
Dibaca: 63
Komentar: 9
Nihil
Kita ini lempung/reuters
Kalaupun ada yang tidak percaya, bahwa kita, manusia, tercipta dari lempung, menyatunya jasad dengan tanah tak dapat disangkal siapapun. Entah dulu, entah nanti, kita ini lempung, bagian dari tanah yang berkesempatan hidup.
Mewahnya mobilmu dan megahnya rumahmu tak bisa menghentikanmu untuk kembali menjadi lempung setelah ajal menjemputmu. Pandai otakmu dan indah parasmu tiada guna lagi pada waktu itu. Semua yang kau sandang saat ini, akan terlepas dari tubuhmu. Suka tidak suka, mau tidak mau.
Meski begitu, kita ini bukan lempung sembarangan. Kita adalah lempung yang bisa menilai, baik ataupun jahat. Kita adalah lempung yang bisa membuat keputusan, baik ataupun jahat. Dan sefana apapun kita, kita adalah lempung-lempung yang sadar bahwa baka itu ada. Kita ini lempung fana yang mengendus baka.
Namun kita akan sekedar menjadi lempung yang hidup sekejap saja, jika tak menanggapi apa yang baka itu. Jika yang fana menghabiskan waktunya untuk mengejar hal-hal yang fana pula, apakah yang tersisa untuknya di alam baka? Oleh karena itu, wahai lempung, abdikanlah hidupnya yang sekejap itu untuk hal-hal yang kekal dan berhentilah menjadi lempung yang bebal!