Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Dues K Arbain (sufi Anak Zaman)

Slogan Sufi Anak Zaman : Jika Allah mencintai manusia, maka akan terwujud dalam tiga kwalitas : selengkapnya

Metafisika Sufi Anak Zaman (Bagian 1)

OPINI | 27 April 2012 | 16:53 Dibaca: 520   Komentar: 1   6

Suatu malam aku merasa sangat terasing, sangat menyesak di dada, jiwa berkecamuk tanpa sebab, dihentakkan oleh keinginan-keinginan akan perubahan dalam hidup. Dalam satu tahun ini aku telah ditinggalkan oleh tiga orang yang sangat kusayang, pertama ayahku, lalu ibuku dan terakhir mertua lelakiku. Kini satu-satunya orang tua yang kupunya tinggal ibu mertuaku. Dengan kondisi yang labil ini aku mulai merantau, menyusuri rimba ke rimba, mendaki gunung ke gunung, menyelami dasar samudra dan melakukan apapun yang kubisa, hingga suatu saat aku kembali pada kesadaran jiwa bahwa aku telah memilih jadi seorang Sufi Anak Zaman, bukan Sufi Anak Jalanan. Sebagai seorang Sufi Anak Zaman seharusnya aku memfokuskan pemikiran pada golongan mukmin yang selain mengetahui Hukum-hukum Fiqih, juga sedikit banyaknya mengenal Ilmu Tasawuf karena keduanya sangatlah diperlukan bagi perkembangan hidupku di masa kini dan nanti.

Siapapun yang ingin menjadi Seorang Sufi Anak Zaman sekurang-kurangnya dapat memahami teknis dalam mengamalkan zikrullah dan ayat-ayat Allah yang Maha Hebat, di mana di dalamnya tersimpan Mutiara-mutiara, yang tak ternilai tingginya, sehingga mutiara-mutiara yang maha bernilai itu menjadi manfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya bahkan umat manusia untuk menngimplementasikan rahmattanlil’alamin. Diapun dituntut untuk memahami teknologi modern sehingga dapat menjadi ciri khas seorang Sufi Anak Zaman bersesuaian dengan ayat Allah dalam Al Baqarah : 208 yang berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu dalam Islam itu secara keseluruhan”.

Aku yang dilahirkan dari orang tua yang beragama Islam, secara lahir sudah langsung mendapatkan warisan agama dari keluarga, akan tetapi itu tidaklah menjamin bahwa aku secara bathiniah menjadi Islam pula, karenanya untuk memasukkan bathin kepada Islam haruslah direngkuh dan diraih melalui usaha tersendiri, karena ia tidak dapat diwariskan atau datang secara tiba-tiba, kecuali mendapat hidayah Allah SWT.

Kedatanganku yang tiba-tiba di tengah malam buta melintasi hutan belantara dan mendaki ke puncak gunung yang tinggi dimana Sang Guru bermukim membuat lutut dan seluruh anggota tubuhku gemetar. Sang Guru sepertiny sudah mengetahui kedatanganku, dia berdiri di halaman rumah persis di atasnya sedang muncul bulan purnama. “Assalamualaikum, aku datang Guru, maafkan sudah lama sekali” kataku sambil memberi sujud ke tangan Sang Guru.

“Hidup ini berfluktuasi, sekali waktu tegak berdiri, diwaktu yang lain datang kelumpuhan, begitupun dengan keimananmu, sering terkapar dan lumpuh, mencoba tegak berdiri dan sepenuhnya mengamalkan ajaran Islam, namun dibayangi rasa takut menjadi asing ditengah keramaian, takut disingkirkan karena kekhusyukkan, takut diabaikan karena berbuat untuk kebaikan, padahal ada hadits Rasulullah SAW : “Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing, pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Namun kendala tetap saja menjadi tembok kuat dan sulit ditembus”. Demikian Sang Guru menceramahiku.

Malam itu aku diajak Sang Guru untuk menggali lebih untuk mendapatkan Tenaga Maha Dahsyat dari Metafisika Al Qur’an, dan harus mempelajari Ilmu Tauhid lengkap dengan Wasilah-nya, sehingga pencarian hubungan kepada Sang Pencipta dapat diketahui dengan jelas permasalahannya dan teknis penyajiannya, tidak dilakukan secara awam. Sang Guru mengatakan padaku : “Allah mempunyai dimensi yang berbeda dari manusia, Dia tidak berbentuk zohir, Dia memiliki frekwensi yang tidak sama seperti manusia. Oleh sebab itu disamping melaksanakan ibadah kepada Allah secara zohir, Allah Aza wajalla telah memerintahkan kita mencari Wasilah dan menemukannya. Hal ini seiring dengan Firman-Nya dalam Al Qur’an : “Hai orang yang beriman, bertaqwalah pada Allah dan carilah/temukanlah Wasilah yang membawa engkau pada Allah yaitu Nuurun ‘ala Nuurin, sungguh-sungguhlah engkau di atas jalan, niscaya engkau menang (dunia akhirat)”. (QS Al Maidah : 35)”

Akupun hanya pada batas menunduk dan menganggukkan kepala. “Oleh sebab itu nak, belajarlah shalat, kemudian lanjutkan pembelajarannya, perdalam ilmunya, pelajari bagaimana metodologinya dan cari cara pelaksanaan teknisnya, agar shalat itu dapat khusuk, sehingga akhirnya setiap perkembangan usia dari waktu ke waktu ilmu shalatnya semakin bertambah, tidak stagnan seperti orang awam yang memperoleh pelajaran shalat dari umur 7 tahun sampai lanjut usia, shalatnya tidak maju-maju, hanya melaksanakan shalat seperti yang didapatnya pada masa usia muda itu saja. Orang yang seperti ini tentulah akan merugi.”

“Tapi Guru,susah sekali mendapatkan kekhusukkan itu, gemerlapnya lampu di taman kota sehingga menggoda naluri lelakiku” kataku ketakutan.

“Untuk mendapatkan shalat yang khusuk, terlebih dahulu kita harus menyingkirkan iblis yang bersemayam dalam hati, karena iblis inilah yang merupakan pangkal ketidakkhusukkan shalatnya seorang yang ingin berserah diri kepada Allah. Sebagai Sufi Anak Zaman kamu perlu mempelajari bagaimana cara pelaksanaan teknis memusnahkan Iblis yang bercokol dalam hati sanubari. Contoh salah satu ucapan kita yang ditujukan kepada Allah, yaitu lafazd : “A’udzubillaahi minasy syaithaanirajiim”. Yang keluar dari mulut kita selama ini hanyalah proses menirukan bunyi saja. Kita tidak tahu bagaimana supaya penyebutan bunyi “A’udzubillaahi minasy syaithaanirajiim” itu dapat diambil dari sumbernya yang Maha Dahsyat, yang diarahkan pada sasarannya, sehingga maknanya yang ingin berlindung kepada Allah dari segala godaan syetan dan iblis yang terkutuk yang bersemayam di hati kita itu betul-betul musnah sama sekali, sehingga kita dapat menegakkan Shalat dengan Khusuk. Dengan demikian, azab yang paling besar yaitu akan kembali ke alam baqa dengan masih bersama-sama Iblis di hati kita dapat kita hindarkan, karena kita tidak hanya mampu memusnahkan iblis tersebut dari sanubari kita, tapi kita mampu melaksanakan amal ibadah yang diperintahkan kepada kita dengan kekhusukkan yang nyata”. Sang Guru memberi penjelasan yang lebih detil lagi. (bersambung)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 7 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 7 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 8 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: