Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ahada Ramadhana

Mahasiswa | Teknik Kimia 2010 | Universitas Islam Indonesia | Yogyakarta | Kutai Kartanegara | selengkapnya

Gradasi Kebenaran-Kepentingan para Da’i (Refleksi dari Sebuah Kesalahan Berpikir Argumen AD Verecundiam)

OPINI | 28 November 2011 | 17:22 Dibaca: 162   Komentar: 0   0

Argumenum ad Verecundiam adalah salah satu bentuk kesalahan berpikir yang dikemukakan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Rekayasa Sosial”. Argumenum ad Verecundiam secara mudah dapat kita artikan dengan “memanfaatkan otoritas untuk suatu kepentingan”. Contohnya, ada seorang mengutip sebuah hadis Nabi saw untuk menguatkan pendapatnya, atau ada juga seorang Doktor yang menggunakan otoritas (gelarnya) untuk menyerukan suatu hal yang berkaitan dengan kepentingannya.

Secara lebih gamblang Kang Jalal menjelaskan bahwa kesalahan berpikir Argumenum ad Verecundiam ialah berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan atau ambigu. Ada orang yang menggunakan otoritas untuk membela paham dan kepentingannya sendiri. Atau bisa pula dikatakan “mengutip suatu peristiwa untuk maksud membenarkan pendapatnya. Dengan kesalahan berpikir ini seringkali orang pertama memaksa lawan bicara untuk diam, tidak membantah, bahkan mengkafirkan yang membantah (dengan alasan membantah teori yang dijadikan dalih, seperti al-Qur’an, hadits, dsb) setelah orang pertama itu dengan enaknya mengutip ayat dari al-Qur’an. Padahal, andaipun lawan bicaranya ingin membantah, maka yang dibantahnya itu bukan al-Qur’an, melainkan penggunaan otoritas al-Qur’an yang ditafsirkan seenaknya oleh orang pertama.

Dewasa ini umat manusia telah familiar dengan pemisah-misahan, merasa nyaman hidup berblok-blok, yang mana pengklasifikasian kelompok-kelompok ini ialah didasarkan pada ‘kepentingan’. Setiap orang fitrahnya akan merasa nyaman dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Dari sinilah tergagas pemikiran untuk berlomba menciptakan blok-blok, kelompok-kelompok, berisi orang-orang yang merasa memiliki chemistry oleh sebab kesamaannya dalam berbagai hal. Dan gagasan itu telah terealisasi sekarang, umat Islam saja telah terbagi-bagi dalam beberapa kelompok, ada Hizbut Tahrir, Tarbiyah, Nahdliyin, Muhammadiyah, Salafi, Wahabi, Jama’ah Tabligh. Dan setiap kelompok itu tentu punya kepentingan masing-masing.

Bagi orang yang sungguh-sungguh dalam belajar agama, dalam artian memahami bahwa menggikuti suatu kajian agama adalah sebagai suatu kewajiban dan kebutuhan—bukan sekadar ikut-ikutan dank arena dogma pihak tertentu—akan mempertanyakan tentang kebenaran ilmu yang disampaikan oleh si ustadz. Apakah materi yang disampaikan itu benar mengenai Islam ataukah materi itu merupakan suatu kepentingan yang dikemas secara apik dan ditambah ‘aksesori’ ayat al-Qur’an ataupun hadis dengan tujuan lebih meyakinkan kita sebagai objek dakwah.

Sungguh terdapat bias mengenai penurunan ilmu oleh para da’i—yang asalnya dari berbagai latar belakang organisasi berbeda itu—kepada para mad’u. Apakah benar yang mereka sampaikan adalah ilmu tentang wawasan keislaman. Ataukah dengan otoritasnya sebagai juru dakwah itu mereka manfaatkan untuk menyampaikan kepentingan diri (organisasi)-nya. Dengan memiliki status sosial yang menjanjikan itu mereka (para da’i) lalu memanfaatkannya untuk suatu hal diklaim merupakan ‘kepentingan umat’.

Menanggapi realitas yang demikian adanya, kita sebagai para pencari ilmu sedikit-banyak akan mengalami keguncangan pemikiran dan batin. Yang kita harapkan adalah memperoleh kebenaran dari ilmu yang disampaikan oleh para pengajar yang kita belajar padanya dan kita anggap berkompeten itu.

Sedangkal pemahaman saya, cara menangkal/ memproteksi diri dari ancaman penyalahgunaan otoritas keda’ian itu kita bisa mengembalikan kepada hati nurani. Kita bisa manaruh harap besar pada hati nurani, karena ia adalah tendensi(fitrah)-nya menuju kepada Allah. Keburukan akan dikatakan buruk, dan yang benar akan dikatakan benar olehnya. Dan nurani ini sesungguhnya Allahlah yang menguasainya. Jadi jalan bijak ketika menemui kebimbangan tentang apapun yang disampaikan oleh para guru (ustadz) kita maka patut kita menuntut hati nurani untuk berbicara. Teruslah belajar kawan, kepada siapapun itu. Ilmu Allah sangat luas adanya, jangan buru-buru menolak perbedaan. Semoga manfaat. Allah saja yang mengetahui hakikat sebuah kebenaran.

Ahada ramadhana

Kajian Strategis KAMMI UII

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 4 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 6 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 8 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: