Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Alfonso Hannafi

saya sangat berminat dengan tulisan inspiratif dan menjalin hubungan dengan pribadi-pribadi inspiratif dan dinamis!

Tuhan

OPINI | 20 April 2012 | 07:47 Dibaca: 70   Komentar: 1   0

Kebanyakan orang Indonesia anggap kata ini teragung, termulia, selalu disebut dalam doa dan kitab suci beberapa agama,tertulis di Pancasila - sumber semua sumber hukum di Indonesia, selalu diucap dalam sambutan seremonial, dan dinyanyikan penyanyi-penyanyi di lagu-lagu popnya.

Di kehidupan sehari-hari, TUHAN sering disebut orang jika mereka ada problem, sedang sial, diteriakkan jika takut, kaget, mengeluh, dan menyesal. Mengapa? Ini hasil implan beberapa label agama yang menyatakan TUHAN sebagai pencipta dan pelindung kehidupan.

Selanjutnya, beberapa oknum lembaga agama menggunakan TUHAN demi kepentingan duniawinya, antara lain: sumber finansial untuk nafkah dan gaya hidup mewahnya, status sosial tinggi, kekuasaan politik dan ekonomi, serta demi ideologi mendirikan negara baru sesuai dengan label agamanya.

Akibatnya konflik meledak, orang-orang bermusuhan hanya karena beda prinsip dan label agama, grup yang labelnya kuat, banyak pengikutnya menindas danmeniadakan grup-grup lain yang labelnya lemah atau tak berlabel dan sedikit pendukung dengan segala cara kekerasan, intimidasi, politisasi, indoktrinasi, propaganda, publikasi, dan manipulasi kebenaran untuk mencegah kiamat yang berarti tamatnya kepentingan duniawi oknum-oknum tadi.

Berbahayakah TUHAN itu sebenarnya? Tidak, itu kembali kepada tiap pribadi yang memahaminya bukan hanya menurut konsep label agama tertentu, melainkan melampaui batas-batas label-label agama yang bervariasi, menuju pemahaman diri sendiri yang unik, sederhana, harmonis, dan transcendent .Unik karena tiap pribadi punya cara sendiri untuk memahaminya, sederhana berarti mudah dan praktis memahaminya, harmonis berarti damai dan tenang dengan pikiran-pikirannya sendiri, keluarga, teman-teman, orang lain, makhluk hidup lain, dan lingkungan alamnya. Transcedent, melampaui kata-kata untuk menjelaskannya, karena pemahaman wajib dirasakan sendiri, seperti merasakan citarasa makanan lezat, tidak akan lezat jika tidak mencobanya langsung dengan lidah sendiri, ya nggak?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Layanan Kesehatan Harus Ramah dan Terbuka …

Baihaqi | 7 jam lalu

Bogor Islamic Book Fair 2014 …

Adi Setiadi | 7 jam lalu

“Indonesia Tanah Air Beta”, Kata …

Elvini Effendi | 7 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 7 jam lalu

Orang Indonesia Itu Baik-baik Semua …

Den Bhaghoese | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: