Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Maksiat

OPINI | 05 April 2012 | 15:01 Dibaca: 185   Komentar: 4   0

Inilah jaman merajalelanya ke-MAKSIAT-an. Melanggar perintah Tuhan dan perbuatan tercela yang bergelimang dosa bahkan sudah menjadi tontonan. Apalagi yang dilakukan secara tersembunyi?

Dalam pengertian sempit _ kebetulan pikiran sedang sempit dan semoga tidak sedang membayangkan yang sempit-sempit_ MAKSIAT adalah perbuatan tercela yang berhubungan dengan seksual.

Dalam hal ini bisa dilakukan oleh pikiran, hati, dan tubuh. Dimana MAKSIAT adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh agama.

Tidak ada satu agama pun yang menganjurkan umatnya melakukan MAKSIAT. Dalam hal ini berpikir dan melakukan perbuatan seksual sembarangan.

Tidak memamerkan bagian-bagian tubuh yang sensitif di muka umum yang bisa menimbulkan fantasi seksual.

Namun apa yang terjadi pada saat ini? Atas nama kebebasan dan hak asasi. Pameran ke-MAKSIAT-an dilakukan secara besar-besaran di tempat umum.

Media cetak dan elektronik serta digital menjadi media yang paling subur mengumbar ke-MAKSIAT-an.

Bayangkan. Bagaimana otak dan hati kita tidak tercemar? Bahkan di dalam Rumah Ibadah pun saat disirami Firman Tuha. Pikiran MAKSIAT masih bisa melayang. Apalagi bila berada di hadapan media yang berhubungan dengan ke-MAKSIAT-an? Tak terbayang!

Masalahnya sekarang, bukannya kita segera menarik diri dan kembali menyelami nurani. Tetapi justru kita tenggelam menikmati ke-MAKSIAT-an yang tersaji. Rugi kalau tidak dinikmati. Demikian kita berbisik.

Serangan kemaksiatan memang sangat luar biasa untuk menggoyahkan pertahanan keimanan kita.

Menggoda kita untuk baik memamerkan dan menjadikannya sebagai tontonan. Kemudian menjadi pelakunya secara bersama.

Ke-MAKSIAT-an telah menjadi warna tersendiri di dunia ini. Inilah salah satu cara untuk mewarnai nurani kita, agar tidak putih lagi.

Kalau berwarna kan lebih indah. Begitu awal bisikan yang melenakan. Warna-warni duniawi memang mempesona.

Pada akhirnya menjadi bisikan yang akrab di telinga dan di pintu hati. Dimana lama-lama terbuka juga.

Begitulah satu demi satu anak manusia kehilangan kesejatian dan lebih mencintai ke-MAKSIAT-an.

Ketika jari telunjuk ini hendak menunjuk ke arah Anda sebagai pelakunya. Ternyata keempat jari lain tepat mengarah ke arah diri sendiri. Tepat mengarah ke ulu hati.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Unimog Promosi Gratis …

Agus Japloens | | 22 August 2014 | 01:11

Pernyataan Politik Bermata Banyak …

Hendra Budiman | | 22 August 2014 | 01:14

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Hati-hati Minum Jamu Pemberian Paranormal …

Mas Ukik | | 21 August 2014 | 20:15

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 3 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 7 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 7 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: