Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ummi Hasfa

penikmat hujan pecinta purnama

Kaidah Musibah

REP | 12 December 2011 | 23:05 Dibaca: 136   Komentar: 0   0

Kaidah Pertama, adanya perubahan, perpindahan, dan pergantian keadaan.

Allah menakdirkan dua hal berlawanan. Apabila sesuatu telah sampai pada batasnya, ia akan berubah menjadi kebalikannya. Apabila malam sudah mengambil bagiannya dan telah menghabiskan perjalanannya, ia akan disusul sang fajar. Ini aturan baku dan tidak bisa diubah sampai kapan pun. Apabila siang sudah menghabiskan waktunya yang telah ditentukan, ia akan digantikan malam. Siang dan malam mempunyai waktu dan batasan masing-masing.

Aturan ini berlaku pula pada hitungan jam, hari, bulan, tahun, musim-musim dalam setahun, waktu berbuah, wakt panen, beban yang harus ditanggung, kesehatan, sakit, kepemilikan, kekayaan, kemiskinan, kesempitan, kelapangan, kesenangan, kesedihan, perjumpaan, perpisahan, kecintaan, kebencian, kemuliaan, kehinaan, kekayaan, kekurangan, kemenangan, kekalahan, keberhasilan, kegagalan dan sifat-sifat serta keadaan-keadaan lainnya. Itulah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan dunia ini. Itulah ketetapan-Nya bagi semua makhluk-Nya. Pergantian dan perputaran keadaan akan senantiasa ada selama roda dunia masih berputar.

Dari realitas tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa kesempitan di dunia tidak ada yang abadi. Cepat atau lambat ia pasti berlalu dan digantikan kelapangan. Kesulitan pasti digantikan kemudahan. Sebab jika tidak, hal itu akan mengurangi nilai kekuasaan Yang Mahakuasa, bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Yang Mahakuasa, dan berlawanan dengan kehendak Yang Maha Mengetahui. Tidak mungkin ada sesuatu yang bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan-Nya atau berlawanan dengan kehendak-Nya. Tidak akan ada perubahan dan penyimpangan pada ketetapan Allah.

Kaidah Kedua, semua kesulitan pada mulanya besar, kemudian akan mengecil. Kepanikan yang ditimbulkan tidak akan berlangsung lama, benturan dan tekanan yang dimunculkan terjadi pada awalnya saja. Lalu mengerut, mengecil dan akhirnya menghilang. Seperti luka yang menganga dan menebarkan rasa nyeri pada awalnya, secara pelan tapi pasti rasa nyeri itu berkurang, kemudian hilang sama sekali dan akhirnya sembuh.

Kita harus sabar pada benturan pertama supaya kita beroleh pahala. Kesenangan membuat kita bersukacita dan datangnya musibah secara mendadak membuat kita terkejut. Sabar pada benturan pertama merupakan ciri khas orang mulia.

Ketika kita ditimpa musibah, jangan mengira bahwa kita akan menderita seterusnya. Tertimpa musibah memang menyakitkan, tetapi tidak akan selamanya demikian. Musibah itu seperti tamu. Ia pasti akan meninggalkan kita. Sedikit demi sedikit menjauh lalu menghilang sampai akhirnya benar-benar tidak kelihatan.

Salah satu kasih sayang dan kebaikan Allah adalah Dia memberi kita kekuatan jiwa agar siap menghadapi walaupun dengan susah payah, dan kesiapan untuk beradaptasi dengan berbagai kesulitan walaupun banyak mengeluh. Musibah tidak akan menghabisi kita seperti maut. Musibah diturunkan dengan tujuan menyucikan, menguji, memberi pelajaran, dan menghapuskan dosa.

Kaidah Ketiga, tanpa ada musibah kita tidak akan mengetahui nilai sebuah nikmat, ketenangan, dan kesehatan. Ketika tertimpa musibah akan merasakan betapa bernilainya dan betapa indahnya sebuah nikmat. Seandainya kita tidak pernah tertimpa musibah, kita tidak akan merasakan lezatnya nikmat. Kita akan merasa bosan. Semua nikmat yang kita dapatkan terasa hambar. Namun, begitu kita dibenturkan dengan sebuah musibah, kita akan menyadari dan mengingat hari-hari yang menyenangkan dan saat-saat yang menggembirakan. Dan pada saat benturan musibah itu berlalu, kita akan menghargai sebuah nikmat dengan mensyukurinya dan mengikatnya dengan ketaatan. Itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang mengenal sunnah Allah dalam musibah.

Jika seseorang tidak pernah merasakan pahitnya sebuah penderitaan, engkau akan melihat hidupnya gelisah dan bingung, lantaran ia hanya menjalani satu kondisi yang statis dan membosankan. Berlama-lama dalam satu keadaan pasti akan memberatkan. Pergantian dari satu keadaan ke keadaan lainnya melahirkan satu kenikmatan, kegembiraan dan kesenangan tersendiri. Itu hanya bisa dirasakan orang-orang yang tertimpa musibah.

Abu Tamam bersyair:

Berbagai kesulitan yang membuat kamu sengsara,

Sejatinya menyadarkan kamu tentang arti kenikmatan.

Orang sehat tidak akan mengetahui arti kesehatan sebelum merasakan sakit. Orang bebas tidak akan menghargai nilai kebebasan sebelum dipenjara. Orang kenyang tidak akan merasakan lezatnya makanan sebelum merasa lapar. Dan orang yang tidak haus tidak akan mengetahui betapa berharganya air sebelum merasa dahaga. Kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Kaidah Keempat, salah satu yang dapat meringankan musibah adalah menyadari bahwa beban musibah akan terus berkurang sedikit demi sedikit dan lama-lama akan menghilang lalu kembali ke kondisi normal. Setiap musibah ada batasnya. Jika orang yang tertimpa musibah mampu melewatinya satu hari saja, itu artinya beban di pundaknya berkurang. Sebuah musibah tidak akan berlangsung selamanya. Sebab waktu terus berjalan dan musibah ada batasnya.

Yahya ibn Khalid al-Barmaki menulis surat kepada Harun al-Rasyid dari penjara, “Ketahuilah, setiap jam yang berlalu meringankan penderitaanku dan mengurangi kenikmatanmu, hingga Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia mempertemukanku denganmu.” Itulah ucapan orang yang pintar dan bijaksana.

Orang yang ditimpa musibah hendaknya bergembira setiap kali melihat matahari terbenam, sebab satu dari penderitaan hilang. ‘Ammarah ibn Uqail mengatakan dalam syairnya,

Setiap hari berlalu sambil mengurangi penderitaanku.

Sebagaimana ia berlalu merenggut kenikmatanmu.

Kaidah Kelima, semua peristiwa terjadi atas pilihan Allah. Dia memilihnya berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Setiap kebaikan atau keburukan yang ditetapkan oleh Allah bagi seorang muslim adalah pilihan terbaik baginya. Sampai-sampai Syekh al-Islam Ibn Taimiyah berpendapat bahwa kemaksiatan yang telah ditetapkan Allah kepada seorang hamba sejatinya merupakan nikmat, asalkan segera ditaubati, disesali dan dimintakan ampunan. Jika musibah yang menimpa hamba merupakan kebaikan baginya, lalu mengapa ia mesti menghadapinya dengan perasaan tidak suka?

ketahuilah di balik setiap ujian yang menimpamu pasti ada hikmah dan rahasia kebaikan yang hanya diketahui oleh Allah. Engkau tidak diperintahkan mencari tahu rahasia tersebut. Itu urusan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. Kewajibanmu adalah menerima dan menyerahkan segalanya kepada Allah, itu saja. Apa yang dianggap baik oleh hamba belum tentu baik baginya, dan apa yang dianggap buruk olehnya juga belum tentu buruk baginya. Jika semua kebaikan dan keburukan dapat diketahui oleh seorang hamba, itu artinya ia mengetahui alam gaib, sanggup menyingkap rahasia takdir, mengetahui seluk beluk ketentuan Tuhan. Padahal semua itu hanya milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal.

Allah SWT berfirman, Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai (al Anbiya [21]:23)

Kaidah Keenam, apabila musibah telah mencapai puncaknya, giliran kemudhaan dan kelapangan datang. Itulah aturan yang telah Allah tetapkan untuk alam dan tidak akan pernah berubah. Pepatah mengatakan, “Jika kesulitan telah mencapai puncaknya, jalan keluar pasti datang.” Orang-orang Arab mengatakan, “Apabila kapasitasnya sudah penuh, maka keadaannya akan berbalik.”

Ketika seorang yang tertimpa musibah merasa penderitaannya sudah memuncak, ia pasti akan tersentak oleh kenyataan bahwa penderitaannya hilang dengan tiba-tiba. Sebab, Allah sama sekali tidak menurunkan ujian untuk selamanya. Segala sesuatu pasti mengalami perubahan dan kemusnahan, kecuali Zat Yang Maha Esa lagi Mahasuci.

Orang yang membaca sejarah akan tahu bahwa sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan akan kembali menjadi kekurangan dan akan berakhir dengan kesudahan. Kesenangan ataupun kesengsaraan sama saja.

Sunatullah telah menggariskan bahwa segala sesuatu yang telah mencapai puncaknya akan berubah kepada kebalikannya. Yang tidak akan pernah berubah dan berganti adalah sunatullah itu sendiri. Apabila kegelapan malam telah mencapai puncaknya, fajar akan datang menggantikannya. Apabila cahaya dan bentuk bulan telah mencapai kesempurnaannya, cahaya dan bentuknya akan kembali berkurang. Dem halnya dengan musibah. Apabila pahit getir dan rasa sakit yang ditimbulkan telah mencapai puncaknya, bergembiralah karena ia akan segera menghilang.

Kaidah Ketujuh, jika seorang hamba merasa segala upayanya telah menemui jalan buntu dan tidak punya harapan lagi, tibalah kelapangan dan kegembiraan.

Allah SWT berfirman, Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami (QS Yusuf [12]: 110)

Sebab, jika seorang hamba sudah tidak punya harapan lagi terhadap sesama manusia hingga timbul rasa putus asa dalam hatinya, sesuai dengan fitrah Allah di hatinya akan timbul harapan terhadap-Nya, itu pasti. Keinginan timbul dalam hatinya untuk kembali kepada-Nya dan bersujud dengan sepenuh hati, seraya mengakui segala kekurangan dan ketidakmampuannya, serta mengajukan segala harapan, permohonan dan asanya.

Allah SWT berfirman, “Atau siapakah yang memperkenalkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS An Naml [27]: 62)

Itulah rahasia tauhid, Allah akan menolongnya dengan kelapangan dan jalan keluar.

Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hamba yang berharap kepada-Nya dan tidak akan menolak doanya. Itulah sunnah yang telah ditetapkan-Nya dan tidak akan berubah sampai kapan pun. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi orang yang menyekutukan-Nya.

Apabila seorang hamba gagal mendapatkan bantuan dari sesama manusia dan sudah putus asa terhadap mereka, niscaya dalam hatinya timbul harapan kepada Tuhannya dan mengajukan permohonan kepada-Nya. Allah Yang Maha Esa pasti mengabulkan permohonannya, menghilangkan keburukan yang menimpanya, menyingkirkan kesedihan yang menyelimutinya, menggantikan kesempitannya dengan kelapangan, kedukaannya dengan kegembiraan, dan kesusahannya dengan kebahagiaan.

Jika engkau sudah merasa tidak punya harapan, ketahuilah bahwa kelapangan sudah ada di depan matamu, keberhasilan dan pertolongan segera tiba…[]

(Ibnu Qayyim al Jauziyyah. Hikmah al-Ibtila’)

Tags: musibah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 9 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 11 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 13 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 15 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: