Artikel

Filsafat

Jemari Diciptakan Bukan Tanpa Arti


OPINI | 08 February 2012 | 07:33 Dibaca: 1270   Komentar: 52   4 dari 9 Kompasianer menilai bermanfaat

Seiring populernya jejaring sosial, jempol juga ikut naik daun. Like This, itu yang menjadi trend saat ini. Apa sebenarnya arti dibalik jempol dan jari jari yang lain?

Kalau versi Ibu saya, jempol itu penggambaran dari gajah. Gajah bukan hanya binatang yang besar, bermata kecil dan berbelalai panjang. Terlepas dari ciri ciri fisiknya, gajah juga memiliki daya ingat yang tajam. Mungkin inilah alasan kenapa jari jempol dijadikan perlambang untuk sesuatu yang dianggap bagus. Sayangnya, sesuatu yang tidak bagus juga bisa dilambangkan dengan jempol, tapi dengan posisi terbalik.

Tentang permainan sut jreng..

Sulit untuk menggambarkan permainan tradisional ini. Singkatnya, jika kita bermain sut jreng, yang dibutuhkan adalah tiga jari. Jempol sebagai perlambang gajah, jari telunjuk sebagai perlambang manusia, dan jari kelingking sebagai perlambang semut. Cara permainannya, dua orang saling berhadapan dan saling beradu jari di waktu yang sama (sesuai kesepakatan). Gajah menang dari manusia tapi dia kalah oleh semut. Manusia menang dari semut tapi kalah oleh gajah. Semut kalah oleh manusia tapi bila menghadapi gajah dia menang. Begitulah kira kira gambaran sederhananya.

Dulu saya pernah bertanya pada Ibu. Kenapa dalam permainan sut jreng gajah bisa menang dari jari telunjuk  tapi bisa kalah dari jari kelingking? Ibu bilang, karena manusia beraninya pakai senjata. Coba kalau tangan kosong, pasti kalah. Tapi sudah sepatutnya kita bersyukur, karena di sanalah letak keistimewaan manusia.

Kehadiran ibu jari seakan akan menjadi media pengingat bagi jari telunjuk (yang berkarakter kaku dan biasa digunakan untuk menunjuk sesuatu) bahwa di atas langit masih ada langit. Ini media pengingat yang bagus untuk kita.

Semut lebih ksatria. Dia berhasil menggunakan kelemahannya sebagai kekuatan. Kecil bukan berarti harus kalah, terinjak bukan berarti mati. Dibuktikan oleh semut, dia berhasil merayap ke telinga gajah dan menggigitnya sekuat tenaga. Maka matilah gajah.

Bagaimana dengan jari manis? Kenapa dia tidak berperan dalam permainan sut jreng?

Masih menurut Ibu. Jari manis adalah jari yang paling lemah diantara jemari yang lain. Qodratnya adalah untuk menemani jari jari yang lain dan sebagai perlambang cinta. Itu sudah cukup indah bagi jari manis. Tanpa kehadirannya,saya juga akan kesulitan untuk memetik gitar.

Kali ini tentang jari tengah

Bisa jadi di belahan dunia yang lain jari yang satu ini dijadikan perlambang untuk sesuatu yang heboh. Tapi kita sedang hidup di Indonesia tercinta. Dan di sini jari tengah memiliki tempat yang anggun.

Jari tengah bukan hanya jari terpanjang, tapi juga simbol bagi orang orang bijak. Sesuai dengan namanya, jari tengah. Idealnya dia ada di tengah, tidak ke kanan dan tidak ke kiri.

Jadi buat para bijak bestari di negeri ini, salam jari tengah. Semoga diantara ombak badai dan godaan yang menggiurkan, anda tetap ada di antara jemari jemari yang lain.

Sudah selayaknya kita mensyukuri anugerah atas jari jari cantik ini. Mari menulis dan berkarya, karena itu juga sebentuk rasa syukur.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: