Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Irul Sw

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dari sejarah. selengkapnya

Ibadah Rasulullah SAW

OPINI | 30 October 2011 | 05:06 Dibaca: 429   Komentar: 11   4

Pengalaman masa kecil Muhammad sebagai yatim piatu telah membuatnya peka terhadap lingkungan. Sejak muda Muhammad merasa prihatin menyaksikan dekadensi moral yang tengah melanda masyaratnya. Namun sifatnya yang pemalu telah menjadikan Muhammad sebagai pemuda pendiam yang tidak suka ikut campur urusan orang lain.

Muhammad lebih suka merenung dan berfikir sendirian. Kegemarannya bertafakur ini secara periodik dia lakukan dengan “bertapa” atau berkontemplasi di gua Hira. Sampai pada suatu saat di gua inilah dia mendapatkan pengalaman spiritual (menerima wahyu) yang akan merubah jalan hidupnya.

Pengalaman spiritual inilah yang mendorong nabi Muhammad saw keluar dari gua Hira, serta tidak pernah lagi kembali kesitu sampai akhir hayatnya, dalam arti tidak pernah kembali kedalam kehidupan kontemplasi lagi. Kesadaran akan Tuhan ini kemudian beliau implentasikan dalam bentuk “gerakan Islam”,  sebuah gerakan reformasi sosial memerangi tiga hal pokok kejahatan yang melanda masyarakatnya, yaitu :

1. Politeisme. Masyarakat jahiliyah Mekah sadar betul bahwa berhala berhala yang mereka sembah cuma kayu atau batu serta bukan Tuhan yang sebenarnya. Tetapi itu semua mereka anggap sebagai representasi Tuhan menurut kreasi mereka sendiri. Perbedaan esensial antara monoteisme dan politeisme bukanlah terletak pada banyaknya bilangan Tuhan, namun terletak pada kenyataan alienasi (keterasingan) diri.Manusia menciptakan berhala dari kreasinya sendiri lalu menyembahnya, menganggapnya sesuatu yang lebih tinggi serta mengatur hidupnya. Manusia tunduk kepada hasil karyanya sendiri, menjadi budak dari berhala yang diciptakannya sendiri.

Suatu tujuan pengabdian atau obyek sesembahan yang terdiri dari wujud nisbi seperti manusia termasuk gagasan gagasannya serta benda benda kreasinya sendiri pasti akan mengakibatkan pembelengguan jiwa, merampas kemerdekaan dan berwatak tiranik. Dalam Al Qur’an ini dinamakan sebagai thaghut atau sistem tiranik. Manusia akan terpenjara dalam kotak kotak sempit hasrat hasrat subyektifnya masing masing, terjadi parsialisasi realitas dan fragmentasi kebenaran. Inilah yang dinamakan syirik atau berpartisipasi dalam ke Tuhan an, sebuah dosa yang paling merusak dan tak termaafkan.

Rasulullah saw mereformasi kecenderungan syirik ini dengan faham Tauhid. Faham yang mengandung gagasan bahwa Kebenaran atau Tuhan itu Esa, atau satu dalam hal kwalitas, bukan kwantitas. Tuhan yang tidak bisa direpresentasikan dalam bentuk apapun, bahkan termasuk dibayangkan oleh pikiran manusia. Tauhid juga berarti persatuan. Persatuan tidak berarti seragam, tapi berbeda beda namun bersatu. Tauhid inilah yang melahirkan keimanan. Iman bukan cuma percaya kepada Tuhan begitu saja, namun harus dimplementasikan dalam bentuk perbuatan baik seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dibawah ini.

2. Oligarki ekonomi.  Sebagai penduduk  kota dagang yang ramai, orang orang Mekah pada saat itu telah menjadi masyarakat kapitalis yang mengelola kehidupan moneter mereka dengan sistem riba. Yaitu sistem pelipat gandaan modal dan perburuan rente yang sudah sangat keterlaluan. Banyak interpreneur berbakat tapi miskin menjadi korban keserakahan para pemilik modal. Pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati orang orang kaya saja. Penghisapan darah orang  orang lemah dan miskin oleh para elit kaya sudah menjadi hal yang biasa.

Turunnya ayat Al Qur’an tentang pelarangan riba juga salah satu disebabkan oleh rencana pemberontakan para orang orang miskin yang sudah tidak tahan lagi menanggung penindasan oleh para elit ini. Peristiwa ini hampir saja menumpahkan darah masyarakat Mekah saat itu. Ketimpangan ekonomi ini pada intinya adalah bahwa distribusi kekayaan dijalankan secara tidak adil dan hanya dikuasai oleh sebagian kecil elit masyarakat. Kondisi demikian cepat atau lambat pasti menyebabkan disintergrasi dalam masyarakat,apabila ini terjadi maka semua akan merugi.

Rasulullah saw berjuang mereformasi sistem riba ini dengan memberikan alternatif lain, yaitu sistem zakat. Zakat adalah sistem pengelolaan kekayaan berdasarkan keadilan. Rasulullah saw sekuat tenaga berusaha untuk mengurangi hak hak yang dimiliki oleh orang orang kaya dengan memperkuat hak hak orang orang lemah dan miskin. Bahkan Rasulullah saw memberikan teladan gaya hidup beliau sendiri yang sederhana walaupun kesempatan hidup mewah bagi beliau pada saat itu sangat memungkinkan.

3. Oligarki politik. Masyarakat Arab yang terdiri dari banyak suku mengatur sistem politik mereka dengan membentuk aliansi dan pakta pakta antar klan. Walaupun tidak semua klan punya kekuatan politik sama yang dalam hal ini bisa saja menimbulkan tekanan tekanan tatau gesekan gesekan satu sama lainnya, namun mereka selalu menyelesaikan masalah masalah mereka dengan jalan musyawarah.

Tampaknya memang demokratis, tapi prakteknya tidaklah demikian. Pada kenyataannya, konsensus konsensus dibidang politik ini hanya dikuasai oleh beberapa orang elit suku saja, terutama suku suku yang dominan. Para elit inilah yang menentukan norma norma yang harus diikuti oleh masyarakatnya. Elit elit ini memiliki previlege previlege dibidang kekuasaan. Mereka menjadi feodal dan aristrokat yang menjalankan “pemerintahan” secara otokratis dan oligarkis.

Akibatnya tentu saja tercipta sebuah strata sosial yang berjenjang, bahkan orang orang tak bersuku seperti orang orang Badui tidak memiliki perlindungan hukum sama sekali, mereka dapat dibunuh kapan saja atau dicomot sebagai budak. Rasulullah saw mengalami sendiri kondisi ini saat sang pelindung hukum, yaitu paman beliau Abu Thalib meninggal, sehingga nabi harus melarikan diri ke Madinah karena dikejar kejar mau dibunuh oleh orang orang Mekah.

Para wanitapun tidak memiliki hak hak politik atau hukum. Mereka dianggap seperti barang yang bebas dimiliki berapa saja , menjadi hadiah atau barang pampasan perang. Sistem politik jahiliyah inilah yang melahirkan perbudakan dan sex yang berlebih lebihan.

Rasulullah saw mereformasi kondisi ini dengan memperjuangkan semangat egaliter. Semua manusia sama derajatnya, yang paling baik adalah yang paling bertaqwa. Darah (nyawa), harta dan martabat manusia adalah suci serta menjadi hak manusia yang paling asasi. Pelanggaran terhadap hak hak ini adalah sebuah kejahatan besar yang harus mendapat hukuman berat. Egaliterisme ini diteladankan oleh Rasulullah saw dengan sempurna. Ketika beliau menjadi pemimpim negara, tidak ada pangkat jendral buat Abu Bakar atau kopral buat Bilal yang bekas budak, semua diberi gelar sama, yaitu sahabat nabi.

Politeisme,oligarki ekonomi dan oligarki politik adalah kejahatan kejahatan yang tidak mungkin bisa musnah dari muka bumi, namun bisa dikurangi. Sampai saat ini kejahatan kejahatan tersebut masih berlangsung dalam bentuknya yang kasar atau halus. Kecaman kecaman ayat ayat Al Qur’an pada intinya juga tertuju kepada orang orang yang melakukan tiga kejahatan diatas. Do’a do’a dan ibadah pribadi Rasulullah saw juga selalu diletakkan dalam konteks untuk memerangi kejahatan kemanusian tersebut.

Reformasi yang dilakukan oleh Rasulullah saw memang terlalu modern, bahkan untuk ukuran jaman sekarang. Oleh karena itu lembaga lembaga Islam yang ada tidak kuat menyangganya sehingga ambruk. Setelah Rasulullah saw wafat pelahan pelahan Islam mengalami set back. Perkembangan Islam selanjutnya lebih banyak dibentuk oleh sejarah dari pada oleh Al Qur’an dan teladan nabi. Sejarah yang penuh dengan dongeng dan kekerasan. Dongeng akan melumpuhkan secara mental, sedangkan kekerasan bisa melumpuhkan secara phisik.

Kehebatan Islam bukanlah terletak pada banyaknya sujud yang kita lakukan, kejayaan Islam bukanlah ditentukan oleh banyaknya sapi atau kambing yang kita sembelih , tapi tergantung pada seberapa kuat umatnya menanggung “beban” yang telah diwariskan oleh Rosulullah saw, yaitu warisan berupa meneruskan perjuangan Nabi seperti yang telah beliau teladankan dengan tulisan diatas. Perjuangan terus menerus untuk kebaikan manusia adalah inti ibadah Rosulullah saw.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: