Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rois Arios

peneliti di bpsnt padang

Kehidupan dan Daya Manusia Dalam Konsep Filsafat

OPINI | 24 October 2011 | 21:09 Dibaca: 3219   Komentar: 1   0

oleh: Rois Leonard Arios

1. Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk yang memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Kajian tentang manusia sering dilihat dari eksistensi dan aktivitasnya. Berbagai pengertian atau konsep manusia diberikan oleh berbagai ahli dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan sudut pandang mereka. Ada yang mengartikan manusia sebagai makhluk jasmani yang tersusun dari bahan material dari dunia organik. Pengertian lainnya adalah manusia sebagai benda/sosok atau organisma hidup yang menyatukan jasmani. Dengan demikian manusia juga memiliki kesadaran inderawi.[1]

Pemahaman terhadap manusia juga tidak terlepas dari aktivitas kehidupannya. Untuk memahami ini, manusia harus dilihat dari sudut manusia itu sendiri. Manusia memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang terkadang membuat manusia tidak tergantung pada benda-benda yang ada di sekelilingnya. Dengan kehidupan spiritual ini mampu menggantikan peranan benda-benda atau oleh Lorenz Bagus disebutkan mampu menembus inti yang paling dalam dari benda-benda, menembusi eksistensi sebagai eksistensi dan pada akhirnya menembusi dasar terakhir dari eksistensi yang terbatas sehingga menghasilkan eksistensi absolute (mutlak). Dengan demikian manusia bergerak malampui seluruh batas-batas menuju ke arah yang tidak terbatas sehingga manusia diposisikan sebagai makhluk tertinggi dari segala makhluk hidup di dunia.[2]

2. Daya Manusia

Sebelum menjelaskan apa saja daya manusia, saya mencoba mendefenisikan konsep daya manusia. Akibatnya tidak ditemukannya literatur yang relevan, maka saya mendefenisikan daya manusia sebagai segala sesuatu yang mendorong manusia untuk beraktivitas baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial.

Pemahaman tentang daya manusia juga akan berkaitan erat dengan konsep manusia yang diberikan oleh para ahli filsafat yang juga sangat beragam. Dalam lingkup Filsafat Manusia saja, konsep manusia cukup beragam sesuai dengan aliran dalam filsafat manusia.[3] Bustanuddin Agus menyebutkan daya manusia terdiri dari fisik, otak, perasaan, hati nurani dan kemauan/nafsu. [4] Sedangkan – mungkin berkaitan – Fenomena Sartre menjelaskan gejala-gejala dasar manusia seperti imajinasi, emosi, tatapan, dan tubuh.[5] Manusia mempunyai daya cipta yang bisa berulang, dan ciptaannya bisa kompleks sifatnya. Ada juga pendapat yang mengemukakan bahwa daya manusia juga terdiri dari intuisi, apresiasi estetik, jiwa,dan religious.

Dari berbagai pendapat tersebut, dalam tulisan ini saya akan menguraikan daya manusia yang terdiri dari fisik/tubuh, otak atau daya fikir, perasaan, hati nurani, kemauan/nafsu, emosi, imajinasi, intuisi, dan jiwa.

a. Fisik/tubuh

Fisik atau tubuh manusia adalah seluruh bagian yang ada pada manusia dengan fungsi bagian masing-masing. Tubuh manusia tidak berada di luar intimidasi kita secara total dan juga tidak sama secara sempurna dengan keakuan kita yang paling dalam. Tubuh juga bukan merupakan satu objek yang berdiri sendiri. Para ahli filsafat mencoba menghubungkan tubuh dengan jiwa. Mereka menganggap (walaupun masih diperdebatkan) bahwa tubuh dan jiwa mempunyai satu kesatuan. Teori-teori metafisik tentang tubuh dan jiwa belum mempunyai kesatuan pendapat terutama tentang konsep manusia sebagai kesatuan eksistensi monoisme, dualitas, dan perlawanan antara tubuh dan jiwa.[6]

Dalam filsafat oleh Sartre, tubuh dilihat sebagai subjek yang dilihat dalam tiga dimensi yaitu:[7]

1. tubuh saya bagi saya sendiri; yang melihat tubuh sebagai titik pandang kita dalam kaitannya dengan dunia;

2. tubuh saya bagi orang lain; yang menjadikan tubuh individu menjadi penilaian tentang keadaan individu tersebut oleh orang lain;

3. tubuh bagi saya yang menyadari adanya dimensi kesadaran orang lain akan tubuh saya; adanya kesadaran tentang tubuh kita sehingga mempengaruhi respon orang lain dan reaksi si pemilik tubuh.

b. Otak

Otak adalah bagian utama dari system syaraf manusia. Otak merupakan pengendalian berfungsinya seluruh organ-organ dalam tubuh manusia. Sehingga dengan demikian otak juga sebagai alat berfikir manusia.[8] Dalam otak, manusia bisa menganalisa atau merespon segala yang diterima dari luar untuk selanjutnya diolah di dalam pikirannya untuk diambil tindakan. Proses berpikir (otak) ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman seseorang atau kebiasaan yang dipelajari sehingga ia dapat memahami dan bertindak sesuai dengan yang dipahaminya.

c. Hati nurani

Salah satu situs internet yang membahas hati nurani mencoba mendeskirpsikan hati nurani dengan memberikan ilustrasi tentang hati nurani tentang seseorang yang akan berbuat jahat tetapi mendapat bisikan dalam pikirannya agar tidak berbuat jahat tetapi tidak lama kemudian mendapat bisikan lagi agar berbuat jahat. Lebih jauh dicontohkan juga tentang keyakinan pada orang Jawa tentang kelahiran seorang anak yang diyakini bahwa seorang anak lahir bersama 4 kembarannya. Dalam situs tersebut hati dinurani diartikan sebagai:[9]

Hati nurani adalah informasi yang disampaikan oleh Fu Yuanshen (jiwa sekunder) manusia, karena Fu Yuanshen manusia berasal dari tingkatan yang lebih tinggi daripada Zhu Yuanshennya (jiwa utama), dengan demikian Fu Yuanshenlah yang selalu menjaga manusia agar terhindar dari perbuatan yang menyimpang dari hukum Tuhan. Namun begitu Zhu Yuanshen juga adalah kesadaran utama manusia, dialah yang memegang kendali untuk memutuskan segala sesuatu yang hendak dilakukan. Meskipun hati nurani kita mengingatkan untuk selalu berjalan di jalan lurus, namun jika kesadaran utama kita memutuskan untuk tetap melakukan perbuatan buruk,maka tetap saja kita akan melakukan keputusan salah yang telah kita putuskan tersebut.

Sedangkan Ading Nasrulloah mengartikan hati nurani sebagai berikut:[10]

Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia dalam situasi konkret. Suara hati menilai suatu tindakan manusia benar atau salah , baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru. Dalam hati, manusia sebelum bertindak atau melakukan sesuatu, ia sudah mempunyai kesadaran atau pengetahuan umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang memiliki kesadaran moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda – beda. Pada saat-saat menjelang suatu tindakan etis, pada saat itu kata hati akan mengatakan perbuatan itu baik atau buruk. Jika perbuatan itu baik, kata hati muncul sebagai suara yang menyuruh dan jikaperbuatan itu buruk, kata hati akan muncul sebagai suara yang melarang. Kata hati yang muncul pada saat ini disebut prakata hati. Pada saat suatu tindakan dijalankan, kata hati masih tetap bekerja, yakni menyuruh atau melarang. Sesudah suatu tindakan, maka kata hati muncul sebagai “hakim” yang memberi vonis. Untuk perbuatan yang baik, kata hati akan memuji, sehingga membuat orang merasa bangga dan bahagia. Namun, jika perbuatan itu buruk atau jahat, maka kata hati akan menyalahkan, sehingga, orang merasa gelisah, malu, putus asa, menyesal.

Hati nurani berfungi sebagai:[11]

· Fungsi hati nurani yaitu sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.

· Hati nurani berfungsi sebagai pegangan atau praturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari dan menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.

· Sikap kita terhadap hati nurani adalah menghormati setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita.

· Mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani.

· Mempertimbangkan secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan hati nurani. Melaksanakan apa yang disuruh hati nurani.

d. Perasaan

Perasaan memberikan pengaruh besar dalam aktivitas manusia karena perasaan dianggap sebagai kesadaran subjektif murni yang menyingkap aspek-aspek kesadaran subjek. Perasaan juga mengacu pada keadaan pengalaman seseorang terhadap apa yang dialaminya dan diukur berdasarkan kualitas pengalaman tersebut. Lorens Bagus secara khusus menyebut adanya perasaan estetis yaitu keadaan emosional yang timbul dalam proses persepsi keindahan pada sebuah gejala-gejala yang dihadapinya ataupun pada karya seni.[12]

e. Kemauan/nafsu

Dalam sebuah artikel dijelaskan tentang pengertian kemauan, yaitu:

dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi. Jadi pada kemauan itu ada kebijaakan akal dan wawasaan, di samping juga ada control dan persetujuan dari pusat kepribadian. Maka kemauan lebih tinggi tingkatannya daripada instink, reflek, automatisme, kebiasaan, nafsu, keinginan, kecerendungan. Ciri-ciri kemauan : [13]

· Gejala Kemauan merupakan dorongan dari dalam yang khusus dimiliki oleh manusia.

· Gejala Kemauan berhubungan erat dengan satu tujuan.

· Kemauan mendorong timbulnya perhatian dan minat, serta mendorong gerak aktifitas kearah tercapainya tujuan.

· Gejala Kemauan sebagai pendorong timbulnya perbuatan kemauan yang didasarkan atas pertimbangan, baik pertimbangan akal atau pikiran, yang menentukan benar salahnya perbuatan kemauan maupun pertimbangan perasaan yang menentukan baik buruknya atau halus tidaknya perbuatan kemauan.

· Dalam Kemauan tidak hanya terdapat pertimbangan pikir dan perasaan saja, melainkan seluruh pribadi memberikan pertimbangan, memberikan pengaruh dan memberikan corak pada perbuatan kemauan.

· Pada perbuatan kemauan bukanlah tindakan yang bersifat kebetulan, melinkan tindakan yang di sengaja dan terarah pada tercapainya suatu tujuan.

· Kemauan menjadi pemersatu dari semua tingkah laku manusia dan mengkoordinasikan segenap fungsi kejiwaan menjadi bentuk kerjasama yang supel harmonis.

Dalam aliran filsafat manusia disebutkan bahwa kemauan cendrung untuk menguasai dan mengungguli orang lain. Dalam filsafat manusia aliran ini disebut filsafat etika yang dikembangkan oleh Nietzsche. [14]

f. Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan untuk bertindak.[15] Emosi berkaitan dengan tingkah laku yang mempengaruhi pikiran dalam memahami, konsentrasi, memilih dan bertindak. Emosi juga berarti perasaan seseorang yang ditunjukkan pada lingkungan sekitarnya. Emosi ini terdiri dari emosi berjangka pendek (seperti gembira dan kesedihan) dan emosi yang berjangka panjang seperti cinta dan benci. Emosi seseorang sudah ada sejak ia lahir yang diturunkan secara genetic dari kedua orang tuanya. Pada perkembangannya, emosi ini akan dipengaruhi oleh lingkungan sosial seseorang sehingga emosi tersebut bisa berubah dari waktu dia kecil hingga dewasa.[16] Emosi timbul terutama karena ada pengaruh dari luar individu dan dari dalam individu tersebut.

Sebuah situs internet menggambarkan bagaimana pembagian emosi menurut para ahli.[17] Descrates, emosi terbagi atas: Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :

a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa

c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri

d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga

e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,  dan kemesraan

f. Terkejut : terkesiap, terkejut

g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka

h. malu : malu hati, kesal

g. Imajinasi

Kata imajinasi berasal dari bahasa Latin imagination, imaginary yang berarti kegiatan yang menyenangkan atau membentuk kesan-kesan atau konsep-konsep mental yang sesungguhnya tidak ada bagi indera-indera.

Imajinasi harus dibedakan dengan ingatan. Imajinasi merupakan kemampuan untuk menggabungkan dengan bebas representasi dan ide. Bahan yang dipakai imajinasi adalah ingatan yang dimiliki seseorang yang selanjutnya diolah sesuai dengan keinginan seseorang sehingga menjadi menyenangkan bagi dirinya sendiri.[18]

Imajinasi sangat penting untuk berpikir kreatif, produktif, dan inspiratif terutama untuk ilmu pengetahuan, seni, dan teknik. Imajinasi bisa juga member dampak yang buruk bagi individu maupun lingkungannya jika imajinasi tersebut tidak terkontrol.

Para filsuf umumnya memberikan pendapat masing-masing terhadap imjinasi ini sesuai aliran filsafat masing-masing. Kaum empiris seperti Thomas Hobbes membagi imajinasi dalam dua tipe yaitu tipe simpel (contoh mengimajinasi seseorang atau seekor kuda) dan gabungan (contoh mengimajinasi seekor kuda berkepala manusia). Kant membagi imajinasi dalam imajinasi reproduktif (mengumpulkan bahan-bahan imajinasi sehingga lengkap) dan produktif (membuat imajinasi baru). Coleridge membagi imajinasi dalam dua bagian yaitu angan-angan (fancy) dan imajinasi konstruktif. Fancy lebih mirip dengan imajinasi gabungan Hobbes sedangkan imajinasi konstruktif adalah menciptakan dunianya sendiri dari bagian-bagian acak sesuai seleranya secara baik. Upaya ini disebut daya esemplastik (kemampuan menyusun menjadi satu kesatuan utuh). Crose lebih memandang imajinasi itu sebagai kreasi intuisi seseorang dan sangat penting dalam kreasi estetis.[19] Sartre membedakan imajinasi dengan persepsi. Sartre mengatakan bahwa antara imajinasi dan persepsi tidak ada perbedaan mendasar terhadap objek yang imajinasikan dan dipersepsi. Lebih lanjut disebutkan bahwa imajinasi lebih spontan, kreatif, dan produkstif dibandingkan dengan persepsi.[20]

h. Intuisi

Kata intuisi berasal dari bahasa Latin yang berarti memandang. Intuisi merupakan pemahaman atau pengenalan terhadap sesuatu secara langsung dan bukan melalui inferensi (penyimpulan). Penglihatan langsung atau penangkapan (aprehensi kebenaran). Intiusi berpangkal pada konsep ide bawaan.[21]

Lorens Bagus membagi intuisi dalam dua bentuk yaitu:[22]

1. intuisi inderawi, intuisi terbatas pada penampakan dunia benda-benda. Dalam arti luas imajinasi disebut intuitif sejauh imajinasi tersusun dari unsure-unsur intuitif, murni inderawi, seraya sekaligus berabstraksi dari eksistensi hal-hal particular yang disajikan.

2. intuisi intelektual, intuisi intelektual diyakini hanya milik roh murni. Intuisi intelektual ditata untuk berada dan karenanya dalam hal-hal bendawi intuisi intelektual ditunjukkan kepada inti hakiki hal-hal tersebut. Intuisi ini dapat dipahami pada kegiatan kerohanian.

Beberapa filsuf yang tertarik membahas intuisi antara lain adalah Aristoteles, Descrates, Locke, Leibniz, William Ockham, Spinoza, Kant, Bergson, Husserl, Croce, G.E. Moore, Prichard, Ewing, dan Ross.

i. Jiwa

Kata jiwa yang dalam bahasa Inggris disebut soul mengacu kepada pelaku pengendali, pusat pengaturan, atau prinsip vital pada manusia.[23] Biasanya jiwa dipercaya mencakup pikiran dan kepribadian dan sinonim dengan roh, akal, atau awak diri. Di dalam teologi, jiwa dipercaya hidup terus setelah seseorang meninggal, dan sebagian agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah pencipta jiwa. Di beberapa budaya, benda-benda mati dikatakan memiliki jiwa, kepercayaan ini disebut animisme.[24]

Beberapa pendapat filsuf tentang jiwa:

1. Aristoteles menganggap jiwa sebagai forma tubuh yang dibedakan dari aspek rasional dan irasional, sehingga terdapat perbedaan tingkat yaitu fungsi vegetative (tanaman), sensitive (binatang), dan rasional (manusia);

2. Strato memandang jiwa sebagai kesatuan tubuh;

3. Origenes memandang jiwa manusia sudah ada sebelumnya. Kehadirannya dalam tubuh menandakan dosa dan kejatuhannya. Kejatuhan ini dikaitkan dengan penyalahgunaan kebebasan;

4. Plato mengembangkan paham jiwa sebagai unggul atas tubuh. Plato juga membagi jiwa dalam tiga konsep yaitu akal, kehendak, dan nafsu (keinginan/hasrat).

3. Penutup

Tulisan ini merupakan hasil penulusuran penulis melalui buku-buku dan sumber internet dalam memahami apa itu daya manusia yang dikaitkan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tulisan ini bukan berangkat dari pemahaman penulis akan apa yang akan ditulis, justru berangkat dari ketidaktahuan tentang apa yang akan dikerjakan sehingga segala yang dianggap penulis berkaitan dimasukkan dalam tulisan ini.

Manusia sebagai makhluk hidup berada pada stata ciptaan yang paling tinggi karena manusia mampu mengolah dan beradaptasi dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya dengan mengandalkan daya-daya atau kemampuan yang ada pada dirinya. Kemampuan itulah yang berproses sehingga setiap individu saling berbeda. Hal ini menjadi objek kajian para filsuf untuk mencari jawaban terhadap hakikat manusia.

Daftar Pustaka

Sumber Buku:

Abidin, Zainal, 2009. “Esensi Manusia Menurut Sejumlah Aliran Dalam Filsafat”, dalam Zainal Abidin 2009. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Bagus, Lorenz. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Durat, Will, “Kehendak untu k berkuasa dan manusia Unggul: Filsafat Friedrich Nietzsche” dalam Zainal Abidin, 2009. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Spiegelberg, Herbert. “Konflik Eksistensi Manusia Menurut Jean Paul Sartre”, dalam Zainal Abidin 2009. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sumber Internet:

http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/5830-apakah-hati-nurani-itu

http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2009/08/11/filsafat-hati-nurani-bag-1/

http://filsafatindonesia1001.wordpress.com/2009/08/11/filsafat-hati-nurani-bag-1/

http://www.kompasiana.com/posts/type/opinion/

http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/

http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Jiwa

http://fisip.unand.ac.id/sosiologi/index.php/diktat/diktat-sejarah-pemikiran-modern


[1] Lorenz Bagus. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. Hal. 566 – 567.

[2] Ibid. Hal. 567

[3] Zainal Abidin, 2009. “Esensi Manusia Menurut Sejumlah Aliran Dalam Filsafat”, dalam Zainal Abidin 2009. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

[5] Herbert Spiegelberg. “Konflik Eksistensi Manusia Menurut Jean Paul Sartre”, dalam Zainal Abidin 2009. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 206.

[6] Lorenz Bagus. 2005. Op.Cit. Hal. 1126.

[7] Herbert Spiegelberg. op.cit. Hal. 210 -112

[8] Lorenz Bagus. 2005. Op.Cit. Hal. 763

[12] Lorens Bagus. 2005. Op. Cit. Hal. 824

[14] Will Durat, “Kehendak untu k berkuasa dan manusia Unggul: Filsafat Friedrich Nietzsche” dalam Zainal Abidin, 2009. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.

[15] http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/; lihat juga Lorens Bagus, 2005. Op. Cit. Hal. 193-194

[16] Lorens Bagus. Ibid.

[18] Lorens Bagus, 2005. Op. Cit. Hal. 317 – 320

[19] Ibid. Hal. 320-321

[20] Herbert Spiegelberg. Op. Cit, Hal. 206 – 207.

[21] Lorens Bagus. 2005. Op.Cit. Hal. 363 – 367

[22] Ibid. Hal. 364 - 365

[23] Ibid. Hal. 379

[24] http://id.wikipedia.org/wiki/Jiwa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 8 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 10 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 12 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: