Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Yossiewenyerliana

My Husband is my Inspirate

Belajar

REP | 28 April 2012 | 13:04 Dibaca: 163   Komentar: 0   0

CRITICAL REVIEW

Judul buku : Filsafat Pendidikan (Sistem dan Metode)

Pengarang : Prof. Imam Barnadib, MA., Ph.D

Tebal : 98 Halaman

Buku setebal 98 halaman ini terbagi menjadi 4 bab. Bab I berisi Pengantar sang penulis (H. 7-10), Bab II, membahas Filsafat dan Filsafat Pendidikan (H. 11-18), Bab III, Sistem-sistem filsafat dan filsafat pendidikan, mengutarakan adanya kenyataan tentang perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan pengaruhnya terhadap masyarakat dan kebudayaan serta adanya beberapa system filsafat pendidikan yang timbul sebagai kebulatan pikiran dan konsep (H. 19-84), Bab IV, Metoda, menguraikan hal-hal yang hakiki dan mendasar (H. 85-97).

Dalam buku filsafat pendidikan karya Imam Barnadib disebutkan bahwa filsafat pendidikan adalah ilmu pendidikan yang bersendikan filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan mengenai masalah pendidikan. Bab I menguraikan tentang bagaimana isi sekilas tentang hal apa saja yang dipaparkan dalam buku ini.

Dalam Bab II disajikan mengenai system filsafat yang berpengaruh pada pendidikan, yakni:

a. Realita adalah kenyataan, kemudian kenyatan menjurus kepada kebenaran, kebenaran akan timbul jika seseorang telah sadar bahwa pengetahuan yang dimiliki adalah nyata. Hal inilah yang akan dibahas dalam metafisika.

b. Pengetahuan, usaha menjawab pertanyaan dan bagaimana bentuk upaya manusia memperoleh pengetahuan, poin ini diurai pada epistemology.

c. Nilai, nilai social dan norma yang akan berpengaruh terhadap lajunya pendidikan, maka dalam kaitan ini, pertanyaan yang mesti dijawab adalah “Bagaimanakah nilai yang dikendaki manusia dan nilai yang dapat dijadikan dasar hidup manusia?”.

Jadi pandangan dunia yang bagaimanakah yang diperlukan oleh kita ini adalah termasuk bahasan metafisika, sedangkan epistemology, berhubungan dengan penyusunan dasar-dasar kurikulum. Kurikulum diumpamakan sebagai jalan raya yang perlu dilewati oleh siswa dalam proses pemahaman pengetahuan dan tercapainya tujuan pendidikan. Lalu aksiologi yakni dunia nilai yang sebenarnya menjadi dasar pendidikan karena selalu dipertimbangkan dalam tujuan-tujuan pendidikan. Dan satu lagi, logika yang termasuk cabang filsafat, menjadi dasar bagi ajaran berpikir untuk pendidikan kecerdasan.

Disamping adanya problema dengan adanya cabang filsafat dalam Bab II ini disajikan pula aliran-aliran filsafat, yakni:

1. Naturalisme materialisme

Bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam-semesta-fisik ini. Hal ini semakin memperkuat kedudukan raga (unsure-unsur materi).

2. Idealisme

Kenyataan tersusun atas substansi gagasan / ide / spirit. Alam fisik tergantung pada Jiwa Universal; Tuhan, alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut.

3. Realisme

Bahwa obyek atau dunia luar itu adalah nyata pada sendirinya, maka kenyataan berbeda dengan jiwa yang mengetahui obyek atau dunia luar tersebut. Kenyataan tidak hanya bergantung pada yang mengetahui tapi merupakan hasil pertemuan dengan objeknya.

4. Pragmatisme

Utilitas (kegunaan) beserta kemampuan perwujudan nyata adalah hal yang utama di dalam pengetahuan mengenai sesuatu itu.

Pendidikan ditempuh seseorang sebagai usaha untuk menunjukan peralihan dari kanak ke masa kedewasaan. Dan kebudayaan adalah hasil budi manusia berubah dalam berbagai bentuk seiring semakin tingginya tingkat pendidikan yang ditempuh sekelompok orang pada suatu daerah.

Sikap pendidik akibat tantangan-tantangan yang timbul seirig perkembangan IPTEK, Imam Barnadib mencoba merumuskan sikap pendidik dalam beberapa aliran, yaitu: Pertama, Progresivisme, mempunyai konsep bahwa setiap manusia memiliki kemampuan yang wajar untuk menghadapi dan mengatasi problem yang bersifat menekan atau mengancam diri sendiri. Maka dari itu progresisvisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang berciri otoriter. Menurut konsep ini perlu adanya mengartikan cita-cita untuk kemajuan dan maksud-maksud yang baik dalam hidupnya kelak. Oleh karenanya manusia harus memfungsikan jiwanya demi terbinanya hidup dengan arah dan tujuan yang jelas dan sesuai yang dicita-citakan. Progresivisme tidak memberikan batasan yang jelas mengenai nilai instrinsik (untuk diri sendiri dalam kebaikan) dan nilai instrumental (lingkungan yang lebih luas). Pandangan progresivisme mengenai belajar bertumpu pada pandangan mengenai anak didik sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding makhluk-makhluk lain. Selain itu menjadi menipisnya dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat menjadi landasan pengembangan ide-ide pendidikan progresivisme.

Menurut saya, hal ini dapat diartikan, hampir tidak ada pemisah antara sekolah dan masyarakat, seperti yang kita ketahui, bahwa jika kita menarik kata “otoriter” maka semua berpusat pada pemerintah. Jadi, menipisnya dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat merupakan ancaman terbesar bagi perkembangan pendidikan sentralistik, karena jika terjadi hal yang demikian, maka kewenangan pemerintah dalam mengatur pendidikan akan berkurang. Saya setuju dengan progresivisme bahwa manusia memiliki potensi untuk mengembangkan dirinya

Kedua, esensialisme menghendaki agar landasan-landasan pendidikan adalah nilai-nilai esensial yaitu yang telah teruji oleh waktu, bersifat menuntun, dan telah turun-temurun, dan mengambil zaman renaisanse sebagai permulaan. Dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta isinya. Oleh karena itu, bentuk, kehendak, cita-cita manusia harus sejalan dengan tata yang tiada celah tersebut. Idealisme dan realisme adalah aliran-aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dalam memahami pandangan mengenai pengetahuan, kacamata realisme menganggap manusia adalah sasaran pandangan dengan penelaahan bahwa manusia perlu dipandang sebagai makhluk yang padanya berlaku hukum yang mekanistis evolusionistis. Sedangkan menurut Idealisme, pandangan mengenai pengetahuan ini bersendikan pada pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan makrokosmos dan mikrokosmos.

Ketiga, Perenialisme, menurut aliran ini, keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Perenialisme mengemukakan, realita itu bersifat teleologis, yang berarti mengandung tujuan. Oleh karena semua hal itu bersumber pada kenyataan yang bersifat spiritual, maka tiap-tiap hal itu terarah untuk mencapai tujuan masing-masing. Pandangan perenialisme mengenai pengetahuan adalah segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Hakikat manusia adalah jiwanya, emanasi (pancaran yang potensial yang berasal dari dan dipimpin Tuhan). Oleh karena itu hakikat manusia juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Setiap manusia memiliki keistimewaan dibanding dengan makhluk lain, ialah karena memiliki sifat rasionalitas, maka tuntutan tinggi dalam belajar pada perenialisme adalah latihan dan disiplin mental, teori dan praktek pendidikan harus mengarah pada tuntutan tersebut.

Dalam bagian terakhir dari buku filsafat pendidikan yang merupakan salah satu karya Imam Barnadib ini, dijelaskan bahwa pengembangan metode suatu disiplin itu sejalan dengan pengembangan disiplin tersebut. Baik filsafat maupun filsafat pendidikan memandang obyek-obyek persoalannya dari sudut hakekat; maka dengan sendirinya problema yang perlu menjadi obyek penelitian filsafat pendidikan adalah masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Tinjauan historiko filosofis bersifat statis bila dibandingkan tinjauan kritis, oleh karena untuk yang pertama data diperoleh dari adanya menurut sejarah, Sedang untuk yang kedua pemikiran logis kritis mempunyai kedudukan utama. Alat yang digunakan oleh filsafat kritis adalah analisa linguistic dan konsep.

Buku filsafat karya Imam Barnadib ini merupakan referensi yang seimbang dijadikan rujukan bagi penggelar kajian filsafat, terutama filsafat pendidikan, yang dewasa ini kembali menyeruak ke permukaan. Selain itu, menggunakan gaya bahasa yang cukup mudah dipahami, jika dibandingkan buku filsafat lainnya. Buku ini enak dibaca dan dipahami karena penulis menyertakan rangkuman pada setiap babnya. Dengan begitu pembaca menjadi mudah untuk mengerti maksud atau inti pembahasan pada setiap bab dalam buku ini. Bahasa yang digunakan secara rasional yang artinya tidak memasukkan unsure perasaan dan tidak berisikan prasangka sehingga buku ini tidak mengurangi sifat keobyektifan pokok-pokok bahasan yang dikaji.

Adapun beberapa kekurangan yang menyebabkan menurunnya kualitas pemahaman pembaca, yakni tidak tampilnya arah dan bentuk kongkrit antesedene yang jelas bagi setiap konsep tawaran Imam barnadib yang sejalan dengan pemikiran Theodore Brameld. Satu hal lagi yang lainnya, yakni, pengulasan kembali sub yang telah disajikan sebelumnya. Mengakibatkan berkurangnya kolom penjelasan sub bahasan yang sedang dikaji.


KONTRIBUSI SISTEM FILSAFAT

TERHADAP PENDIDIKAN

“Filsafat adalah landasan atau dasar bagi tersistemasinya ilmu pengetahuan”. Secara eksistensi, pendidikan dan manusia bagaikan kutub magnet U dan S, yakni sangat berkaitan erat, berpadu, meliputi, dan bersatu, bagai jiwa raga. Jiwa yang menggerakan raga, lalu pendidikan adalah katalis yang mempercepat sekaligus mengarahkan tercapainya tujuan akhir. Dan filsafat hadir untuk menjawab segala hal yang berkaitan eksistensi manusia, merupakan ilmu yang komprehensip yang berusaha memahami persoalan-persoalan yang timbul di dalam keseluruhan ruang lingkup pengalaman manusia. Hal ini secuplik dengan pendapat seorang Filsuf Amerika, John Dewey (dalam Imam Barnadib (1993: 3) filsafat itu merupakan teori umum dari pendidikan, atau filsafat merupakan landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.

Seiring berjalannya waktu dan semakin tingginya pergulatan dan persaingan di era globalisasi ini, terutama dalam hal pendidikan, selain itu kebutuhan manusia akan pengetahuan frekuensinya lebih bertambah, disamping itu pemusatan dalam pembentukan nilai kepribadian individu, maka berdasarkan hal tersebut menimbulkan tantangan-tantangan yang harus dihadapi dalam dunia pendidikan. Karena pendidikan bertugas menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi segala realitas yang ada dalam hal pembangunan dan langkah pembangunan harus seirama dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan memiliki tantangan-tantangan global untuk menghadapi pendidikan masa depan yang lebih jelas dan terarah. Diantara masalahnya adalah disamping manusia sebagai makhluk yang misteri (sebab manusia adalah sasaran pendidikan), Usaha pendidikan mengantisipasi hari depan yang tidak semua seginya dapat dijangkau oleh kemampuan daya prediksi manusia.

Problem-problem pendidikan haruslah dipecahkan dengan analisis dan pemikiran yang mcukup mendalam atau kita kenal dengan istilah analisis filosofis. Dan letak kontribusi kongkrit system filsafat terhadap pendidikan tercermin pada pandangan metafisika, epistimologi, dan aksiologi.

Terurai sebagai berikut; metafisika adalah pisau analisis mengenai pendidikan yang bagaimanakah yang kia perlukan saat ini dan yang akan dating ?, jadi meafisikan membahas habis tentang bentuk pendidikan yang sangat dibutuhkan, telah cocok dengan perkembangan zaman.

Sedang epistemologi adalah cara atau the way of reach the goals. Jadi pada intinya, dalam system ini kurikulum adalah kendaraan bagi guru dan siswa untuk mencapai tujuan yang dinginkan dalam pendidikan.

System yang terakhir, yakni aksiologi, adalah nilai-nilai yang mendasari sesuatu, dalam hal pendidikan. Yang paling vital adalah tujuan yang sebagai arahpendidikan dan merupakan hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan pendidikan. Maka dari itu, tujuan pendidikan harus singkat, padat, bersyarat, dan berdasarkan nilai-nilai yang fundamental, yakni nilai moral, nilai social, nilai ilmiah dan nilai agama. Hal itu akan mewujudkan nilai yang baik, luhur, benar, pantas, dan indah dalam kehidupan manusia yang notabene mengutamakan pendidikan. Sebaliknya, tujuan pendidikan tanpai nilai fundamental adalah hampa karena pendidikan adalah proses mengatur manusia dalam terlaksananya tujuan pendidikan yang sifatnya pendidikan.

Oleh karena filsafat menyajikan tinjauan yang luas mengenai realita, maka dibahas pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep ini merupakan landasan bagi pengembangan konsep tujuan dan metode pendidikan.


PAPARAN

a. Metafisika

Istilah metafisika berasal dari kata Yunani meta ta physika, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik (tim dosen,2007:31). Metafisika juga dapat diartikan sebagai pemikiran tentang sifat yang paling dalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan. Persoalan metafisika dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu ontologi, kosmologi (alam), dan antropologi (manusia).

Metafisika, dikenal dengan proto filsafat. Metafisika berasal dari phusika (fisika) yakni, ilmu alam, fisika, teori politik, psikologi, dll. Dan kelompok meta ta phusika (sesudah fisika) yakni hakikat realitas. Kemudian meta ta phusika menjadi metafisika yang dalam seiring waktu biasa disebut filsafat pertama.

Obyek utama dari metafisika adala particular (materi) dan universal (ide). Kajian mengenai particular yakni segala sesuatu yang ada maupun tidak sempurna disebut particular. Benda yang kita lihat satu persatu, misalnya, computer ini, pena ini, pohon). Dikenal juga obyek satu demi satu,obyek dunia nyata, alami, materi,dll. Sedangkan semua yang bersifat mirip, berciri sama, bentuk / form sama (example: semua pohon, semua buku, semua meja = adalah universal. Hanya ada satu universal, dan sempurna, obyek didalam pikiran, ide, abstrak,dll.

“Metaphysics, branch of philosophy concerned with critically examining basic philosophical assumptions and identifying what exists insofar as it exists. Metaphysics interacts with such other philosophical studies as logic, epistemology, aesthetics, and ethics”.

Dengan demikian, metafisika adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.

b. Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan validitas pengetahuan (Tim dosen,2007:32). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu/teori). Dalam hal pendidikan, Epistemologi diperlukan dalam hubungan penyusunan dasar-dasar kurikulum. Yang mana, kurikulum merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, diumpamakan sebagai kendaraan yang mengantarkan murid atau peserta didik mengenal dan memahami pengetahuan. Jadi, epitemologi berisi tentang hakekat, cara memperoleh & sumber pengetahuan logika berfikir.

c. Aksiologi

Secara etimologis, aksiologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu aksios yang berarti nilai dan kata logos berarti teori. Jadi, aksiologi, merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Dengan kata lain, aksiologi adalah teori nilai. Suriasumantri (1990:234) mendefinisikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh.[1] Jadi nilai yang dimaksudkan adalah nilai kegunaan, Apa kegunaan ilmu itu dalam kehidupan manusia?. Jadi, aksiologi mengenai orientasi / nilai kehidupan, bagaimana manusia harus hidup & bertindak, melahirkan etika & estetika.


[1] Suriasumantri, Jujun S.1990. Filsafat ilmu: Sebuah Pengantar Populer.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hlm. 234.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: