Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Dues K Arbain (sufi Anak Zaman)

Slogan Sufi Anak Zaman : Jika Allah mencintai manusia, maka akan terwujud dalam tiga kwalitas : selengkapnya

Metafisika Sufi Anak Zaman (Bagian 2)

OPINI | 27 April 2012 | 18:41 Dibaca: 576   Komentar: 3   4

Malam itu aku tertidur pulas dengan tangan yang difungsikan sebagai bantal dan tikar anyaman rumput sebagai alas tubuhkuh. Rumah Sang Guru memang jauh dari jangkauan kemajuan teknologi, jauh dari keramaian manusia, bahkan walaupun ia mempunyai tetangga, tapi tak satupun tetangganya tahu kalau dia seorang yang berilmu. Seringkali aku mengunjungi Sang Guru, tapi tidak berada di tempat, namun satu ketika muncul dari tempat-tempat yang tak terduga. “Dari mana Guru?” tanyaku suatu hari. “Dari pulau seberang” katanya. Aku diam saja, karena Sang Guru memang sering berada di suatu tempat yang tidak masuk akal menurut aku.

Pagi harinya sebelum shalat subuh aku dibangunkan Sang Guru. “Mandi dulu” kata Sang Guru, akupun menurut apa katanya. Kurasakan air yang disiapkan guru dingin sekali ditambah lagi dengan udara pegunungan yang sejuk dan cuaca pagi yang kelam, lengkap sudah ketakutanku untuk mandi dipagi buta ini. Tapi karena diminta oleh Sang Guru mau tak mau aku tetap mandi, aneh bin ajaib, aku sama sekali tak merasakan dingin, tubuhku yang tadinya kubayangkan akan menggigil, sama sekali tidak terjadi.

“Jika di dalam perang kecil, yaitu perang dengan mengangkat senjata tajam, Allah selalu menurunkan strategi yang jitu kepada Panglima Perangnya yaitu Rasulullah SAW, maka perang melawan iblis (hawa nafsu) adalah perang besar yang tentunya memerlukan armada yang lebih dahsyat lagi dibandingkan dengan armada perang melawan manusia, karena perang melawan iblis (hawa nafsu) adalah perang melawan yang ghaib. Dalam memerangi musuh ghaib yang dahsyat yang berada dalam rohani, maka sebagai Pemimpin Agungnya tetap dari diri rohani Rasulullah, yang bersumber dari Allah SWT itu sendiri. Sebagai senjatanya yang Maha Akbar yang disebut “Kalimah Allah” yang maha dahsyat dan maha tajam, yang langsung disalurkan dari tangan Allah ke tangan rohani Rasul sebagai Rasul dan sebagai aparat Allah SWT sesuai dengan Firman-Nya dalam Al Qur’an : “Tangan Aku di atas tangan mereka……..”(QS Al Fath : 10). Dan sesuai pula dengan Firman Allah : “Bukan engkau yang menyebut melainkan Aku” (QS Al Anfal : 17). Dengan demikian kita tetap menyatukan rohani kita dengan rohani Rasulullah sehingga tersambunglah frekuwensinya kehadirat “La Ilaa ha Illallah”. Sang Guru berkata padaku setelah aku selesai mandi dan merapikan pakaian untuk shalat malam bersamanya.

“Pada saat Nabi Musa hendak diserang oleh ahli-ahli sihir Fir’aun yang menjelmakan ular-ular yang sangat berbisa, maka atas kehendak Allah SWT, cukup dihadapi oleh tongkat Nabi Musa AS, dimana telah disalurkan Kalimah Allah yang Maha Dahsyat, Kalimah Allah yang Maha Sakti, yang dalam sekejap mata saja ular-ular jadi-jadian itu lenyap seketika, hal ini dimungkinkan sekali karena dimensi dari Kalimah Allah yang Haq, yang Maha Tinggi dan Maha Agung, tidak dapat ditentang oleh apa saja dalam jagad raya ini. Dengan lain perkataan segala sesuatu yang dimiliki oleh Iblis yang walau bagaimanapun hebatnya, tingginya ilmu iblis, mampu dihadapi oleh Kalimah Allah yang Haq yang disalurkan dari Maha Sumbernya melalui salurannya yang Haq pula” lanjutnya lagi. “Dengan metode seperti ini, strategi perang yang maha dahsyat melawan iblis yang dimurkai Allah, barulah Iblis yang sakti tersebut dapat dimusnahkan dari dalam hati sanubari kita, sehingga kita dapat melaksanakan Shalat yang sempurna, khalis mukhlisin, khyusuk dan menuju shalat yang Ashshalaatu mi’raajul mu’miniin” Sang Guru menambah penjelasannya.

Setelah melaksanakan shalat malam sebanyak dua belas raka’at, guru mengajakku berdzikir hingga mataku tertidur diterpa kantuk yang sangat kuat. Tapi ketika Sang Guru sudah selesai dengan zikirnya karena waktu Subuh sudah semakin dekat aku mendengar Sang Guru berkata lagi :

“Dalam tidurpun kau harus tetap siaga, karena perang melawan iblis (hawa nafsu) ini sekurang-kurangnya harus kita lakukan dan wajib kita laksanakan lima kali dalam sehari semalam. Seorang mukmin dituntut untuk memenangkan peperangan ini, karena inilah jalan yang lurus untuk menuju kepada Allah SWT. Setelah selesai melaksanakan shalat yang lima waktu itu selayaknyalah diiringi dengan zikir sebagaimana Firman Allah : Wadzakarasma Rabbihii Fashallaa (QS Al A’laa : 15) dan karena selalu pula berzikir dalam shalat, kita tidak pula terkena hukuman Allah dalam Al Qur’an : Fawailul lil mushalliin dan seterusnya (QS Al Ma’un : 4 -5). Artinya : “Neraka Wailun bagi orang yang shalat, yang shalatnya lalai tidak zikir (lupa zikir) dalam shalatnya”, karena begitu kita lupa zikir, begitu pula Iblis sudah kembali lagi pada tempatnya semula dalam hati kita”.

“Bangunlah, kita akan ke mesjid, tempatnya jauh di kaki gunung” kata Sang Guru

“Maaf Guru, kakiku lemah sekali” kataku

“Tidak ada kata menyerah bagi seorang hamba yang ingin berjumpa Tuhannya” jawab Sang Guru

Sepanjang jalan menurun menuju mesjid di kaki gunung tersebut Sang Guru terus memberi wejangan :

“Sejalan dengan fenomena di dalam Alam Metafisika, kita dapat menyerap dan menyalurkan tenaga-tenaga dahsyat, dengan cara-cara tertentu, seumpama air yang dihasilkan oleh sebuah danau, ia mampu mengeluarkan beratus-ratus ribu KVA energi listrik, yang kemudian disalurkan dan mampu mengelola beraneka ragam benda padat, seperti besi, aluminium, logam untuk dijadikan tenaga yang dahsyat seperti tenaga atom, tenaga nuklir dan sebagainya, yang akibatnya dapat menghancurkan seisi dunia ini hanya dalam hitungan detik. Akan tetapi jika kita tela’ah lebih dalam, dan kita kaji lebih mendetil lagi, dengan menggunakan metode tertentu, sesungguhnya segala fenomena Alam Fisika yang sangat dahsyat tersebut, bahkan yang lebih dahsyat sekalipun, tak dapat menandingi tenaga energi Metafisika yang bersumber dari Al Qur’anul Karim, yang tak terbatas, yang datangnya dari Allah Yang Maha Agung dan Maha Dahsyat dan Maha Perkasa, yang disalurkan melalui saluran Haq-nya. Firman Allah : “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takutnya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir” (QS Al Hasyir : 21).” Ceramah Sang Guru.

“Engkaupun harus menggunakan ayat ini sebagai dalil untuk berfikir dan menela’ah bagian terdalam dari Al Qur’anul Qariim, yang juga harus dipelajari dan diamalkan dengan sungguh-sungguh. Sehingga terciptalah Agama Islam yang sebenarnya, agama yang telah disempurnakan oleh Allah, agama yang hebat dan dahsyat serta diridhoi oleh Allah SWT. Sufi Anak Zaman harus mampu membangkitkan kelumpuhan dan impotensi yang dialami kaum Muslimin saat ini, dimana kekuatan dan kedahsyatan Islam sudah tidak tampak lagi, semuanya sudah lenyap, yang tinggal hanyalah puing-puing kejayaan masa silam saja. Islam saat ini sudah tidak berkutik lagi dihadapan kaum zionis laknatullah, lihat saja betapa Mesjidil Aqsa di Palestina, salah satu Mesjid suci kaum Muslimin di seluruh dunia itu tetap saja ternoda, tolehlah pula bangsa-bangsa Islam saat ini, Afganistan, Irak, Palestina, Libanon, Bosnia, mereka tetap menjadi budak-budaknya kaum zionis, dan celakanya lagi umat Muslim sedunia tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya mengutuk dan mengutuk, apakah engkau masih mau menjadi seorang Sufi Anak Zaman?” Guru menyerangkan dengan pertanyaan diakhir katanya. Aku hanya terdiam dan tertunduk malu. Apakah aku layak? Atauah itu hanya sebaris kata? “Ah, yang penting itu adalah visi dan misi hidupku”, bisikku dalam hati.

Sekembalinya dari masjid Sang Gurupun melanjutkan ungkapannya : “Doa yang dipanjatkan kaum Muslimin tak ubahnya seperti mengharapkan bulan jatuh ke pangkuan, do’a tersebut tidak terkabulkan sama sekali, ibarat anak panah sudah jatuh sebelum sampai ke sasarannya. Kekuatannya sudah melempam lenyap bersama angin lalu. Untuk itu, supaya do’a kita memiliki kekuatan sehingga mampu mengenai sasarannya kepada Allah SWT, haruslah menggunakan teknologi dari Metafisika Al Qur’an, yang terkandung dalam ayat-ayat Allah, dengan demikian do’a tersebut dapat menembak sasaran dengan tepat dan berhasil seperti menembak dengan menggunakan telescope, jika focusnya telah tepat, pasti menurut hukum yang berlaku akan tepat pula mengenai sasaran. Jika kita melihat ke Maqam Ikhsan, di mana tidak ada do’a yang ditolak Allah, sebetulnya itu hanya berlaku bagi seorang mukmin yang telah menguasai teknis pelaksanaan maqam ikhsan tersebut. Untuk mencapai maqam ikhsan tidak bisa didapat secara awam, agar sampai ke Maqam Ikhsan itu, harus faham bahwa Maqam Ikhsan itu tempatnya di Arasy di sisi Allah SWT. Untuk mencapai itu harus ada yang membawa Rohani kita yang mempunyai kapasitas yang tak terhingga pula, yaitu Nurun ‘ala Nurin yang semestinya kita warisi dari Rohani Rasul sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Maidah ayat 35 di atas”.

Beliaupun meneruskan lagi : “Seorang yang ingin menuju ke Sufi Anak Zaman harus memahami semua uraian ini, selain harus mengenal dan memahami Ilmu Teknologi dan Ilmu Tasawuf, ia harus mengerti pula Ilmu Tauhid, Fiqh dan Ushuluddin. Kenapa pada saat itu Rasulullah tidak menjelaskan hal ini kepada umatnya? Jawabnya adalah bukan karena Nabi Muhammad SAW tidak mampu untuk menerangkan Agama Islam dalam bidang Ilmu Kerohaniannya, beliau sangat mampu, akan tetapi masyarakatnyalah yang pada zaman dahulu tidak akan sanggup menerimanya, karena Ilmu Kerohanian yang ghaib itu setepat-tepatnya hanya dapat diterangkan dengan Ilmu Teknologi Modern, karena harus memakai getaran-getaran dan frekwensi yang tak terhingga dari dimensi yang tak terhingga pula, karena sesuatu Zat yang tak terhingga hanya dapat dihubungi dengan faktor yang tak terhingga pula, yang terbit dari Zat yang tak terhingga itu sendiri. Seperti halnya Islam telah menerangkan bahwa matahari itu beredar pada garis orbitnya, akan tetapi pada saat itu umatnya belum bisa menerima. Atau Al Qur’an telah menerangkan bahwa bumi itu bentuknya bulat dan berputar mengelilingi matahari, akan tetapi pada saat itu masyarakatnya tetap berpendapat bahwa bumi itu datar dan mataharilah yang berputar mengelilingi bumi. Akan tetapi begitu teknologi modern sudah dicapai oleh manusia, setelah 1400 tahun lebih, baru semua teori Al Qur’anlah dapat dibuktikan, padahal pada masa Rosulullah SAW tak satupun para ilmuwan percaya dengan apa yang disampaikan beliau”. Aku mengangguk-anggukkan kepala, entah karena mengerti atau karena bingung.

Sesampai di pondok Sang Guru akupun langsung terkapar tak berdaya, sungguh yang aku salut bagaimana seorang yang sudah sepuh seperti Sang Guru sanggup melakukan itu setip hari, turun naik gunung, sedangkan aku? Baru sekali saja sudah tak berdaya. Mungkin itulah gambaran dari Kekayaan Allah SWT di alam metafisika. Dan ini sangat dihayati, difahami, dan dipelajari teknisnya oleh Sang Guru sehingga dapat dimanfaatkan untuk hidup dan kehidupan di dunia dan akherat. Dan ini telah dilaksanakan oleh “Aparat” Allah SWT, yaitu para Rasul, Ambia, para Solihin, Siddiqiin, para Rijalullah, para Aulia Allah sebagai Khalifah Allah dan Khalifah Rasul yang mewarisi semua ini, begitulah hebatnya dan perkasanya orang Mukmin di masa itu, karena ke Akbaran Allah SWT juga. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.

Semoga Allah SWT membukakan hijab bagi kita semuanya dan menurunkan Rahmat-Nya dan Kurnia-Nya dari Sifat-Nya Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Amin .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 11 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 12 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 13 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Batas Maksimal Usia Pelamar Kerja Harus …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Pernikahan dan Segala Suka Dukanya …

Sam Edy Yuswanto | 9 jam lalu

Sang Pengawal Lumbung Pangan …

Alfi Rahmadi | 9 jam lalu

Kiprah Anak Band Untuk Sesama …

Agung Han | 9 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: