Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Adrian Mbangga

Mahasiswa STF Driyarkara Berbagi kisah bersama teman2 pengamen di perempatan Coca-cola

Filsafat vs Ilmu-Ilmu Pengetahuan

OPINI | 02 April 2012 | 14:45 Dibaca: 1245   Komentar: 0   0

Abstrak: Filsafat masih sering dianggap sebagai ilmu yang tidak bermanfaat dibandingkan dengan ilmu-ilmu pengetahuan lain. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya mahasiswa yang berminat mengambil jurusan filsafat di berbagai universitas yang ada jurusan filsafat. Tulisan ini bermaksud mematahkan anggapan tersebut dengan menunjukkan peranan filsafat dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan. Selain itu, tulisan ini bermaksud menjelaskan  peranan filsafat di dalam kehidupan masyarakat. Dalam tulisan ini dijelaskan posisi filsafat sebagai ilmu kritis yang senantiasa mencari kebenaran. Oleh karena itu, uraian utama tulisan ini adalah tentang sumbangan filsafat dalam ilmu-ilmu pengetahuan sebagai ilmu kritis dalam upaya untuk setia pada kebenaran dan untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya.

Kata-kata kunci: Filsafat, ilmu-ilmu pengetahuan, ilmu kritis, kebenaran.

1. Pendahuluan

Salah satu pertanyaan yang pernah diajukan seorang mahasiswa dalam kuliah Pengantar Filsafat yang pernah saya ikuti adalah: ”Apa peluang pekerjaan yang dapat diperoleh seseorang yang belajar filsafat, setelah ia meyelesaikan kuliahnya?” Pertanyaan ini diajukan dalam rangka menanggapi pembicaraan Dr. Budi Hardiman yang membawakan mata kuliah Pengantar Filsafat, khususnya tentang perbedaan antara filsafat barat dan timur.

Dari pertanyaan yang diajukan, tampak bahwa ada perasaan kegalauan dalam hati mahasiswa tersebut akan masa depannya. Ia seolah-olah merasa bahwa kuliah filsafat yang digelutinya tidak menjanjikan masa depan yang baik. Hal ini memberikan suatu gambaran yang cukup jelas, betapa orang belum memahami peranan dan manfaat filsafat dengan tepat. Bahkan, orang yang mempelajari filsafat itu sendiri pun kadang-kadang belum bisa memahami peranan dan manfaat filsafat dengan benar.

Franz Magnis Suseno, dalam bukunya Filsafat sebagai Ilmu Kritis mengungkapkan bahwa filsafat adalah seni berpikir kritis. Filsafat mempertanyakan apa yang dianggap tidak perlu atau tidak boleh ditertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan itu mempunyai maksud untuk mencari jawaban yang benar. Dalam usaha pencarian kebenaran itulah filsafat diharapkan untuk selalu bersikap kritis.

Berfilsafat sesungguhnya dilakukan dalam masyarakat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pada hakekatnya filsafat pun membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Salah satu tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bantuan apa yang dapat diberikan filsafat kepada hidup masyarakat.

Selain filsafat, ilmu-ilmu pengetahuan pun pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Akan tetapi, ilmu-ilmu pengetahuan, seperti biologi, kimia, fisiologi, ekonomi, dan lain sebagainya secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu tersebut membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu-ilmu semakin mengkhususkan metode-metode mereka.

Dengan demikian, ilmu-ilmu tersebut tidak membahas pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut manusia sebagai keseluruhan dan sebagai kesatuan yang utuh. Padahal pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus dikemukakan manusia dan sangat penting bagi praksis kehidupan manusia.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa arti dan tujuan hidup manusia, apa kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai manusia, atau pun pertanyaan tentang dasar pengetahuan kita, tentang metode-metode ilmu-ilmu, dan lain sebagainya, tidak mampu ditangani ilmu-ilmu pengetahuan. Padahal jawaban yang diberikan secara mendalam dapat mempengaruhi penentuan orientasi dasar kehidupan manusia. Di sinilah filsafat memainkan peranannya.

Tulisan ini merupakan ulasan tentang filsafat, peranan dan kontribusi filsafat berhadapan dengan ilmu-ilmu pengetahuan, serta bagaimana filsafat membantu masyarakat menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.  Tulisan ini juga mengulas tentang  hubungan filsafat dengan kebenaran.

2. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya, dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi atas banyak jenis ilmu.

Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Berbeda dari binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur perilakunya. Untuk mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran dalam memahami lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya.

Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena ilmu pengetahuan mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua, karena ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan jelas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan umat manusia.

Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi wewenang untuk memutuskannya.

Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan ilmu pengetahuan, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula menciptakan masalah-masalah baru.

Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya terbatas. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal inilah filsafat menjadi hal yang penting.

C. Verhaak dan R. Haryono Imam dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu. Pertama, filsafat ikut menilai apa yang dianggap “tepat” dan “benar” dalam ilmu-ilmu. Apa yang dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu sendiri. Dalam hal ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu. Akan tetapi, mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak dapat menjawabnya karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal yang berhubungan dengan ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran dibahas dan dijelaskan oleh filsafat. Kedua, filsafat memberi penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai kebenaran.

Dari dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan agar pengetahuan itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang secara langsung berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam filsafat, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan diolah demi menemukan jawaban yang memadai.

Franz Magnis Suseno mengungkapkan dua arah filsafat dalam usaha mencari jawaban dari berbagai pertanyaan sebagai berikut: pertama, filsafat harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai. Kedua, filsafat harus ikut mencari jawaban yang benar. Kritikan dan jawaban yang diberikan filsafat sesungguhnya berbeda dari jawaban-jawaban lain pada umumnya. Kritikan dan jawaban itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Pertanggungjawaban rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif dengan argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti bahwa kalau ada yang mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu pemikiran, pertanyaan dan sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau alasan-alasan yang masuk akal dan dapat dimengerti.

Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.

Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan bekerjasama dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat dapat sangat membantu kehidupan manusia.

3. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

“Filsafat sering difitnah sebagai sekularistik, ateis, dan anarkis karena suka menyobek selubung-selubung ideologis pelbagai kepentingan duniawi, termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim . Ia tidak sopan. Ia bagaikan anjing yang menggongong, menggangu, dan menggigit. Filsafat harus demikian karena ia secara hakiki adalah ilmu kritis.”

Kutipan di atas merupakan pernyataan Franz Magnis Suseno. Pernyataan tersebut dengan cukup jelas mengungkapkan apa artinya filsafat sebagai ilmu kritis. Pada bagian ini saya akan menjelaskan mengapa filsafat disebut sebagai ilmu kritis.

Dengan menggunakan gambaran Franz Magnis Suseno di atas, kita dapat membayangkan filsafat sebagai ilmu kritis perlu berperan bagaikan anjing penjaga yang setia menjaga akal sehat dan keluhuran martabat manusia. Apabila terjadi gangguan terhadap akal sehat dan pelanggaran keluhuran martabat manusia, filsafat seharusnya berani ”menggongong, mengganggu, dan menggigit.”

Seperti yang dikemukan oleh Franz Magnis Suseno, secara akademik, dalam bentuk filsafat politik,”gonggongan, gangguan, dan gigitan” itu misalnya dapat diwujudkan dalam bentuk suatu kritik ideologi, dengan menggugat tuntutan-tuntutan mutlak yang termuat di dalamnya dan tidak boleh dipertanyakan. Bagi filsafat, tidak ada suatu pemikiran, pernyataan, atau pun suatu kepercayaan yang tidak boleh dipertanyakan dan tidak perlu dipertanggungjawabkan secara rasional. Apalagi jika pemikiran, pernyataan, atau pun kepercayaan itu menyalahi kebenaran.

Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa sikap kritis terhadap dirinya sendiri merupakan hakikat filsafat. Dalam hal ini, secara prinsipil pemilihan metode tidaklah penting, asal metode yang dipilih dipertanggungjawabkan dan terbuka bagi kritik. Pemutlakan satu metode akan menjadi kematian filsafat sebagai ilmu kritis karena akan mentabukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak melewati sensor metode itu. Dari sini jelas bahwa kekritisan filsafat menjadikan filsafat itu terbuka terhadap berbagai pertanyaan dan kritikan.

Filsafat tentunya harus mencari jawaban-jawaban, tetapi jawaban-jawaban tidak pernah abadi. Oleh karena itu, filsafat tak pernah selesai dan tak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Apa  yang sering  dianggap sebagai kelemahan filsafat adalah bahwa filsafat masih sibuk dengan problem-problem yang sama, seperti dipersoalkan 2.500 tahun yang lalu. Justru karena bersifat filsafat, masalah-masalah filsafat tidak pernah dapat selesai. Masalah-masalah filsafat adalah masalah-masalah manusia sebagai manusia. Karena manusia di satu pihak tetap manusia dan di lain pihak berkembang dan berubah, masalah-masalah baru filsafat adalah masalah-masalah lama manusia.

Sifat dan fungsi kritis ilmu filsafat antara lain juga tercermin dalam sikap kritis para tokohnya. Sebagai contoh adalah Sokrates. Salah satu julukan yang diberikan kepada Sokrates, tokoh besar dalam sejarah filsafat Yunani kuno dan menjadi tokoh utama dalam dialog-dialog yang ditulis Plato adalah sang pengganggu (a gadfly). Ia selalu mengganggu dan mengusik pikiran orang-orang yang merasa diri sudah mapan dengan pendapat yang dipegangnya.

Dengan sikap tidak tahu apa-apa, Sokrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tajam kepada berbagai tokoh yang dipandang atau memandang diri tahu dan ahli dalam bidang tertentu. Melalui cara itu, Sokrates mampu menghentak kesadaran orang-orang yang ditanyainya untuk tidak merasa mapan dan nyaman begitu saja dengan pandangan atau keyakinan yang sebelumnya mereka miliki.

Sikap kritis Sokrates menyadarkan mereka untuk bersikap kritis pula terhadap keyakinan-keyakinan mereka sebelumnya. Sokrates mengingatkan kita semua bahwa orang yang bijaksana bukanlah orang yang sok tahu, tetapi orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu dan karena itu selalu ingin tahu. Untuk itulah kita harus selalu bertanya dan mencari tahu segala hal, demi mengembangkan kebijaksanaan diri kita.

Sifat dan fungsi kritis ilmu filsafat secara cukup jelas juga tampak pada kenyataan bahwa pemikiran filsafat sepanjang sejarah, umumnya muncul dan dikembangkan sebagai tanggapan kritis terhadap pemikiran sebelumnya. Hal ini tercermin misalnya dalam kilasan sejarah kajian filosofis tentang kebenaran dari zaman Yunani Kuno hingga dewasa ini.

Pada zaman Yunani kuno, Aristoteles yang lebih tertarik pada penyelidikan tentang dunia ini, menolak gagasan Plato tentang dunia ide-ide sebagai kenyataan yang paling nyata serta dasar normatif bagi semua penentuan benar-salah dan baik-buruk. Sikap kritis Aristoteles terhadap Plato gurunya secara padat terungkap dalam ucapannya yang terkenal: “Saya mencintai Plato tetapi saya lebih mencintai kebenaran.” Bagi Aristoteles benar-salah adalah perkara penegasan putusan yang dibuat oleh seorang pribadi dalam konteks yang berbeda-beda.

Menjelang abad pertengahan (abad ke-5), Agustinus menyibukkan diri dengan masalah kebenaran. Ia mengkritik paham kebenaran objektif faktual yang melulu bersifat eksternal dan menekankan pentingnya menemukan kebenaran dalam pengalaman batin. Dalam teori iluminasinya, ia menekankan bahwa hanya dalam terang Tuhan, “Sang Kebenaran”, kebenaran-kebenaran lain dapat menampakkan diri dan dipahami oleh akal budi manusia. Pemikiran ini dapat dipahami mengingat filsafat abad pertengahan memusatkan perhatiannya pada Tuhan.

Pada zaman modern para filsuf mulai bereaksi kritis terhadap alam pikiran abad pertengahan yang mendasarkan penentuan pada otoritas agama. Rene Descartes pencetus rasionalisme, menekankan peran sentral rasio manusia sebagai subjek penahu dalam penentuan kepastian kebenaran. Artinya bahwa ilmu pengetahuan dan kebenaran  hanya dapat diperoleh melalui akal budi semata.

Sebaliknya, kaum empiris Inggris seperti John Locke dan David Hume (abad ke-17), mengkritik pendangan rasionalisme Descartes. Bagi kaum empiris, semua gagasan dalam pikiran hanya dapat berasal dari pengalaman inderawi. Fondasi kebenaran tidak dapat diletakkan dalam pikiran manusia sendiri sebagai subjek penahu, tetapi mesti dibangun di atas kenyataan objek yang dialami. Artinya, ilmu pengetahuan dan kebenaran diperoleh melalui pengalaman nyata.

Immanuel Kant (abad ke-18) yang filsafatnya disebut filsafat kritis, memberi jalan keluar dari kesulitan di atas dengan membuat sintesis antara rasionalisme dan empirisme. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan kebenaran dapat diperoleh melalui pengalaman inderawi dan akal budi. Akan tetapi, jalan keluar Kant sendiri tetap tidak memuaskan karena objek yang dapat diketahui hanyalah kenyataan sejauh dapat tampak dan dapat ditangkap oleh  manusia.

Nietsche (abad ke-19) bersikap kritis terhadap pengelembungan klaim-klaim kebenaran modern “Rasionalisme Pencerahan”, dengan menunjukkan bagaimana klaim-klaim kebenaran tersebut sesungguhnya hanyalah kedok bagi dorongan kehendak untuk berkuasa. Dalam pandangannya, kebenaran tidak lebih dari suatu fiksi yang paling menguntungkan bagi yang berkuasa. Kebenaran itu seolah-olah diperuntukkan bagi mereka yang memilki kuasa karena dapat dengan mudah mereka mengaturnya.

Berhadapan dengan perdebatan filosofis, termasuk perdebatan tentang masalah kebenaran, kaum pragmatis seperti Wiliam James menekankan bahwa kebenaran adalah perkara pengujian dalam praktik atau operasionalisasi dalam tindakan (some thing is true if it works) . Artinya bahwa suatu pernyataan dinilai benar ketika apa yang dinyatakan itu diwujudkan dalam tindakan dan terjadi seperti apa yang dinyatakan. Dalam pandangan pragmatis seperti ini, benar-salah adalah soal pengujian dalam praktek dan penerimaan oleh pihak yang dipandang berwenang dalam pengujian tersebut.

Perjalanan sejarah filsafat yang tampak di atas, dengan jelas menggambarkan bagaimana pemikiran filsafat sepanjang sejarah, umumnya muncul dan dikembangkan sebagai tanggapan kritis terhadap pemikiran-pemikiran sebelumnya. Dalam membahas masalah kebenaran, para filsuf selalu mencoba berdialog kritis dengan para pemikir sebelumnya atau pun sezamannya. Dengan demikian, jelas bahwa filsafat sebagai ilmu kritis selalu mempertanyakan segala sesuatu dan terbuka terhadap kritik sejauh dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

4. Sumbangan Filsafat Demi Setia pada Kebenaran

Pada bagian ini, saya akan menjelaskan secara lebih mendalam sumbangan yang diberikan filsafat sebagai ilmu kritis untuk setia pada kebenaran. Secara implisit, sumbangan filsafat sebagai ilmu kritis dalam upaya untuk setia pada kebenaran sebenarnya sudah terungkap dalam penjelasan tentang filsafat sebagai ilmu kritis di atas. Misalnya dalam konteks sosial politik, ekonomi dan budaya, filsafat sosial dapat menguak berbagai tabir kebohongan publik yang kadang-kadang sudah dianggap normal atau biasa-biasa saja dengan melakukan kritik ideologi. Dengan kritik ideologi tersebut, filsafat dapat membantu untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya.

Sementara itu, dalam konteks menanggapi secara kritis klaim-klaim kebenaran pengetahuan, filsafat sebagai ilmu kritis dapat pula menyumbang pemupukan kesetiaan pada kebenaran. Setiap klaim kebenaran pengetahuan perlu dipertanggung jawabkan sercara rasional. Masalah pertanggungjawaban klaim kebenaran pengetahuan dan penentuan kriteria penilaian kebenaran merupakan salah satu masalah pokok yang dikaji dalam epistemologi (filsafat ilmu pengetahuan).

Di dalam epistemologi juga dikembangkan keutamaan-keutamaan epistemik yang mencerminkan cinta dan kesetiaan pada kebenaran. Keutamaan-keutamaan itu misalnya ketelitian, kecermatan, kejelian, kesabaran, kesabaran, kesaksamaan kerja, ketepatan, keterbukaan terhadap kritik, kejujuran dan kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan dan keterbatasan lingkup kajian dan keberlakuan teori yang dipilih.

Lonergen mengungkapkan bahwa dalam setiap tahap kegiatan mengetahui, perlu dikembangkan sikap epistemik yang akan lebih menjamin tercapainya penegasan putusan yang benar. Lonergen menjelaskan sikap epistemik tersebut ke dalam tahap-tahap berikut.

Pada tahap pengalaman (experience), diperlukan sikap penuh perhatian dalam menyerap berbagai aspek kenyataan yang dialami (be attentive). Pada tahap pemahaman apa yang dialami (understanding) diperlukan kecerdasan (be intelligent) untuk dapat mengolah data pengalaman dengan mengklasifikasi, menganalisis, membandingkan, menghubung-hubungkan dan sebagainya sampai memperoleh pemahaman yang tepat tentang apa yang dialami.

Kemudian pada tahap penegasan keputusan (judgement), diperlukan sikap reflektif dan realistik (be reflective and realistic) dengan memeriksa kembali secara teliti langkah-langkah penelitian yang telah dilakukan dan bukti-bukti yang dapat dikumpulkan. Terkait dengan kebenaran tindakan, sikap yang perlu ditumbuhkan adalah bertangung jawab dalam mengambil keputusan dan bertindak (be responsible). Sikap tidak bertanggungjawab berbahaya bagi terjadinya tindakan  yang salah. Di sini tampak jelas bahwa sikap epistemik yang diungkapkan Lonergen tersebut melukiskan bagaimana seharusnya usaha filsafat  dilakukan dalam usaha untuk setia pada kebenaran.

Pada zaman sekarang, kesetiaan pada kebenaran sering dirongrong oleh adanya krisis kepercayaan terhadap kebenaran. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita melihat apa sumbangan filsafat sebagai ilmu kritis dalam mengatasi krisis tersebut. Pertama-tama perlu kita lihat apa yang menyebabkan adanya krisis kepercayaan terhadap kebenaran.

4.1 Menggali Faktor Penyebab Terjadinya Krisis Kepercayaan terhadap Kebenaran

Dewasa ini, orang cenderung menganut relativisme guna menghidari bahaya konflik akibat klaim kebenaran mutlak yang bersifat dogmatis dari kaum fundamentalis agama. Hampir di semua tempat di dunia, kita akan selalu berhadapan dengan kelompok-kelompok fundamentalisme agama dan para penganut dogmatis ideologis yang mengklaim diri mengetahui dan memiliki kebenaran mutlak yang tidak dapat diragukan oleh siapa pun.

Masing-masing kelompok fundamentalis tersebut mengklaim, bahwa keyakinan mereka merupakan satu-satunya kebenaran, sedangkan hal-hal lain di luar kebenaran itu adalah sesat. Cara pandang yang demikian menyebabkan timbulnya krisis kepercayaan akan kebenaran di dalam masyarakat. Lebih lanjut, krisis kepercayaan tersebut terungkap dalam sikap skeptis dan sinis terhadap kebenaran.

Sudarminta mengungkapkan bahwa sikap skeptis yang sehat merupakan sikap yang hakiki untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pernyataan Sudarminta tersebut kiranya menggambarkan bahwa skeptisisme sebagai suatu ungkapan sikap kritis terhadap berbagai klaim kebenaran yang kebablasan, sangatlah diperlukan. Sampai pada batas tertentu, skeptisisme terhadap setiap klaim kebenaran merupakan bagian dari filsafat sebagai ilmu kritis. Sikap kritis terhadap klaim kebenaran mutlak kelompok-kelompok seperti itu, kiranya merupakan sikap yang tepat untuk diambil.

Akan tetapi masalahnya, dewasa ini orang tidak hanya bersikap skeptis dalam arti kritis terhadap klaim-klaim kebenaran. Orang menjadi skeptis dalam arti tidak lagi peduli bahkan sinis terhadap setiap klaim dan pembicaraan tentang kebenaran. Orang sungguh mengalami krisis kepercayaan terhadap kebenaran.

4.2 Upaya-upaya Mengatasi Krisis Kepercayaan terhadap Kebenaran

Upaya mengatasi krisis kepercayaan terhadap kebenaran, mengikuti saran Sudarminta adalah berusaha menerima wajah manusia kebenaran yang secara hakiki selalu bersifat historis dan memuat ambiguitas, kesementaraan, dan ketidakpastian. Manusia tidak dapat menjangkau dan memahami kebenaran secara mutlak karena kemampuan manusia terbatas.

Sikap memutlakkan klaim kebenaran secara dogmatis, kaku, dan eksklusif seperti kelompok fundamentalis agama menjadi tidak realistik. Walaupun klaim kelompok fundamentalis tersebut tampaknya amat menjunjung tinggi kebenaran, namun karena berpretensi seakan-akan dapat melihat segala perkara dari perspektif Tuhan sendiri, semakin mengundang sikap skeptis dan sinis dari mereka yang menyangsikannya.

Sikap memutlakkan klaim kebenaran para fundamentalis agama, sesungguhnya melupakan kenyataan bahwa meskipun kebenaran wahyu Tuhan bersifat mutlak, namun tafsiran manusia atasnya pada dasarnya dapat keliru. Apalagi kemampuan manusia untuk mengetahui juga terbatas karena manusia tidak dapat mengetahui seluruh kenyataan secara penuh.

Dengan demikian, bagi saya menerima wajah manusiawi kebenaran, berarti menyadari bahwa bagi manusia kebenaran itu walaupun bersifat sementara dan memuat unsur ketidakpastian, tetap penting, dan bernilai tinggi. Untuk itu, setiap orang tidak perlu menganut relativisme bila berhadapan dengan kebenaran. Sikap yang harus selalu dibangun adalah kritis terhadap setiap klaim kebenaran.

Sementara itu, sumbangan filsafat sebagai ilmu kritis dalam upaya memupuk kesetiaan pada kebenaran nyata dalam bidang pendidikan di sekolah. Pendidikan di sekolah harus selalu menanamkan nilai kebenaran dan kejujuran. Anak-anak harus harus dilatih sikap kritis dengan membiasakan tumbuhnya keutamaan-keutamaan epistemik seperi ketelitian, kesabaran, ketekunan, kerja sama, ketepatan, keterbukaan terhadap kritik, kejujuran, dan kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan.

Selain itu, pendidikan di sekolah harus melatih anak didik untuk selalu berpikir kritis. Artinya, anak didik dilatih untuk tidak menelan mentah-mentah apa saja yang diberitahukan kepada mereka, baik untuk dilakukan atau dihindari maupun untuk dipercayai atau dicurigai. Anak didik harus dilatih memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dengan sikap kritis yang dimiliki, anak diharapkan dapat menentukan sikap secara bijak ketika berhadapan dengan berbagai pilihan yang ditawarkan.

5. Penutup

Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari Ilmu Pengetahuan dan Filsafat. Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Akan tetapi, usaha ilmu pengetahuan tersebut sesungguhnya terbatas. Keterbatasan itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia.

Di sinilah filsafat menjadi penting. Ilmu-ilmu pengetahuan, membutuhkan filsafat guna melihat manusia secara keseluruhan. Ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan agar pengetahuan itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang secara langsung berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam filsafat, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan diolah demi menemukan jawaban yang memadai.

Usaha filsafat sebagai ilmu kritis selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.

Oleh karena itu, mendidik generasi muda untuk tetap setia pada kebenaran dan bersikap jujur, menjadi hal yang sangat penting dalam masyarakat.  Para pendidik terutama orang tua, perlu menciptakan suasana yang membuat anak merasa yakin bahwa kejujuran dan berkata benar sungguh dihargai. Bagi yang berbuat salah tetapi mau jujur mengakuinya, perlu dihargai kejujurannya tanpa melepaskan mereka dari tanggung jawabnya.

Generasi muda juga perlu diajari bahwa bersikap jujur dan berani membela yang benar, sekali pun kadang membawa kesulitan sendiri, akan meningkatkan kualitas pribadinya sebagai manusia.  Dengan demikian, generasi muda diharapkan dapat bersikap kritis dan dapat menentukan sikap dengan bijak, ketika berhadapan dengan berbagai pilihan yang ditawarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Hamersma, Harry. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

________., Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1986.

Lanur, Alex. ”Sejarah Filsafat Abad Pertengahan”. Diktat, 2011.

Nasoetion, Andi Hakim. Pengantar ke Filsafat Sains. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 1992.

Russel, Bertrand. Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Sudarminta, J. Setia pada Kebenaran: Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 2007.

Suseno, Franz Magnis. Fiksafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Verhaak, C. dan R. Haryono Imam. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Wibowo, Setyo. dkk., edit. Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Franz  Magnis Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Jogjakarta: Kanisius, 1992, hlm. 17.

Prasetya T. W., “Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” dalam Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu, diedit oleh A. Setyo Wibowo, dkk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993, hlm. 58.

Ibid.

C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Cara Kerja Ilmu-Ilmu, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995, hlm. 132-133.

Franz  Magnis Suseno, op. cit., hlm. 19.

Ibid., hlm. 20.

Ibid., hlm. 15.

Ibid., hlm. 21.

Ibid., hlm. 20.

Ibid.

Harry Hamersma, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2008, hlm. 52.

J. Sudarminta, Setia pada Kebenaran: Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 2007, hlm. 27.

Alex Lanur, ”Sejarah Filsafat Abad Pertengahan”, Diktat, 2011, hlm. 11.

Harry Hammersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1986.

hlm. 6.

Ibid., hlm. 18.

Ibid., hlm. 79.

F. Nietsche, sebagaimana dikutip oleh J. Sudarminta, dalam Setia pada Kebenaran: Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 2007), hlm.31.

Wiliam James, sebagaimana dikutip oleh J. Sudarminta, dalam Setia pada Kebenaran: Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 2007), hlm.31.

B. Lonergenm, sebagaimana dikutip oleh J. Sudarminta, dalam Setia pada Kebenaran: Sumbangan Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Jakarta: Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 2007), hlm. 33-34.

J. Sudarminta, op. cit., hlm. 35.

Ibid., hlm. 45.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 8 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 9 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepucuk Surat untuk Gadis Kaili….. …

Soentanie Yukie | 8 jam lalu

Haruskah Kugembok Akunku? Belajar dari Kasus …

Anggie D. Widowati | 8 jam lalu

Trik Marketing atau Trik Penipuan? …

Putriendarti | 9 jam lalu

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 10 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: