Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Jaka Lanang

salam ukhuwah,semoga damai dan sejahtera

Memahami Makna Ujian Hidup

OPINI | 13 August 2011 | 10:13 Dibaca: 851   Komentar: 0   1

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sebelum memahami makna ujian,akan saya sampaikan terlebih dahulu,bahwa didalam unsur kehidupan di dunia ada 3 pokok utama,yaitu:

1.HIDUP,adalah semua makhluk yang ada dialam semesta ini

2.YANG HIDUP,adalah zat pemberi hidup dan  menghidupkan yang hidup

3.KEHIDUPAN,adalah ruang lingkup tempat berinteraksinya semua yang hidup dalam kesatuan ekosistem dan habitatnya.

Allah SWT adalah zat yang MAHA,dengan sifat RAHMAN dan RAHIM telah menciptakan hidup dalam kehidupan dan dalam penciptaannya berjalan begitu sempurna dengan segala aspek perbuatan baik dan buruk,dimana hal tersebut sebagai bahan pilihan dan ujian kepada hidup didalam kehidupan.

Sejak awal mula manusia terlahir dari rahim ibunda tercinta dengan suara tangisan nyaring,merupakan awal mula manusia memulai perjalanannya untuk mengenal dan belajar hidup serta memulai, mengenal dan menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan.

Di dalam menjalani ujian kehidupan tersebut berbagai macam reaksi dan cara manusia dalam menghadapinya,ada yang bertahan dalam kesabaran,ada yang menggerutu kesal dan menganggap ketidak adilan Sang Pencipta pada dirinya,ada pula yang mensyukurinya sebagai kiffarat dosa dirinya,dll.

Sebagaimana sering kita mendengar dan menyaksikan secara nyata opini dan asumsi kebanyakan manusia secara umum bahwa setiap ujian yang datang menimpa dirinya merupakan ujian/cobaan yang datangnya dari ALLAH SWT…!!!

Lalu apakah hal tersebut benar…???

Bila kita berpikir secara dangkal dan tidak mau menyelaminya lebih dalam,tentunya hal tersebut akan dianggap benar,dengan alasan,”Manusia itu kan ibarat wayang,tergantung dalang yang memainkannya!”

Pendapat tersebut tentu tidaklah benar,sebab manusia adalah makhluk hidup yang diberikan secara mutlak sifat MA’ANI oleh ALLAH SWT (QUDRAT,IRADAT,SAMA’,BASHAR,HAYAT,AL-ILMU,dan KALLAM)

ALLAH SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna,karena dikaruniai akal sehingga membedakannya dari makhluk yang lain.

Secara garis besar  akal  terbagi menjadi dua macam,yaitu akal yang ada diotak(didalam kepala) dan akal yang terletak di dalam HATI (QOLBU),dimana keduanya memiliki fungsi yang berbeda:

1.AKAL OTAK,memiliki panjang gelombang yang pendek,sehingga hanya mampu berfungsi untuk mendeteksi pada ruang lingkup yang terbatas dan bersifat dhohir,dan gelombang elektromagnetik akal otak tidak akan mampu menembus dan mencapai sesuatu yang tak tampak oleh mata/sesuatu yang ghoib atau hanya mampu mencapai sesuatu yang bersifat muhkamat(tersurat) saja.

2.AKAL HATI,memiliki panjang gelombang yang tak terhingga,dan mampu merambat serta menembus dimensi keghaiban tidak terbatas oleh jarak,ruang dan waktu,sehingga dengan akal hati inilah sebagian manusia mampu memahami sesuatu yang mutasyabihat(tersirat) dan yang bathin.

Namun pada kenyataannya benarkah manusia sudah menggunakan akal hatinya…?

Ataukah hanya menggunakan akal yang ada dikepala(otak) saja…?

Kembali ke laptop…he..he..eh maksudnya kembali pada pokok bahasan tentang ujian hidup diatas…!

Apabila dipahami secara akal yang ada dikepala(otak),tentu kebanyakan manusia akan berpendapat bahwa setiap ujian/cobaan didalam kehidupan datangnya dari ALLAH SWT,alasannya karna DIA yang telah menciptakan dan menentukan setiap takdir(qadr) sejak didalam rahim ibunda.

Namun apabila dipahami dengan menggunakan akal yang ada di HATI,tentulah tidak demikian serta tidaklah mudah untuk memaknainya bahwa setiap rentetan peristiwa hidup  dalam kehidupan adalah proses SUNATULLAH.

Dalam hal ini maksudnya bahwa ALLAH SWT adalah Dzat Pencipta terhadap segala sesuatu dan pencipta segala perbuatan serta segala sebab musababnya dan sebab akibat untuk hidup didalam kehidupan seluruh alam semesta menurut ukuran, atau batasan-batasannya sehingga segala sesuatunya berkesinambungan,berinteraksi berjalan dengan sempurna didalam kesempurnaannya dan kodratnya masin-masing.

Sebagaimana terdapat dalam firman-NYA,”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran yang sudah ditentukan.” (QS.Al-Qamar: 49)

“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS.Ash-Shaafaat: 96)

Didalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah subyek,predikat dan obyek.

Subyek adalah Pelaku utama/Pencipta perbuatan

Predikat adalah Perbuatan yang dikejakan

Obyek adalah target perbuatan dari penciptaan

Penjelasannya :

ALLAH SWT adalah Subyek dan sekaligus Predikat  sebagai pelaku utama yang menciptakan untuk segala yang diciptakan-NYA termasuk perbuatan baik,buruk,dan segala peristiwa dengan setiap alur kejadian yang indah dan sempurna

Obyeknya adalah semua makhluk dan semua perbuatan yang telah dikerjakan/diciptakan-NYA,dengan maksud obyek(makhluk) dapat memilih perbuatan yang akan dikerjakannya.

Dan pada akhirnya ALLAH SWT memberikan wewenang kepada manusia dan memberi amanat sebagai khalifah(wakil-NYA) dibumi,karena hanya manusia yang memiliki kesempurnaan untuk berpikir dengan dianugerahi akal.

Peran akal inilah yang digunakan sebagai alat pemilih perbuatan baik atau buruk yang akan dikerjakannya dan menjadikan manusia sebagai Subyek yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk mengelola dan bertanggung jawab terhadap segala yang diciptakan ALLAH SWT sebagai Rahmat untuk kesejahteraan sekalian makhluk dialam semesta.

MEMAKNAI UJIAN HIDUP

Pada Hakekatnya hidup dan kehidupan adalah proses belajar dan ujian,manusia didunia seperti halnya dengan sekolah.Disekolah kita diwajibkan untuk belajar,kemudian disaat tiba waktunya akan menghadapi ujian semester/kelulusan. Dan hal ini merupakan proses yang sudah baku/tetap yang harus dijalani pelaku ujian.

Sama halnya manusia hidup di dunia adalah untuk belajar dan terus belajar(menuntut ilmu)  dan diharapkan selalu siaga/waspada  menghadapi setiap kemungkinan ujian hidup yang menghampiri dalam setiap hembusan nafasnya.

Namun seringkali kebanyakan manusia secara umum tidak menyadari dan menganggap ujian/cobaan hidup hanyalah ketika  suatu kejadian yang menimpanya dirasakan berat  hingga menimbulkan berbagai reaksi penolakan diri dan keputus asa’an.

Sesungguhnya semua kehidupan yang dijalani dalam hidup ini,berat atau ringan,susah atau bahagia adalah bagian dari ujian hidup.

Disaat ujian/cobaan menimpa seseorang seringkali dikaitkan kepada Sang Khalik-lah yang dianggap sebagai sumber pemberi ujian/cobaan/petaka dari seseorang tersebut,sehingga timbullah kesan menjatuhkan suatu VONIS kesalahan kepada Sang Pencipta,apabila hal ini terjadi maka hilanglah makna dari SUBHANALLAH(MAHA SUCI ALLAH),seharusnya kita  mau berpikir panjang lagi untuk menelusuri kebelakang atau Muhasabbah(Insteropeksi diri),karena tidak mungkin ada akibat tanpa sebab.

Mungkin saja kebanyakan anggapan tersebut karena terdoktrin pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist yang mengartikan secara tersurat dan salah memahaminya, serta opini masyarakat pada umumnya.Dan tidak jarang pula saat musibah luar biasa menimpa seseorang,ia kehilangan kendali dan mencari jalan pintas mencari pelindung selain kepada ALLAH SWT.

Karena memang ada banyak faktor yang mempengaruhi emosi, intuisi, atau berbagai gejala fsikologis yang mengarah pada penyelewengan aqidah secara halus bahkan sangat halus, sehingga  seolah-olah menjadi hal yang sangat biasa dan dirasa tidak menyimpang. Dalam hidup kita selalu merasa lebih banyak gagal dari pada berhasil atau sukses, lebih sering rugi dari pada untung, dan selalu tersandung ketika akan maju beberapa langkah.

Namun secara nyata atau tidak, harapan yang tak kesampaian sering membuat kita frustasi, menyesali diri, bahkan menyalahkan Ilahi …(na’udzubillah).

Jika suatu kegagalan melanda, kita merasa seolah menjadi manusia yang paling hina,nelangsa,tidak berguna. Sebuah musibah terkadang bisa membuat kita lupa akan sejuta anugerah-NYA.

Seperti peribahasa  “KARNA NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA”.

Sebuah kenyataan hidup dalam kehidupan…

Bahwasannya tidak setiap impian yang tercapai membuat kita damai…

Tidak setiap harapan yang sanggup digapai…

Akan membuat  hati merasakan ketentraman ….

Bahkan merupakan sebuah kenyataan…

Bahwa banyak perkara buruk yang kita benci…

Ternyata merupakan sesuatu yang paling baik disisi-Nya…

ALLAH SWT berfirman:

“Kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS An-Nisa’ : 19).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah : 216).

Dalam hadist Qudsi ALLAH SWT berfirman:

“Demi kemuliaan dan kebesaran KU dan juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-KU di atas Arsy. AKU akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain AKU dengan kekecewaan. Akan AKU pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia. AKU singkirkan ia dari dekat-KU, lalu Ku putuskan hubungan-KU dengannya.

Mengapa ia berharap kepada selain AKU, ketika dirinya sedang dalam kesulitan, padahal sesungguhnya kesulitan itu berada ditangan-KU. Dan hanya AKU yang dapat menyingkirkan nya !

Mengapa ia berharap kepada selain AKU dengan mengetuk pintu-pintu lain, padahal pintu-pintu itu tertutup !Padahal, hanya pintu-KU yang terbuka bagi siapapun yang berdo’a memohon pertolongan dari-KU.

Siapakah yang pernah mengharapkan AKU untuk menghalau kesulitannya lalu AKU kecewakan ?

Siapakah yang pernah mengharapkan AKU karena dosa-dosanya yang besar, lalu AKU putuskan harapannya ?

Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-KU lalu tidak AKU bukakan ?

AKU telah mengadakan hubungan yang langsung antara AKU dengan angan-angan dan harapan seluruh makhluk-KU. Akan tetapi, mengapa mereka malah bersandar kepada selain AKU ?

AKU telah menyediakan semua harapan hamba-hamba-KU, tetapi mengapa mereka putus asa dan tidak puas dengan perlindungan-KU ?

Dan AKU pun telah memenuhi langit-KU dengan para malaikat yang tiada pernah jemu bertasbih pada-KU, lalu AKU perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara AKU dan hamba-hamba-KU.

Akan tetapi, mengapa mereka tidak percaya kepada firman-firman-KU.

Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa pun yang ditimpa oleh bencana yang AKU turunkan tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali AKU !

Akan tetapi , mengapa AKU melihat ia dengan segala angan-angan dan harapan itu, selalu berpaling dari-KU ?

Mengapakah ia sampai tertipu oleh yang lain ?

AKU telah memberikan kepadanya dengan segala kemurahan-KU apa-apa yang tidak sampai harus ia minta. Ketika semua itu AKU cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak lagi memintanya kepada-KU untuk segera mengembalikannya, akan tetapi malah meminta pertolongan kepada selain AKU.

Apakah AKU yang memberi sebelum diminta, lalu ketika diminta tidak AKU berikan ?

Apakah AKU ini bakhil, sehingga dianggap bakhil oleh hamba-KU ?

Tidakkah dunia dan akhirat itu semuanya milik-KU ?

Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-KU ?

Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-KU ?

Tidakkah hanya AKU tempat bermuara semua harapan ?

Dengan demikian, siapakah yang dapat memutuskannya daripada-KU ?

Apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan AKU berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, ” Mintalah kepada KU !” AKU pun lalu memberikan kepada masing-masing orang, pikirkan apa yang terpikir pada semuanya ?

Dan semua KU berikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-KU meskipun sebesar debu.

Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan AKU mengawasinya ?

Sungguh, alangkah celakanya orang yang terputus dari rahmat KU. Alangkah kecewanya orang yang berlaku maksiat kepada-KU dan tidak memperhatikan AKU. Dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang haram dan tiada malu kepada-KU. Sesungguhnya AKU sesuai dengan prasangka hamba terhadap KU “

[Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a]

Sesungguhnya setiap ujian/cobaan berfungsi untuk menentukan kadar/kualitas keimanan seorang hamba kepada Sang Khalik,yaitu seberapa mampu ia menyikapinya dengan segenap kemampuan lahir dan bathin serta tidak melalaikan serta tetap berharap,bergantung kepada Sang Pemberi Hidup.

Sebab keimanan bukanlah hanya pada ucapan belaka seperti kata orang barat,”It’s easy to talk but very difficult to do it.”

Sangatlah mudah dimengerti bahwa teori memang lebih mudah dari prakteknya,sebagaimana dijelaskan dalam fiman-NYA;

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah BERIMAN”, sedang mereka tidak DIUJI lagi ?”. (QS. Al-Ankabuut 2).

Ayat diatas adalah suatu nasehat untuk mengingatkan kepada manusia,sebab pada hakekatnya kehidupan didunia ini adalah bentuk ujian,kesenangan dan penderitaan adalah dua mata sisi kehidupan dalam satu bentuk ujian.Namun ketika manusia mengalami musibah/masalah hidup,yang menimbulkan berbagai macam reaksi kondisi kejiwaan,barulah menyadari itu adalah sebuah ujian,tidak menyadari bahwa sebelum datang masalah/musibah itu juga merupakan sebuah ujian dalam kehidupan.

Disinilah seringkali kita terperdaya,hanya ingat dikala derita dan lupa dikala senang serta tidak menginstropeksi/mengevaluasi diri.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.Asy-Syuraa’ : 30).

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran :14)

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fathir:5)

Hal ini merupakan bentuk konkrit/nyata bahwa ALLAH SWT menghendaki wujud iman tidak hanya ucapan tetapi melalui Af’al/perilaku nyata yang membuktikan iman seorang hamba atas keimanannya yang bisa menghapus atas dosa-dosanya bila dijalaninya dengan do’a,kesabaran,tawakal dan tidak mencari perlindungan/harapan yang lain selain hanya kepada ALLAH SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah SWT telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya.” (HR.Bukhari dan Muslim )

“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang yang beriman. Jika mendapat kebaikan (kemudian) ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya (kemudian) ia bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

“Ketahuilah olehmu! Bahwasannya datangnya pertolongan itu bersama dengan kesabaran.” (HR. At Tirmidzi)

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. (QS.Al-Furqaan: 75)

Nyatalah bahwa dalam menjalani kehidupan didunia kuncinya adalah SABAR dalam segala hal,dan tingkat keimanan seseorang bisa dilihat pula dari sikap sabar menghadapi kehidupan.

“Ketika seseorang berkata beriman,ia belum tentu mampu bersabar menghadapi ujian besar yang menyesakkan dadanya,namun seorang yang sabar adalah wujud dari seseorang yang telah mampu membuktikan keimanannya”

Karena banyak perilaku menyimpang dari manusia,disebabkan adanya dorongan hawa nafsu syetan,ketika ia beriman kemudian menghadapi ujian/cobaan yang berat akan berubah perilakunya 180 derajat, bahkan yang terburuk sampai 360 derajat alis gantung diri….(na’udzubillah).

Sahabat Muslim dimanapun berada Rahimakumullaah…. ,sehubungan di bulan Ramadhan ini,merupakan saat yang baik dan tepat untuk melatih kesabaran dari hawa nafsu serta bermuhasabbah(instropeksi diri) dan memohon ampunan ,melakukan hal-hal yang baik dan meninggalkan segala perbuatan buruk kita di masa lalu.

Selalu Berpikir positif dalam kehidupan

Berusaha memahami setiap kejadian yang  dialami

Mengambil hikmah dari setiap peristiwa

Bersikap Sabar  untuk menghadapinya

Ikhlas menerima  hidup dalam kehidupan

Jadikan Doa,ihktiar dan tawakal sebagai penguat akan pengharapan-NYA…..

“Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau memahami sesuatupun (dengan akal fikirannya).” (QS.Al-Anfâl: 22).

Kunjungi juga situsku:Dakwah Islam dan Kebathinan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Nangkring Parenting bersama Mentari Anakku: …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Sadisnya Politik Busuk Pilpres di Indonesia …

Mawalu | 10 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 11 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Menjual Soto Ayam Demi Menghidupi Keluarga …

Jumari Haryadi Koha... | 7 jam lalu

Hitam …

Nur Umi Anizah | 8 jam lalu

Logika Perda 11 tahun 2005 yang Ngawur …

Leo Kusima | 8 jam lalu

Sopir “Pinoy” Philippines Makin …

Sayeed Kalba Kaif | 8 jam lalu

Aksi dan Reaksi dari Larangan Becak hingga …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: