Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Priya Purnama

Tuhan yang bisa menindas dan mengkafirkan manusia. Bukan manusia!

Filsafat India

REP | 19 April 2012 | 01:47 Dibaca: 2729   Komentar: 0   0

13347567461081503948

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam sejarah India adalah mengenai filsafat India. Pembahasan sejarah India akan selalu berkaitan juga dengan filsafat, sebab selain menjadi bagian integral dalam sejarah juga merupakan kesatuan perkembangan agama di India. Sejarah filsafat India seperti halnya di Tiongkok dan Yunani, yaitu tumbuh dari perkembangan agama. Perbedaannya dengan di Tiongkok dan Yunani adalah bahwa di India filsafat itu tidak dapat berkembang sendiri lepas dari agama, serta menjadi suatu kekuatan rohani yang beridir sendiri. Filsafat di India senantiasa bersifat religius. Tujuan terakhir filsafat India adlah keselamatan manusia di dalam kehidupan sesudah kehidupan di dunia (kehidupan di akhirat).

Pertumbuhan filsafat agama itu dalam waktu yang sangat lama, dan melalui proses yang sangat perlahan. Jika pada jaman Upanisad dipandang sebagai saat kelahiran bayi filsafat India, maka bayi itu sudah ada dalam kandungan ibu “agama Hindu” selama kira-kira sebelas abad. Selama masa tersebut “embrio filsafat India” berkembang, sehingga dapat lahir sebagai filsafat India, sekalipun sesudah kelahirannya itu tidak pernah melepaskan diri dari pelukan ibunya, yakni agama Hindu. Jadi sejarah filsafat India dapat dibatasi oleh dua pembatasan, yaitu kira-kira 1500 SM hingga 1000 SM. Periode yang panjang tersebut oleh Radhakrishnan dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu Jaman Weda, Jaman Wiracarita, Jaman Sutra-Sutra, Jaman Scholastik.

Jaman Weda (1500 SM – 600 SM), meliputi jaman kedatangan bangsa Arya dan penyebarannya di India, serta penyebaran kebudayaan dan peradaban Arya. Asas-asas pemikiran filsafat sudah terdapat dalam kesusasteraan yang terkuno, yang disebut mantera atau pujian-pujian atau nyanyian-nyanyian keagamaan. Selanjutnya terdapat pada kesusasteraan Brahmana dan Upanisad. Akan tetapi jaman ini belum dapat disebutkan sebagai jaman filsafat dalam arti yang teknis, meskipun sudah dimulai idealisme India yang sangat tinggi.

Jaman Wiracarita (600 SM – 200 SM), meliputi perkembangan antara kesusasteraan Upanisad yang tertua dan sistem-sistem filsafat (darsana). Kitab Ramayana dan Kitab Mahabarata menjadi alat untuk menyebarkan cita-cita baru, yaitu mengenai sifat dan ciri-ciri kepahlawanan dan kedewataan dalam hubungan insani atau kemanusiaan. Sistem-sistem dari agama Budha, Jainisme, agama Siwa, agama Wisnu termasuk juga dalam periode ini. Pada jaman ini juga sudah dimulai timbulnya sutra-sutra.

Jaman Sutra-Sutra (200 M – dan seterusnya). Pada jaman ini bahan-bahan pemikiran menjadi sangat banyak sehingga dirasakan perlu adanya penyederhanaan dan perangkuman. Hal ini terjadi dalam bentuk Sutra-sutra, yang sebenarnya sudah dimulai pada jaman sebelumnya (Wiracarita). Pada jaman ini sutra-sutra yang makin lama semakin banyak itu memerlukan penjelasan lebih lanjut. Sejak itu kemudian berkembang sikap kritis dalam filsafat India. Jaman tumbuhnya sutra-sutra ini sukar sekali dipisahkan dari jaman para komentatornya. Sistem-sistem filsafat yang berkembang pada jaman ini sulit dicari urutannya. Menurut R. Garbe yang tertua adalah Sankhya, kemudian timbul Yoga, Mimamsa, Wedanta, Walcesika, dan kemudian Nyaya.

Jaman Scholastik (200 M dan seterusnya). Jaman ini sulit dipisahkan dengan jaman sutra-sutra. Dalam periode ini timbul orang-orang besar, seperti Sankara, Ramanuja, Madwa, dan lain-lain. Pada periode ini juga timbul pemimpin-pemimpin yang mendirikan mashab sendiri, sehingga juga timbul pertentangan-pertentangan hebat. Teori-teori yang kecil-kecil dan berbelit-belit diperdebatkan. Sankara dan Ramanuja menyusun kembali ajaran-ajaran kuno dan berhasil memberi angin baru dalam perkembangan pemikiran India, sehingga ada hidup baru dalam pemikiran tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: