Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Cahya Tri Astarka

Pendidik, Wartawan Psikologi Plus, Penulis lepas

Budaya Sopan Santun (Akan) Luntur?

OPINI | 09 February 2012 | 02:15 Dibaca: 1303   Komentar: 0   0

BUDAYA SOPAN SANTUN ( AKAN ) LUNTUR

Bahasa dan sopan santun menunjukkan cerminan pribadi seseorang. Sifat atau watak pribadi seseorang dapat dilihat dari perkataan yang ia ucapkan maupun penampilan diri. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi yang berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang kasar, menghakimi, menghujat, memaki, memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang kurang berbudi. Begitu pula dengan penampilan pakaian seseorang, jika ia tak mampu menyesuaikan pakaian dalan situasi tertentu, hal itu menjadikan orang itu tidak mampu menerapkan prinsip kesopanan.

Dalam kehidupan modern ini tampaknya remaja sekarang cenderung kehilangan etika
dan sopan santun terhadap teman, orangtua, guru atau orang lain yang lebih tua. Berbagai
faktor dapat mempengaruhi hal ini. Paparan negatif media televisi, internet dan media
elektronika lainnya ternyata dapat meningkatkan kekerasan dan agresifitas anak.
Dewasa ini kondisi lingkungan sering mengabaikan nilai edukasi moral, etika, sopan
santun dan sering mencontohkan kebohongan dan kekerasan baik verbal maupun non
verbal tentunya berpengaruh pada perilaku anak dan remaja.

Berbagai kejadian buruk sering dilaporkan bahwa remaja sering melecehkan, perkelahian atau tawuran dengan sesama temannya. Anak membentak orangtua atau anak menyumpahi orangtuanya. Bahkan kejadian tragis sering kita amati di televisi yaitu ada seorang anak yang tega membunuh ibunya atau ayahnya. Hal ini disebabkan karena budaya sopan kiranya mulai luntur dalam lingkungan masyarakat kita.

Dalam budaya ketimuran, berjalan melewati orangtua, guru atau orang yang lebih tua saja harus membungkuk. Sedangkan membantah atau berkata keras saja kepada
guru atau orangtua sudah merupakan tindakan buruk. Memang, untuk hormat kepada
orangtua tidak harus menyembah terlalu dalam, tetapi paling tidak
etika dan kesopanan terhadap orangtua, guru atau orang lebih tua harus tetap dijunjung
tinggi.

Secara etimologis sopan santun berasal dari dua buah kata, yaitu kata sopan dan santun. Keduanya telah bergabung menjadi sebuah kata majemuk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sopan pantun dapat diartikan sebagai berikut:
Sopan berarti hormat dengan tak lazim, tertib menurut adab yang baik, sedangkan
Santun berarti halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sopan, sabar; tenang. Atau bisa dikatakan cerminan psikomotorik (penerapan pengetahuan sopan ke dalam suatu tindakan).

Jika digabungkan kedua kalimat tersebut, sopan santun adalah pengetahuan yang berkaitan dengan penghormatan melalui sikap, perbuatan atau tingkah laku, budi pekerti yang baik, sesuai dengan tata karma, peradaban, dan kesusilaan.

Suatu tindakan yang baik jika kita harus sopan di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor dalam dan luar seseorang yang menyebabnya lunturnya nilai sopan seseorang.

Keadaan sekarang ini yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat akan sulit mempertahankan kesopanan di semua keadaan ataupun di semua tempat. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu.

Kemudian sopan santun dalam berpakaian, di luar negeri orang yang berpakaian bikini di pantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, di barat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan. Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun.

Sedangkan luarnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat di sekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan di semua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil kakak, mbak, kangmas ataupun yang lain.

Marilah kita mulai dari sekarang untuk membudayakan sopan dalam lingkungan kita yang terkecil terlebih dahulu lalu berlanjut ke lingkungan di atasnya. Kita dapat memulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah. Kalau tidak sekarang kapan lagi, karena semakin lama kita berubah semakin cepat budaya sopan santun mungkin akan luntur dengan adanya era keterbukaan dari barat, jika kita tidak mampu menyelesaikannya.

Ev. Cahya Tri Astarka, S.Pd

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 5 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

PKS Membuat Banyak yang Panas Dingin …

Pecel Tempe | 9 jam lalu

Waktu, Maafkan Aku.. …

Syndi Nur Septian | 9 jam lalu

The Comment…Siapa yang Nanya? …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Cerpen Remaja: Pak Polisi yang Kukagumi …

Didik Sedyadi | 9 jam lalu

TNI AL dalam Konstelasi Kekuatan Laut Asia …

Mudy | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: