Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Budi Saleh

terpenjara waktu yang tak kunjung selesai

Keras, Cerdas, Ikhlas dalam Bekerja

OPINI | 04 November 2011 | 20:26 Dibaca: 537   Komentar: 0   0

KERAS, CERDAS, IKHLAS DALAM BEKERJA

( Oleh : Budi saleh )

Apa kata guru dan orang tua kita saat ulangan kita jeblok atau karya tulis kita tidak meraih kemenangan dalam perlombaan ? pasti semua sepakat bilang “ Work harder! “ kita harus kerja lebih keras lagi. Tidak ada cita – cita setinggi apapun bisa kita raih tanpa kerja keras . Nonsense. Setiap keinginan ataupun cita-cita sekecil apapun pasti butuh usaha yang tidak gampang. Dan itu kita namakan bekerja,tidak susah berangan-angan ingin menjadi Einstein kesebelas, untuk nilai yang tinggi?

Tidak ada yang gratis didunia ini” kata kapitalis.”

Barang kali kalimat itu terdengar terlalu kejam walaupun ada benarnya! Setidaknya untuk meraih sesuatu itu orang harus bekerja dan bekerja. Jangan membiasakan diri menjadi orang yang malas, menengadahkan tangan dan mengharapkan belas kasihan dari orang lain.Rasulullah SAW bersabda :” Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah “ ( HR Bukhari )

Seseorang boleh senang hati dalam bekerja keras, pasalnya, Rasulullah SAW sangat cinta pada orang-orang yang giat bekerja. Suatu ketika beliau SAW berjabat tangan dengan Sa’ad bin Mu’adz ra. Beliau menyentuh permukaan tangan Sa’ad kasar dan bertanya sebabnya. Mu’adz menjawab kalau ia biasa bekerja keras menafkahi keluarganya. Rosullullah SAW kontan berujar, “ Ini dua tangan yang di cintai Allah SWT “

Orang – orang yang sukses didunia ini umumnya adalah orang – orang yang “bandel”. Pantang menyerah dan giat berusaha. Salah satunya HONDA, pendiri perusahaan raksasa otomotif dunia. Untuk mencapai tahta keberhasilannya itu HONDA telah menempuh jalan panjang untuk mencapai hasil yang bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini. Waktu sekolah HONDA bukanlah anak yang menonjol, keluarganya juga miskin. Dalam usaha mendirikan perusahaan, berkali – kali dia harus menelan pil pahit karena hancur pabriknya baik itu dari kebakaran maupun gempa bumi. Tapi dia tidak kenal menyerah dan terus bekerja tak kenal lelah hingga mencapai keberhasilan dari usahanya.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya pun bekerja keras untuk menegakkan kalimat Allah diatas muka bumi ini. Berjuang tak kenal lelah dan pantang menyerah, walaupun terkadang bersimbah darah. Hingga akhirnya kemenangan pun teraih.

Kerja keras memang harus, tetapi sekedar kerja keras saja tidak cukup. Kita juga di tuntut untuk bekerja cerdas. Orang bilang setiap keputusan dan tenaga yang dicurahkan harus tepat guna dan berdaya guna, alias efektif dan efesien. Ambil contoh kasus, ketika menghadapi ujian matematika , maka tidak akan cukup sekedar menghapal rumus dan turunannya tetapi kita harus banyak latihan – latihan praktis dengan rumus-rumus itu. Sebab jelas- jelas matematika pelajaran eksakta bukan hapalan.

Rumus kuno mengatakan siapa yang kuat itu yang menang. Kenyataannya seringkali yang kuat dilibatkan oleh yang biasa – biasa saja. Sebabnya satu: mereka yang kuat seringkali lupa menggunakan tenaganya dengan tepat. Terjadilah pemborosan sumber daya. Sementara yang kecil dikarenakan terjepit oleh keadaan mau tidak mau harus mutar otak untuk menggunakan tenaga? Yang ala kadarnya itu dengan sebaik-baiknya. Jepang adalah Negara dengan luas yang terbatas, dengan keterbatasan lahan itu justru mendorong para petani dan ilmuwan pertanian berpikir kreatif, efektif dan efesien. Hasil pertanian disana pun lebih unggul ketimbang di Indonesia,misalkan? Yang luas tanah pertaniannya sekian puluh kali luas lahan pertanian jepang.

Itu juga yang di alami umat Islam yang hampir 1 miliar tetapi tidak bisa mengalahkan kaum yahudi yaitu Israel dari dulu sampai sekarang kalau dihitung umat Islam sangatlah banyak malahan mayoritas coba bayangkan?, sebabnya jelas, kurang keras dan kurang cerdas. Bagaimana tidak cerdas peluru yang dihadapi dengan diplomasi. Panduan kesungguhan dan kecerdasaan adalah kekuatan yang menakjubkan.

Kesungguhan dan kecerdasan insya Allah akan mendatangkan kesuksesan, tapi apakah kesuksesan akan mendatangkan kebahagian? Tidak ada semua hal diukur dengan materi dan pujian.Kalau kita hanya berkonsentrasi pada materi dan pujian bisa- bisa kita jadi manusia yang megalomania, haus materi dan pujian, justru pada era zaman ini banyak sekali pemimpin yang hanya mengejar materi dan pujian dari tingkat atas sampai tingkat bawah apakah ini yang diinginkan Negara ini?. Saat apa yang dikerjakan tidak mendapatkan balasan materi, atau tidak applaus atau lemparan bunga, kita kecewa. Akhirnya kita malas untuk berbuat kebaikan bagi orang lain karena resah tidak mendapatkan balasan yang setimpal atau perhatian. Lebih parah lagi juga tidak mau berbuat kebaikan untuk diri sendiri karena merasa tidak ada pengaruhnya buat kehidupan nya, hal hasil dalam melakukan sesuatu jadi hitung - hitungan mengharapkan balasan dari orang lain bila tidak ada mungkin tidak akan di hiraukan.

Kenyataannya tidak semua usaha manusia itu seketika mendapatkan balasan selalu ada selang waktu,lama atau pun singkat hanya Allah SWT yang tahu bukan dari diri kita tetapi kita hanya merasakan apakah hasil usaha kita sudah ada manfaatnya belum bagi orang banyak dan diri kita sendiri dan bila sudah merasakan oleh diri kita dan orang lain baru itu yang dinamakan balasan. Seandainya semua orang berpikir usaha itu tidak akan mendapat balasan dengan seketika mereka akan berpikir betapa susahnya hidup ini.Jangan lupa manusia juga punya 2 macam naluri yang pemenuhannya bukan materi,naluri itu adalah naluri beragama (gharizah tadayyun) dan naluri mempertahankan diri ( gharizah baqa ). Kalau manusia dipenuhi dengan naluri materi dan pujian, nuraninya bisa kering dan lama kelamaan bisa mati. Karenanya kerja keras dan cerdas saja belum cukup dalam usaha kita mendapat balasan yang bermanfaat.

Seorang muslim ketika beramal juga harus ikhlas dikarenakan kalau seorang muslim beramal tetapi tidak ikhlas akan menimbulkan sikap angkuh dan riya ingin mendapan pujian dari semua orang. Menempatkan keridhoan Allah SWT di atas segala – galanya setiap usaha pasti akan ada balasannya tetapi entah itu kapan , tetapi kalau kita dengan jiwa ikhlas dan sabar insya Allah akan ada balasannya percaya itu! . Dalam belajar , setelah belajar dengan keras dan cerdas , ia juga harus ikhlas. Bahwa belajar itu mengharapkan kebaikan, manfaat ilmu serta ganjaran pahala, bukan nilai di atas kertas apalagi perhatian dari orang lain. Prestasi orang belajar untuk sekedar indeks prestasi hanya akan berhenti pada nilai itu, sementara orang yang ikhlas amalnya menjulang kelangit.. Demikian pula amal – amal yang lainnya terasa saat ihklas dijadikan sebagai tumpuan..

Maka jadikan keikhlasan sebagai salah satu kaidah amal perbuatan kita. Dengan begitu ita akan menjadi insan yang utama tidak hitung- hitungan, tidak mencari perhatian ataupun ujian. Cukupla Allah SWT yang memberikan pujian dan balasan bagi kita”

( januar Gauil Islam )

Keras,cerdas dan ikhlas dalam bekerja dilingkungan sendiri cukup apa yang dikerjakan seharusnya kerjakan jangan menghitung rugi dan laba. Apa yang dipikirkan bila kita mendapat sesuatu pekerjaan. Tinggal kita memilih apakan memilih materi dan pujian atau ingin mendapat balasan yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain, Anda yang menentukan mau yang mana?. Kalau kita memilih materi dan pujian kita hanya mendapatkan itu tidak ada yang lain dan sebagian orang pun akan menjauh karena merasa risih untuk melihat anda dan bersilaturahmi dengan anda, akan tetapi kalau kita mendapatkan sesuatu pekerjaan dengan dikerjakan keras, cerdas, dan ikhlas maka akan mendapat balasan yang setimpal selain itu akan dihargai oleh orang lain hasil pekerjaan kita karena bermanfaat bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Keras, cerdas, dan ikhlas dalam hal bekerja saling bersangkutan , bila kita melakukan pekerjaan , bila hanya keras dan cerdas kita hanya mendapatkan materi dan pujian tetapi kalau kita ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain harus lengkap dengan ikhlasnya itulah kunci kita bila ingin mendapatkan balasan yang bermanfaat dan mendapatkan ridho Allah SWT.Mana yang kita pilih?. Terserah anda yang memilih karena merupakan privasi yang seseorang terserah yang mana .tetapi kalau menurut pibadi akan memilih keras, cerdas dan ikhlas selain dari itu tidak akan ada manfaatnya.

“TINGGAL ANDA YANG MEMILIH “

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 6 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 11 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Alphard dan Underpass Permata Hijau …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Torres, Sejarah Tragis Pemain Spanyol dan …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: