara komunikasi. Ilmu-ilmu kritis (seperti filsafat) berkepentingan emansipatoris dan bertujuan melakukan apresiasi reflektif terhadap kehidupan. Teori tradisional dicurigai mempunyai muatan ideologis dan digunakan untuk mempertahankan status quo, hanya membuat teori untuk kepentingan teori dan tidak memperhitungkan konsekuensi terhadap implementasi teori.

Konsekuensi dari kritik terhadap epistemologi ilmu pengetahuan yang dianggap bersifat ideologis (dalam konteks kesadaran palsu) adalah, teori kritis sadar bahwa dirinya bersifat terbuka dan juga siap menerima kritik. Pada tataran praktis Habermas menggambarkannya pada gagasan masyarakat komunikatif yang lebih mengedepankan komunikasi diskursif menggunakan rasio komunikatif daripada rasio instrumental dalam memahami realitas kehidupan.

_________________________________________________________________________________

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 11 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 14 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah Untuk …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Usul Mengatasi Kemacetan ” Kiss and …

Isk_harun | 8 jam lalu

Kakek Moyangku Seorang Pelaut …

Sunu Purnama | 9 jam lalu

Harga Mahasiswa …

Muhammad Nur Ichsan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: