Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Abuga

take it easy, make it simple and life is beautiful

NIla Setitik Rusak Susu Sebelanga, Panas Setahun Dihapus Hujan Sehari.

OPINI | 24 October 2011 | 17:50 Dibaca: 3315   Komentar: 2   0

13194354081100001238peribahasa ‘nila setitik rusak susu sebelanga’ adalah peribahasa yg kita kenal sejak di bangku esde. namun kembali menjadi populer ketika presiden sby menyampaikan ketika berpidato menanggapi gunjang ganjing di tubuh pede, partai yg dilahirkan, dibesarkan dan membesarkan dirinya dinodai oleh politikus sekelas nazarudin.

perbahasa ‘panas setahun dihapus hujan sehari’ juga bermakna hampir sama. meskipun menurut saya pribadi peribahasa ini sangat cocok untuk masayarakat timur tengah. hujan sehari di padang gurun mampu melupakan kepanasan setahun di padang tandus.

bagi anak indonesia peribahasa- peribahasa tersebut sangat akrab di telinga murid-murid esde di tanah air. saya juga yakin peribahasa ini juga dikenal oleh bangsa lain dengan bahasa ibu mereka sendiri. sayangnya ketika tumbuh dewasa kita sering lupa memaknai peribahasa tersebut.

inti dari kedua peribahasa tersebut adalah apabila anak manusia melakukan kesalahan sedikit saja maka itu bisa menghapus kebaikan yang pernah dibuat seumur hidupnya. ibaratnya menebar titik noda (lambang dosa) ke dalam ke sebelanga susu (lambang kebaikan).

demikian juga dengan peribahasa kedua diibaratkan menyiram air yg bisa menghanyutkan segala kebaikan. di sisi lain peribahasa ini seharusnya ini juga bisa diartikan sebaliknya. sekali berbuat kebaikan seharusnya bisa menghapus kesalahan yang telah dibuatnya. ibaratnya menyirampak air kehidupan dalam kedahagaan. Ibarat hujan yang menghapus kekeringan dan menumbuhkan harapan kehidupan yang baru.

namun demikianlah hukum manusia atau alam. lalu, adilkah?. boleh saja kita menyebut tetapi kita ambil sisi positifnya saja. ‘berhati-hati kepada dosa dan kesalahan karena itu bisa menghapus kebaikan kita selama ini”

jika saja ada seorang motivator, guru, kyai, pendeta, pastor yang telah mendedikasikan seumur hidupnya dalam kebaikan. tiba-tiba dia melakukan kejahatan manusia seperti memperkosa, membunuh atau memutuskan memilih mati dengan cara bunuh diri, maka hapuslah segala kebaikan di mata umat manusia yang selama ini memujanya. manusia hanya akan mengenangnya sebagai manusia yg berdosa dan hina.

kita bisa berdalih tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, manusia adalah tempat lupa dan dosa, setiap insan ada sisi postif dan negatifnya, dsb. yakinlah ungkapan - ungkapan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk berbuat dosa atau kesalahan. bahkan hukum pidanapun tidak memberi ruang pasal yg meringankan dengan ungkapan tersebut di atas.

tuhan maha pengampun itu pasti dan itupun bukan sebagai alasan untuk berbuat dosa lalu minta ampun dan tobat kemudian masyuk syurga. 

salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Hak Menahan Tersangka, Kartu ATM Polisi …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup …

Dr Andri,spkj,fapm ... | 9 jam lalu

Kebohongan Ajudan Nazar Dalam Menjerat Ibas …

Tuty Handayani | 9 jam lalu

Kompas Jelajah Sepeda Manado-Makassar, Bikin …

Muhammad Zulfadli | 9 jam lalu

Start Lamban United dengan 3-5-2 …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: