Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pebriyansah Pebri

DAFTAR RIWAYAT HIDUP 1. Nama lengkap : Pebriyansah 2. NIM : 0911323011 3. Jenis kelamin : laki-laki 5. Alamat selengkapnya

Lunturnya Nasionalisme Pemuda Indonesia

REP | 09 January 2012 | 15:06 Dibaca: 780   Komentar: 1   2

Setiap peristiwa besar di Indonesia pemuda Selalu hadir sebagai Entitas yang bergumul di dalamnya. Dalam bentangan sejarah, baik dalam revolusi fisik hingga perjuangan diplomatif, pemuda selalu mengambil bagian strategis dan mendorong proses restorasi sosial menuju idealisme kehidupan sebagai sebuah Bangsa yang berkeadilan. Namun hal tersebut kini menjadi cerita yang di tulis berbundel-bundel dalam buku sejarah. Menjadi teks mati yang bisu dan sewaktu-waktu lapuk digerogoti waktu dalam proses penuaan.
T
eks sejarah kaum muda itu, tidak lagi hidup dalam kiprah dan aksi ideologis. Lihat saja beragam kecongkakan malaysia terhadap Indonesia dengan jiwa dan semangat mudanya ? mereka hanya termangu di bangku-bangku kuliah, tenggelam dan larut dalam diskusi apologetik tanpa diimbangi dengan laku dan aksi. Semuanya kosong melompong begitu saja. Itulah pemuda Indonesia saat ini. Pemuda yang tak tau malu ketika Negerinya dicemooh.
Dibandingkan dengan mahasiswa dan pemuda di jaman revolusi, pemuda dan masiswa saat ini selau berkilah di balik wacana dan teori. Mahasiswa dan pemuda saat ini, tidak lagi hadir sebagai kekuatan organik pembaharu dan penggagas kedaulatan Negerinya. Pemuda saat ini hanya memikirkan isi perut ketimbang isi kepala dan perkara ideologi perjuangan.
Gagasan Nasionalisme
Dalam sumber nilai apapun, rasa cinta terhadap ibu pertiwi adalah sebuah nilai dan juga sebuah kredo. Jauh sebelum Ernes Renan menemukan sebuah terori nasionalisme, dalam basis nilai ajaran agama, telah memadukan pemuda dan harga diri sebuah negeri sebagai sesuatu yang saling mengandaikan. Dalam kaitannya relasi agama negeri ini, diungkapkan dengan terminologi “cinta tanah air adalah sebagian dari Iman”.
Singkat kata, negeri yang kaut adalah negeri yang memiliki pemuda yang kuat dan berfikiran maju. Memiliki struktur ideologi dan kedewasaan konsepsi tentang kebangunan negerinya. Dalam kesadaran yang demikian, rasa nasionalisme itu, harus menjadi api yang berkobar-kobar dalam dada. Suatu nilai yang secara stimulan membakar semangat kemudaan.
Sejak berulang kali harga diri negeri diobok-obok oleh negara yang katanya serumpun itu, meski jiwa muda kita terpangil untuk mengatakan “tidak” kepada Malaysia sejak hari ini hingga kapan pun. Demi harga diri sebagai suatu bangsa. Gagasan nasionalisme ini harus terus-menerus ditransformasikan dalam praksis kehidupan kaum muda, agar tidak lemah di hadapan siapapun. Termasuk dalam percaturan dan pergaulan pemuda secara mendial. Nasionalisme adalah ruh dari sebuah negara. Dan semangat itu sejatinya ada dalam setiap pemuda.
Mengasah Nasionalisme
Untuk mengasah ketajaman rasa nasionalisme dalam batin perjuangan kaum muda, maka konsepsi dan lakon kebangsaan itu setiap saat harus diasah dengan merespon berbagai polemik yang mengguras luka dibatin sebahagian rakyat kita di negeri ini. Meminjam istilahnya Nurcholis Majid (almarhum) disebut bahwa “pemuda anak kandung sejarah”. Menyatunya konsepsi pemuda dan aspek kesejarahan inilah, kesadaran kritis nasionalisme pemuda harus diasah dengan melandaskan semagat tersebut pada konsepsi kedaulatan NKRI.
Menrut hemat penulis dengan cara demikan, pemuda akan merasa bertanggung jawab atas kedaulatan Negerinya. Bukan malah sebaliknya, hanya berdiam diri dan membiarkan negeri ini terus diremehkan.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 4 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Rethinking McDonald’s, Opportunity …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: