Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Dahwi Respati

Penikmat sastra lahir di Temaggung, Jawa-Tengah, kini tinggal di Bekasi Jawa-Barat

Purwacana

OPINI | 27 April 2012 | 23:31 Dibaca: 144   Komentar: 0   0

Kasmmai devaya havisa vidhema”

Kepada dewa siapa kita mesti menghaturkan persembahan ?

—dari Satapatha Brahmana

Berfantasi tentang segala yang memfirasati orang-orang dari anak benua. Awalnya tidak terungkap, tidak terdefinisikan. Melingkupi segala sesuatu. Sang svasambhu yang melahirkan dirinya sendiri. Adi kuasa, yang memaknai dirinya sendiri, yang dimaknai oleh dirinya sendiri, bahkan mungkin sang makna itu sendiri. Yang azali ini sering dianggap sebagai nafas kehidupan.

Kemudian mempribadikan dirinya sendiri, menjadi dikenal dan mulai terpahami. Kuasa meng-ada. Yang mencipta, memelihara dan meleburkan semesta raya dalam kuasanya.

Penciptaanya adalah waktu yang telah lampau dimana pengetahuan mendampinginya. Memelihara di masa yang tengah berjalan dengan menyandingkan kesuburan, kelimpah ruahan dan keberpijakan pada anasir-anasir yang padat. Kemudian meleburkan segalanya kelak dimasa depan. Perang, penghancuran dan mungkin juga kiamat menghadir di sisinya.

Pernah juga percaya akan segala yang bersembunyi dari segala misteri. Menghuni angkasa luar, mendiami jagat atmosferik dan tumbuh dalam bumi. Ya, yang luar angkasa, jagat atmosferik dan bumi konon berasal dari nafas kehidupan yang mempribadi. Dari kepalanya angkasa luar menghadir, lewat pusarnya jagat atmosferik meluas dan bumi menghampar dari telapak kakinya.

Lagi, tentang misteri-misteri alam. Yang menggerakkan segalanya adalah ruh suci yang tiada kasat mata. Ada yang bilang ruh suci mempribadi. Konon berwujud layaknya makhluk insani. Tapi mereka lebih brilian, kuat dan bijaksana.

Sang ruh suci tinggal dalam tiga petala jagat. Di angkasa luar mereka menguasai langit siang, langit malam, fajar, petang, matahari pagi dan matahari senja. Sementara yang mendiami jagat atmosferik mengendalikan angin, hujan, awan badai, taufan, pergantian gelap dan terang, petir dan mendung. Yang menduduki bumi menggembalakan api, tetumbuhan pangan, sang bumi sendiri serta kematian makhluk insani.

Ruh suci yang tidak mengendalikan misteri-misteri alam benda akan mengendalikan alam jiwa dan pengetahuan. Dia menguasai cinta, kehendak indria, kekayaan bendawi, gita, sastra, ilmu perang, sihir dan perbintangan.

Tapi bagaimanapun para ruh suci itu tak lebih sebagai pancaran dari nafas kehidupan semata. Dia tak beda dengan makhluk insani dan seluruh alam raya. Mereka hanya diberi keutamaan dengan diberikan tubuh ruhani yang kekal. Seperti makhluk insani, kadang mereka cukup bodoh untuk mengetahui hakikat nafas kehidupan sekalipun sadar sepenuhnya bila mereka berasal dari sumber itu.

Bersepakatlah para ruh suci untuk mengutus bangsa mereka menemui sang-guru yang tak lain adalah hakikat nafas kehidupan yang telah mempribadi, ber-tubuh, dan berujud. Mereka mengutus penguasa hujan dan raja denawa untuk bertanya tentang hakikat nafas kehidupan.

Sang-guru meminta dua ruh suci yang menghadapnya untuk bertapa selama 32 tahun agar bisa menerima wejangannya. Setelah masa bertapa itu selesai, sang-guru berkenan mewedar pengetahuan :

” siapakah nafas kehidupan itu guru ?”

” anakku, dia adalah bayangan dirimu. Yang kau lihat di mata orang yang tengah memandangmu, yang kau perhatikan saat kau menghadapi setangkup air dan yang kau saksikan saat kau menghadapi sebuah cermin”

Mendengar jawaban sang-guru, raja denawa segera berlalu pergi, dia merasa tidak puas dan sia-sia saja bertanya. Sementara penguasa hujan, sekalipun tidak puas tetap bergeming dan bahkan bertanya lagi.

guru, bagaimana nafas kehidupan bisa meyerupai semua itu?. Bagaimana mungkin dia begitu senafas dan bergantung kepada kita?, bukankah dia sang sumber?. Lihatlah guru sang bayang-bayang itu. Dia akan nampak cantik ketika aku menghias diriku. Lalu dia akan menjadi buruk ketika aku menghinakan diriku saat ber-adisarira. Dia akan hancur ketika aku sendiri menghancur. Kenapa dia berubah-ubah, bukankah dia sang tetap ?”

sang-guru tersenyum lalu menimpali:

‘’ benarlah kau anakku. Kalau begitu nafas kehidupan adalah sosok yang melayang bebas dalam mimpimu. Dia tidak bergantung terhadap dirimu. Dia tidak terhancurkan aleh kehancuran siapa yang memimpikan. Dan dia mendiami alamnya dengan kuasa yang tidak mampu kau kendalikan ”

” tapi guru, bukankah sosok yang melayang bebas dalam mimpi itu bisa merasakan ketakutan, kegelisahan dan kepedihan. Mereka juga bisa merasa dikejar dan bisa merasa hendak disakiti dengan suatu pukulan. Bagaimana nafas kehidupan yang dipenuhi dengan kebaikan mesti merasakan itu semua ?. Bukankah tidak ada suatu kebaikan dari pencitraan-pencitraan tentang kegelisahan itu ?’’

” terpujilah dirimu dengan kecerdasan ini, kau benar. Tidak mungkin ada pencitraan-pencitraan yang dapat menciderai kebaikan sang nafas kehidupan. Dengarlah anakku, nafas kehidupan itu adalah dia yang berada dalam keterlelapan-mu. Dimana dia tidak lagi dipengaruhi oleh pencitraan-pencitraan inderawi maupun derita-derita psikis. Dia diam dalam ketidakmerasaan-nya”

Terdiam sang penguasa hujan. Dia coba resapi kakikat nafas kehidupan yang menjelma sebagai keterlelapan dalam diri itu. Sejenak dia terpuaskan dengan penjelasan sang-guru. Tapi cahaya pencerahan kembali memasuki alam sadarnya. Dia segera melihat satu cacat lagi dalam penjelasan sang-guru.

“ ampuni aku guru, bagaimana mungkin keterlelapan menjadi hakekat sejati dari nafas kehidupan. Bukankah dengan begitu nafas kehidupan berarti menyusut dan meyederhanakan dirinya sendiri menjadi unsur yang tidak berkesadaran. Apalah bedanya dengan benda mati dengan keadaan seperti ini?”.

“ kau telah tercerahkan anakku. Benar nafas kehidupan mustahil berada dalam ketidak-bersadaran menyeluruh layaknya sebuah wujud bendawi. Sekarang ketahuilah anakku hakikat nafas kehidupan itu. Dia adalah unsur yang mendasari ketiga hal yang telah aku ajarkan dimuka. Dialah yang mendasari kesadaran tubuh inderawi, kesadaran sosok yang melayang bebas dalam mimpi dan kesadaran dalam sebuah keterlelapan. Bahkan dia pula yang mendasari tingkatan ke-empat yang tak tersifati yang boleh kamu sebut sebagai suatu turiya. Sang dasar ini memang mustahil untuk disifati, karena dia terbebas dari ukuran bentuk dan ruang. Dia tidak terjebak dengan sesuatu yang disebut dengan tubuh. Kita hanya bisa mengetahuinya hanya melalui pengelihatan ruhani yang bebas dari pencitraan-pencitraan inderawi”.

Sejenak sang-guru terdiam, kemudian dia meneruskan ujarannya:

” kini setalah kau mengetahui jalan ini, maka dapatilah usahamu untuk menuju sang nafas kehidupan. Dengan pengetahuanmu kau layak memimpin kaummu untuk mencapai titik itu. Sekarang terwisudalah dirimu sebagai pemimpin jagat atas yang dihuni para ruh suci. Sedangkan raja denawa yang telah meninggalkan pengetahuan karena ketidak-sabarannya aku turunkan ke alam jagat bawah, dia akan memimpin para makhluk kegelapan. Jagat tengah telah disiapkan untuk makhluk insani. Kau pengasa hujan, aku ijinkan untuk menjadi perantara antara aku dengan mereka. Bimbinglah mereka, hukum dan berkahi mereka berdasarkan kebijaksanaanmu”

Bersamaan dengan sabda sang-guru terdengarlah suara petir yang memecah keheningan anak benua. Da….Da…Da…

Semua penghuni tiga dunia tersentak dalam keterkejutan. Penghuni jagat atas, tempat para ruh suci yang diberkahi dengan kebijaksanaan dan kekekalan badani memaknai ”DA” suara petir itu sebagai dama, pengendalian diri. Jagat tengah tempat makluk insani bertinggal menginsyafi ”DA” sebagai dana, pemberian kepada sesama. Sedangkan para makhluk kegelapan yang berkembangbiak di jagat bawah menganggap ” DA” sebagai daya, belas kasihan.

>>>><<<<

Berjalanlah waktu dalam asuhan sang kala, wiracarita jagat tengah dimulai. Tiba saatnya bagi makhluk insani mulai menemukan bahasa dan pengetahuan. Dalam bahasa itu mereka mulai membuat penamaan tentang segala yang ada dalam diri dan lingkungan mereka.

Mereka menamai sang nafas kehidupan yang takterpahami sebagai Atman, sang Ruh Azali. Nafas kehidupan yang telah mempribadi mereka sebut sebagai Brahman, sang pencipta.

Brahman dalam penciptaanya dimasa lampau mereka sebut sebagai Brahma, shakti-nya yang berupa ilmu pengetahuan mereka namai Sarashvati. Esensi Brahman sebagai pelindung alam raya kemudian dinamai dengan Vishnu yang didampingi oleh Laksmi penguasa kesuburan dan kelimpahruahan. Siva mereka tahbiskan kepada Brahman sebagai sang pelebur alam raya yang harus kembali kedalam esensi sebenarnya sebagai nafas kehidupan. Sedangkan pendamping sang pelebur yang berupa perang kelak disebut sebagai Uma Durga Mahesasuramardini.

Mereka juga memberi nama bagi para ruh suci yang mereka puja sebagai kekuatan yang menggerakkan seluruh misteri alam. Sang-guru yang telah mengajarkan mereka pengetahuan tentang hakekat nafas kehidupan mereka sebut sebagai Prajapati. Sang pengusa hujan mereka sebut sebagai Indra. Penguasa angin ditahbis sebagai Vayu, penguasa matahari sebagai Surya, penguasa api sebagai Agni, penguasa bumi sebagai Prathivi, penguasa kematian sebgai Yama, pengusa cinta sebagai Kama, penguasa kekayaan sebagai Kuwera dan seterusnya. Secara keseluruhan para ruh suci itu mereka sebut sebagai daiva yang berarti mereka yang bersinar laksana bintang di angkasa”.

Kemudian makhluk insani itu menamai dirinya sendiri sebagai manusa, entahlah, mungkin itu berasal dari kata manas dan asu, pikiran dan jiwa. Sedangkan makhluk kegelapan mereka sebut asura, yang tersembunyi. Pemimpin asura yang telah meninggalkan Prajapati saat berujar tentang nafas kehidupan mereka namai Vairachona.

>>>><<<<

Alam raya pun berputar dengan karma masing-masing. Sesuai perintah Prajapati kaum manusa dan asura menjadikan para daiva sebagai perantara antara diri mereka dengan sang pencipta.

Sebagai penghormatan kepada pemimpin daiva, Indra, mereka menamai anak benua tempat tinggal mereka sebagai Industan, Negeri Hujan. Jagat atas, tempat tinggal para daiva mereka sebut Indraloka, lalu menempatkan altar para daiva itu di puncak tertinggi Industan yang disebut sebagai Puncak Gauri Sangkar jauh di atap dunia, tanah salju Himachala.

Bumi anak benua kini semarak dengan kehidupan berfilsafat. Mereka mencoba menyibak lapis demi lapi selubung ghaib yang telah menutupi segala misteri alam. Didirikanlah ashrama-ashrama sebagai tempat pembelajaran bagi setiap pemuda anak benua. Mereka dibimbing para brahmana, sadhu dan orang-orang suci yang dalam pemujaannya kepada Indra telah diberkati pengelihaan ruhani tentang nafas kehidupan.

Ditulislah segala pengetahuan itu dalam sutra, mantra, bhasa yang terangkum dalam Veda. Lalu mereka menyenandungkannya dalam gita agung yang disakralkan. Disiplin diri melalui yoga kemudian dikembangkan untuk mengatur tubuh- jagat alit menjadi selaras dengan alam raya- jagat gumelar.

Keheningan menjadi dambaan bagi setiap shiswa untuk membatasi diri dari pencitraan-pencitraan inderawi yang selalu menipu kebenaran sejati. Mereka melakukan tapa dengan mengistarahatkan kerja panca-indria. Menyatulah manas, pikiran dengan kehendak-kehendak yang azali. Lelaku pensucian, via-purguvita dimulai, lalu dambaan untuk menggapai via-illuminativa tercapai dengan menyatukan diri dengan maujud sejati nafas kehidupan yang berupa cinta dan kearifan yang mengambang dan meliputi diri.

Sebagian shiswa itu kemudian melakukan pengembaraan melintasi hutan dan lautan. Bertebaranlah mereka dalam setiap hamparan dan sudut-sudut anak benua dengan mencoba menebarkan darma dan pengetahuan kepada seluruh penghuni anak benua yang sebagian masih tergelapkan. Diajarkanlah pengetahuan Veda bagi mereka.

Pengetahuan tentang nafas kehidupan-pun menyebar sampai jauh melintasi anak benua. Ke selatan sampai ke pulau Alengka, tempat orang-orang Dravida mengungsi setelah kalah dari bangsa Arya dari utara berabad lampau. Ke utara pengajaran Veda menjangkau negeri gurun yang penduduknya menyembah api abadi di Persia.

Semuanya insyaf, hanya dengan pengetahuan, vidya, setiap manusa akan mampu menemukan jalan kembali dan moksa, menyatu dengan nafas kehidupan yang menjadi asal-cipta-nya.

Inilah masa-masa penuh berkat di bumi anak benua, seluruh penghuninya berlomba dalam darma. Negeri ini begitu tenteram dengan kedamaian di antara seluruh suku yang mendiaminya. Setiap purnama dilakukan pensucian diri di sungai-sungai yang disakralkan. Berhamburan mereka menuju muara pertemuan tiga sungai, Gangga, Yamuna dan Sarashvati. Ya… dengan berkat para daiva sungai-sungai itu tidak hanya melimpahi anak benua dengan kesuburan, tapi juga mensucikan jiwa setiap manusa yang menghampirinya.

Masa-masa itu kelak akan selalu dikenang putra-putra anak benua dalam puja-gita mereka:

Kau penguasa pikiran semua manusia,

yang menentukan nasib tanah anak benua

Namamu bangkitkan hati orang Punjab,Gujarat dan Martha,

orang-orang Dravida, Orisa dan Benggala

Ia bergema di gunung Vidya dan Himalaya

berpadu dengan musik sungai Jamuna dan Gangga,

lalu dilagukan oleh gelombang Lautan Lavana-Undadhi

Mereka memuja anugerahmu dan menyanyikan pujianmu

penyelamatan seluruh manusia menunggu ditanganmu

Kau menentukan nasib negeri anak benua………

Akhirnya datanglah masa-masa yang penuh ujian di anak benua. Ketika penyembahan kepada nafas kehidupan mulai ditinggalkan. Mereka kemudian cenderung hanya memuja kepada para daiva belaka. Indra yang ditunjuk oleh Prajapati sekedar sebagai jalan sekarang ditahbiskan sebagai tujuan. Maujud Brahman dan Atman yang azali sudah dilupakan. Titik puncak filsafat mereka hanya sampai pada Brahma, Vishnu dan Siva yang mereka sebut sebgai trimurti. Diantara para penganut ketiga daiva itu acap kali terjadi perang yang membuat tanah anak benua menjadi memerah karena darah.

Sejarah mencatat perang-perang besar itu. Dimulai dengan penyerbuan penganut Vishnu yang dipimpin Rama dari Pancavati terhadap penduduk pulau Alengka yang menyembah Siva. Kubu Pancavati dibantu orang-orang primitif yang mendiami hutan Kiskenda, disepanjang tanah tinggi Malyavan. Pembantaian besar-besaran terhadap sisa-sisa suku Dravida terjadi. Bahkan pemimpim suku Dravida yang bernama Rahuvana mesti dikubur hidup-hidup karena enggan melepaskan keyakinannya yang dianggap bernuansa mistik dan sihir. Sisa-sisa suku Dravida yang selamat sekali lagi mesti terusir dan kini mendiami pesisir anak benua bagian selatan yang berbatasan dengan lautan Lavana-undadhi.

Perang besar kedua terjadi antara kedua sekte peyembah Vishnu. Yaitu antara orang-orang Indraphrasta yang memuja Vishnu lewat Dharma dengan penguasa Astina yang mengikuti jalan Agni. Perang yang didahului dengan sengketa perebutan separo Astina yang merupakan hak bagi

kedua pihak sebagai penyambung wangsa Bharata itu lalu menjalar menjadi perang besar yang melibatkan nagara lain dengan dalih solidaritas keagamaan. Astina dibantu Awangga, Cedi, Mandaraka, Trajutrisna dan puluhan negara kecil pemuja Agni. Sedang Indraphrasta didukung Viratha dan Dwaravati yang berkeyakinan Vaishnava Ortodok dan memuja Dharma. Kemenangan pada akhirnya berada di pihak Indraphrasta yang kemudian menguasai Astina seluruhnya dan menerapkan agama tunggal Dharma di seluruh wilayah kekuasaannya.

Ya..masa damai itu telah berlalu. Dibelakang perang besar itu menyusul perang-perang lain yang semkin menyesakan dada tiap orang yang menghirup udara Industan. Sementara laku filsafat dalam mencari pencerahan ruhani kini tinggal menjadi ritual-ritual yang kering akan makna.

Kemudian bid’ah-bid’ah mulai muncul terhadap ajaran suci Veda. Timbulah aliran-aliran kepercayaan yang mengingkari kebenaran sruti, kitab suci. Para bida’ah itu bahkan mulai mengingkari keberadaan sang pencipta. Timbulah aliran carvaka, jaina dan mimasa.

Sementara itu para brahmana menjadi terlalu mengasingkan diri meninggalkan kehidupan ramai yang mereka anggap rendah karena keterkaitannya dengan keduniaan. Klaim atas Veda mereka pegang tanpa keinginan untuk menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan kepada yang lain. Kesombongan itu lalu memuncak ketika mereka membenarkan pembedaan kasta di anak benua sekaligus mengangkat diri mereka menduduki kasta teringgi diatas para bangsawan, pedagang, petani dan kaum budak.

Munculah penentangan terhadap pembedaan harkat kemanusiaan ini melalui seorang pangeran dari klan Sankya yang bernama Sidharta. Dia yang tinggal di lembah gunung Himachala tempat diletakan altar agung para daiva begitu risih melihat penistaan ini. Lalu mengikuti orang-orang jaina dan carvaka yang mengingkari Veda, sang pencipta dan sekaligus menuntut penghapusan terhadap pembedaan kasta. Ajaranya yang dikenal sebagai “jalan tengah” dia kumpulkan dalam sebuah buku yang diberinya nama tripitaka, tiga keranjang pengetahuan.

Dari pikirannya muncul filsafat budha yang kemudian tumbuh subur di derah atap benua, Nepal dan Bhutan. Kepercayaan baru ini kelak terpecah menjadi dua sekte besar, hinayana dan mahayana disamping puluhan sekte lain yang hidup dari remah-remah peradaban anak benua yang mulai hilang. Hinayana yang mendasarkan diri pada tripitaka, berkembang di bagian tengah anak benua dan ketimur sampai Burma, Kamboja dan Syiam. Semantara mahayana yang menitik-tolakkan filsafatnya pada aku pemikiran pribadi tumbuh ke timur laut sampai Tibet dan Tiongkok.

Dan bumi anak benua tetap menjadi panggung segala perang dan permusuhan……..

>>>><<<<

Dalam masa kekacauan ini, dimana peradaban tanah benua tengah memulai jalannya menuju api peleburan aku mendaki Puncak Gauri. Lembah-lembah dipenuhi aliran salju yang mencair karena sapuan hawa panas nafsu manusia untuk mengusai sesama. Di salah satu puncak tertinggi Himachala ini berdiri altar agung Indra yang kini kehijauan karena lumut gunung. Mengkristal dalam ujung-ujung tajam lumut itu permata bening dari embun-embun yang membeku. Berapa lama tempat suci ini ditinggalkan?. Semenjak didirikannya berbagai tirtayantra dan kuil di dataran rendah anak benua tak satupun manusa yang mau bersusah payah mendaki tempat ini. Ya…tanah suci ini, tempat perjanjian dan sumpah setia kaum manusa dengan para daiva disepakati.

Aku bertapa di depan altar itu. Jiwa sejatiku coba aku hadirkan. Lapis demi lapis anasir yang melingkupinya aku singkapkan. Tubuh vital dan panca indria aku matikan. Kesadaran mental aku lumpuhkan. Pemikiran intelektual tempat aku berpikir dan berfilsafat aku tutup. Tinggalah dalam diriku kesadaran spiritual. Tempat jiwa individualku mencoba mendekati sang jiwa universal, Brahman coba aku cari.

Dengan apa aku memulai semua itu?. Vidya, pengetahuan yang aku peroleh dari setiap laku mengamalkan ajaran Veda?. Ya…… telah mengungkap segalanya melalui pratyaska-persepsi, anumana-inferensi, upamana-komparasi dan segala sabda-testimoni verbal yang aku dapati dari setiap guru dan orang suci.

Hanya dengan jalan itu segala pengetahuan mengungkap. Sebab smrta-ku dengan mengenangkan segala yang aku lewati hanya akan mengungkapkan penggambaran kosong, apalah guna otakku yang tumpul oleh pandangan jahat yang menyelidik. Dan keraguan, samsaya, hanya menambah kabut-kabut yang menghalangi pandangku akan sang tinggi. Ya….pandangan hanya menghadirkan bhrama, ilusi yang melayang-layang. Yang dengannya tarka, bukti-bukti fisik yang kering akan pemaknaan dihadirkan sekedar buat menyimpangkan hatiku dari kesejatian arti kehidupan. O..devata jalan panjang dalam menggapai stana-mu tetap tak tergapai dalam langkah-langkahku………

Jagat avatar yang menghubungkan alam kebendaan dan dunia ruhani tak kunjung tersingkap. Masih terhalang dia akan keinginan pribadiku yang tak juga terkibas. Kebencian, perasaan kuwatir, kebohongan, perasaan bersalah, penyesalan, keraguan dan cinta masih juga menutupi ketujuh cakra-ku. Ya…tak kunjung aku dapai pelepasan…….

Ketika keterlelapan mulai menghadir kulihat kilatan masa lalu, masa sekarang dan bayangan hari depan yang bergumul, menyatu memjadi satu titik hitam. Ya…warna kematian dan dunia yang tak tersentuh. Diakah yang aku cari lewat segala jalan yang aku titi selama ini?. Ah, alam pikirku belum juga tercerahkan….

Kemudian dari titik hitam itu memendar cahaya kebiruan yang berseling dengan kilatan berwarna magenta. Cahaya itu kemudian membumbung ke langit tinggi dengan meninggalkan sisa kilauan perak ditanah sekelilingku. Lewat satu dentuman yang memekakan pendengaran yang mulai menuli, munculah sosok makhluk manusia bertangan empat yang berkepala gajah dengan raut wajah yang begitu damai dan agung. O..Ganesha, Putra Siva ……..ku-ucap selamat datang dengan segala kerendahan hatiku……

Apa yang engkau bawa O…devata yang mulia, pengetahuan yang dipercayakan kepadamu?. Yang kau teruskan kepada insan-insan terpilih untuk memimpin jagat tengah, raja dan orang-orang suci di penjuru daratan anak benua. Kau yang begitu agung dengan senyum yang entah kepada siapa semua itu kau tujukan. Alam rayakah?, O...devata, tidak satupun yang menghalangimu akan sebuah kebijaksanaan. Kau menyaksikan segalanya dari stana-mu yang disucikan, tentang segala kerusakan dan perasaan benci yang kini menyubur diseluruh penjuru anak benua.

Kudengar sabdamu yang mendesir melewati setiap lenguh nafas dan aliran darah dalam vena-ku:

‘’ keresahan menderamu wahai putraku, apa yang kau bimbangkan?. Sedang semua manusa sudah terpuaskan oleh anugerah ibu bumi, sang Prathivi. Tempat yang kau jejak dalam berdiri dan bersila, tempat menumbuh segala kesenangan. Belum cukupkah segalanya untukmu akan berkah yang dia tawarkan. Berujarlah putraku, sekiranya para daiva dapat memberi yang kau citakan!’’

Perasaan berpuas diri, itulah yang aku takutkan. Yang dengannya tiada aku dapati lagi kuasa untuk mencari sang arti. Arti tentang hidup dan kehidupan yang tak juga mengungkapkan kemurniannya yang penuh misteri. Ya….sampai kini, ketika negeri tempat aku bertumbuh berada dalam titik nadzir sejarahnya.

Rusak semesta anak benua. O…devata. Semuanya menghambur dalam api perang dan permusuhan. Kehendak untuk memaklumkan diri sebagai yang terperkasa telah memberangus segalanya. Mereka telah meminjam segala yang dikaruniakan bumi untuk sarana pertumpahan darah.

” itulah cara sang Kala melewatkan zaman. Menelan titik puncak peradaban lalu memuntahkan zaman bagi kehancuran sebuah kebudayaan. Dan pada masa-masa itu setiap anak manusa yang tersentuh jubah hitamnya boleh untuk meresah dan berkecil hati. Kadang itu terasa terlalu berat bagi mereka yang merasa dan sadar akan segala yang terjadi. Sementara mereka yang alfa hanya akan menganggap sebagai gejolak zaman yang tanpa arti. Itulah cara kalian memaknai segala sesuatu…….

Pikirkan putraku, siapakah alam, apakah peradaban, siapakah manusia itu, siapakah para daiva?. Tak lebih semua itu sekedar pancaran dari ruh azali yang yang berjalan memencar dari sumber itu dengan kekuatan dan jalan masing-masing. Sementara suatu ketika semuanya kembali memampat dalam titik sumber itu. Itulah kenapa yang azali itu memanifestasikan diri dalam penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Disanalah Brahma, Vishnu dan Siva menghadir……….satu keniscayaan putraku, bahwa jika peradaban itu kemudian menghancur tak perlu untuk kau sesali dan tangisi…….”

Betapa sakitnya, kehancuran ini terjadi ketika sebagian misteri alam dan pengetahuan mulai tersingkap. Saat fisafat mulai berkembang dengan kesuburan yang membesarkan hati. Veda telah ditulis, sutra dan mantra menghias setiap kata yang terucap. Apalah yang menghadirkan segala keganjilan ini?.

“ putraku, kenapa kau tak tanyakan pada keheningan dan kebeningan nuranimu sendiri?. Lihatlah, siapa kau, siapa leluhurmu?. Kalian terpisah aleh diding-dinding ghaib dari peradaban dan sebuah kerangka berpikir serta berkehendak yang berlainan. Manusa-manusa yang hidup di awal peradaban anak benua ini menganggap setiap laku filsafat dan pengetahuan adalah sebagai jalan mereka untuk mencapai keselarasan dan keharmonisan dengan jagat ini. Sementara zamanmu adalah masa-masa suram, ketika pengetahuan dan filsafat adalah laksana mata pedang yang digunakan unutk menundukan alam dibawah duli kuasa manusa. Itulah perbedaan yang kau cari, bagaimana satu senjata yang sama bila digunakan dengan kehendak yang berbeda akan menumbuhkan akibat-akibat yang begitu berselisihan…….. ”

Keheningan dan kebeningan hati, O..devata yang mulia, tak mungkin semua itu terjadi selain dengan wahyu yang kau firasatkan. Kami yang fana sekedar piala untuk menampung berkat kebijaksanaanmu. Sekali waktu kami kosongkan piala itu sekedar dapat mendapati ilham-mu yang baru. Tapi dengannya kami mesti membuang pengetahuan yang telah kami dapai di masa yang lampau. Kau menyaksikan, sebuah piala jua yang kami punya……….ya, tiada lebih dari itu……..

Dan yang terbuang itu, selalu mengibaskan harapan untuk merengkuhnya kembali. Kami tak pernah mampu menyandingkan keduanya, yang baru dan yang lampau itu. Kami mesti memilih, sementara ilusi-ilusi inderawi selalu menyimpangkan pandangan kami terhadap kesejatian arti, kami hanya berkesempatan menentukan pilihan-pilihan yang salah…….

Terlupakan dan selalu melupakan, itulah kelemahan kami berikutnya. Diri kami yang kecil dan tak pernah abadi, hanya penyusutan kami itu sendiri yang abadi. Semakin mengecil, sehingga menjadi tak lebih sebuah titik yang mengakhiri setiap rangkaian aksara. Sementara aksara sendiri kadang bersifat a-ksara, abadi dalam hakikat yang dijalaninya untuk mengungkap serta merumuskan gagasan dan pengetahuan. Devata…..kami selalu pupus dalam hakikat karma yang mesti kami jalani.

” kembali putra manusa, keseimbangan yang dulu kau kejar adalah jalan keluar bagi semuanya. Mengingat dan melupakan, apalah semua itu selain pengungkapan belaka. Pengungkapan ketika memandang segala sesuatunya dari titik pandang yang berlainan. Yang terlupa tiada hilang dia selain tertimbun dalam pikiran bawah sadarmu. Yang teringat sekedar mengungkap dalam kesegaran pikirmu. Kau tahu, semuanya ilusi semata………… Kesejatian vidya adalah nurani tercerahkan, yang membimbingmu kedalam kesejatian nafas kehidupan. Pikirkan itu…….

Seraplah segala kemungkinan yang mengambang disekelilingmu, pilahlah dengan kebeningan jivatman, sang sejati akan mengungkap dalam perwujudannya yang paling purba………..”

Ah, devata……kau sang perantara dari semua kehendak sorgawi. Jejak kau tinggalkan dalam akhir perjumpaan ini. Kembali ke dalam keheningan alam jagat atas. Jiwa abadi yang terbungkus tubuh ruhani, dia yang mencukupkan diri dengan segala penerimaan dan pengendalian diri. Terselubung sebagai kekuatan adi-kodrati……..

Selamat jalan putra Siva…….. kehadiranmu telah membuka pintu-pintu pengetahuan yang dulu terselubung……….. Selebihnya O…devata, biar dengan usaha sendiri aku dan seluruh kaum manusa memasuki cakrawala baru, jauh melewati fajar pencerahan yang mulai menyingsing…….

Pujianku atasmu penguasa pena dan lembaran-lembaran lontar………

—-

Selimut gelap terjalin dari derai rambut Ratri Devi, dialah penguasa langit malam dengan segala keheningannya. Aku kembali melangkah, menuruni punggung-punggung curam pegunungan Himachala. Puncak Gauri sudah tertinggal selaksa hasta dariku.

Dingin yang menyusup ke dalam sungsum tulangku tak lagi aku hiraukan. Sejenak aku berhenti sekedar mengatur nafas yang mulai tersengal. Aku hadapkan wajahku ke arah timur, menghadap Usha, dewi bulan yang kini telah terbang pelan sampai setinggi stupa kuil di Bodhgaya.

Di sekeliling sang Usha berpendaran cahaya teduh bintang-bintang dari langit timur. Ya…cahaya itulah yang begitu pemurah memberikan petunjuknya kepada setiap pelaut dan petualang yang kehilangan arah. Dalam anganku bintang-bintang itu aku rangkai dengan temali ghaib yang membuatnya terjalin layaknya untaian aksamala maha luas tempat setiap pencari kebenaran merapalkan segala puja.

Hamparan di hadapan aku sapu dengan sekali pandang…….

Ah, tanah yang begitu molek dan anggun, tanah tempat aku tumbuh dan berkembang, tanah anak benua. Segala berkah pernah tercurah dalam tanah ini…..

Aku bayangkan kota-kota benteng Mohenjo-Daro dan Harappa, tempat suku-suku dravida dulu berjaya…….

Aku angankan Indraphrasta dan Ayodya, istana tempat orang-orang arya belajar akan nilai sebuah peradaban………

Aku teringat Benares, Allahabad dan Bodhgaya, kebun-kebun dimana dulu Sidharta menemukan hakikat Budha….

Dan Samudra Lavana-undadhi, tempat Bima menghadap sang Ruci dan beroleh pengetahuan tentang air kehidupan, Kamandhanu …….

Dan tanah Kuru-Ksetra, saat Vishnu memancar dari tubuh Krishna memberi kekuatan kepada Arjuna yang tengah bimbang dalam keyakinannya…….. Bersabda dengan kelantangan yang mengatasi hiruk pikuk bharata-yudha :

“ akulah cahaya seribu mentari,

kecemerlangan dari sang Maha Kuasa,

akulah cahaya kematian……….”

ya….jika Vishnu sudah mengakhiri sabdanya, aku takut inilah saat bagi Siva buat memulai dharma……

Dahwi, 28  April 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 8 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 8 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 11 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: