Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

Rezeki Tak Halal Harus Dikembalikan Dalam Bentuk Lain

OPINI | 07 November 2011 | 21:23 Dibaca: 857   Komentar: 2   1

Pernahkah pembaca mengalami kecopetan, kehilangan barang, kehilangan uang, atau tiba-tiba membayar sesuatu yang diluar perhitungan dan rencana? Mudah-mudahan pembaca tidak pernah mengalami peristiwa sial semacam itu. Namun bagi pembaca yang pernah mengalami kejadian seperti itu perlu membaca ulasan ini.

Kisahnya begini. Sebagai manusia, sesungguhnya kita sudah diberikan batasan rezeki halal oleh Sang Khalik. Batasan itu berbentuk kemampuan seorang manusia (dengan kerja keras yang sangat luar biasa) dalam mengumpulkan rezeki halal sepanjang hidupnya. Inilah rezeki yang diridhai-Nya. Kata orang-orang bijak atau para kyai sebagai rezeki yang penuh barokah.

Namun, bagi manusia yang serakah, loba dan tamak, tidak pernah tertutup kemungkinan untuk mengumpulkan rezeki diluar batas halal yang sudah ditentukan. Meskipun dalam kitab suci yang diyakininya sudah jelas dilarang untuk mengambil yang bukan haknya, bahkan bagi yang melanggar akan berdosa. Dalam hukum positif di negara kita, jika mengambil hak orang secara tidak sah dan bisa dibuktikan akan dikenakan hukuman badan. Ehh…mereka malah berkata: yang harampun sudah hampir habis, apalagi yang halal.

Pernahkah disadari jika mengumpulkan rezeki melebihi batas rezeki halal yang sah, suatu saat harus dikembalikan lagi dalam bentuk yang lain? Masih ingatkah bunyi Hukum Thermodinamika II? Bunyinya kira-kira, “energi itu tidak pernah habis, hanya berubah bentuk.” Misalnya, nasi yang kita makan sebagai sumber energi, kemudian keluar menjadi kotoran yang didalamnya tersedia sumber energi untuk berbagai mikroba. Sejumlah mikroba itu akan menjadi sumber energi bagi makhluk yang lain, dan akhirnya makhluk-makhluk itu menjadi sumber energi bagi manusia.

Apabila batas rezeki halal yang telah ditentukan untuk kita, katakanlah sepanjang 10 meter, tetapi kita ingin memiliki rezeki sampai 30 meter, bisa-bisa saja. Pastinya, yang 20 meter itu jelas bukan hak kita. Malah yang banyak terjadi, sumber rezeki halal tidak dioptimalkan melainkan lebih banyak menggarap sumber-sumber yang tidak halal. Jadilah mereka orang kaya raya, hidup mewah, bergelimang harta benda dari sumber yang bukan haknya.

Katakanlah kelebihan 20 meter yang sudah kita ambil tadi, dapat dipastikan bukan hak kita melainkan hak orang lain, tentu harus dikembalikan. Kapan, dimana dan bagaimana proses pengembalian itu, hanya waktu yang menentukan. Tinggal mencermati setiap peristiwa yang dialami.

Boleh jadi saat berada disebuah mall, dompetnya dicopet oleh orang lain, bisa juga tiba-tiba mobil yang dikendarainya menabrak mobil milik orang lain maka terpaksa membayar biaya perbaikan. Mungkin saja harus keluar biaya besar untuk menutup sebuah aib, atau terkuras habis hartanya untuk biaya berobat. Tak tertutup kemungkinan, rekeningnya dibobol oleh orang lain.

Sangat banyak peristiwa yang menyebabkan orang harus mengembalikan rezeki tidak halal yang terlanjur dikuras, dalam bentuk yang berbeda dan tak terduga. Siapa yang mengetahui kalau sebuah peristiwa itu bukan cobaan atau ujian dari Sang Khalik, tetapi proses pengembalian rezeki yang tidak halal? Hanya yang bersangkutan dengan Sang Khalik.

Jika begitu halnya, untuk apa memaksakan diri mengumpulkan rezeki yang tidak halal bila suatu saat harus dikembalikan dalam bentuk yang lain. Untuk apa kaya raya jika hati selalu gundah gulana karena selalu khawatir. Mari cari rezeki halal yang penuh barokah, tanpa perlu khawatir untuk mengembalikannya dalam bentuk yang lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 8 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 11 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 14 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 14 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Surga Kecil di Sukabumi Utara …

Hari Akbar Muharam ... | 8 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Sono Cook | 8 jam lalu

Si Jangkung Tokyo Sky Tree …

Firanza Fadilla | 9 jam lalu

Pompadour …

Yulian Muhammad | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: