Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Amin Enyong

Penyuluh budaya saking Tegal tugas di Banjarnegara Twitter : @AFamin_ Blog : http://adigunaku.blogspot.com

Pembagian Buletin Jumat

OPINI | 11 May 2012 | 19:33 Dibaca: 184   Komentar: 1   0

Ini tulisan pertama saya sejak saya gabung di kompasiana, langsung aja ya

Seorang muslim khususnya laki-laki wajib melaksanakan sholat jumat, bahkan meninggalkan sholat jumat sampai 3 kali berturut-turut bisa dianggap kafir atau keluar dari Islam (mohon masukan kalau salah).
Dalam prosesi sholat jumat ini diwajibakan didahului dengan khotbah jumat, khotbah jumat ini hukumnya wajib untuk didengarkan, bahkan pernah dengar dalam suatu riwayat bahwa menertibkan orang yang berisik sendiri waktu jumatan itupun tidak boleh, apalagi brisik. intinya disaat khotbah dimulai, semua jamaah harus terpusat pada khotbah, tidak boleh ada yang lain.
Namun akhir taun belakangan ini, kekhusyukan jamaah jumat dalam mendengarkan khotbah agak terganggu, yaitu terganggu oleh adanya buletin jumatan. buletin jumatan ini dibagikan (mengambil sendiri) kepada setiap jamaah setiap akan memasuki masjid untuk beribadah sholat jumat, buletin dibagi sebelum pelaksanaan sholat jumat dan sebelum khotbah dimulai.
Pembagian buletin ini maksudnya mulia sekali memang, dengan buletin ini diharapkan ilmu agama bisa tersebar ke keluarga yang di rumah yang mungkin tidak sholat jumat, bisa juga memuat pelajaran agama yang lebih luas yang kurang waktunya bila dijelaskan melalui khotbah jumat yang sebentar. yang disayangkan dari buletin ini adalah pembagiannya. buletin ini dibagi sebelum pelaksanaan khotbah, sehingga banyak dari jamaah yang membaca buletin tersebut disaat khotbah berlangsung. benar memang terdapat tulisan jangan dibaca saat khotbah disetiap buletin jumat. tapi siapa yang tidak tergoda dengan buletin jumat yang baru saja didapatnya yang kiranya sekilas dilirik mata isinya menarik tentang ajaran agama yang barangkali belum kita ketahui? siapa saja orangnya biasanya akan sangat tertarik dengan apa yang namanya barang baru, apalagi ditambah rasa ksifat keingin tahuan yang diiliki manusia, sudah barang tentu mayoritas jamaah membaca buletin jumatan itu disaat buletin itu baru didapatkan yaitu yang waktunya bersamaan dengan waktu khotbah.
Sekali lagi bukan saya melarang buletin jumat, tetapi menyangkan saja waktu pembagiaannya, sekedar memberikan solusi mungkin lebih baik buletin itu dibagikan setelah selesai sholat jumat saat para jamaah mulai akan pulang meninggalkan masjid, mungkin itu lebih bijak, sehingga kemungkinan jamaah untuk lebih fokus pada khotbah lebih besar, kekhusyukan jamaah dalam mendengarkan khotbahpun lebih terjaga.(Amin)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kamar Operasi (OK) : Mengamati Sepenuh Hati …

Rinta Wulandari | | 17 April 2014 | 21:30

Baru Capres, JKW Sudah Banyak yang Demo …

Abah Pitung | | 17 April 2014 | 22:13

Curhat Dinda dan Jihad Perempuan …

Faatima Seven | | 17 April 2014 | 23:11

Sandal Kelom, Sandal Buatan Indonesia …

Acik Mdy | | 18 April 2014 | 00:40

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 10 jam lalu

Demo Jokowi di ITB Salah Sasaran dan …

Rahmat Sahid | 15 jam lalu

Jokowi di Demo di ITB, Wajarkah? …

Gunawan | 18 jam lalu

Pernyataan Pedas Jokowi Selama Nyapres …

Mustafa Kamal | 19 jam lalu

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: