Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

A.l.y

duniamu duniaku jua..

Jiwa, Tubuh, dan Tujuan

OPINI | 28 January 2012 | 17:10 Dibaca: 308   Komentar: 3   0

“Jiwa tercipta karena tujuan. Dan untuk mencapainya, maka jiwa memerlukan tubuh.”

Hal ini terkait dengan keberadaan jiwa di dimensi kesemestaan. Mengingat dimensi di bumi (dunia) adalah materi, maka jiwa manusia juga perlu bermateri. Dan itu adalah tubuh duniawi, sebagai bentuk pencapaian dari tujuan awal jiwa diciptakan.

Karena berada di alam kematerian, maka di tubuhnya berlaku hukum materi. Yaitu yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan untuk keberadaan tubuhnya. Semisal sandang, pangan, papan., dan segala macam kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Seiring perkembangan jaman, hubungan jumlah populasi dengan daya dukung alam ternyata berdampak pada ketersediaan materi. Disisi lain, kemajuan teknologi yang berefek pada kemudahan jiwa memperoleh kebutuhan, pun juga meningkatkan akumulasi dari jumlah kebutuhan-kebutuhan tubuhnya. Dari yang sebatas primer, sekunder., menjadi tersier tak berhingga. Hal-hal tersebut tentu sangat berpotensi mengaburkan tujuan awal dari keberadaan jiwa dan tubuh.

Dengan kata lain, fenomena ‘ketubuhan’ ini membawa perubahan yang sangatlah besar. Sering kali jiwa terlena akan pencarian materi sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan tubuhnya. Alhasil, maka disinilah makna ‘tubuh sebagai sarana pencapaian tujuan’ bergeser menjadi ‘tubuh sebagai tujuan’.

“Sudut pandangnya (menjadi) terbatas pada pemenuhan kebutuhan yang tak terbatas.”

Dalam beberapa kemungkinan, khususnya bagi agama samawi. Hal ini bisa saja terkait dari ‘kutukan dosa’ memakan buah pengetahuan tentang hal baik dan hal buruk. Karena pengetahuan melahirkan teknologi, lalu kebutuhan, lalu keterlenaan akan keserakahan. Dan karenanya, ini semua yang membuat apa yang awalnya diciptakan baik, menjadi buruk.

Mengilustrasikan fenomena ‘ketubuhan’ dalam hidup bermasyarakat pun banyak contohnya. Semisal negara (tubuh administratif), tempat ibadah (gedung/ fisik bangunan), dll., yang awalnya tercipta untuk kebaikan (tujuan), berubah menjadi tempat yang memanjakan untuk memupuk materi (kebutuhan). Jiwanya lenyap entah kemana. Dan karena lanjur terlena dengan teknologi yang memanjakan, biaya perawatan ‘tubuhnya’ menjadi mahal.

Lebih mendetail, salah satu contohnya bisa dilihat dari bagaimana mahalnya biaya administratif di institusi pendidikan., yang salah satu alasannya adalah biaya perawatan dan operasional gedung. Menjadi ironi karena kemewahan tersebut malah digunakan untuk ‘melacur tubuh’ guna menarik minat para calon konsumennya (calon mahasiswa), sebagai simbol ‘jiwa yang baik’.

Menyimak teknologi yang diterapkan pada ‘tubuh’ (bangunan) dari ilustrasi diatas, mahalnya biaya operasional terjadi karena biaya listrik peralatan-peralatan elektroniknya. Sangat disayangkan karena hal ini sebenarnya dapat diminimalkan dengan penerapan sistem bangunan pintar yang menghargai alam. Semisal konseptual rancang bangun di iklim tropis yang memperhatikan aspek pencahayaan maupun pengudaraan alami, sehingga penggunaan lampu dan pendingin ruangan dapat diminimalkan hanya pada ruang dan waktu tertentu saja. Karena terlanjur dibangun, maka solusi penghematan diterapkan. Mulai dari pembatasan jam kerja karyawan, pembatasan penggunaan fasilitas-fasilitas pendukung, dsb. Pada intinya, malah mengaburkan tujuan utama dari esensi pendidikan. Belum lagi ditambah faktor manusia yang sering kali boros energi, menyia-nyiakan kebaikan alam.

“Kesalahan sudut pandang terhadap jiwa, tubuh dan tujuan hanya akan menyelesaikan masalah dengan masalah.”

Hal ini masih berlanjut pada generasi berikutnya. Mungkin karena dari awal sudah tak melihat ada tujuan baiknya, maka menjadi ‘wajar’ bila muncul suatu pemikiran mencari keuntungan dari institusi-institusi yang seharusnya tidak etis untuk dikomersialkan. Terlebih lagi, hal solusi yang tercipta untuk mengatasi kekurangan tersebut hanya menjadi ‘jargon’ belaka (abal-abal asal tempel label). Yang tujuannya sendiri tak jauh dari peningkatan nilai jual ‘produk’ komersialnya, yang akhirnya esensinya menghilang lagi. Alih-alih karena ‘ketubuhan’, tujuan yang awalnya baik pun menjadi buruk berubah.

Kenyataan seperti ini erat kaitannya dengan keterbatasan jiwa manusia dalam melawan ketakterbatasan nafsu ‘ketubuhan’. Sebagaimana manusia yang kurang menghargai proses, sebagaimana pula jalan pintas akhirnya ditempuh. Pada akhirnya fenomena ini semakin terlihat jelas sebagai suatu lingkaran yang tak berujung, yang hanya membuyarkan tujuan awal penciptaan.

Bila merujuk pada kepercayaan agama samawi, jelas bila diajarkan untuk mengindahkan kesabaran serta berserah diri pada YME, sebagai bentuk pematangan jiwa untuk tujuan akhir. Adapun penumpukkan materi akan ‘ketubuhan’ yang terjadi memang diijinkan bila diposisikan tidak sebagai akhir (tujuan), melainkan awal dari kebersamaan/ membantu sesama yang kurang mampu tanpa terkecuali dan dengan tulus, bukan maksud bulus. Alhasil dengan dasar ketulusan inilah yang nantinya akan menjaga harmonisasi alam.

Kembali pada jiwa yang tercipta karena tujuan. Sebijaknya dapat dipikir tentang bagaimana cara menjaga keutuhan jiwa yang mencapai tujuan. Serta untuk tubuh sebagai sarana, sebijaknya terpikir agar tidak terjebak pada kebutuhan serta perawatan-perawatan akan ‘ketubuhan’.

Terlebih baik lagi bila dapat jernih melihat hidup dan mati sebagai proses kesemestaan. Sehingga tak perlu terjebak akan pemenuhan kebutuhan akan ‘ketubuhan’ yang terlalu berlebih. Yang bila dicari alasan sebenarnya, ternyata hanya ‘ketakutan’ belaka semata.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jebakan Betmen di Museum Antonio Blanco …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 06:17

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 14 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 14 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 15 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: