Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Franky Baganu

Almuni Perguruan Tinggi Kristen Kota Makassar dan Mahasisiwa Study Lanjut Perguruan Tinggi Kristen Kota Jogja.

Kisah Kain Membangun Kota ‘Henokh’

REP | 02 April 2012 | 15:27 Dibaca: 308   Komentar: 1   1

KISAH KAIN MEMBANGUNAN KOTA ‘HENOKH’

Henokh merupakan keturunan pertama dari Kain.  Jika kita membaca  Kejadian 4:17, “Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamaninya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.”
Nama Henokh juga terdapat dari garis keturunan ketujuh dari Set (Set adalah adik kandung dari Kain, yang dilahirkan setelah Kain membunuh Habel), sebagai seorang yang layak diteladani kehidupan rohaninya bersama Tuhan.  Akan tetapi tidak demikian dengan Henokh dari garis keturunan Kain.  Henokh adalah orang yang tidak saleh dan menjadi milik dunia.

Henok merupakan anak laki-laki pertama yang dianugerahkan Tuhan kepada Kain.  Henokh berarti ‘dedikasi’, ‘prakarsa’, ‘guru’.  Hal ini dapat kita lihat ketika Kain memberikan nama ‘Henokh’ kepada anak pertamanya dan nama Henokh kepada kota yang telah dibangunnya.  Sebagai seorang ayah, Kain berusaha untuk memamerkan kekuatannya dalam membangun kota dan menamakan kota tersebut berdasarkan nama anaknya.  Dengan nama Henokh, Kain coba untuk menyatakan dedikasi yang tinggi terhadap kemampuan dirinya tanpa pertolongan Allah.  Kain dan anaknya memulai kehidupan yang jauh dari Tuhan, membangun kota tanpa mengandalkan Tuhan, dan membesarkan anaknya tanpa pengenalan akan Tuhan.  Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Kain merupakan tokoh Humanisme dalam sejarah Alkitab.

Kota dalam bahasa Ibrani berarti ‘ir’, kata ‘ir’ termasuk dalam golongan kata ‘feminim’ sehingga tak jarang dalam bahasa Indonesia kita sebut ‘ibu kota’ dan tidak ada ‘bapak kota’.  Membangun sebuah kota menunjukkan tujuan untuk membangun sebuah masyarakat dan komunitas sosial.  Sebuah kota seperti seorang ibu di mana anak-anaknya mengharapkan perlindungan, kedamaian dan memperoleh keamanan.  Kemungkinan besar Kain pun membangun kota dengan tujuan tersebut, yaitu untuk memberikan rasa aman, kedamaian, kesejahteraan kepada keturunannya.  Tetapi hal itu tidak didapatkan dalam kota ‘Henokh’ sebab mereka tidak melibatkan Tuhan sebagai sumber kebenaran dan kebaikan di dalam pembangunannya.
Dalam KJV, ‘…and called the name of the city, after the name of his son, Enoch.”  Kain telah memanggil dan memberi nama kota tersebut ‘Henokh’.  Hal tersebut untuk menyatakan sebuah ‘dedikasi’, ‘prakarsa’ dirinya yang humanisme, serta sebuah harapan akan suatu kota yang berdedikasi dalam keadailan, kesejahteraan dan keamanan terhadap semua penduduknya.  Tetapi hal itu tidak terjadi dalam kehidupan mereka dan malahan kota tersebut menjadi kota yang berdedikasi besar untuk perbuatan dosa, kejahatan, pembunuhan, korupsi, kecurangan dan lain-lain.  Kain dengan ‘dedikasinya yang tinggi’ tidak akan pernah mampu menyaingi TUHAN dalam membangun kehidupan yang sejahtera.

Bagaimana dengan kehidupan anda?
Apakah anda membangun sesuatu atau memulai sesuatu dengan atau tanpa Tuhan?
Apakah anda mendedikasikan keberhasilan anda untuk TUHAN atau diri anda sendiri?
Mari belajar dari kesalahan kehidupan KAIN dan memperbaiki kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengupas Sisi Kemanusiaan Pasar Santa …

Olive Bendon | | 21 October 2014 | 05:56

Di Balik Pidato Jokowi: Stop Menuding Pihak …

Eddy Mesakh | | 21 October 2014 | 16:05

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Foto Gue Dicuri Lagi Bro, Gembok Foto Itu …

Kevinalegion | | 21 October 2014 | 07:41

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 5 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 6 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Ujung Galuh Bukan Surabaya?? …

Lintang Chandra | 7 jam lalu

Surat Terbuka untuk Bapak Presiden Joko …

Ading Sutisna | 7 jam lalu

Ketika Sungai Menjadi Tempat Pembuangan …

Hendra Mulyadi | 7 jam lalu

Berkurangnya Fungsi Pendidikan dalam Media …

Faizal Satrio | 7 jam lalu

Jangan Tantang Rambu Dilarang! …

Johanes Krisnomo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: