
Lelaki sederhana. Suami satu istri, ayah satu putri; Prima namanya. Pernah mendidik - mengajar, kini sedang dan harus belajar (lagi).... Sedang mencoba memahami arti "satu kata, satu arti".
Dibaca: 221
Komentar: 46
5 dari 8 Kompasianer menilai bermanfaat
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1988), mengartikan kata karyawan: orang yang bekerja pada suatu lembaga (kantor, perusahaan, dan sebagainya) dengan mendapat gaji (upah); pegawai; pekerja. Sementara dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI, 2006), kata karyawan diartikan: pegawai atau pekerja.
Tulisan ini akan mengacu pada arti tersebut, serta hal-hal yang melingkupinya.
————————–
Susah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan karakter diri. Pekerjaan yang sesuai dengan identitas keahlian diri, dengan [nilai ijazah] tingkat pengetahuan dan kemampuan diri. Eh…setelah mendapatkan pekerjaan, menjadi karyawan malas-malasan. Ogah-ogahan. Apa mau dikata?
Mungkin seorang karyawan belum menyadari, bahwa dirinya diharapkan mampu bertanggung jawab, baik bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, maupun untuk tempat karyanya. Terus?
Belajar secara menyeluruh
Permasalahannya, apakah si karyawan mau belajar dalam banyak hal? Belajar untuk menyadari secara sungguh-sungguh, bahwa semuannya penting, terlebih demi kemajuan dirinya dan kemajuan tempat ia bekerja.
Jika seorang karyawan mau belajar secara menyeluruh dalam proses karyanya, biasanya jarang ditemukan karyawan yang susah beradaptasi dalam lingkup kerjanya. Jarang ditemukan karyawan dengan tampang kusut, mudah mengeluh, dan merasa bahwa dirinya orang paling malang, paling sengsara sedunia, ‘tertindas’.
Tak terbilang, berapa orang (’karyawan’) yang terkenal dengan stampel “kutu loncat”. Menclok sana, terbang kesini. Sedot sana - ngemut sini. Ada sementara orang yang beranggapan bahwa sifat seperti itu baik, namun jika sifat tersebut (ngutu loncat) sudah menjadi kebiasaan, bukan tak mungkin, jika seseorang akan kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitas yang sungguh menandakan dirinya. Lo …piye apakah mau Anda dikutuloncatkan?
Rasa memiliki
Slamet, karyawan tulen; ia sudah bekerja 22 tahun. Kini, ia menjabat kepala bagian untuk urusan sumber daya manusia (SDM). Boleh dikata , tingkat mobillitasnya tinggi. Karena hal tersebut, perusahaan memercayakan padanya sebuah mobil, roda empat 1300 cc. Menurut Slamet, mobil tersebut memang mobil tempat ia kerja, bukan mobilnya sendiri. Namun karena mobil itu dipercayakan padanya, ia merasa ikut bertanggung jawab “atas kehidupan” kendaraan itu. Maka, sekalipun rumahnya amat sederhana, ia berusaha membuat garasi yang layak, agar kendaraan itu tak kepanasan pun tidak kehujanan. Ia malu jika kendaraan yang diserahkan kepadanya kelihatan tidak terawat. Ia malu jika mendengar orang berkata, “Tahunya cuma bisa naik doang “. Citra yang baik untuk seorang kepala SDM.
Ketika seseorang mau mengasah diri dalam hatinya, menumbuhkan rasa handarbeni (merasa memiliki) dengan seluruh situasi - kondisi kerja, cita rasa tersebut sangat membantu seorang (karyawan) untuk menekuni dan mencintai tugas - tugas yang dipercayakan padanya. Sekalipun mungkin tugasnya sulit, tapi dipastikan ia takkan terbelit. Bisa berkelit.
Kebalikannya, jika ditemukan seorang karyawan korup (waktu, uang dst) di tempat kerjanya, mungkin karyawan tersebut tidak, atau belum memiliki rasa hormat dan cita rasa memiliki. Belum memiliki rasa hormat bahwa dia sedang dalam proses ‘telanjang’, menelanjangi diri. Belum memiliki cinta nama baik dan seterusnya.
Satu keluarga, sesaudara: satu tujuan
Tempat berkarya, mestinya menjadi tempat untuk mengolah suatu visi - misi yang sama. Bahkan tempat untuk mewujudkan kedua hal tersebut. Ketidaksinkronan keduanya, biasanya ditengarai dengan ketidaknyamanan satu karyawan dangan karyawan yang lain, bahkan karyawan dengan atasannya. Salah satu sebab ambruknya sebuah tempat karya (dengan segala situasi - kondisi) karena masing-masing orang “berjalan sendiri-sendiri”. Masing masing orang mempunyai visi - misi yang berbeda. Andaikan ada kesamaan visi - misinya, hal tersebut adalah visi -misi untuk roboh bersama.
Perusahaan, atau tempat karya itu ibarat sebuah keluarga. Masing-masing orang perlu saling mendukung, menanggung dan sepanggung dalam satu visi - misi. Jika seorang pembesar (big boss) merasa karyawannya hanyalah tali kasutnya, jangan harap karyawannya akan merasa nyaman. Jika seorang kepala perusahaan merasa bahwa karyawannya adalah sapi perahnya, jangan harap susu sapi itu akan terus menerus keluar dengan lancar. Boleh dibuktikan!!
Carut marutnya situasi saat ini, menurut saya karena masing-masing orang tak mampu (atau bahkan tak mau) menyadari posisinya masing-masing. Bahkan tak menghormati secara pribadi utuh. Dikeluargakan secara utuh. Orang tega memreteli wajah orang lain dengan ketajaman pisau kata. Orang sampai hati menelanjangi orang lain, hingga orang lain kelihatan urat malunya. Contoh yang paling sederhana, si A mengatakan, “Baiknya si Anu mengundurkan diri”, si B mengatakan, “Ah, si Anu belum pantas mengundurkan diri”… Si D mengatakan, “Ah, wanita itu ‘kan tahunya pasang yang **** saja …” dan seterusnya. Kata kuncinya ialah belajar menghargai, menghormati dalam satu wadah tempat karya. Itu saja. Bayangkan, menghargai, menghormati dalam satu wadah tempat karya saja masih harus BELAJAR!!
Tidur berkalang tanah, karya berkalang tapa
Andai saja setiap orang menyadari, bahwa dirinya akan selalu berpijak di bumi; maka mestinya bumi itulah yang “dimuliakan”. Andaikan setiap karyawan menyadari, bahwa dirinya sedang berkarya demi keluhuran diri dan menyejahterakan - membesarkan tempat dia berkarya, mestinya karyawan tersebut menjauhkan diri dari hal-hal yang tak mem-baik-kan diri. Berkalang tanah lebih berberkah daripada berkalang sumpah serapah.
Apa mau dikata, menjadi karyawan (dan “karyawan”) jaman kini memang perlu tapa. Tapa hati agar lebih membumi!!
—————————————
Nang Flo, 08 Februari 2012