Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Hasbi Zainuddin

Sedang menjalani rutinitas sebagai jurnalis. dan selalu berusaha menyajikan berita yang mencerahkan dan mencerdaskan. Setidaknya, selengkapnya

Baca-baca

OPINI | 25 April 2012 | 20:49 Dibaca: 12043   Komentar: 2   2

“Mantra paling ampuh itu ternyata adalah Do’a”

Tidak ada rahasia untuk sukses, atau apapun konteksnya. Jodoh, kekayaan, jabatan, dan lain-lain. Tidak ada mantranya. Sekiranya anda menganggap, mantra sukses itu adalah sebuah doa yang makbul dan ampuh, saya menganggapnya sebagai sebuah ungkapan suggesti, ritual wajib yang mendorong alam bawah sadar anda untuk tergerak berusaha, dan merealisasikan keinginan itu. Konkretnya, do’a bukanlah mantra. Di mata saya, dia adalah penyempurna sebuah usaha.

Saya akhirnya tertarik untuk menuliskan ini, setelah bergulat dengan ingatan-ingatan beberapa tahun silam.

Ya, dunia ini nyata. Semuanya selalu didasarkan oleh logika, dan hukum kausalitas itu berlaku. Meskipun anda mungkin masih tetap kukuh, rahasia itu pasti ada! Pasti ada mantranya. Ada sesuatu, mungkin itu menyangkut alam gaib, jin, “baca-baca,” yang membuat anda bisa mendapatkan perempuan yang anda sukai, harta yang melimpah, atau kekuatan yang sakti, kebal dan tak terkalahkan.

Saya teringat, ketika masih kecil, dan mendengarkan cerita-cerita tentang hadirnya manusia-manusia yang kebal senjata. Ketika perang busur terjadi di wilayah Rappocini Makassar, atau rusuh di Poso, Ambon, dan lain-lain.

Lalu, kami semua sangat berobsesi untuk mengetahui sebuah baca-baca (istilah Makassar, berarti mantra) itu, agar bisa sakti dan menang saat berkelahi, atau di saat pulang dari sekolah dan diadang oleh preman. Saya teringat, saat seorang teman mendapat bacaan itu, dari seorang utadz. Ada beberapa ayat dalam AlQur’an yang menjadi bacaanya. Misalnya, ayat kesembilan surah Yasin: “Waja’alnaa min baini aydiihi saddan, wamin khalfihim saaddan, faagsaynaahum fahum la yubsiruun.” Ayat itu, ketika dibacakan saat ada preman menghadang, premannya pasti langsung gentar dan takut. Sayangnya, banyak teman yang mempraktekkannya, tapi tak ada pengaruhnya. Dia malah jadi bulan-bulanan preman.

Saat duduk di bangku tsanawiyah (SMP), obsesi mengetahui do’a ampuh untuk mendapat pacar, juga sangat besar. Ada sebuah kisi-kisi yang muncul, bahwa “baca-baca cewek” (mantra untuk bisa menggaet hati perempuan), adalah sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh Nabi Adam kepada Hawa, ketika keduanya bertemu untuk pertamakalinya di Bumi, tepatnya di Padang Mahsyar.

Ungkapan itu sangat sakral, dan sangat rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang tahu, dan diberitahukan oleh ustadz. Maka, usaha untuk mencari tahu bacaan itu pun, gencar dilakukan. Termasuk mendesak guru untuk membeberkan bacaannya. Beberapa ustaz, malah mengaku tidak tahu bacaan itu.

Namun, dari semua itu, yang populer dan banyak tersebar sepertinya adalah ayat ke-39 surah Thaha: “Wa alqaitu ‘alaika mahabbatan (dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang) Walitushna’a ‘ala ‘aini (dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku). Ayat itu menceritakan tentang ibunda Nabi Musa saat menghanyutkan bayinya (Musa) di sungai.

Saya juga teringat, bacaan yang diajarkan oleh orang-orang jaman dulu (Makassar) kepada anak-anak laki-lakinya. Ada yang disebut “pasang-pasang angin.” Konon, seorang pemuda harus naik memanjat pohon kelapa, di malam hari, lalu mengucap bacaan itu dan meniatkan agar bisa sampai ke mimpi sang perempuan yang dituju. Bunyinya begini: O Anging, kupasangko anne… (Duhai angin, saya berpesan kepadamu), Aqbiciq ri lalang tinro (bisiki (dia) di dalam tidurnya), na ambangung naik (kelak ketika dia terjaga), na mattimbo paqrisiqna (muncul “rasa” dalam dirinya)… Anging angngerang dinging-dinging, na mallantassaq ri buku (angin yang membawa kesejukan, menembus tulang), mengngerang nakkuq, mappaempo manggu’rangi (membawa kerinduan, membuat (dia) duduk, dan mengingat-ingat)….. dst. Bacaan ini diucapkan berkali-kali, di setiap malam.

Dan cukup banyak bacaan lain yang diajarkan untuk bisa mendapatkan perempuan yang diinginkan, agar menjadi jodoh. Sayangnya, tak sedikit yang mempraktekkannya, justru merasa tak ada pengaruh. Mantranya tidak berfungsi.

Lalu, kita mungkin kemudian mendiskusikan, mengapa mantra itu tak berfungsi? Kalau anda bertanya tentang do’a yang tak mustajab alias tak dikabulkan, para ustadz sudah punya banyak jawabannya (periksa kualitas ibadah anda, moral, masih seringkah anda berbuat dosa? Selengkapnya, baca 10 penyebab dosa tak diterima, riwayat Ibrahim bin Adham…)
Kita bicara soal mantra tak berfungsi. Kalau saya ditanya, jujur, saya justru menemukan jawabannya dalam sebuah film animasi yang lucu dan kocak: Kungfu Panda! 

Maaf, saya tidak bercanda. Film ini sangat menarik perhatian saya, dan menjadi salah satu film favorit saya, setelah “UP”. Dalam Kungfu Panda 1, suatu ketika, Po, Panda yang menjadi karakter utama film itu harus berlatih keras untuk bisa mempelajari ilmu kungfu dalam gulungan naga yang rahasia. Konon, hanya orang terpilih yang bisa mempelajari rahasia di dalam gulungan itu. Untuk menjadi “The Dragon Warrior,” ksatria yang sakti dan tak tertandingi, dan melindungi penduduk dari penjahat besar Tai Lung. Namun, alangkah terkejutnya Po, ketika datanglah saatnya untuk membuka isi gulungan naga itu. Isinya ternyata kosong, polos dan tidak ada apa-apa. Dia pun gamang.

Untungnya, di tengah kegamangan itu, Po menemukan jawabannya dari seorang pedagang sup, yang tak lain adalah ayah angkatnya. Ya, sebelum dipilih menjadi kesatria, Po ikut membantu ayahnya berdagang sup, dan masakannya sangat lezat. Ayah Po, pernah menceritakan tentang sebuah resep rahasia yang sudah turun temurun diajarkan oleh kakek neneknya.

Yang paling mengejutkan, resep rahasia itu ternyata juga tidak ada. Po langsung kaget, ternyata tak ada bumbu khusus yang sangat rahasia, yang dicampur ke dalam sup itu sehingga rasanya lezat. “The secret ingredient of my secret ingredient soup is…. Nothing!” kata ayahnya, saat menyadari, saatnya untuk memberitahukan rahasia sup itu. “To make something special, you just have to believe its special!” sambungnya lagi. Sekali lagi, “there is no secret ingredient, it just you!” Ya, resep rahasia itu adalah dirimu sendiri. Demikian halnya gulungan naga, rahasianya ada pada dirimu yang telah berlatih dengan maksimal! Begitu makna yang kemudian ditangkap Po.
Hanya membuat mantra itu sangat special, didalami maknanya, dan meyakininya. Mungkin itu yang dilakukan oleh orang-orang kebal senjata. Menciptakan sebuah stigmatisasi, bahwa dia punya ilmu kebal, dan orang-orang mempercayainya.

Bahwa, bacaan mantra itu hanya sekadar sebuah bacaan, tulisan tak berarti apa-apa, jika anda menganggapnya sebagai sebuah mantra.

Saya sebenarnya ingin menjelaskan, bahwa bacaan-bacaan yang kemudian kita anggap mantra itu, sesungguhnya adalah sebuah ungkapan sugesty. Sebuah ungkapan, yang mengandung makna yang bernilai, dan seharusnya kita pahami, dan hayati.

Di setiap training motivasi, sang motivator selalu mengajarkan ilmu tentang membangun alam bawah sadar, dan kekuatan sugesti. Ada seorang pengusaha sukses, yang ketika dia ditanyai tentang rahasia suksesnya, dia membeberkan, yang dia lakukan adalah mengucapkan sampai ratusan kali kalimat “saya ingin sukses” setiap malam, saat ingin tidur. Ada yang bahkan lebih ekstrim, lari-lari keliling kamar, dan berteriak “saya mau sukses.”

Ini mungkin alasan setiap perusahaan selalu menciptakan sebuah yel-yel, dan itu diteriakkan, dipraktikkan para karyawan, setiap ada keigatan. Tujuannya adalah, membangun suggesty untuk bisa bekerja semaksimal mungkin. Dengan diucapkan seintensif mungkin, ucapan itu akan masuk ke alam bawah sadar mereka, dan mensuggesti mereka bekerja maksimal. Itu logis, dan berbagai penelitian telah membuktikannya.

Saya pun akhirnya menyadari, betapa besarnya manfaat berdoa. Sebuah ritual yang sudah cukup sering didengungkan oleh tuhan (ud’uunii astajib lakum) dalam AlQuran. Betapa berharganya sebuah zikir, mengucap tahmid, tasbih, dan takbir sampai 33 kali.

Tapi, sekali lagi, do’a dan zikir itu hanyalah sebuah bacaan yang tak berguna, jika anda tidak memperlakukannya, dan meyakininya dengan cara yang spesial.

Bahwa letak keampuhan do’a itu bukan pada bacaan do’anya. “There is no secret ingredient.” Letaknya ada pada dirimu sendiri, pada setiap usaha yang anda lakukan. Usaha yang dilahirkan oleh setiap kalimat do’a yang telah anda pahami, terus anda ulangi setiap hari, sehingga mensuggesty alam bawah sadar anda, dan bergerak, berusaha, hingga tujuan itu, –seperti yang anda mintakan dalam do’a itu, terpenuhi. Dan, yang paling penting, itulah substansi do’a, dan itu yang membedakannya dengan mantra. Wallahu a’lam bishshawab…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 5 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 10 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 11 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengabdi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Usai Gasak Malaysia, Timnas Justru Takluk …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Nama Makanan yang Nakutin …

Arya Panakawan | 9 jam lalu

Gelar Terpental demi Sahabat Kental …

Adian Saputra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: