Perihal Orang Miskin yang Bahagia

OPINI | 12 November 2011 | 17:02
21 0 0

Menulis  tentang kemiskinan, kiranya tak perlu melulu menceritakan kenestapaan, kemalangan ataupun kesedihan semata. Menjadi miskin saja sudah bikin susah. Jadi mengapa mesti menuliskan kemiskinan dengan potret, yang boleh jadi, memang sudah menyedihkan dari sono-nya.

Tidak banyak penulis yang menulis tentang kemiskinan dengan selera humor yang berkelas, seperti yang ditunjukkan oleh cerpenis  Agus  Noor.

Dalam cerpen “Perihal Orang Miskin yang Bahagia,” yang terdapat dalam kumpulan cerpennya,” Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia.”   Ia menuliskan kemiskinan dengan selera humor yang berkelas, tidak membuat hati terlarut dalam kesedihan semata.  Tapi dengan caranya, menuliskan kemiskinan dengan nada humor maka  hati kita  tidak semata-mata dibuatnya miris, tapi juga dibikinnya berpikir.

“Tak gampang memang  jadi orang miskin,” ujar orang miskin itu.

“Hanya orang miskin gadungan yang mau mati bunuh diri. Untunglah, sekarang saya sudah resmi jadi orang miskin” sembari menepuk-nepuk dompet di pantat teposnya, tempat Kartu Tanda Miskin itu dirawatnya. “Ini bukti kalau aku orang miskin sejati.”

Menjadi miskin di republik in, tidak cukup hanya dengan sekedar   pakaian kumal, gubug reyot, perut yang senantiasa kelaparan. Tapi  dibutuhkan pula selembar keterangan atau identitas yang menyatakan bahwa ia benar-benar miskin, yang dikeluarkan oleh Kepala desa atau Kepala Kelurahan.

Yang bisa dipakai untuk berobat ke rumah sakit, atau untuk mendapatkan beras miskin alias raskin yang tidak gratis, juga sekedar beasiswa pendidikan dari sekolah.Yang anehnya, sungguh tidak mudah untuk mendapatkannya.

Itulah yang dialami pasangan Martin  Ismail dan Kania Susan, karena tidak memiliki kartu miskin ataupun keterangan yang menyatakan mereka orang miskin. Anaknya yang menggemaskan, Nisza yang berumur 8  bulan, tidak mendapatkan perawatan yang semestinya dari rumah sakit Mitra Anugerah Lestari (MAL) di Cimahi. Sehingga putra pasangan itu meninggal menggenaskan.

Nisza dilarikan ke rumah sakit MAL setelah mengalami sakit panas, Jum’at (20/10), sampai di rumah sakit pukul 14.00 dalam keadaan sakit parah,  Namun pihak rumah sakit tak melakukan tindakan apapun, Nisza dibiarkan saja tergolek di ruang gawat darurat, pihak rumah sakit hanya meminta biaya administrasi dulu dibayarkan, sebesar Rp. 500 ribu. Yang harus segera dibayarkan segera atau di muka, baru ada tindakan perawatan.

“Ada uang, ada pelayanan,” kata petugas rumah sakit MAL.

Martin pun kalang kabut, karena tidak membawa uang sepeser pun.  Martin pun pulang ke rumahnya, meminjam ke tetangganya, yang memberinya pinjaman.  Jam menunjukkan angka 18.00 WIB ketika Martin menyerahkan uang adminstrasi sebvesar Rp. 144 ribu. Barulah ada tindakan perawatan kepada Nisza, jadi selama 4 jam  bayi berusia 8 bulan itu dibiarkan begitu saja, menderita sakit panas.

Akibatnya  mudah ditebak,  Nisza pun tidak tertolong.

Dalam pertemuan yang diadakan di ruang komisi 4 DPRD Kota  Cimahi, direktur  rumah sakit MAL Cimahi diataranya mengatakan, karena  Martin tidak membawa surat keterangan tidak mampu alias miskin, makanya pihak rumah sakit meminta biaya administrasi, biaya obat.

Begitulah, karena tidak memiliki kartu miskin,  orang miskin tidak bisa mendapatkan perawatan yang semestinya. Dilalaikan begitu saja, dan, ah, mudah-mudahan saja Nisza yang baru berusia 8 (delapan) bulan bisa mendapatkan pelayanan yang baik disana.  Di alam keabadian.

Dalam penggalan yang lainnya dari cerpen Perihal Orang miskin yang Bahagia,  Agus Noor menulis.

Ia tenang  anak-anaknya tak bisa sekolah. “Buat apa  mereka sekolah ? Entar malah jadi kaya,” katanya. “Kalau  mereka tetap miskin, malah banyak gunanya, kan ? Biar ada yang terus berdesak-desakan dan saling injak setiap kali ada pembagian beras dan sumbangan. Biar ada yang terus  bisa ditipu  setiap menjelang pemilu. Kau tahu, itulah sebabnya, kenapa di negeri ini orang miskin terus dikembangbiakkan dan dibudidayaikan.”

Menulis tentang kemiskinan, boleh jadi tidak perlu melulu “menjual” kesedihan. Dengan humor seperti cerpennya Agus Noor, kitapun bisa mendapatkan sebuah pencerahan, bahwa, kemiskinan, tak harus selalu menyedihkan.  Semoga.

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Menyiasati Kejenuhan Menulis

Memasuki tahun ke 4 di Kompasiana pernah dalam satu tahun ...

Menulis, Bukan Untuk Menutupi Status Pengangguran

Menulis itu hak siapa saja. Bahkan burung-burungpun menulis ketika ia ...

Kompasianer, Mari Belajar Menulis dari Bu Anni  

Ada seorang penulis di Kompasiana belakangan ini yang fenomenal. Namanya ...