Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pemahaman Sederhana tentang Eksternalitas Beserta Contoh Nyatanya

REP | 11 December 2011 | 19:14 Dibaca: 7527   Komentar: 0   0

Pasar persaingan sempurna disebut sebagai sistem yang efisien. Dengan sistem ini, harga produsen yang muncul adalah cerminan dari biaya sebenarnya dari pembuatan barang itu. Dalam sistem ini, baik konsumen dan produsen dapat menikmati untung (surplus) dari harga yang disepakati secara adil serta maksimal bagi kedua belah pihak.

Dalam hal kepemilikan, hal yang paling ideal adalah ketika prinsip exclusivity dapat berjalan dengan semestinya. Exclusivity adalah ketika suatu barang tidak dapat digunakan oleh banyak pihak karena kuasa atas barang itu ada di tangan satu pemilik. Oleh karenanya, hanya pemilik yang dapat menggunakan dan menikmati barang itu. Sebagai konsekuensinya, pemilik jugalah yang harus bertanggung jawab terhadap barang itu.

Namun kedua kondisi ideal di atas tidak selamanya berjalan. Kepemilikan atas sesuatu tidaklah selalu jelas dan kondisi pasar dengan persaingan yang sempurna tidak pernah benar-benar ada. Akibatnya alokasi permintaan-penawaran suatu barang tidak mencapai efisiensi. Inilah yang kemudian disebut kegagalan pasar. Contoh kegagalan pasar adalah eksternalitas. Eksternalitas terjadi ketika harga yang terjadi di pasar tidak sesuai dari yang seharusnya. Namun ada jenis eksternalitas yang bukan termasuk kegagalan pasar, yaitu pecuniary externality. Kita akan bahas jenis eksternalitas ini di akhir.

Sekarang mari kita lanjutkan pembahasan.

Contoh paling mudah untuk dicerna adalah barang yang ketika diproduksi harus mengeluarkan limbah. Limbah adalah hal yang menimbulkan kerugian untuk masyarakat. Oleh karenanya, limbah dapat disebut sebagai biaya yang harus ditanggung masyarakat, selain daripada biaya yang harus dibayarkan untuk membeli barang itu (harga pasar yang berlaku). Harga barang itu di pasar belum merefleksikan atau memasukkan biaya sosial yang timbul akibat limbah. Jika biaya sosial ini dimasukkan ke dalam perhitungan perusahaan, maka harga barang itu menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

Dalam kaitannya dengan exclusivity, orang yang bertanggung jawab dengan suatu barang adalah pemiliknya, karena hanya dialah yang mengkonsumsi. Namun hal ini tak terjadi ketika kita berbicara tentang limbah. Limbah juga dirasakan (atau dikonsumsi) oleh masyarakat. Namun karena masyarakat turut merasakan, bukan berarti limbah merupakan tanggung jawab masyarakat. Limbah tetap tanggung jawab dari perusahaan yang mengeluarkannya. Sayangnya, banyak perusahaan berusaha menghindari pertanggungjawaban ini. Dispute ini terjadi karena prinsip exclusivity tak dapat berjalan.

Kasus eksternalitas dapat negatif atau positif atau pecuniary. Contoh kasus eksternalitas negatif adalah kasus limbah di atas. Kasus eksternalitas positif adalah ketika perbuatan seseorang memberikan manfaat bagi orang lain. Kasus eksternalitas pecuniary adalah ketika dampak eksternal dari suatu perbuatan ditransmisikan lewat harga. Hanya saja, eksternalitas pecuniary bukanlah kegagalan pasar karena hanya merupakan refleksi dari kelangkaan sumber daya. Karena harga yang ada telah mencermin biaya kelangkaan dan tidak bias, maka ini bukan kegagalan pasar.

Contoh eksternalitas negatif terjadi di Padang Lawas, Sumatera Utara pada September 2011. Warga setempat mengaku limbah dari pabrik sawit di daerah itu membuat sungai tercemar dan ikan hasil tangkapan menjadi berkurang. Setelah dituntut, pengelola pabrik memberikan kompensasi ganti rugi kepada warga. Kompensasi ini, bagi pengelola pabrik, adalah tambahan biaya produksi dan seharusnya ikut tercermin di harga sawit yang ia produksi. Jika ia secara konsisten memberikan kompensasi (mengeluarkan biaya sosial), maka biaya membuat sawit menjadi lebih mahal dan harganya juga naik. Karena harga naik, kuantitas sawit yang dibeli berkurang. Namun demikian, inilah yang secara sosial seharusnya terjadi.

Beralih ke jenis eksternalitas lain. Eksternalitas positif berkebalikan dari eksternalitas negatif. Seseorang menghias rumahnya sehingga lingkungan rumah sekitarnya merasakan manfaat, yaitu pemandangan perumahan yang indah. Contoh lain adalah keberadaan universitas. Meskipun tidak mengikuti perkuliahan, satpam atau staf kebersihan mendapatkan sedikit percikan ilmu dari proses percakapan dengan mahasiswa setiap hari (knowledge spillover).

Beralih ke jenis eksternalitas lain. Rencana pembangunan Seksi I Tol Cijago adalah contoh mudah untuk pecuniary externalities. Tanah warga yang akan dilalui jalan ini butuh dibebaskan dari para pemiliknya. Proses pembebasan berarti membeli tanah tersebut dari warga empunya. Karena paham bahwa tanah mereka sekarang amat bernilai untuk dibebaskan dari mereka demi proyek tol, warga menaikkan harga tanah mereka. Ada 15 bidang tanah yang masih harus dibebaskan per pertengahan Agustus 2011. Proyek tol mempunyai eksternalitas (atau dampak berupa kenaikan harga tanah).

Hal serupa juga terjadi di Desa Swarangan, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut pada Januari 2011. Berhubung di desa tersebut akan dibangun pelabuhan pertanian, warga setempat menaikkan harga tanah mereka. Pemerintah kabupaten terpaksa menyiapkan biaya yang lebih besar demi pembebasan lahan. Harga naik karena memang tanah tersebut menjadi lebih bernilai daripada sebelumnya. Harga tanah naik karena tanah itu sekarang dianggap memiliki lokasi strategis dan mempunyai masa depan. Dalam hal pecuniary externalities, harga sesuai nilai seharusnya dan bukan kegagalan pasar.

Eksternalitas umumnya terjadi dan memang kondisi pasar persaingan sempurna tak pernah terwujud secara nyata. Namun dengan pengetahuan tentang apa itu eksternalitas, kita kini dapat lebih memahami bahwa kompensasi atas eksternalitas itu merupakan hal yang wajar. Eksternalitas merupakan bukti bahwa pasar ideal yang kita inginkan tidak sepenuhnya terwujud. Namun konsep ini sukses dalam membuat kita memahami dan mendefinisikan keadaan secara lebih konkret lagi. Konsep eksternalitas berhasil membuat ilmu ekonomi menjadi tidak utopis.

Prabu Siagian

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 7 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 12 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 13 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 15 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Preman …

Bhre | 7 jam lalu

Bercanda, Berfilsafat! …

Wahyudi Kaha | 8 jam lalu

Persipura Punya 5 Kandidat Pelatih Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Hujan …

Gusranil Fitri | 8 jam lalu

Renungan Malam Tahun Baru 1436H: Ketika Doa …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: