Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Philip Ayus

menjaga kewarasan lewat tulisan | twitter: @tweetspiring.

Tentang Puasa

OPINI | 01 August 2011 | 20:13 Dibaca: 383   Komentar: 61   0

Saya tidak tahu pasti kapan pertama kali manusia mendapatkan ide tentang berpuasa. Saya juga tidak tahu, siapa yang terlebih dahulu “invented” kegiatan dengan sengaja menahan lapar dan dahaga dalam jangka waktu tertentu itu, apakah manusia beragama atau justru penganut animisme. Yang jelas, puasa secara umum dipandang sebagai sebuah kegiatan jasmani yang akan menghasilkan manfaat, terutama secara rohani.

Beberapa orang melakukan puasa karena ingin mendapatkan kesaktian atau ilmu tertentu. Beberapa yang lain melakukannya dengan tujuan supaya keinginannya terkabul. Ada lagi yang berpuasa “simply” karena percaya bahwa Tuhan menghendakinya untuk melakukan hal tersebut. Tentunya, itu juga dilakukan dengan harapan agar Dia senang atau setidaknya “tidak murka” kepadanya. Pastinya, tak ada seorangpun yang berpuasa dengan tujuan supaya lapar dan haus belaka.

Ketika seseorang berpuasa, dia akan memiliki kepekaan rohani yang lebih daripada biasanya. Seperti yang saya paparkan di atas, penyebabnya bisa jadi karena puasa adalah proses yang “disengajakan,” bukan sekedar tidak ada yang menjual makanan atau tidak memiliki akses kepada makanan dan minuman (kemiskinan, bencana alam, perang, dsb).

Karena ia memang sengaja melakukannya dengan tujuan tertentu, maka inderanya akan lebih peka untuk mendeteksi apakah keinginannya itu telah terkabul. Selain itu, perut yang keroncongan akan terus mengingatkannya bahwa ia sedang “mengejar” sesuatu yang penting bagi dirinya, menjadi seperti “reminder” baginya.

Puasa merupakan salah satu disiplin rohani yang dianjurkan dalam kekristenan. Memang, tidak ada waktu-waktu spesifik yang diwajibkan untuk melakukannya, namun ada janji bahwa doa yang dibarengi dengan puasa akan memiliki manfaat yang luar biasa. Ketika murid-murid tidak bisa menyembuhkan penyakit kerasukan setan tertentu (sebelumnya mereka berhasil dengan kasus-kasus yang lain!), Yesus mengatakan bahwa jenis tersebut tidak dapat diusir kecuali dengan doa dan puasa.

Puasa juga biasanya dilakukan dalam rangka mengajukan permohonan yang sangat krusial kepada Tuhan. Daud yang terancam kehilangan putra hasil perselingkuhannya dengan Batsyeba, berpuasa dengan harapan Tuhan membatalkan keputusan-Nya. Setelah mengetahui bahwa anaknya tetap mati, Daud tahu bahwa Tuhan menjawab “tidak” kepada doanya itu, barulah ia makan.

Hal yang sama juga sering dilakukan bangsa Israel maupun tokoh-tokoh Alkitab. Nehemia berpuasa bagi bangsanya yang sedang dalam keadaan hancur lebur. Ester mengajak semua orang sebangsanya agar berpuasa selama tiga hari sebelum ia mempertaruhkan nyawa menghadap raja dan memperjuangkan bangsanya.

Sebenarnya, yang paling menarik dari sebuah kegiatan menahan lapar dan haus adalah kemampuannya untuk memurnikan hati mereka yang melakukannya. Melalui puasa, sikap hati yang bengkok diluruskan. Melalui puasa, segala hal buruk yang kira-kira dapat menghalangi tercapainya tujuan puasa disingkirkan. Orang yang berpuasa memiliki koneksi yang lebih mendalam dengan dirinya sendiri.

Tentu saja, kegiatan puasa yang hanya dilakukan untuk memperoleh “sertifikat sosial” (meminjam istilah seorang teman yang konon memilih menjadi setan setelah gagal menjadi nabi), takkan memperoleh segala manfaat itu. Kegiatan-kegiatan ibadah yang dilakukan hanya untuk memperoleh pengakuan dari lingkungannya, menurut Yesus, “Mereka sudah mendapat upahnya.”

Puasa yang baik, dalam pandangan saya merupakan sebuah kegiatan internal yang berdampak eksternal. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang berpuasa sebaiknya “meminyaki kepala” dan “mencuci muka.” Artinya, puasa seyogyanya dilakukan secara pribadi, hanya antara seseorang dan Tuhannya. Dengan demikian, “maka Bapamu (Tuhanmu) yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Akhirul kalam, saya menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa kepada teman-teman yang menjalankannya. Semoga puasa kali ini makin mendekatkan kita semua kepada Sang Pemilik Hidup ini. Semoga puasa kali ini makin mendekatkan kita semua kepada diri sendiri, menolong kita untuk bertumbuh menjadi manusia-manusia yang lebih baik lagi. Wassalam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: