Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Chikal

pembantu rumah tangga Abi Ummi.

Tuhan Tak Mau Dimadu

REP | 19 September 2011 | 06:28 Dibaca: 124   Komentar: 12   0

Maha suci Allah dari bibir-bibir yang merendahkanNya. Maha agung Allah yang melimpahkan cinta kepada para pengabdiNya yang berlandaskan ilmu, amal dan ikhlas.

Semut hitam merayap, merangkak mencari secercah cahaya yang mengusir gelap. Surya yang tak pilih kasih pun tiba. Menyinari siapa saja yang menemukannya. Semut hitam tersenyum, terimakasih surya.

“Mau kemana kau siang-siang begini?”

“Mencari hiburan.”

“Tak terhiburkah dirimu dengan pengabdian kepada Tuhan?”

“Adakah pengabdian bisa menjadikan kita terhibur? Bukankah ketika kita menjadi abdi maka kita harus selalu tunduk pada perintah tuan kita. Kita tak bisa bebas bergerak. Tak bisa mengekspresikan diri secara total karena ada batas-batas yang tak boleh dilanggar. Adakah burung yang terkurung merasa bahagia? hanya bisa meloncat-loncat dalam sangkar padahal ingin terbang jauh ke awang-awang.”

“Betul sekali. pengabdian adalah sesuatu yang menyakitkan, berat dan seringkali menyebabkan kita ingin teriak berontak. Apalagi pengabdian kepada Tuhan. Nafsu kita ingin anu, ini, itu, dan Tuhan malah melarangnya. Nafsu kita malas ini, anu, itu dan Tuhan malah mewajibkannya.”

“Begitulah, ternyata kau pun mengerti. Maka, sekarang pun aku ingin jalan-jalan untuk sekedar cari hiburan dan melepaskan diri dari beban pengabdian pada Tuhan.”

“Kawan, pengabdian akan selalu terasa berat jika kita belum melaksanakannya penuh ketulusan. Lagi pula, pengabdian tanpa ketulusan hanya akan berupah celaan Tuhan.”

“Ketulusan?”

“Ya. Setelah kau tahu cara mengabdi kepadaNya, kau pun beramal mengabdi kepadaNya. Nah, amal pengabdian ini haruslah didasari ketulusan.”

“Artinya?”

“Hati kita tak boleh menduakanNya. Hati kita hanya boleh terisi cinta kepadaNya. Selama masih tidak demikian maka pengabdian yang kita lakukan akan selalu terasa pahit. Dan rasa pahit ini sebetulnya tak lebih dari balasan Tuhan kepadamu yang masih atau telah menyeleweng, berselingkuh.”

“Tuhan pun tak mau dimadu, ya?”

“Tuhan hanya menerima amal yang murni, tulus, ikhlas kepadaNya. Bukan atas dorongan kekasih yang lain.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 8 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 9 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 10 jam lalu

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspada, Ancaman Katup Jantung Bocor pada …

Yuni Astuti | 8 jam lalu

United Kalah, Wujud Kerinduan Hairdryer …

Aristo Setiawan | 8 jam lalu

Kolaborasi Rasa …

Puji Anto | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Jadzab, Istimewa atau Abnormal? …

Mahrus Afif | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: