Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Aldian Andrew Wirawan

Mahasiswa yang berasal dari kota Solo. Tertarik dengan dunia gerakan sosial, tulis menulis dan mempunyai selengkapnya

Antonio Gramsci : Teori Hegemoni

REP | 19 February 2012 | 00:57 Dibaca: 3205   Komentar: 2   0

Antonio Gramsci (1891-1937) adalah seorang intelektual Partai Komunis Italia yang dipenjara pada masa rezim fasis Mussolini. Kajian mengenai Gramsci menjadi menarik karena dia menjelaskan mengapa tidak terjadi pemberontakan buruh di Italia dan justru kalah oleh kaum fasis yang diktator saat itu. Tulisan tentang hegemoni Gramsci dianggap melampaui zamannya karena ditulis ketika dia berada dalam kurungan penjara Fasis dan kembali menjadi bahan kajian di Eropa pada tahun 1960an. Meski tidak hidup sempat bertemu dengan Lenin yang menganggap bahwa kesadaran proletar untuk melakukan pemberontakan terhadap sistem kapitalisme haruslah dilakukan oleh partai komunis yang berisikan buruh dan intelektual yang berkesadaran, teori hegemoni Gramsci melengkapi penjelasan bahwa pemberontakan buruh tidak akan terjadi selama masih ada hegemoni yang bekerja di bawah sistem kapitalisme. Perbedaan dia dengan tafsiran Marx oleh Lenin, Gramsci berpendapat bahwa untuk melakukan penyadaran tidak harus dilakukan partai komunis sendirian namun harus mengajak kelompok lain yang tertindas oleh kapitalisme.


Bagi Gramsci berjalannya hegemoni tidak hanya bisa dilakukan oleh negara yang selama ini dikenal dengan Ruling Class namun bisa dilakukan oleh seluruh kelas sosial. Hegemoni sendiri pengertiannya  adalah dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar yang bersifat moral, intelektual serta budaya[1]. Di sini penguasaan tidak dengan kekerasan melainkan dengan bentuk-bentuk persetujuan  masyarakat yang dikuasai baik sadar maupun secara tidak sadar. Hegemoni bekerja dengan dua tahap  yaitu tahap dominasi dan tahap direction atau pengarahan. Dominasi yang paling sering dilakukan adalah oleh alat-alat kekuasaan negara seperti sekolah, modal, media dan lembaga-lembaga negara. Ideologi yang disusupkan lewat alat-alat tadi bagi Gramsci merupakan kesadaran yang bertujuan agar ide-ide yang diinginkan negara (dalam hal ini sistem kapitalisme) menjadi norma yang disepakati oleh masyarakat. Dominasi merupakan awal hegemoni, jika sudah melalui tahapan dominasi maka tahap berikutnya yaitu tinggal diarahkan dan tunduk pada kepemimpinan oleh kelas yang mendominasi. Siapa yang mencoba melawan hegemoni dianggap orang yang tidak taat terhadap moral serta dianggap tindak kebodohan di masyarakat bahkan adakalanya diredam dengan kekerasan. Hal inilah menurut Gramsci yang harus dipahami oleh kaum buruh untuk mengerti mengapa di Eropa tidak terjadi pemberontakan buruh seperti diramalkan Karl Marx dalam Manifesto Komunisnya.

Gramsci dalam bahasan teorinya memberi solusi untuk melawan hegemoni (Counter hegemony) dengan menitikberatkan pada sektor pendidikan. Kaum Intelektual menurut Gramsci memegang peranan penting di masyarakat. Berbeda dengan pemahaman kaum intelektual yang selama ini kita kenal, dalam catatan hariannya Gramsci menulis bahwa setiap orang sebenarnya adalah seorang intelektual namun tidak semua orang menjalankan fungsi intelektualnya di masyarakat[2] Dari sini dia membedakan dua tipe intelektual yang ada dalam masyarakat. Yang pertama yaitu Intelektual Tradisional dimana intelektual ini terlihat independen, otonom, serta menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Mereka hanya mengamati serta mempelajari kehidupan masyarakat dari kejauhan dan seringkali bersifat konservatif (anti terhadap perubahan). Contoh dari Intelektual Tradisional ini adalah para penulis sejarah, filsuf dan para profesor. Sedangkan yang kedua adalah Intelektual Organik, mereka adalah yang sebenarnya menanamkan ide, menjadi bagian dari penyebaran ide-ide yang ada di masyarakat dari kelas yang berkuasa, serta turut aktif dalam pembentukan masyarakat yang diinginkan[3]. Ketika akan melakukan Counter Hegemoni kaum Intelektual organik haruslah berangkat dari kenyataan yang ada di masyarakat, mereka haruslah orang yang berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat, menanamkan kesadaran baru yang menyingkap kebobrokan sistem lama dan dapat mengorganisir masyarakat[4] dengan begitu ide tentang pemberontakan serta merta dapat diterima oleh masyarakat hingga tercapainya revolusi. Yang unik meski berasal dari Partai Komunis Italia tidak lantas Gramsci berpendapat bahwa Intelektual Organik harus berasal dari kalangan buruh, namun harus lebih luas dari itu. Counter Hegemoni bisa dilakukan oleh siapa saja intelektual dari berbagai kelompok yang tertindas oleh sistem kapitalisme. Setiap pihak yang berkontribusi dalam perjuangan melawan hegemoni harus saling menghormati otonomi kelompok yang lain dan mereka harus bekerja sama agar menjadi kekuatan kolektif yang tidak mudah dipatahkan ketika melakukan counter hegemoni[5].

Sedikit pengantar tentang teori hegemoni oleh Gramsci di atas menurut penulis sangat relevan untuk terus dipelajari dan dipraktekkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Mengingat bagaimana berjalannya kekuasaan yang ada sekarang ini bagi penulis justru membuat masyarakat seringkali dibingungkan. Sebagai contoh hegemoni yang dilakukan oleh negara dalam prakteknya paling mudah dapat ditemui  adalah wacana tentang globalisasi dan korupsi baik itu dalam perbincangan keseharian, pemberitaan maupun kebijakan yang dikeluarkan. Kajian hegemoni juga dapat digunakan untuk menganalisis kebudayaan populer seperti novel, buku, film hingga musik yang saat ini secara tidak sadar menghegemoni masyarakat khususnya anak muda. Akhir kata mengutip kata-kata Gramsci dalam catatan hariannya penulis sepakat bahwa “ titik pertama gerakan pengkritisan adalah kesadaran itu sendiri…”[6]


[1] Strinati, Dominic (1995), An Introduction to Theories of Popular Culture, Routledge, London.

[2] Gramsci, A (1971) Selections from the Prison Notebooks, London: Lawrence and Wishart

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Strinati, Dominic (1995), An Introduction to Theories of Popular Culture, Routledge, London.

[6] Gramsci (1971) page 323

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 10 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 10 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: