Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bunda Iyank

just an ordinary mom, wish to have an extra ordinary family hobi baca semua jenis bacaan selengkapnya

kalau bicara jaga lisanmu, jika menulis jagalah bahasamu

OPINI | 28 September 2011 | 01:46 Dibaca: 1023   Komentar: 7   2

lidahmu adalah pedangmu

mulutmu adalah harimaumu

Ungkapan atau peribahasa diatas seringkali kita dengar sejak zaman kita duduk di bangku sekolah bahkan hingga kini masih terus saja terngiang. Dan ungkapan seperti itu memang seperti wasiat dari orang -orang sebelum kita agar kita lebih berhati-hati dalam menjaga lisan kita.

Tak ada manusia yang sempurna, itu memang benar adanya namun ta ada salahnya kan kalau kita berusaha dalam berkata dan bertindak tidak menyindir atau menyakiti seseorang.

Perselisihan serta pertikaian seringkali kita temui di sekitar kita dan jika teliti lebih dalam persoalan yang mencuat berapa persen terbesar terjadinya akibat salah paham dari omongan-omongan ringan yang secara sadar atau tidak terlontar dari salah satu panca indra kita sendiri yaitu mulut dan lidah.

memang lidah tak bertulang…

manis di bibir mengucap kata…

syair-syair lagu diatas rasanya cukup mewakili betapa besarnya peran panca indera kita namun fungsinya pun akan menjadi bumerang untuk diri kita sendiri jika kita sebagai pemiliknya tak pandai menjaganya. Rasanya di tiap titik kehidupan kita tak ada satupun dari ciptaanNya yang tak berfaedah, semuanya saling berhubungan satu dengan yang lain. Sakit sariawan yang kita alami awalnya mungkin cuma diakibatkan pendarahan di gusi namun efek lain yang timbul bisa saja ke tenggorokan, telinga bahkan lidahpun terasa hambar serta bau mulut menjadi tak sedap.

Seiring berkembangnya zaman salah paham serta perselisihan juga acapkali kita temui bukan hanya di dunia nyata namun juga merambah ke dunia maya. Adanya fasilitas jejaring sosial seperti facebook dan twitter memudahkan orang untuk menumpahkan kekesalan, amarah bahkan cacian jika mereka dalam kondisi bad mood, tanpa mereka sadari bahwa di dunia maya mereka bukan hanya terhubung dengan satu dua orang namun seindonesia bahkan seluruh dunia bisa membacanya. Seperti halnya sebuah pisau, fungsi jejaring sosial terkadang malah dijadikan kambing hitam padahal penciptanya sendiri telah bersusah payah menciptakannya untuk memudahkan kita untuk berbagi tapi apakah kita sendiri yang mencirikan diri kita sendiri dengan tulisan kita?

13171305681594321936131713068789262164,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 10 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 11 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 11 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 11 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: