Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Saifulrobbani

Mahasiswa Teknik Informatika UIN MALIKI Malang...KAMMI UIN MALIKI Malang

Teori Relativitas Agama

OPINI | 20 January 2012 | 06:29 Dibaca: 526   Komentar: 1   0

Relativisme agama, apa yang ada di dalam benak anda ketika saya mengatakan makna daripada arti relativisme agama. Relativisme agama adalah suatu paham yang mengatakan bahwa kebenaran agama itu dianggap benar oleh pemeluknya. Dalam artian begini, kebenaran setiap agama adalah benar menurut setiap pemeluknya. Orang-orang muslim menganggap benar agamanya. Orang-orang kristen menganggap benar agama yang dianutnya. Begitupun dengan hindu, budha, dan agama yang lainnya. Anda mungkin tidak setuju dengan pemikiran saya, terutama adalah orang muslim. Saya juga orang muslim, akan tetapi teori relativisme ini adalah bersifat sosial, bukan kebenaran mengenai keesaan tuhan. Bukan mengenai teologi ketuhanan. Bagi saya sebenarnya ini menyalahkan daripada aturan yang dibuat oleh Allah dalam surat Ali-Imron bahwa Islam agama yang paling benar. Kalau saya melihatnya bukan dari segi sosial. Akan tetapi Islam paling benar adalah merujuk daripada tuhan orang islam itu sendiri. Semua tuhan-tuhan dari agama selain islam dalam kitabnya tidak pernah mengklaim bahwa mereka adalah tuhan bagi pemeluknya kecuali islam. Dalam kitab injil, Yesus atau Isa tidak pernah mengatakan “Aku adalah tuhanmu, maka sembahlah Aku”. Dalam kitabnya orang yahudi, hindu, budha, dan agama yang lainnya pun tidak pernah mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Allah. Namun kita bisa lihat dalam Al-Quran, banyak sekali Allah mengatakan dalam kitabnya “Aku adalah tuhanmu, maka sembahlah Aku olehmu dan kaum manusia sekalian.”

Teori relativisme yang saya terangkan adalah ingin mencoba untuk menghilangkan sifat ekslusif dalam orang islam sendiri terhadap penganut agama yang lainnya. Kita bisa melihat dalam tragedi-tragedi di poso, ambon, dan terakhir adalah di bekasi. Itu adalah ketidakadaannya teori relativisme. Bahkan kita tidak bisa membayangkan kalau semua agama di dunia ini saling mengklaim untuk menjadi agama yang paling benar. Kasus di Indonesia mengatakan(sebagai saksi bisu) bahwa di daerah yang saya sebutkan diatas adalah kasus agama dimana kaum mayoritas menjadi mangsa kaum minoritas. Anda bisa bayangkan bagaimana kaum mayoritas bisa tertindas ??

Inilah mengapa teori ini patut untuk diketengahkan, bukan berarti saya penganut paham liberal ataupun plural. Akan tetapi, saya mencoba untuk melahirkan kedamaian di Indonesia ini. Mencoba agar agama mayoritas tidak tertindas didalam kemayoritasannya. Dalam relativisme agama, saya mencoba untuk mengajak anda bahwa setiap ibadah yang mereka anut adalah benar. Dalam islam, sholat adalah benar  menurut kita. Dalam kristen, kebaktian adalah benar juga menurut mereka. Sehingga kita tidak bisa menghakimi dengan cara hal-hal yang brutal untuk memasukkan ajaran kita kepada agama lainnya.

Rasulullah sendiri, dalam sejarah islam sangat memberi kebebasan dalam beragama. Negara madinah bukanlah negara yang secara keseluruhan islam, akan tetapi agama itu hidup saling berdampingan. Inilah makna daripada teori relativisme yang saya pahami. Disini, saya mencoba mengungkapkan bahwa kebenaran sejati adalah milik Allah. Kebenaran relative yang kemudian diimplementasikan dalam kegiatan-kegiatan beribadah setiap pemeluknya adalah benar juga. Selama mereka tidak menyimpang dari agama yang mereka yakini. Yah, bolehlah anda bisa mengatakan sebagai toleransi umat beragama. Kita meyakini bersama, keceriaan akan terwujud, kalau kita mau mewujudkan keceriaan itu bersama.

Lakum dinukum waliyadiin…

Wallahu a’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 9 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 10 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: