Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Frans Elka Saputra

hanya mencoba untuk berkarya

Filosofi Lima Jari Tangan

REP | 07 March 2012 | 22:43 Dibaca: 1709   Komentar: 4   0

Jari merupakan suatu bagian tubuh yang berada pada tangan dan kaki baik yg kiri dan kanan, pada manusia normal jari berjumlah lima, yaitu:

  1. jempol
  2. jari telunjuk
  3. jari tengah, yang paling panjang di antara jari tangan
  4. jari manis
  5. jari kelingking

ada filosofi apa dibalik lima jari tangan kita? mari kita urai satu persatu

Ibu Jari

Ibu Jari atau yang biasa kita sebut jempol merupakan simbol pemimpin atau pejabat. Ibu jari merupakan yang utama dan induk dari keempat jari lainnya. Kenapa ini identik dengan simbol pemimpin atau pejabat? Karena ibu jari biasanya identik dengan persetujuan, kebagusan, dan sifat baik. Bukankah pemimpin biasanya menjadi tokoh sentral untuk urusan setuju dan tidak setuju pada sebuah keputusan? Pimpinan juga merupakan patron, dimana apa yang biasanya dianggap baik oleh pemimpin, juga diikuti oleh rakyatnya? Coba angkat jempol untuk menyatakan rasa setuju, maka keempat jari yang lain pasti menunduk.

Telunjuk

Jari telunjuk adalah simbol dari orang-orang kaya. Sebab budaya orang kaya biasanya menunjuk. Jika butuh apa-apa orang kaya biasanya tinggal tunjuk karena dia punya kekuatan atau harta. Bahkan dengan harta yang dia miliki, dia bisa mengatur keputusan seorang pemimpin untuk setuju atau tidak setuju akan suatu masalah. ini bisa dilihat ketika kita menunjuk. Sekarang coba tunjuk sesuatu. Ketika sedang menunjuk, ibu jari menekan ketiga jari lainnya untuk tunduk.

Jari Tengah

Jari Tengah merupakan perlambangan seseorang yang bijak dan orang yang berilmu, jari tengah merupakan jari yang paling tinggi diantara kelima jari, akan tetapi setiap kali kita akan makan menggunakan tangan, atau mengambil suatu barang, secara anatomis jari tengan akan menarik menjadi sejajar dengan empat jari lainnya. Itulan perlambang  kebijakan jari tengah.

Jari Manis

Ini simbol remaja. Dimana segala sesuatunya tidak lepas dari unsur “manis”. Senyum manis, wajah manis, suara manis, dan segalanya manis. Sekali lagi coba kita lihat. Pernah coba mengangkat jari manis? Bisakah dia dengan sempurna berdiri tegak? Ternyata sulit bukan? Itulah ibarat masa remaja. Pada masa itu, para remaja merasa sudah bisa mandiri, tidak mau diatur, maunya bebas, lepas tanpa aturan, padahal sesungguhnya dia masih memerlukan topangan dari orang tua, guru dan orang lain.

Kelingking

Ini jari terkecil dalam susunan lima jari kita. Ini adalah simbol kaum perempuan. Mohon maaf bukan bermaksud menyinggung atau merendahkan, karena ini hanyalah sekedar simbol. Kelingking ini kecil, mungil tapi “fungsional”. Justru karena kecilnya, dia bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh keempat jari yang lain. Biarpun kecil, kelingking ini “menangan”. Coba ingat ketika kita suit, kelingking bertemu Ibu jari maka yang menang kelingking. Itu meruakan simbol penguasa saja bisa bertekuk dan kalah dengan wanita.

Kalau semua unsur jari ini bisa bersatu, maka pekerjaan apa yang tidak bisa dilaksanakan? Dari sekedar bersalaman, menulis, menggaruk, membelai, memijit, memukul, mengangkat sesuatu, menggenggam, melempar, semuanya jadi terasa sangat mudah bila kelima jari ini bersatu. Begitu juga dengan kita.  Jika kelima unsur diatas kita terapkan, saling mengisi dan menjaga, maka tak ada satu pekerjaan pun yang tidak terselesaikan.

Sumber: http://news.palcomtech.com/2011/10/filosofi-dibalik-5-jari-yang-kita-miliki/
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Terima Kasih Juga Untuk Ibu Ani Yudhoyono …

Gapey Sandy | | 20 October 2014 | 13:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Gajimu Bukan Segala-galanya …

Jazz Muhammad | | 20 October 2014 | 13:41

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



Subscribe and Follow Kompasiana: