
Moslem Activist, Manchester United Lover, Has a big passion on Politic, Economy, History, Philosophy, and Islamic Tought. Student Of Paramadina University...
Dibaca: 145
Komentar: 4
1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
Renungan ini muncul seketika waktu kelasnya pak Fuad Mahbub mata kuliah pendidikan agama. Waktu itu materi nya tentang Islam. Lalu beliau bertanya satu-satu kepada seluruh mahasiswa yanga ada di kelas, menurut kalian, Islam itu apa?. Satu persatu mahasiswa menjawab. Tibalah giliran saya, dengan spontan dan berpikirblink, aku langsung menjawab, menurut saya Islam adalah gagasan kemajuan. Hal-hal yang mendukung kemajuan adalah Islam, sebaliknya, hal-hal yang menghambat kemajuan bukan lah Islam. Beliau agak tercengang dan kemudian bertanya,konkritnya? Aku langsung menjawab, hal-hal yang selama ini menurut kita islam tapi tidak mendukung kemajuan bukan lah islam. Dan apa-apa yang selama ini disangka bukan dari Islam, bila itu mendukung gagasan kemajuan, itulah Islam.
Aku baru menyadari kata-kata yang saya ucapkan itu setelah selesei kelas. Islam seperti itulah yang selama ini ku agung-agung kan. Prinsip Islam seperti itulah yang kupegang selama setahun ini. Setahun ini? Ya, setahun sebelumnya diriku adalah pengikut fanatik salah satu kelompok islam. Enam tahun di pesantren sudah sangat cukup membuatku menjadi muslim yang fanatik. Di lain kesempatan mungkin aku akan menjelaskan masa laluku itu.
Setelah masuk kampus dan mengikuti beberapa kajian islam progresif, mulai lah bertransformasi pemikiran ku. Dalam hal ini, kajian dan diskusi lah yang lebih membentukku. Bukan universitas. Jurusan yang ku ambil adalah hubungan internasional, yang lebih mengajarkan politik dan ekonomi internasional. Jadi kalau ada orang-orang yang menyalahkan universitas atas transformasi pemikiran ini, ku kira itu salah kaprah. Paramadina itu kampus umum. Berbagai pemikiran islam ada semua disini.
Gagasan kemajuan (idea of progress) untukku adalah segala-galanya. Termasuk apakah sebuah ideologi itu bisa bertahan di tengah gempuran modernisasi. Apakah sebuah ideologi bisa menjawab segala tantangan zaman. Apakah agama bisa menjawab berbagai masalah yang timbul dari era kompleksitas ini?
Maka dari itulah saya hampir mempelajari semuanya. Liberalisme adalah salah satu yang saya lama geluti. Banyak yang antipati terhadap kata yang satu ini. Bagiku, liberalisme adalah salah satu warisan peradaban yang paling kaya. Diskursus liberalisme sudah ada sejak masa pencerahan (enlightment) eropa. John locke, John Stuart Mill, Popper, Bastiat, Adam Smith, hingga Hayek adalah tokoh-tokoh yang kutemui di pergulatan tersebut.
Apakah aku tergila-gila dengan barat? Aku jawab iya. Peradaban mereka adalah yang paling sukses sekarang. Dan saya kira kita pun harus tergila-gila dengan kemajuan mereka, sama dengan ketika dulu mereka tergila-gila dengan peradaban kejayaan islam.
Kita harus belajar. Terus belajar agar bisa kembali menjadi umat yang jaya. Cara satu-satunya adalah belajar dari barat.
”Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam.
Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”
-Muhammad Abduh