Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Agnan Zakariya

Work involves play, elevating the everyday to a special status, and a hearty enthusiasm for selengkapnya

Berilmu Tanpa Beriman Itu Rapuh, Beriman Tanpa Berilmu Itu Buta

OPINI | 28 November 2011 | 13:02 Dibaca: 2309   Komentar: 4   2

Berpikir dalam status quo

Ada kalimat bijak bahwa berilmu tanpa beriman itu rapuh, beriman tanpa berilmu itu buta. Yang pada intinya beriman dan berilmu adalah elemen penting yang harus kita miliki. Apa yang bisa mengkaitkan beriman dan berilmu sehingga elemen itu harus ada berdampingan? Katakanlah berilmu disini misalnya kita adalah orang Sains, berhaluan atas dasar logika dan kepastian, dan orang yang beriman memegang teguh agamanya mempercayai hal yang ghaib dan metafisik.

Satu kasus dalam dunia sains bahwa perkembangan janin dimulai sejak terbentuk zygot dan kemudian berkembang bertambah besar sampai usia 9 bulan, itulah ciri-ciri tanda kehidupan. Dalam agama Islam berlandaskan Alqur’an : Manusia hidup ketika diberikan Ruh, Ruh diberikan pada bulan ke-4 berkembangan janin.

Dalam dunia sains: Manusia mengalami persebaran penduduk dalam kurun waktu cepat dengan tersebar ke beberapa tempat. Dalam Islam : Manusia pertama adalah nabi Adam lalu kemudian Hawa. dan kita disebut sebagai anak cucu Adam. Pertanyaan yang membelit diri manusia adalah apakah semua begitu nyata bahwa manusia pertama adalah “Adam” dengan persebaran anak cucunya keseluruh penjuru dunia? dengan adanya berlainan genetik pula? Teori apakah yang bisa membuktikan pendekatannya?

- Knowledge is Power - Sir Francis Bacon
Ilmu adalah manik bunga di simpang “Garden of Allah” dengan hamparan yang sangat luas manakala kita bisa petik dimana saja dan kapan saja. Dengan Ilmu, Allah menjanjikan Makhluknya setingkat lebih tinggi derajatnya dari yang lain, dengan ilmu kita belajar. Ilmu bagai embun yang setiap pagi hinggap di dedaunan kebun, Menyejukan. selalu tidak habis oleh waktu jika pagi masih bisa datang. Ilmu bagai pedang Excalibur, memberikan kekuatan pada yang menggunakannya. Namun bijaknya menggunakan ilmu layaknya kita menggunakan pedang itu juga, jika sisi yang satunya berlawanan dengan yang menggunakan. Maka sisi lainnya harus berhadapan dengan yang menggunakan. Selalu setali dua mata uang. Maka layaknya ilmu di gunakan sebagai senjata manakala itu juga kita bijak menggunakannya untuk di ayun.

Setiap proses kehidupan merupakan Keseimbangan dimana prosesnya yang berlarut dengan terus meresapi dan tak berhenti dari yang namanya belajar atas asas pembelajaran keingin tahuan, begitu berhamburan ilmu pengetahuan itu seluas semesta tidak terbatas. Namun Dasar akan Ilmu selalu berdampingan baik yang “ruh”, “eksata”, “humaniora”, “sosio”, “filosofi” dan “iman”.
Iman itu proses yang panjang, buktinya apa? Misal jika ada org pada tahun 2011 ini bilang “saya pernah bertemu Tuhan dan Tuhan membisiki saya untuk mengawal manusia ke jalan yang benar” maka tidak serta merta kita meyakini begitu saja apa yang orang itu katakan. Itu bukti bahwa iman itu butuh proses karena meyakini itu bukan menggunakan akal kita, tapi meyakini itu dengan hati. Atau contoh yang lain kita kembali ke zaman Rosulallah, apakah setiap orang ketika beliau dakwah tentang Islam, sebegitu nya mereka tertarik. Nyatanya itu juga tidak. Karena keimanan adalah proses. Lambat laun-lambat laun akhirnya mereka menerima tentang konsep islam.

Antara logika dan perasaan. Inilah padanannya. Logika di kendalikan oleh akal kita, mencerna baik dan buruk, benar atau tidak, 1 dan 0 (bilangan biner dalam komputer), hitam dan putih, menerima atau memberi, bisa atau tidak. ilmu di proses pada bagian ini, dimana proses yang akan dicerna merupakan ekspektasi dari keinginan untuk di capai. Manusia akan selalu berusaha mencapai keinginannya dengan Akal serta ilmu yang menyertainya, dan hal yang terakhir adalah Iman.
Pernahkan denger kan kata ini “yang penting niat dulu” ternyata inilah sesuatu yang datang dari perasaan, yang merupakan jiwa bahan bakar kita untuk melaksanakan keinginan yang harus di capai itu. Jika ada pertanyaan Antara logika dan perasaan bagusnya pilih yang mana? Jawabannya adalah saling melengkapi, berbalut pada elegi keseimbangan.

Kembali lagi kepada Ilmu dan Iman, maka keduanya seperti Logika dan Perasaan yang di ceritakan tadi. Pada prosesnya memang kita sebagai manusia harus belajar pada keseimbangan yang saling melengkapi, artinya Ilmu dan Iman harus setali dua mata uang, keduanya bukan sesuatu yang menjadi kurang tapi menjadi satu kesatuan utuh.

Jika Ilmu tanpa batas maka yang membatasi adalah akal kita, karena akal tidak akan bisa mencerna semua proses ilmu yang tidak terbatas sehingga iman akan menambahkan untuk melandasi keyakinan kita harus selalu berusaha. Dalam contoh kongkrit Jika ilmu pengetahuan mencoba segala macam teknologi untuk melihat wujud roh yang keluar dari dalam tubuh kita saat meninggal untuk di visualisasikan, dan hasil akhirnya tidak pernah berhasil. Maka iman akan melandasi keyakinan bahwa roh ghaib itu ada. Itulah jalan keseimbangan.

Sedikit bercerita, pernahkah kita terpikirkan dari acuan landasan teori big bang bahwa planet-planet itu terbentuk karena ada ledakan hebat di ruang angkasa, dalam status quo energi membentuk partikel-pertikel kecil dan berkumpul menjadi energi membentuk bintang dan saling berbenturan sehingga pada akhirnya terciptalah bentuk planet. Kita berada di alam semesta, alam semesta mempunyai miliaran galaksi, kita berada di galaksi bimasakti, dalam galaksi bimasakti terdapat bermiliaran tata surya, dan tata surya kita pusatnya adalah matahari. Mari kita berpikir apakah di mungkinkan makhluk lain selain kita bisa ada di planet dan dimensi galaksi lain. Melihat struktur dan jumlah galaksi di alam semesta ini sangat dimungkinkan makhluk lain selain kita, dengan intelektualitas dan kemajuan teknologinya sudah sangat tinggi kemungkinannya besar. Yang menjadi pertanyaan kenapa Allah lebih memuliakan kita sebagai manusia? Kenapa Allah Hanya Menciptakan tiga makhluk saja, Manusia, Setan Dan Malaikat? Sedangkan kemungkinan makhluk lain ada di galaksi lain ada (tidak berikut Hewan dan Tumbuhan) sama sekali tidak disebutkan dalam Alqur’an atau kitab suci agama yang lain, Apakah Allah hanya mengurusi Bumi saja bukan alam semesta?, kenapa Allah tidak pernah menyebutkan kehidupan di dimensi galaksi lain?, Kenapa Allah tidak pernah memperlihatkan wujudnya ketika semua orang ingin melihatnya?. Semua pertanyaan ini sangat mengganggu jika sampai pada pemikiran idealis anda, kemungkinan untuk jadi atheis sangat besar

Semua pertanyaan tersebut di dasari oleh isi pesan yang di sampaikan di Al-quran dan rasa ingin tahu seorang makhluknya pada resesi zaman dan rahasia langit. Namun pada akhirnya ketika ilmu pengetahuan yang di proses dalam akal itu mencoba mencapai keingintahuan yang sudah pada batasnya. Maka kembali pada keimanan kita untuk meyakini Allah dan rahasia langit.

Result : ilmu dan iman merupakan keseimbangan, memilih salah satunya bukan sesuatu yang bijak tetapi keduanya adalah kseatuan yang utuh untuk saling melengkapi. Jika yang satu ada kekurangan maka yang keduanya melengkapi untuk menambahkan, jika yang kedua ada kekurangan maka yang kesatunya saling melengkapi untuk menambahkan juga.

dan Allah mengijinkan setiap makhluknya untuk saling berdampingan agar seimbang untuk saling melengkapi juga, melengkapi yang kurang, memperbaiki yang salah dari satu sama lain. Sehingga akhirnya menjadi lebih berkualitas menggali diri menambah satu sama lain untuk tidak berhenti belajar. Ilmu adalah kekuatan.

Tags: iman islam ilmu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 10 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: