Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Maman A Rahman

Lahir di Subang. Belajar Filsafat dan Mistisisme di IAIN Jakarta dan Mengkaji Islam dan Psikologi selengkapnya

Orang Meninggal Itu Ternyata Hidup

OPINI | 29 March 2012 | 19:51 Dibaca: 24338   Komentar: 2   0

Sebelum Raymond A. Moody, filosof dan psikolog asal Amerika, melakukan penelitian terhadap orang mati suri dan menuliskanya menjadi buku  “Life after Life” pada tahun 1975 mungkin orang Barat tidak pernah percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian.

Hal ini bisa dimaklumi, karena orang Barat terbiasa dengan berpikir rasional, dan mengukur segala sesuatu secara empiris. Kehidupan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak mudah mengukur dan membuktikannya sampai ada orang yang memberikan kesaksian bahwa memang ia mengalami kehidupan setelah mati.

Banyak orang yang mengalami mati suri, seperti 150 orang yang menjadi subyek penelitian Raymond A. Moody dan banyak juga di Indonesia, yang memberikan kesaksian bahwa ternyata ada kehidupan setelah kematian. Ajaran agama yang mengatakan bahwa ada siksa kubur dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam kubur menjadi sesuatu yang benar adanya setelah cerita dari orang yang mengalami mati suri terungkap.

Dari hasil penelitian Raymond, ada 9 elemen yang ditemui oleh orang yang mati suri  yaitu suara aneh, kedamaian dan kehilngan rasa sakit, pengalaman keluar  dari tubuh, pengalaman dalam terowongan, terangkat cepat ke atas, manusia cahaya, wujud cahaya, ulasan kehidupan dan  desakan untuk kembali.

Penelitian Raymond diperkuat dengan kesaksian-kesaksian orang mati suri yang ada di belahan dunia. Di Indonesia, cerita tentang pengalaman mati suri pernah juga ditampilkan di salah satu acara televisi. Mereka semuanya memberikan kesaksian bahwa betul ada kehidupan setelah kematian.  Seperti yang dialami Aslina warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Dalam pandangan Islam,  kematian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari kehidupan dunia menuju kehidupan di alam lain. Setelah meninggal dan dikuburkan, manusia akan dihidupkan kembali dan proses penghitungan amal baik-buruk akan terjadi.

Islam juga mengajarkan bagaimana sikap orang yang masih hidup terhadap orang yang sudah meninggal dunia. Mendoakan sesuatu yang baik adalah sangat dianjurkan.  Sebuah hadis menjelaskan bahwa “Apabila seorang manusia meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah (shadaqoh yang memberi manfaat berkesinambungan)  atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya” (HR Abu Hurairah) .

Dengan penjelasan agama dan didukung penelitian empiris, kematian sesungguhnya awal dari kehidupan yang abadi di alam akhirat.  Sebagaimana kita akan  pergi jauh dan dalam waktu yang sangat lama, sudah selayaknya kita menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Materi Debat Prabowo yang Patut Diperhatikan …

Bonne Kaloban | 9 jam lalu

Cabut Kewarganegaraan Aktivis ISIS! …

Sutomo Paguci | 12 jam lalu

Presiden 007 Jokowi Bond dan Menlu Prabowo …

Mercy | 12 jam lalu

Dua Kelompok Besar Pendukung Walikota Risma! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Pemerintahan Ancer-ancer Jokowi-JK Bikin …

Hamid H. Supratman | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: