Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Ber-Tuhan tapi Tuhan Dicueki

OPINI | 25 September 2011 | 11:23 Dibaca: 128   Komentar: 18   1

Tak dipungkiri, negara atau masyarakat kita, Indonesia adalah ber-Tuhan. Kalau tidak percaya, silakan ditanyakan. Kebanyakan pasti mengaku ber-Tuhan.

Di segala bidang pasti ada nama Tuhan dibawa-bawa. Entah berapa banyak ritual atau syukuran diadakan dengan embel-embel nama Tuhan.
Tuhan di atas segalanya. Mau mengadakan acara apapun, nama Tuhan tidak ketinggalan dibawa.

Entah berapa banyak “Rumah Tuhan” didirikan. Dari kota sampai pelosok desa. Dari jalan-jalan utama sampai dalam gang. Dari pantai sampai di atas bukit ada rumah ibadah untuk menyembah Tuhan.
Kalau ada survey, Indonesia pasti termasuk paling banyak ada “Rumah Tuhan”.

Undang-Undang Dasar Negara sampai Undang-Undang biasa selalu tercantum nama Tuhan. Bahkan sila pertama dari Dasar Negara, Pancasila. Nomor satunya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan selalu yang pertama.

Setiap pejabat atau abdi negara, sebelum menjabat dan menjalankan tugasnya. Harus terlebih dahulu disumpah atas nama Tuhan sesuai agamanya masing-masing. Itu hal yang penting dan harus dilakukan. Sudah rutin.

Disetiap kegiatan baik formal maupun non-formal, nama Tuhan tidak pernah dilupakan. Setiap orang diminta untuk berdoa kepada Tuhan. Ini tak boleh ketinggalan agar segalanya berjalan lancar.

“Ya Tuhan” atau “Ya Allah” adalah kata-kata yang sudah kerap kita dengar atau diucapkan. Ini adalah penanda bahwa Tuhan sudah begitu akrab dengan hidup kita.

Namun sungguh miris bila melihat realita yang ada berkenaan dengan perilaku kita di masyarakat. Banyak yang terjadi justru bertentangan sebagai manusia yang ber-Tuhan. Malah seakan-akan Tuhan dicueki.

Kita berperilaku layaknya bukan lagi manusia yang ber-Tuhan. Di jalanan ugal-ugalan. Main salib dan berhenti seenaknya. Kata-kata kotor serampangan terucapkan. Buang sampah sembarangan.

Para pejabat yang sudah disumpahpun, lalu lupa, sehingga bebas berbuat korupsi. Mumpung ada kesempatan dan tidak ketahuan. Tuhan dianggap sedang tidur dan buta.

Banyak acara syukuran dan terimakasih kepada Tuhan. Tapi sungguh membuat sakit hati, karena banyak makanan yang terbuang dan bertaburan.

Banyak terjadi, pagi-pagi ingat Tuhan. Pada siang hari sudah lupa-lupa ingat. Malamnya Tuhan sudah di kelautkan.
Sebuah ironi atau tragedi bangsa kita?

Saya paham masalah ini, sebab saya adalah bagian dari bangsa ini. Itu artinya saya adalah termasuk pelakunya. Sungguh ironi menuliskan hal ini…..

Tags: sebuah ironi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 4 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: