Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Amin Enyong

Pengagum budaya Indonesia Twitter : @AFamin_ Blog : http://adigunaku.blogspot.com

Pembagian Buletin Jumat

OPINI | 11 May 2012 | 19:33 Dibaca: 187   Komentar: 1   0

Ini tulisan pertama saya sejak saya gabung di kompasiana, langsung aja ya

Seorang muslim khususnya laki-laki wajib melaksanakan sholat jumat, bahkan meninggalkan sholat jumat sampai 3 kali berturut-turut bisa dianggap kafir atau keluar dari Islam (mohon masukan kalau salah).
Dalam prosesi sholat jumat ini diwajibakan didahului dengan khotbah jumat, khotbah jumat ini hukumnya wajib untuk didengarkan, bahkan pernah dengar dalam suatu riwayat bahwa menertibkan orang yang berisik sendiri waktu jumatan itupun tidak boleh, apalagi brisik. intinya disaat khotbah dimulai, semua jamaah harus terpusat pada khotbah, tidak boleh ada yang lain.
Namun akhir taun belakangan ini, kekhusyukan jamaah jumat dalam mendengarkan khotbah agak terganggu, yaitu terganggu oleh adanya buletin jumatan. buletin jumatan ini dibagikan (mengambil sendiri) kepada setiap jamaah setiap akan memasuki masjid untuk beribadah sholat jumat, buletin dibagi sebelum pelaksanaan sholat jumat dan sebelum khotbah dimulai.
Pembagian buletin ini maksudnya mulia sekali memang, dengan buletin ini diharapkan ilmu agama bisa tersebar ke keluarga yang di rumah yang mungkin tidak sholat jumat, bisa juga memuat pelajaran agama yang lebih luas yang kurang waktunya bila dijelaskan melalui khotbah jumat yang sebentar. yang disayangkan dari buletin ini adalah pembagiannya. buletin ini dibagi sebelum pelaksanaan khotbah, sehingga banyak dari jamaah yang membaca buletin tersebut disaat khotbah berlangsung. benar memang terdapat tulisan jangan dibaca saat khotbah disetiap buletin jumat. tapi siapa yang tidak tergoda dengan buletin jumat yang baru saja didapatnya yang kiranya sekilas dilirik mata isinya menarik tentang ajaran agama yang barangkali belum kita ketahui? siapa saja orangnya biasanya akan sangat tertarik dengan apa yang namanya barang baru, apalagi ditambah rasa ksifat keingin tahuan yang diiliki manusia, sudah barang tentu mayoritas jamaah membaca buletin jumatan itu disaat buletin itu baru didapatkan yaitu yang waktunya bersamaan dengan waktu khotbah.
Sekali lagi bukan saya melarang buletin jumat, tetapi menyangkan saja waktu pembagiaannya, sekedar memberikan solusi mungkin lebih baik buletin itu dibagikan setelah selesai sholat jumat saat para jamaah mulai akan pulang meninggalkan masjid, mungkin itu lebih bijak, sehingga kemungkinan jamaah untuk lebih fokus pada khotbah lebih besar, kekhusyukan jamaah dalam mendengarkan khotbahpun lebih terjaga.(Amin)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tentang Keaslian Akun Twitter @jokowi_do2 …

Blontank Poer | | 28 January 2015 | 16:12

Kisah Pencari Logam Mulia di Batu Hijau …

Dhanang Dhave | | 28 January 2015 | 09:59

Esensi “Tongsis” …

Fandi Sido | | 28 January 2015 | 10:42

Harta Karun Tanah Papua …

Rico Tude | | 28 January 2015 | 15:14

Ayah Bunda, Ini yang Sebaiknya Dilakukan …

Achmad Suwefi | | 27 January 2015 | 16:56


TRENDING ARTICLES

Aksi Heroik Raja Salman …

Muhammad Armand | 2 jam lalu

Pencalonan BG Bukan Inisiatif Jokowi! …

Elde | 3 jam lalu

Tim 9 Tidak Independen, Hanya Panggung …

Isson Khairul | 6 jam lalu

Inilah Alasan Effendi Simbolon Menunjukan …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Perlu Contoh Raja Baru Arab Saudi …

Mustafa Kamal | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: