Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Riyadhus Shalihin

Bandung, Desember 1989. MENCINTAI DAN MENGGIATI SENI TEATER, JURNALISTIK DAN FILSAFAT.

Tafsir Antropologis, Buku “Antologi Tubuh dan Kata“ Afrizal Mana

OPINI | 05 January 2012 | 04:55 Dibaca: 291   Komentar: 0   0

*Oleh ; Riyadhus Shalihin

SEBUAH PROLOG

Afrizal malna dikenali sebagai kritikus seni petunjukan terutama teater yang memilah secara khusus akan kodefikasi tubuh sebagai medan budaya yang tidak dapat bisa terlepas secara spontan dalam sebuah ruang pertunjukan, sebab ada teks yang sudah “ menubuh “ dan “ tertubuhkan “ sejak dini hingga membentuk pribadi aktor tersebut menjadi sebuah “ teks “ tersendiri, sebelumnya afrizal banyak menggunakan magifikasi ruang dalam karya – karya teaternya, bersama Teater SAE yang didirikannya dengan Boedi S Otong, Afrizal banyak bertindak sebagai penulis naskah dengan menggunakan tubuh sebagAi verbalitas komunikasi pentas daripada kata – kata, karena afrizal menganggap tubuh sudah mempunyai “ kesusastraanya “ sendiri, baik secara tersirat maupun tersurat, namun yang di tekankan dalam Teater SAE bukanlah menjadi “ Bahasa tubuh “ yang cenderung menstilisasi gerakan badan aktor sedemikian rumit, namun Afrizal menjadikan tubuh aktor sebagai “ tubuh bahasa “ yang menegaskan bahwa tubuh adalah teks itu sendiri dan bukanlah sebagai suatu alat penyampai teks sutradara.

Sebagai kelompok Teater yang lahir di tengah – tengah budaya metropolitan Jakarta, Teater nya Afrizal berusaha menelanjangi “ ketubuhan “ para aktor yang menggumpal sebagai kulminasi kultural, hadir dalam suatu represi mekanistik kota. Mereka yang datang dari berbagai daerah dengan ragam kulturnya sendiri, hingga akhirnya termatikan secara antropologis , terfatwa untuk terlibas melaju bersama kebudayaan urban yang hadir memaksa ruang – ruang lain untuk terlesapkan. Di sanalah Afrizal membuka ketabuan - ketabuan akan kultur yang tersembunyikan, hilang dan mati melalui berbagai teks drama juga garapan pentasnya. Bagaimana Afrizal yang memiliki basic akademis filsafat menaruh atensi khusus kepada “ tubuh “ sebagai medan budaya, tubuh sebagai peristiwa antropologi, lalu lintas ruang dan waktu. saya rasa penelaahan buku Afrizal Malna melalui perspektif antropologis memberikan sebuah kesenangan tersendiri, apalagi buku tersebut banyak menyimpan kekayaan diktionari Teater pra - pentas dan pasca pentas yang tidak banyak dibahas oleh para kritikus teater lainnya, yang hanya menelaah sebuah pertunjukan berdasarkan kaca mata tekstual panggungnya sahaja, tanpa sedikitpun menyingung akan kultur ekstern dalam sebuah peristiwa teateral.

____________________________________________________________________

Saya pun mencoba menelaah tulisan Afrizal yang juga menuliskan karya Teaternya ( Teater Sae ), seperti menemukan sebuah “ Meta – Teks “ dalam sebuah “ Meta – Jurnalistik “ , juga beberapa resensi kelompok Teater yang banyak berdiam dalam kultur urban kontemporer masyarakat Jakarta, namun apabila secara empirik saya sendiri tidak dapat menyaksikan karya – karya teater tersebut secara langsung, maka saya hanya dapat memberikan intelejensi telaah dari narasi tekstual, kajian reportase dan juga dokumentasi visual pertunjukan, yang akan coba saya bedah dengan mengunakan teori “ Antroplogi Perkotaan “ karya Mustawin Alwi, bahasan yang akan saya runtut secara lebih khusus adalah bagaimana keberlangsungan lingustika tubuh Teater di antara konsumerisme pasar, hegemoni kota, dan budaya pop metropolitan yang ternyata dapat memberikan suatu kekhasan ucap atas peristiwa panggungnya sehingga sangat berbeda dengan kelompok – kelompok Teater lain yang “ non – metropolis “ terutama “ non – Jakarta “.

INTERNALISASI

TUBUH TUBUH TEATER URBAN

Mustawin Alwi mengemukakan dalam buku “ Antropologi Perkotaan “ bahwa kota adalah sebagai ruang anti tesis ruralitas desa, yang menerapkan sistem universalistik impersonal, di mana sifat – sifat tabu kederahan melebur menjadi medan anti dikotomi, atau apabila saya mengutip ucapan Michael Foucault, yang dikenal sebagi filsuf Post – Modernisme menyatakan akan hadir sebuah era yang disebut sebagai “ Heterotopia “ dimana dialektika warisan tradisi akan menjadi hampa karena berbagai konvensi idealis telah melebur menjadi suatu rigiditas tanpa – batas – batas yang ajeg, mengacu kembali pada tafsir kedua teoritikus antropologis filsut tersebut maka saya melihat Teater – teater yang tumbuh di Jakarta sebagi bentuk teater heterotopis ideal, dengan beberapa pandangan yang saling meruang maka saya akan mencoba membedah beberapa tubuh – tubuh metropolis dalam beberapa rangkum ringkas kelompok – kelompok teater yang berkembang di Jakarta.

TEATER SAE JAKARTA

Kelompok Teater ini digagas oleh Boedi S Otong sebagai Sutradara, Afrizal Malna sebagai penulis naskah dan dramaturg, sedangkan 4 aktor utamanya secara runut dan seringkali menjadi bagian dalam tubuh artistik pertunjukan adalah Zainal Abidin Domba, Margesti, Dindon WS dan Busyro Q Yusuf, dengan penata artistik yang saling berganti – ganti namun diantaranya yang paling getol menjadi penata kelompok ini adalah Alm.Roedjito.

Dari seluruh anggota kelompok yang mempunyai dasar akademi hanyalah Afrizal Malna, berkuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara sedangkan anggota lainnya tumbuh alami bersama rigiditas mekanis kota Jakarta, Boedi S otong dikenal sebagai preman urban, tipikal kasar dan tegas yang berperangai sangat disiplin dalam proses penyutradaraan keteaterannya, namun ternyata dibalik semua itu Boedi mempunyai intuisi estetik yang begitu luar biasa, dia adalah seorang sutradara otodidak yang lahir dari Festival Teater Remaja Jakarta, Boedi dianggap penuh dengan bakat alam dan impresi idea yang tiba-tiba. Melalui karya-karyanya sehingga mengagetkan banyak orang, Ia acapkali membawa pengungkapan baru dalam dunia teater kontemporer dengan melihat pemain tidak semata-mata sebagai sarana untuk menyampaikan teks, tetapi dalam perspektif Boedi tubuh pemain merupakan teks tersendiri. Karyanya berkesan pencarian diri yang dalam, sublimitas pada ruang melalui pemanfaatan tubuh, benda-benda serta relasi antar pemain sebagai sebuah susunan yang organis. Karya-karyanya acapkali merupakan kolaborasi multi – naratif bersama penulis Afrizal Malna, dalam bentuk kerja-sama yang saling menghidupkan identitas masing-masing. Beberapa penyutradaraannya yang menonjol dan banyak menuai pujian antara lain ; Rumah Yang Dikuburkan, Ekstase Kematian Orang-Orang, Konstruksi Keterasingan, dan Biografi Yanti 12 Menit.

Zainal Abidin Domba seorang warga perantauan urban, Margesti adalah buruh wanita yang banyak menggagas organisasi penyadaran kaum buruh. Teater SAE menghuni ruang latihan yang terjepit di antara pasar – pasar kumuh dan gedung - gedung megah pencakar langit. Beberapa karyanya yang dapat diketahui adalah “ Konstruksi Keterasingan “ I983, Rumah Yang Dikuburkan, Ekstase Kematian Orang-Orang, Migrasi dari Ruang tamu, dan Biografi Yanti 12 Menit, 1994. cara pegungkapan Teater SAE bersifat multi – teks, mewadagkan instalasi naskah yang berada ketika pra – pertunjukan, saat pertunjukan, pasca pertunjukan, dalam ruang penonton ( teater kedua ), dan dalam tubuh – tubuh aktor yang sudah didiami oleh kebudayaanya sendiri.

Estetika pentas Teater SAE, berdasar pada konstruksi teks yang dibangun secara mendasar oleh Afrizal malna dengan tendensi estetika eksperimental – urban, hanya saja memang kecenderungan teater pada saat itu ( 1980 ) belum banyak yang menerima idea pentas post – modern yang secara tersirat banyak diungkapkan melalui medium pentas SAE. Teks yang baku tersebut akhirnya dileburkan kepada tubuh para aktor, bersama gramatika artistik pentas yang dibiarkan menyentuh biografi setiap pemain, bagaimana para pemain terjajah oleh “ setrika “, didemistifikasi oleh “ televisi “ memperlakukan televisi sebagai kontra budidaya yang saling menopeng dan menipu, akhirnya terjadilah sebuah medan kultur yang saling mewadag tanpa pretensi peran yang jelas karena tubuh dan benda – benda sama – sama pentingnya. Panci, colokan listrik, ember dan kepala manusia adalah teks pentas yang tidak ada bedanya, sama cacatnya, sama sempurnanya.

Berdasarkan sumber – sumber tersebut maka akan sangat banyak apabila saya membedah kajian antroplogis Teater SAE dengan keseluruhan karyanya secara utuh, dengan bantuan buku Afrizal ini maka saya akan mengkhususkan pada 2 karya SAE yang paling relevan dengan tinjauan antroplogi perkotaan Mustamin Alwi. Yaitu “ Konstruksi Keterasingan “ dan “ Migrasi Dari Ruang Tamu “ akan saya coba kaji secara rinci dan mendetail.

“ Konstruksi Keterasingan “ SAE Teater, 1983.

Adegan – adegan dalam pertunjukan ini secara luas menerjemahkan kekacauan non fisik yang dialami oleh manusia Indonesia yang berada dalam tataran ambigu, asing. modern tidak – tradisi tidak, hingga akhirnya menjadi terasing terutama dengan kecemasan – kecemasan yang ditimbulkan oleh represi pemerintahan orde baru, Primordialisme kedaerahan, Globalisasi di bawah perang dingin antar kubu – kubu adikuasa, dan perkembangan teknologi yang mencekam.

Aktor dalam pertunjukan tersebut adalah Dindon WS , memakai baju jenderal lengkap dengan atribut – atributnya. Kemudian dia mulai bertelanjang melepaskan satu persatu helai kain yang membungkus tubuhnya lalu berjalan seperti seorang banci dengan tubuh telanjang yang menabrak – nabrak setiap benda di atas pentas, seperti besi, drum kaleng yang ditambah dengan riuh suara – suara elektronika kemudian panggung Teater yang berada di belakangnya terbuka , dengan gambar peta Indonesia yang perlahan - lahan menaik, Dindon menuruni panggung, datang lah kemudian mobil sampah kota dari sisi kanan panggung , Dindon pun menaiki bak mobil tersebut dengan sampah – sampah yang berhamburan di dalamnya kemudian anak – anak kecil yang bertelanjang badan mengejar – ngejar mobil bak tersebut, pertunjukan penuh dengan kecaman juga cekaman, berakhir dengan pertanyaan kontra penyataan yang saling tidak berakibat.

“ Migrasi dari ruang tamu “ SAE Teater, 1993.

Digarap pada sekitar tahun I993, Naskah Afrizal yang disutradarai oleh Boedi S Otong ini “ memberitakan “ bagaimana upaya gerak – gerak tubuh purba masyarakat pinggiran Jakarta yang bermimpi menjadi manusia, diceritakan bagaimana usaha usaha verbal mereka yang mengatakan “ Aku bermimpi menjadi manusia “ , ruang estetik pentas riuh meneror dengan personifikasi drum , besi dan mesin – mesin elektronik. Bagaimana benda – benda tersebut telah berubah menjadi medan antropologi baru yang sama “ manusiawinya” dengan manu – manusia urban yang sudah tidak memiliki sejarah kemanusiaannya lagi, benda – benda tersebut seakan melakukan interupsi atas hak- hak mereka untuk menempati fungsi yang sejajar dengan kepala manusia, badan pria, ataupun kemaluan wanita.

Teater Sae yang banyak melakukan kunjungan – kunjungan pertunjukan ke berbagai kota – kota di luar negeri terutama jerman, hamburg – zurich dan Swiss, menjadikan mereka tidak asing akan kulturalisasi yang campur aduk dalam berbagai proses penciptaan karya teater nya, bukan semata artifisialitas semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terjadi dalam tubuh antroplogis teater SAE, mereka bersikeras mencipta dinamika konstruksi yang benar – benar tidak mereka kenali hingga menjadi suatu daya ungkap pentas yang otentik.

Dengan usaha itu mereka berusaha mempertemukan kembali tubuh primordial masyarakat Jakarta yang tertata dalam sebuah ruang pertemuan budaya, dipilihlah tema “ Ruang Tamu “ sebagai eksplorasi final terhadap pemilahan – pemilahan budaya yang bersatu dalam sebuah ruang tamu. Bagaimana tubuh antropologis masyarakat sunda, jawa, depok bertemu dalam sebuah dinamika migrasi budaya ke dalam ruang tamu yang menjadi medan perbauran isu – isu politik, pemerintahan, budaya, juga ekonomi. Perjalanan Teater SAE sendiri secara intensif terhitung sejak dari bulan Mei dan Juni I993 dengan mengelilingi kota Hamburg dan tiga kota lainnya di Swiss.

Pada adegan tersebut terlihat aktor – aktor SAE yang bersembunyi ketakutan di dalam kurungan ayam, mencium – ciumi telapak kaki aktor yang terduduk di bangku kecil, dan seseorang yang terus saja mengepak – ngepakkan lidi ke udara sembari mengucapkan pidato – pidato Adolf Hitler, ada magifikasi benda dan ruang yang sulit terfahami secara literal dalam pertunjukan tersebut.

SAE memang sering melakukan penjelajahan melalui informasi literal yang kemudian dipentaskan dengan melakukan pengandaian – pengandaian benda dan tubuh yang meruang tanpa melakuakan pemborosan kata, seperti mematikan kesusastraan literer yang cenderung mendemistifikasi Teater dengan dikotomi drama, di sana mereka memainkan isu – isu yang dijelajahi bersama pertemuan intim antara tubuh aktor, nada dan benda – benda pertunjukan.

Bagaimana kota Swiss yang indah seperti terpenjara dalam keindahannya, akibat rezim yang mematikan kesenian dan kebudayaannya, maka aktor SAE pun meringkuk di dalam kurungan ayam, dan bagaimana bayang – bayang perang dunia II yang dipelopori oleh Hitler mencekam dalam sapuan – sapuan lidi yang dimainkan oleh Malhamang Zamzam sembari mengucapkan poidato – pidato terkenal dalam buku “ Mein Kampf “ nya Hitler. Seperti kengerian yang terus bernaung dalam fasisme sebatang lidi, Dogmatisme agama yang timbul dalam penyucian kaki seorang aktor.

Teater SAE cenderung melakukan deradikalisasi makna di ruang pentas mereka, melakukan “ pembiasaan tubuh “ dengan tidak merumit – rumitkan tubuh menjadi suatu bentuk yang aneh, mengerikan dan teatrikal, namun mereka lebih menekankan sublimitas makna yang hadir dalam tubuh yang meruang. hingga inilah yang membuat Teater SAE dapat dengan mudah menelusuri jejak – jejak antropologi tubuh aktornya, seperti membebaskan tipikal “ penyulit – nyulitan “ tubuh aktor demi menjaga citra teater yang teatrikal. tetap ada teks – teks dalam pertunjuakn mereka namun disesuaikan dengan makna otonom teater yang terbebas dari standarisasi sastra, di mana kecerdasan Teater menemukan teaternya sendiri, dalam tubuh – tubuh bersejarah, antropologi benda – benda dan literasi tubuh masyarakat urban yang termarjinalkan.

TEATER KUBUR JAKARTA

Secara geografis kelompok ini berada di daerah pinggir Kota Depok, di antara gang – gang dan wilayah kumuh masyarakat marjinal kota. Direktur artistik sekaligus penulis Naskah dan Sutradara Teater Kubur, Dindon WS mengadakan afirmasi kesenian di wilayah tersebut, dengan aktor yang rata – rata adalah para pengemudi beca, pedagang pasar , kuli – kuli bangunan , dan para preman – preman. melalui pengadaian tersebut maka kita memahami prolog utama Teater Kubur adalah menerjemahkan tematik seni yang lebur menjajaki tubuh – tubuh libidinal masyarakat yang terpinggirkan.

Sirkus Anjing, Karya/Sutradara Dindon WS dipentaskan pada tahun 1990, di gedung Bulungan Jakarta. Dimulai dengan longlongan ceracau ibu – ibu berbaju rombeng, kemudian gedung bulungan menyergap para penonton dengan nuansa yang pengap, panas, gelap, mampat jauh dari presentatif pertunjukan elitis, seakan menggiring para penonton kepada sebuah analogi dasar dunia yang sumpek dan padat dari realitas masyarakat yang tidak pernah terjamah oleh edukasi, estetika, apalagi ideologi teater.

Di sana kita bertemu dengan aktor – aktor yang bermain dengan tetabuhan drum, bahkan hanya drum dan kusri yang secara simultan hadir di atas pentas, namun persoalannya adalah bagaimana keberhasilan pengandaian benda tersebut direspon dan dibenturkan secara intens. tubuh –tubuh kota yanng sudah mati dan tidak berdaya, dipaksa bergerak melawan sistematika ekonomi pasar yang terus saja bergerak, seperti drum yang meluncur ke sana kemari mengarak para aktor hingga terlesap dan tersembunyikan di dalam drum tersebut, seperti masyarakat yang sudah tidak memiliki harapan dari dunia yang keras ( drum ) dengan dunia di luar drum ( pasar bebas ) mereka tidak dapat lagi melakukan aktualisasi kebudayaan dengan tubuh mereka sendiri, perlahan mereka menjadi drum, keras dan tidak memiliki integritas kultur secara otentik, robotisasi terus terjadi , penyeragaman selera pasar telah menjadi “ drum” dalam tubuh mereka, tubuh mereka mengalami drumisasi kota, dimatikan, “ didrumkan “.

Teater Kubur dalam area prosesnya sehari – hari menggunakan lahan pekuburan sebagai area berlatih juga eksplorasi estetik, dalam beberapa pementasan pertamanya Teater Kubur menggunakan kuburan sebagai latar setting, bagaimana naskah diafirmasi dengan orisinalitas ruang proses, dalam beberapa pementasan terbaru barulah mereka memakai gedung perunjukan yang layak.

Penggunaan lahan kuburan sendiri adalah sebagai upaya kritis terhadap politisasi fasilitas seni pertunjukan yang banyak digunakan hanya untuk kepentingan normatif pasar, apalagi sejak Taman Ismail marzuki diganti redaksi namanya menjadi Gedung Graha Bhakti Budaya, telak sudah usaha para seniman – seniman kritis kehabisan ruang untuk mengemukakan pendapat dalam kinerja berkeseniannya, terutama pengungkapan realitas keseharian masyarakat pinggiran yang kehilangan ruang menyatakan, aktualitas budayanya.

Dindon WS yang juga pernah menjadi salah satu aktor teater SAE tidak begitu mematok jadwal rutin dalam setiap proses eksploratif keteaterannya, ada beberapa pertunjukan yang dicapai hanya dalam waktu 2 bahkan satu bulan saja, namun ada pula yang mencapai penggalian estetik hingga membutuhkan waktu selama 4 tahun, Teater Kubur tidak menjadikan patokan bahwa visual pementasan sebagai estetika baku, karena Teater yang mereka emban adalah upaya memasyarakatkan manusia, memanusiakan masyarakat yang tidak terjamah oleh edukasi ataupun kompetensi estetik, dan Dindon WS menceburkan diri di sana. memilih bergumul dengan pahitnya stigma “ sampah masyarakat / masyarakat sampah “, ketertekanan akan kehidupan mekanistis pasar, bergaul dan menggauli Teater bersama masyarakatnya, hingga menjadi sebuah mahakarya teater. Seperti mengembalikan “ kehidupan panggung “ kepada “ panggung kehidupan “ yang sebenarnya, mendekatkan keduanya dengan sangat intim.

TEATER KANVAS JAKARTA

Pertunjukan terlihat ricuh dengan berbagai situasi rutin yang menjadi problematika kota, ada banyak botol – botol bekas, drum – drum berseliweran, tempat – tempat sampah yang busuk dan tak terurus , kesesakan ini sudah menjadi aura yang “ menghakimi “ pada saat pertama kali penonton memasuki ruangan.

Sedangkan kontras aksentuasi terlihat dari para pemain yang teramat necis , busana – busana yang mewakilkan eleganitas masyarakat pekerja kelas atas, dasi dasi rapih, jas – jas wangi, sepatu kulit yang tertata mewah, namun perlahan – lahan mereka berjalan dengan sangat tergesa – gesa melingkar memutar, kemudian kembali lagi ke tempat yang sama, terus saja berputar dan bertolak balik ke titik awal. tampak juga mereka memakai topeng yang terbuat dari kain, seakan menyembunyikan identitas otentik personal, perlahan – lahan terjadi pembocoran verbal ketika semuanya mengucapkan “ aku mau ke bursa efek “ , “ Aku mau ke bank “, “ aku ditingu klien “ , “ aku mau ke Departemen agama “ , “ Aku mau ke butik “, semuanya memberitakan kejenuhan prestisius yang dijalani. Terlihat seseorang yang berbeda di tengah panggung terus saja bertanya ” kamu mau kemana ko tergesa – gesa “ adegan ini terus saja berputar, membuat kepenatan dalam realitas yang jumud, konsumtivisme yang akhirnya berakhir dengan sintesis “ untuk apa aku begini ? “ .

Itulah pertunjukan Teater Kanvas yang disutradarai oleh Zak Sorga pada Festival Teater Jakarta ke – 20 tahun 1993, mereka mementaskan “ berita “ bukan lagi “ cerita “, kesusastraan dibalik bahkan dibunuh bersama jurnalisme panggung yang membeberkan klimaks peristiwa di dalam berita, seperti pengadilan pada Teater teater imajinatif yang mengabaikan kejujuran realisme penopengan masyarakat kota.

TEATER TROTOAR JAKARTA

Pada helaran Festival Teater Jakarta yang ke 21 di tahun 1994 kelompok ini mencoba menceburkan invasi informasi sebagai penanda utama lahirnya era post - modernisme, membeberkan realita masyarakat yang terjerembap di dalam era “ penuhanan “ multimedia.

“ Kurcaci Kesenggol Bulan “ yang disutradarai oleh Arturo GP riuh dengan dengung pesawat TV yang menceramahi masyarakat dengan pidao pemerintahan, sedangkan ada pula realita – realita video porno yang memaksa puberisme sedini mungkin. sementara itu panggung memperlihatkan wanita yang sedang mengaji dengan khusuk sementara di belakangnya ada pria yang sedang menggantungkan celana dalamnya di pohon kering, tampak ada juga pria yang menyeret keranjang dengan penuh koran – koran dan majalah, bahkan ada serdadu yang sedang berbaris dengan hanya memakai celana dalam.

Pertunjukan memberitakan bahwasanya Dunia TV telah menjadi tubuh antropologi dalam dunia aktual, di sana tubuh – tubuh otentik telah diimitasi dengan perangkat – perangkat kecantikan, make – up, pemutih dan serangkaian tayangan infotainment. memperlihatkan jarak keterasingan antara masyarakat penonton dengan artis – artis yang hadir di layar televisi, memaksa kita untuk menganut imanensi imajinatif yang membangkitkan intuisi penuhanan terhadap pijakan yang tidak nyata.

Kehadiran berbagai media massa yang cenderung mengadopsi kultur hedon konsumtif barat, perlahan – lahan menjadi “ program “ dekonstruksi kultur otentik secara tersembunyi, menutup kemungkinan masyarakat “ non – jawa “, menjadi primadona dalam citra baik televisi. terjadi “ jawanisasi ” ,” putihisasi “ “ sundanisasi “ lebih baik lagi apabila ada percampuran dengan fisikal ayu berdarah asing. artis artis berwajah indo semarak meramaikan televisi dari pagi hingga menjelang malam, orang – orang bergerak menjadi pemimpi tanpa tujuan pasti, “ plastikisasi fisikal “ telah mengerdilkan adiluhung budaya timur melalui satu tabung kecil kotak listrik.

FESTIVAL MONOLOG DI RUANG PUBLIK

PROSES AGRESI KULTUR DI LUAR KULTUR TEATER.

Tearikalisasi puisi, Dramatisasi cerpen / puisi, performance art, Demonstrasi dengan badan berdarah – darah di cat merah, sekelompok pemuda yang bertingkah laku sinting sembari meminta uang 17 agustus telah mengacaukan institusi estetik teater menjadi semacam legitimasi bebas kepada orang orang yang melakukan deklamasi gila –gilaan, sinting sintingan. Teater telah ditunggangi dan disalah kaprahi menjadi legalitas kesintingan yang hitam, kacau dan liar.

Upaya – upaya defungsionalisasi teater ini membuat resah para Teaterawan indonesia, maka diadakanlah testifikasi kepada para seniman teater untuk menceburkan idea teater pada ruang publik, seperti usaha mengembalikan penyimpangan – penyimpangan teater kepada otentitasnya, namun bukan berarti menjadi semacam penghakiman kepada segala bentuk modifikasi teater, hanya saja sebagai usaha menjelaskan Teater adalah usaha estetik pertunjukan yang membawa pesan dan maksud dalam setiap keutuhan pentasnya, bahkan sarat dengan muatan norma kritis, dekonstruksi dogma, pelurusan stigma yang bukan hanya meligitimasi kegilaan – kegilaan spontan, “ nyentrik – nyentrikan “ , “ nyeni – nyenian “, sinting berlalu dan usai tanpa ada pesan dan maksud yang jelas ingin disampaikan.

Monolog di ruang publik pada hakikatnya adalah menyampaikan tubuh primordial teater yang terasingkan di era instan – informatif ini kepada penontonnya, kepada masyarakat yang berada di luar kursi pertunjukan. Usaha ini menyatakan tubuh teater yang mencari identitas keterasingannya, menemukan penontonnya, mengunjungi mereka yang terduduk di kursi halte, di kursi bis, kursi angkutan umum dan bukan lagi di kursi gedung pertunjukan, beberapa Seniman Monolog tampak pintar memilah apa yang membedakan Monolog di ruang publik dengan performance art ataupun demonstrasi gila – gilaan berbentuk teatrikal, namun masih ada pula yang terjebak dengan tipikalisasi teater yang gelap, hitam dan sinting sehingga membuat orang disekitarnya nyinyir ketakutan dan merasa tidak nyaman.

Berlangsung dari tanggal 20 hingga 27, Festival ini berusaha menemukan kebaruan – kebaruan para Seniman dalam penyajian monolognya. diantaranya adalah Mathrozy yang pada awal mulanya menemukan tubuhnya masih terkungkung sebagai aktor panggung yang dibebani dengan ideologi tekstual mulai mengalami reformasi, dia melihat tubuh akotrnya tidak berhasil mengenali publik hinga teaternya menjadi bisu dan buntu, Rozy pun melakukan adaptasi estetik. Dia menggigiti rumput – rumput di sekitar kebun binatang, merespon “ Panggung “ di luar eksaktual persiapan. sembari mengucapkan “ Rumput di sini enak , tidak ada garamnya “ lalu perlahan – lahan dia pun mulai mendapatkan teks pertunjukan yang dekat dengan ruang publik yang dikelolanya, namun ada juga aktor – aktor yang kukuh membawa teks panggung ke dalam ruang publik sehingga yang ada hanyalah alienasi masturbatif, teater yang terdiam ketika bertemu dengan mata penontonny. Dalam kajian Seni Pertunjukan “ kini “ mengagresi ruang publik melalui narasi estetik adalah usaha aktor untuk mengintervensi penonton dengan cara menemukan mereka di dalam kesehariannya, bukan melepaskan keseharian mereka dan memaksanya datang ke gedung pertunjukan.

___________________________________________________________________

ESTETIKA METROPOLIS DALAM KETERASINGAN TEATER

ANTROPOLOGI YANG MATI DALAM PANGGUNG

- SEBUAH EPILOG –

Dalam terminologi “ kota dan pengertiannya “ Mustawin Alwi menyatakan ada beberapa kategori karakteristik dari perkembangan kota yang dapat dijadikan acuan pengamatan, yaitu Eopolois, Polis, Metropolis, Megalopolis, Tiranopolis dan Nekropolis. Apabila dilihat maka kota Jakarta termasuk di dalam wilayah Metropolis yang berarti wilayahnya kurang luas dan penduduknya sangat banyak, terdiri dari kepadatan berbagai bangsa untuk berdagang dan saling tukar menukar kekayaan budaya rohani, percampuran perkawinan antar bangsa dan ras sehingga memunculkan filsafat dan kepercayaan baru, apabila dilihat secara fisik menunjukan kemegahan dan kemewahan namun dari segi latar sosial memperlihatkan adanya kontras yang tinggi antara golongan kaya dan golongan miskin.

Dalam kajian tersebut maka saya dapat membuat sebuah sintesis dari beberapa tesis estetik yang dimunculkan oleh beberapa kelompok teater di kota Jakarta, Teater Kubur menyatakan dalam tubuh artistiknya kegelisahan akan struktur kesenjangan ekonomi akibat resepsi pasar bebas yang belum siap diterima oleh penduduk Indonesia secara mendalam, Teater SAE menyatakan manusia – manusia urban yang menjadi asing akibat globalisasi tiba – tiba yang menjadikan mereka teralienasi dari tubuh antropologi aslinya, sedangkan Teater Kanvas mengolah norma masyarakat metropolitan yang tergesa – gesa, tipikalitas generasi konsumtif instan, di antara gedung – gedung perkantoran yang megah dan menjulang tinggi tersimpan kerapuhan dari pemaksaan kultur agar cepat adaptif, berbaur dengan apa yang menjadi trend, sebuah pop aggression. Teater Trotoar menelanjangi penopengan – penopengan manusia urban akibat pembutaan stereotype fisikal dengan hadirnya iklan – iklan kecantikan, artis – artis berwajah indo, menjadikan televisi sebagia utopia citra.

Individualisme impersonal masyarakat kota yang banyak menyebabkan keterasingan diungkap melalui panggung Teater SAE, estetika ini memilik relasi identifikasi senada dengan apa yang diungkapkan oleh Louis Wirth, seorang antropolog kota melalui hasil penelitiannya mengemukakan bahwa akibat mekanisme yang begitu cepat sehingga dalam sebuah kultur masyarakat kota akan tercipta ;

1. Banyaknya relasi menyebabkan tidak memungkinkan terjadi kontak – kontak yang lengkap antar pribadi

2. Orang hanya saling mengenal dalam satu peranannya saja

3. Menjaga diri terhadap potensi – potensi yang merugikan atau membahayakan diri pribadi dan keluarganya

“ Konstruksi Keterasingan “ , 1983. Teater SAE mempertegas tubuh – tubuh antropologi yang mati di atas panggung, memparodikan sistematika kerapuhan masyarakat urban yang penuh hipokrisi, mereka terus menyembunyikan identitas aslinya agar dapat berafiliasi dengan kultur di sekitarnya, hingga pada akhirnya hanya akan menjadi bagian dari robotisasi sistem, kehilangan budaya otentik dalam tubuhnya sendiri, termatikan perlahan – lahan.

Kenyataan kota yang ambigu. Non linier dan penuh dengan semiotika paradoks ini dipertegas oleh Kenneth E Boulding, seorang Antroplog Urban yang mengemukakan bahwa sesunguhnya sulit mengatakan jika suatu Kota mempunyai sebuah kebudayaan, sebab kriteria seperti apa yang dapat menjelaskan unsur - unsur masyarakat yang berpadat – padatan di dalam suatu kota ( Modernization, Urbanization, Urban Crisis, 1973 ).

Sedangkan peristiwa kesenjangan ekonomi yang banyak didekonstruksi melalui pentas – pentasnya Teater Kubur, memiliki motif yang serupa dengan apa yang diteliti oleh Oscar Lewis seorang Antropolog Kota yang mengemukakan bahwasanya apa yang menarik dari kota adalah dimana ketika “ Kemiskinan akan menciptakan kebudayaanya sendiri “ , sedangkan Oscar menyatakan “ Kebudayaan Kemiskinan ( Culture Poverty ) sendiri mempunyai beberapa ciri – ciri ;

1. Tingkat pendidikan rendah

2. Sedikit saja memanfaatkan fasilitas – fasilitas kota, seperti toko – toko, museum, bank.

Dalam ciri yang diwakilkan tersebut maka Teater Kubur memiliki premis eksplorasi yang cenderung sering mengungkapkan otentisitas kebudayaan masyrakatnya. Teater Kubur memiliki potensi menubuhkan episteme kemiskinan dalam setiap pentasnya dengan lebih sublim, intuitif, asketik . karena mayoritas Aktor Teater Kubur adalah masyarakat kota yang terasingkan dari sentralisme kebudayaan kota, membuat mereka menempati gang – gang kumuh di pingiran jakarta, tidak mampu mengakses fasilitas – fasilitas spektakuler yang teramat duniawi, karena alat –alat tersebut hanya mampu digunakan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan ekonomis. Dalam “ Sirkus Anjing “, 1990 ditegaskan bahwa masyarakat pinggiran akhirnya hanya menjadi drum – drum yang tersisihkan akibat penyeragaman budaya yang tidak biss mereka akses.

Peristiwa – peristiwa panggung Teater di Kota Jakarta banyak mengungkapkan kritisasi pada ruang yang sedang mereka tinggali, kepada tubuh mereka sendiri, tubuh yang dihinggapi oleh apa yang hadir di “ Panggung “ kafe, panggung butik, panggung mall, panggung bioskop, panggung hotel. Namun ketika abiliti masyarakat tidak bisa membuat kesepakatan dengan penyeragaman tersebut maka mereka akan terseret –seret, dan terjadilah penolakan tubuh kota kepada tubuh otentik . Teater di Jakarta mengungkapkan interupsi kepada generalisasi tubuh melalui karya – karya pentas mereka , mempertanyakan bahwa apabila antropologi adalah suatu ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaannya, Kenneth E Boulding tegas mengatakan penolakannya pada kata Kebudayaan yang tidak dimiliki oleh warga Kota, maka panggung panggung Teater Kota Jakarta seakan menyatakan kredo antropologinya, yaitu “ tubuh – tubuh yang mati di atas panggung “ . Libidinalisasi rutin yang membuat kita terkunci dalam tubuh kita sendiri sehingga tidak bisa menyatakan kebudayaan tubuh kita di atas panggung, piktorial masyarakat yang maju secara teknikal namun dekaden secara tersembunyikan, diam – diam membusuk.

______________________________

* Mahasiswa Teater.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 5 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 10 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 11 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengabdi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Usai Gasak Malaysia, Timnas Justru Takluk …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Nama Makanan yang Nakutin …

Arya Panakawan | 8 jam lalu

Gelar Terpental demi Sahabat Kental …

Adian Saputra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: